<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>Bunga Rampai WMU</title>
	<link>http://wmu.blogsome.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 14:20:24 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title></title>
		<link>http://wmu.blogsome.com/2009/08/01/70/</link>
		<comments>http://wmu.blogsome.com/2009/08/01/70/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 14:20:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wmu</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
	<category>From Sulut with Love</category>
		<guid>http://wmu.blogsome.com/2009/08/01/70/</guid>
		<description><![CDATA[	So, tahun 2010 merupakan tahun suksesi kepemimpinan di Bumi Nyiur Melambai. Perhelatan politik yang ber make up demokrasi, bergulir. Tidak hanya di lingkup Provinsi Sulut, tapi juga di beberapa kabupaten dan kota. Sebut saja seperti  Kota Manado, Tomohon, Kabupaten Minahasa Selatan, Minahasa Utara. Wah, wah, bakalan rame ini… Cuma sampai sekarang ini sepertinya bakal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>So, tahun 2010 merupakan tahun suksesi kepemimpinan di Bumi Nyiur Melambai. Perhelatan politik yang ber make up demokrasi, bergulir. Tidak hanya di lingkup Provinsi Sulut, tapi juga di beberapa kabupaten dan kota. Sebut saja seperti  Kota Manado, Tomohon, Kabupaten Minahasa Selatan, Minahasa Utara. Wah, wah, bakalan rame ini… Cuma sampai sekarang ini sepertinya bakal calon atau bakal kandidat  papan 1 yang mau maju,  belum mau secara terang-terangan menyatakan kesiapan mereka.<br />
Untuk Provinsi prediksi saya nama-nama seperti SH Sarundajang (incumbent), RM Luntungan (Bupati Minsel), Linneke Watoelangkow (Ketua Umum DPD Partai Demokrat Sulut/Wakil Walikota Tomohon) akan  siap maju bertarung. Mereka-mereka ini punya nilai. Punya kelebihan masing-masing. Ada yang bilang EE  ‘Lape’ Mangindaan akan pulang kandang. Tapi rasanya Lape yang adalah  mantan Gub akan lebih banyak berkiprah di pusat. Bisa jadi dia akan ditarik SBY  sebagai Menteri.<br />
Di papan 2 provinsi saya lebih respek dari kalangan bisnis untuk maju. Sebab ke depan saya mengharapkan  Sulut akan menjadi region pusat investasi maupun kawasan  pasar modal terpadu untuk Indonesia timur. Resourcesnya sangat menunjang, baik human, nature, social culture, dsb.<br />
Waktu dari sekarang masih sekitar 9 bulan. Heh, nyanda lama itu…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wmu.blogsome.com/2009/08/01/70/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Vox Populi Vox Dei</title>
		<link>http://wmu.blogsome.com/2009/07/11/vox-populi-vox-dei/</link>
		<comments>http://wmu.blogsome.com/2009/07/11/vox-populi-vox-dei/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Jul 2009 06:56:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wmu</dc:creator>
		
	<category>Politik</category>
		<guid>http://wmu.blogsome.com/2009/07/11/vox-populi-vox-dei/</guid>
		<description><![CDATA[	Hingga akhir pekan ini (11/7)  dari hitung cepat membentangkan hasil bahwa SBY- Budiono tetap perkasa. Bahkan bayang-bayang kemenangan sudah di pelupuk mata. Sudah di telapak tangan.
Prediksi saya bahwa akan terjadi 2 putaran pada Pilpreswapres 2009-2014 kelihatannya tidak terbukti. Bahkan Calon Wapres JK telah memberi selamat lebih dulu kepada SBY sekalipun hasil final penghitungan suara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Hingga akhir pekan ini (11/7)  dari hitung cepat membentangkan hasil bahwa SBY- Budiono tetap perkasa. Bahkan bayang-bayang kemenangan sudah di pelupuk mata. Sudah di telapak tangan.<br />
Prediksi saya bahwa akan terjadi 2 putaran pada Pilpreswapres 2009-2014 kelihatannya tidak terbukti. Bahkan Calon Wapres JK telah memberi selamat lebih dulu kepada SBY sekalipun hasil final penghitungan suara oleh KPU baru nanti diumumkan beberapa hari ke depan.<br />
Memang bagi saya hasil yang dicapai pasangan nomor 2 ini cukup fantastis. Sampai di kisaran 60% jumlah suara.   Soalnya dalam debat Capres/Cawapres  sebelumnya saya menilai pasangan nomor 2 ini tidak pula menyampaikan hal-hal baru yang spesifik. Pasangan ini lebih berkutat pada progress report selama 5 tahun terakhir. Beda dengan pasangan nomor 1 dan 3.<br />
Vox populi vox Dei. Apapun hasilnya kita perlu terima dan mensupport. Soal adanya berbagai temuan di lapangan itu soal lain. Biarlah ranah hukum yang bermain di sana.<br />
Akhirnya sayapun berkonklusi. Bahwa kemenangan  pasangan Lanjutkan ini lebih pada performance dan ketokohan SBY.<br />
Artinya, tanpa ada tim sukses pun SBY Budiono tetap saya yakin akan memenangi pertarungan ini. Tanpa ada Malarangeng, Ruhut, Batagoena dll itu, tetap pasangan 2 ini berkibar. Selamat. Rakyat pun siap menanti konkretisasi selama kampanye. Kesejahteraan meningkat, kemiskinan dicukur, pengangguran digunting,  KKN ditebas,  pertumbuhan ekonomi minimal 7 – 8 %,  rakyat sehat NKRI kuat.<br />
Selingkuh politik? Itu mah biasalah…… Namanya hidup di dunia fana…..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wmu.blogsome.com/2009/07/11/vox-populi-vox-dei/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Nasionalisme di Tengah Badai</title>
		<link>http://wmu.blogsome.com/2008/06/06/nasionalisme-di-tengah-badai/</link>
		<comments>http://wmu.blogsome.com/2008/06/06/nasionalisme-di-tengah-badai/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jun 2008 14:23:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wmu</dc:creator>
		
	<category>Fenomena Sosial</category>
		<guid>http://wmu.blogsome.com/2008/06/06/nasionalisme-di-tengah-badai/</guid>
		<description><![CDATA[	
Nasionalisme sebagai paham kebangsaan merupakan gerakan politik empiris. Perang Kemerdekaan Amerika (1776-1782) dan Revolusi Perancis (1789) dapat diangkat sebagai acuan dalam mencermati bayang-bayang nasionalisme. Dua peristiwa tersebut sedikit banyak menginspirasi bangsa-bangsa di belahan bumi ini untuk melakukan pergolakan. Pergolakan apa? Tentu saja pergolakan untuk merdeka. Tidak hanya di Eropa, tapi juga di Asia, Afrika pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>
Nasionalisme sebagai paham kebangsaan merupakan gerakan politik empiris. Perang Kemerdekaan Amerika (1776-1782) dan Revolusi Perancis (1789) dapat diangkat sebagai acuan dalam mencermati bayang-bayang nasionalisme. Dua peristiwa tersebut sedikit banyak menginspirasi bangsa-bangsa di belahan bumi ini untuk melakukan pergolakan. Pergolakan apa? Tentu saja pergolakan untuk merdeka. Tidak hanya di Eropa, tapi juga di Asia, Afrika pada abad 19 dan awal abad 20.<br />
Spirit Declaration of Independence  yang dikalimatkan Thomas Jefferson pada 4 Juli 1776 sebagai cikal bakal perang kemerdekaan Amerika mengandung prinsip liberalism dan human rights, oleh Lafayette – Jenderal Perancis yang sempat terdampar di kancah peperangan kemerdekaan Amerika – diperkenalkannya kepada rakyat Perancis. Situasi di Perancis akhuir abad 18 memang runyam. Otokrasi, feodalisme, absolutisme merupakan wajah yang nyaris tak tenggelam. Akibatnya rakyat Perancis tersentak atas teror yang ada di depan mata. Mereka menentang kebijakan elit penguasa. Revolusi Perancis membangun sebuah tradisi pola pikir baru berdasarkan liberte, egalite, fraternite.<br />
*<br />
 Apa yang terjadi  di Amerika Serikat pada masa perang kemerdekaan Amerika, juga di Perancis pada masa Revolusi Perancis, beda-beda tipis substansinya dengan fenomena di Bumi Pertiwi Indonesia akhir abad 19. Namun bagi saya pergulatan nasionalisme di Indonesia lebih merupakan bentuk nationalism awareness dan inipun tidak muncul begitu saja. Terjadi kristalisasi dari berbagai rentetan peristiwa yang berproses lama dipengaruhi kejadian-kejadian yang mendahului baik di dalam maupun di luar Bumi Pertiwi. Ini dapat dilihat, pada akhir abad 19 pemerintah (kolonial) Belanda menghadapi crucial point. Pergolakan di daratan Eropa membuat Belanda banyak melakukan restrukturisasi. Baik di bidang politik, ekonomi dan administrasi; sementara pendapatan dari negeri jajahan sudah tidak maksimal mengingat pressure penduduk (Bumi Putera) melalui policy tanam paksa (cultuur stelsel). Termasuk kesulitanmemasarkan berbagai produk dari negeri jajahan di pasaran internasional karena peperangan yang berkepanjangan. Menghadapi hal ini, 2 kebijakan penting dilakoni pemerintah Belanda yaitu melakukan politik pintu terbuka dan memberlakukan pola pendidikan a laBarat di negeri jajahan. Ini adalah peluang skaligus mendorong insting sekelompok pemuda pelajar Indonesia untuk mendirikan organisasi yang nonprimordialism. dimungkinkan pula karena pola pikir realis sebagai dampak ikutan sistem pendidikan yang diterapkan. Dari sinilah wawasan kebangsaan dirintis bahkan dipropagandakan tiga serangkai: dr Wahidin, Sutomo dan Suradji.<br />
*<br />
Frederick Hertz dalam Nationality in History and Politics menyebutkan bahwa ada 4 cita-cita nasionalisme, yaitu mewujudkan persatuan nasional, mewujudkan kebebasan nasional lepas dari campur tangan asing, mewujudkan identitas nasional, dan untuk memperoleh kehormatan, kewibawaan, gengsi dan pengaruh dalam pergaulan di dunia internasional. Titik tolak nasionalisme Indonesia sebagai wujud kesadaran nasional sebenarnya merupakan busur yang mendorong anak panah menuju gerbang kemerdekaan yang di dalamnya ada kepentingan kebangsaan. Sebuah kepentingan kebangsaan yang dipersatukan dari berbagai kesulitan, berbagai krisis. Atau merunut dari sebaris pertanyaan Ernst Renan (1802): Qu&#8217;est ce que c&#8217;est un nation? C&#8217;est le desir d&#8217;stre ensemble” (Apakah bangsa itu? Kemauan untuk hidup bersama). Menurut Renan, hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu dengan tidak ditentukan oleh ras, agama, bahasa, peradaban atau kepentingan ekonomi.<br />
Babakan ini pada gilirannya dalam kaca mata nasionalisme Indonesia memunculkan suatu etos. Yaitu etos nasionalisme berlatar kebangsaan yang tidak sempit. Sebuah etos yang berpijak pada solidaritas, senasib dan sepenanggungan. Etos ini bukan cuma eforia yang didendangkan terus menerus sesuai dengan irama tertentu. Juga etos ini bukan berarti mengagungkan bangsa sendiri dan memandang sebelah mata bangsa lain.<br />
Kita tetap bahkan sangat menghargai bangsa lain dengan keberadaannya. Ini merupakan komitmen bahwa bangsa Indonesia ikut peduli pada berbagai gejolak dunia internasional. Intinya, kita peduli pada hak-hak kemanusiaan, kita peduli pada dunia tanpa perang, kita peduli pada pelestarian lingkungan, kita melawan perdagangan manusia, kita anti anarkisme,  kita pun ikut berseteru dengan penyalahgunaan narkotika dan sejenisnya, bahkan kitapun menjunjung suatu peradaban bangsa-bangsa yang saling menghormati, saling menghargai. Kita berempati dan mendukung perjuangan bangsa-bangsa yang kedaulatannya dirongrong pihak lain. Di sisi lain, nasionalisme Indonesia diletakkan sebagai upaya untuk mempertahankan kelangsungan hidup bangsa. Sekaligus sebagai kekuatan untuk mencapai cita-cita nasional.<br />
*<br />
Tahun ini, nasionalisme itu berkulminasi dalam 1 abad. Tantangan ke depan memang berat. Berbagai persoalan kebangsaan terus mendera. Belum lagi pergulatan menghadapi krisis energi, krisis pangan. Namun  toh, sesulit apapun yang dihadapi jalan ke luar pasti tetap ada. Sebagai bangsa, kita sebenarnya sudah sangat akrab bahkan terbiasa menghadapi berbagai kesulitan. Namun memahami rasa senasib sepenanggungan merupakan kunci untuk ke luar dari krisis. Ketika kepentingan kelompok, visi sektarian yang bermain, saat itu pula bertubi-tubi krisis mewarnai dan mengurainyapun bak membenahi benang kusut, entah dari mana harus diselesaikan.<br />
 Namun jangan pula akhirnya sosok Bill Gates – juragan Microsoft Corporation  dengan kekayaan Rp 500 Triliun  - lebih Indonesia  ketimbang orang Indonesia. Mengapa? Bukan apa-apa sih. Justru Bill Gates  sangat enjoy berbatik ria saat berceramah di muka para petinggi dan kaum intelektual kita beberapa waktu lalu. Yang lainnya memakai jas, berdasi, bersafari, dan sebagainya.<br />
Ah, mudah-mudahan ini cuma intermezo di sela-sela peringatan Hari Pendidikan Nasional, 10 Tahun Reformasi dan 1 abad Kebangkitan Nasional.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wmu.blogsome.com/2008/06/06/nasionalisme-di-tengah-badai/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Bukan Pecundang!</title>
		<link>http://wmu.blogsome.com/2008/04/30/bukan-pecundang/</link>
		<comments>http://wmu.blogsome.com/2008/04/30/bukan-pecundang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 15:03:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wmu</dc:creator>
		
	<category>Fenomena Sosial</category>
		<guid>http://wmu.blogsome.com/2008/04/30/bukan-pecundang/</guid>
		<description><![CDATA[	
Saat membuka Pekan Produk Budaya Indonesia tahun 2007 lalu di Jakarta, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan penegasan tentang peluang maksimal melalui apa yang disebutnya sebagai ekonomi pariwisata (economic of tourism). Ekonomi pariwisata ini disebutkan Presiden sebagai ekonomi gelombang keempat. Sebuah gerakan ekonomi yang bersumber pada kekayaan budaya termasuk warisan budaya (heritage), kreativitas, dan lingkungan alam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>
Saat membuka Pekan Produk Budaya Indonesia tahun 2007 lalu di Jakarta, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan penegasan tentang peluang maksimal melalui apa yang disebutnya sebagai ekonomi pariwisata (economic of tourism). Ekonomi pariwisata ini disebutkan Presiden sebagai ekonomi gelombang keempat. Sebuah gerakan ekonomi yang bersumber pada kekayaan budaya termasuk warisan budaya (heritage), kreativitas, dan lingkungan alam yang disatukan dalam ecotourism.<br />
Ini merupakan kelanjutan dari analisis futurolog Alvin Toffler yang memperkenalkan sebuah gerakan ekonomi gelombang ketiga berpola pada model ekonomi terbuka dengan mengandalkan kekuatan teknologi informasi.<br />
Ajakan Presiden tersebut menacu pada 2 strategi pengembangan, pertama, mengembangkan ekonomi kreatif dengan memadukan ide, seni dan teknologi. Kedua, mengembangkan keunggulan produk ekonomi yang berbasiskan seni budaya dan kerajinan.<br />
Indonesia merupakan negara yang memiliki warisan sejarah budaya tak terbilang banyaknya. Bahkan terbanyak di kawasan Asis Tenggara. Beberapa di antara peninggalan sejarah itu bahkan sudah dimasukkan ke dalam The International Heritage alias peninggalan sejarah internasional oleh UNESCO. Nyaris setiap suku yang ada di negara ini memiliki artefak, situs, manuskrip, yang dilestarikan keberadaannya secara turun- temurun. Namun harus diakui, tak banyak yang melihat ini dari kacamata ekonomi. Padahal jika dipromosikan secara gencar kepada masyarakat internasional, peninggalan sejarah ini bisa menjadi daya pemikat untuk mengundang wisatawan.<br />
Demikian pula hal-hal yang berkaitan dengan lingkungah hidup. Indonesia adalah negara dengan potensi sumber daya alam hayati terbesar di dunia. Keanekaragaman flora dan fauna adalah sumber ekonomi terbarukan yang tersedia dalam jumlah besar. Hanya sayangnya potensi lingkungah ini belum tergarap dengan sempurna. Banyak potensi flora, fauna, keindahan alam, dibiarkan teronggok lepas tanpa arti. Atau sebaliknya, banyak yang dieksploitasi tanpa batas sehingga kelestariannya terancam<br />
*<br />
Harus diakui, kemampuan kita dalam mencipta hasil karya dari bahan yang berlimpah ruah di negeri ini masih sangat rendah. Di antara kita cuma suka berjalan pintas, menjual potensi alam dalam keadaan mentah sehingga harganya sangat murah. Contoh saja adalah kayu gelondongan, rotan, hasil tambang, minyak bumi, minyak sawit, rempah-rempah, sering kita jual ke luar negeri dalam keadaan utuh, dan kita beli lagi dari luar dalam bentuk olahan dengan harga yang berlipat ganda dari harga aslinya. Bangsa lain bisa jadi tidak memiliki sumber alam seperti yang disebutkan namun mereka mendapatkan keuntungan dari komoditas tersebut dari jasa pengolahan bahan mentah menjadi bahan jadi.<br />
Demikian pula ecotourism. Sangat dibutuhkan sebuah kreativitas untuk mengelolanya. Terkadang kita cuma terbuai menunggu orang lain menangani aset  keindahan alam yang kita miliki,  yang sudah terletak di pelupuk mata kita.<br />
Indonesia mempunyai potensi  ecotourism yang sangat luar biasa.  Dari catatan  Indonesia Ecotourism Community, Indonesia memiliki 10% dari total jenis bunga yang ada di dunia, 12% total jenis mamalia, 16% total jenis hewan reptil dan amfibi, 17% total jenis burung, serta 25% total jenis ikan di dunia.<br />
Menurut Newsome (2002), ecotourism merupakan bagian dari wisata alam yang meliputi: wisata petualangan, nature based,  wildlife, dan ecotourism. Sepintas keempat jenis wisata alam tersebut terlihat sama. Perbedaan utamanya ada pada aktivitas inti yang dilakukan wisatawan. Wisata petualangan menekankan pada aktivitas fisik pada kondisi alam yang ekstrim seperti arung jeram, panjat tebing, dll. Nature based menekankan pada aktivitas menikmati keindahan alam seperti danau, pantai, air terjun, pegunungan, wildlife menekankan pada aktivitas mengamati sekaligus menikmati bercengkerama dengan satwa liar seperti bird watcing. Sedangkan ecotourism  adalah kegiatan wisata melibatkan unsur pelestarian alam dan lingkungan budaya masyarakat setempat. Intinya ecotourism berbasis pada alam, kesinambungan ekologi, bersifat mendidik, menguntungkan masyarakat setempat dan memuaskan pengunjung<br />
*<br />
Sekali lagi, ini dibutuhkan kreativitas untuk mengelola dan mengolahnya. Karena itu apa yang diangkat Presiden RI mengenai ekonomi gelombang keempat melalui pendekatan tourism  yang berbasis pada keunggulan budaya berpadu dengan otentitas lingkungan alam yang asri dan natural  paling tidak membangunkan kita  bahwa  kesemuanya ini telah terhampar di hadapan kita sendiri.<br />
Salah satu negara yang memang telah melakukan gerakan  dalam hal ini adalah Jepang. Perdana Menteri Junichiro Koizumi memiliki visi dan melihat peluang dalam sektor ecotourism, sehingga pada awal tahun 2003 Koizumi mencanangkan  untuk back to basic menghidupkan kembali pariwisata Jepang yang pernah menjadi sumber devisa utama di masa lalu, guna mengatasi menurunnya perolehan devisa akibat melemahnya daya saing barang-barang industri yang diekspor ke berbagai negara akibat ancaman berbagai produk dari RRC, Taiwan dan Korea Selatan<br />
Segalanya memang harus dimulai, dan tidak ada kata terlambat untuk melakukan sesuatu yang bernilai. Tak berlebihan pula kalau event seperti Tomohon Flowers Festival atau World Ocean Conference  merupakan terobosan menguak tabir bahwa sebenarnya  alam itu sangat dekat dengan manusia. Tinggalah manusia itu sendiri yang harus berikhtiar dan berkreativitas mengolahnya secara bermartabat tanpa merusak alam itu sendiri.<br />
Kalau kita cuma mau jadi penonton,  miskin kreativitas, kapan kita  mampu mengangkat harkat  hidup di mata bangsa lain.<br />
Karena kita bukan pecundang. Bukan bangsa pecundang!<br />
(Sorot Flower City News ed 10/2008)<br />
(wennym-umboh@hotmail.com/wenny-mu@plasa.com)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wmu.blogsome.com/2008/04/30/bukan-pecundang/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Dari Bunga, Membangun Prestasi Menegakkan Prestise</title>
		<link>http://wmu.blogsome.com/2008/04/16/dari-bunga-membangun-prestasi-menegakkan-prestise/</link>
		<comments>http://wmu.blogsome.com/2008/04/16/dari-bunga-membangun-prestasi-menegakkan-prestise/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Apr 2008 11:41:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wmu</dc:creator>
		
	<category>Tomohon City</category>
		<guid>http://wmu.blogsome.com/2008/04/16/dari-bunga-membangun-prestasi-menegakkan-prestise/</guid>
		<description><![CDATA[	
	Kerja all out.
	Paling tidak inilah deskripsi yang harus diketengahkan kepada  pemerintah dan masyarakat Kota Tomohon  menghadapi  gebyar Tomohon Flower Festival  (TFF) 2008 yang akan dilaksanakan selama 1 pekan  di akhir Juni hingga awal Juli 2008. Tepatnya tanggal 29 Juni 2008 hingga 4 Juli 2008. Dari 12   agenda kegiatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>
	Kerja all out.<br />
	Paling tidak inilah deskripsi yang harus diketengahkan kepada  pemerintah dan masyarakat Kota Tomohon  menghadapi  gebyar Tomohon Flower Festival  (TFF) 2008 yang akan dilaksanakan selama 1 pekan  di akhir Juni hingga awal Juli 2008. Tepatnya tanggal 29 Juni 2008 hingga 4 Juli 2008. Dari 12   agenda kegiatan  TFF tersebut, maka Tournament of Flowers (Parade Bunga) merupakan event unggulan yang dipastikan mampu mempersolek Kota Tomohon menjadi  cantik, gagah,  bahkan sangat berbunga-bunga.<br />
	Walaupun sebenarnya kalau dari segi pengalaman, pemerintah dan masyarakat di Kota ini sudah melekat  bagaimana mengelola kegiatan agenda parade bunga ini. Mengingat kegiatan ini telah 2 kali dilaksanakan yaitu tahun 2006 dan 2007 lalu. Namun saat itu masih berskala lokal. Sedangkan tahun ini terjadi ekspansi, yaitu sudah berskala nasional. Meliputi kota-kota di berbagai provinsi yang ada di tanah air, termasuk seluruh  kabupaten dan kota di Sulawesi Utara. Bahkan ke depan atau tahun-tahun berikut sudah melibatkan negara-negara luar.<br />
	Bahkan  Sekretaris Kota Tomohon selaku Ketua Umum Panitia TFF 2008<br />
Drs Johny JP Mambu SH MSi memastikan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara akan menghadiri sekaligus membuka serta menyaksikan  Parade Bunga tersebut.  Dikatakan Johny JP Mambu bahwa tim advance kepresidenan telah melakukan peninjauan  kesiapan Pemerintah Kota Tomohon awal April lalu. Bahkan dijadualkan pula  nantinya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan melakukan kunjungan kerja di antaranya  meresmikan Kantor Sinode GMIM. </p>
	<p>Pematangan persiapan<br />
	Karena itu tak berlebihan jika Ketua Umum Panitia TFF 2008 Drs Johny JP Mambu SH Msi mengemukakan bahwa event TFF ini merupakan prestise bagi Kota Tomohon – pemerintah dan masyarakat – selaku tuan rumah maupun penyelenggara.<br />
	Sejak 2007 lalu persiapan telah dilakukan. Mulai dari penyusunan cetak biru Kota Bunga Tomohon yang disusul dengan Perda Kota Bunga Tomohon dan Festival Bunga Tomohon yang difasilitasi Komite Pemantauan Penyelenggaraan Otonomi Daerah dengan Indonesia Netherland of Agency (INA). Termasuk pula serangkaian konsultasi-konsultasi dengan para Menteri terkait seperti Menteri Perdagangan untuk pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bunga dan mekanisme perdagangannya, Menteri Koperasi dan UKM untuk pengembangan dan pembinan koperasi bunga. Bahkan diprogramkam Tomohon menjadi pilot project nasional Kota Koperasi. Mentari Pertanian untuk pembinaan dan perngembangan bunga, serta Menteri Pariwisata dan Kebudayaan RI yang menjadikan Tournament of Flowers sebagai kalender tetap pariwisata nasional.<br />
	Bahkan sebelumnya telah dibentuk koperasi yang mengkhususkan  bergerak di sektor bunga,  yaitu 35 koperasi dan 1 koperasi induk ditambah dengan 129 kelompok petani bunga. Belum lagi penyelenggaraan pembinaan, pendidikan dan pelatihan  bagi petani bunga serta anggota kelompok tani bunga termasuk pelatihan merangkai bunga  hias kendaraan,  mengikuti berbagai kegiatan promosi di dalam maupun di luar daerah serta melaksanakan kunjungan kerja untuk belajar pengembangan dan pengelolaan bunga di Belanda. Dan yang sangat penting pula adalah membentuk panitia pelaksana Tomohon Flowers Festival 2008 .</p>
	<p>Sebagai pelecut<br />
	Bahkan ke depan, Tomohon dipastikan siap menuju ke wilayah industri florikultura. Ini tentunya berbekal potensi dan keberadaan yang dimiliki. Kesiapan memang telah dibangun dan dikembangkan. Bahkan untuk menuju ke domain tersebut telah disiapkan kawasan 900 hektare untuk pertanian khusus tanaman hias, yang nantinya akan dikembangkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).<br />
	Sehingga dipastikan bahwa Parade Bunga yang telah menjadi agenda wisata tahunan ini merupakan pelecut untuk menuju ke medan industri florikultura ini.<br />
	Kepada Flower City News  Kadis Pertanian Perkebunan Peternakan dan Perikanan Kota Tomohon Vonny F Pontoh membeberkan bahwa Kota Tomohon sudah sangat siap untuk menuju ke industri florikultura.  Hal ini dikatakan Vonny F Pontoh dengan telah tersusunnya Grand Strategy Industri Florikultura Kota Tomohon 2007 – 2012 dan dengan telah ditetapkannya 3 Peraturan Daerah menyangkut florikultura merupakan bukti bahwa kesiapan tersebut memang sudah diaplikasikan. Hanya di sisi lain Pontoh menggarisbawahi bahwa masyarakat Kota Bunga Tomohon harus mampu menyikapi hal ini, sebab ketika akan memasuki tahapan ekspor maka segala sesuatunya harus benar-benar siap. “Siap menghadapi para kompetitor bidang florikultura lainnya baik dari segi kualitas, kuantitas maupun kontinuitas,” ujar Vonny F Pontoh dengan nada optimistik.<br />
	Kendala lain yang disebutkan Kadis Tabunakan Kota Tomohon ini adalah menyangkut kemampuan menyiapkan produk yang memenuhi Standar Operasional Produksi (SOP) sesuai permintaan pasar internasional.  Artinya sebagaimana dijelaskan Vonny F Pontoh kepada Flower City News   penguasaan teknologi produksi di tingkat petani hingga saat ini masih berada pada skala tradisional dan belum mengarah pada pertanian modern ramah lingkungan. “Ini artinya profesionalisme SDM pertanian harus terus ditingkatkan,” timpal Vonny F Pontoh.</p>
	<p>Undangan  telah dikirim<br />
	Sedangkan kesiapan peserta yang diundang mengikuti berbagai kegiatan TFF 2008 memang terus dievaluasi. Namun Ketua Umum Panitia TFF 2008 Drs Johny JP Mambu, SH Msi mengatakan bahwa sekitar 70% daerah yang diundang sudah menyatakan kesiapan  untuk hadir dan menjadi peserta di berbagai kegiatan TFF tersebut. Namun ada juga yang menyatakan akan hadir sebagai peninjau. Berbagai kota yang menyatakan kesiapannya antara lain Kota Kotamobagu, Kota Jogyakarta, Kota Mataram, Kota Pangkalpinang, Kota Gorontalo, Kota Padang, Kota Palembang, Kota Bitung, Kota Kendari, Kota Bengkulu, Kota Manado, Kota Jayapura, Kota Palu, Kota Kupang, Kota Ternate, Kota Samarinda, dan sebagainya.  Sebagian memang siap hadir, namun akan memberikan informasi lebih lanjut.<br />
	Ketua Umum Panitia TFF 2008 Drs Johny JP Mambu SH Msi mengatakan   sekalipun undangan yang telah diantar tidak langsung diserahkan ke kepala daerah, namun yang membawa undangan telah diterima oleh sekda atau asisten di daerah tersebut, itu sudah cukup.<br />
	Yang jelas  ini adalah kerja all out. Membangun prestasi menegakkan prestise. (Flower City News ed. 10/2008)  (wennym-umboh@hotmail.com)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wmu.blogsome.com/2008/04/16/dari-bunga-membangun-prestasi-menegakkan-prestise/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Jelang TFF 2008: Hitung Mundur D-day</title>
		<link>http://wmu.blogsome.com/2008/03/19/jelang-tff-2008-hitung-mundur-d-day/</link>
		<comments>http://wmu.blogsome.com/2008/03/19/jelang-tff-2008-hitung-mundur-d-day/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Mar 2008 12:25:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wmu</dc:creator>
		
	<category>Tomohon City</category>
		<guid>http://wmu.blogsome.com/2008/03/19/jelang-tff-2008-hitung-mundur-d-day/</guid>
		<description><![CDATA[	
	Gebyar event Tomohon Flower Festival 2008 sudah di depan mata. Ajang prestisius bahkan terbilang spektakuler ini mau tidak mau menuntut kematangan kesiapan. Berbagai garda penting  seperti penyiapan suprastruktur seperti bunga dan  seperangkat komitmen berbagai pihak,  juga  infrastruktur pendukung  yang siap berperan  seperti fasilitas-fasilitas spesifik lainnya  termasuk  kesiapan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>
	Gebyar event Tomohon Flower Festival 2008 sudah di depan mata. Ajang prestisius bahkan terbilang spektakuler ini mau tidak mau menuntut kematangan kesiapan. Berbagai garda penting  seperti penyiapan suprastruktur seperti bunga dan  seperangkat komitmen berbagai pihak,  juga  infrastruktur pendukung  yang siap berperan  seperti fasilitas-fasilitas spesifik lainnya  termasuk  kesiapan mental publik Kota Bunga Tomohon memang perlu diperkuat di sana-sini.<br />
	Maklum, ini event  pertama bagi Kota Bunga – yang baru berusia 5 tahun -  diselenggarakan secara nasional. Jadi jelas saja ada semacam situasi kehati-hatian dalam penyiapan ajang ini. Apalagi bisa  dipastikan  pimpinan nasional – Presiden RI – juga unsur Kabinet Indonesia Bersatu  akan hadir dalam acara pembukaan Tomohon Flower Festival tersebut.  Memang, sebelumnya Pemerintah dan Masyarakat Kota Tomohon sudah berpengalaman dalam menyelenggarakan karnaval bunga, paling tidak beberapa tahun terakhir ini. Hanya saya tahun ini karnaval tersebut hanya sebagai satu bagian dari sekian kegiatan yang dihentak nantinya. Bahkan karnaval bunga tersebut  memperoleh nama yang istimewa,  Tournament of Flower.   Memang, tidak salah kalau ada yang berpandangan bahwa Tournament of Flower  ini mirip-mirip dengan Tournament of Roses di Passadena.  Betul,  Festival Bunga (Mawar) Passadena – yang memang telah mendunia itu – menjadi inspirasi penyelenggaraan Tournament of Flower tersebut.<br />
	Sejauh ini, kesiapan-kesiapan menuju  event Tomohon Flower Festival berjalan sesuai dengan track  yang telah disusun. Bahkan Ketua Umum Panitia Tomohon Flower Festival 2008 Drs  JP Mambu SH Msi, mengatakan bahwa dari sisi waktu, kesiapan  penyelenggaraan Tomohon Flower Festival 2008  berlaku day by day.  Artinya, secara umum bahkan teknis, setiap hari merupakan agenda aksi yang mutlak  harus ada kesiapan, ada penanganan dan ujung-ujungnya ada finishing. Dan ini harus.<br />
	Paling tidak itulah gambaran realitas dari apa yang dikemukakan Drs. JP Mambu SH, Msi.  Dari berbagai persiapan menyongsong pelaksanaan Tomohon Flower Festival  sudah berlaku hitung mundur. Hitung mundur D-day.<br />
	Hanya saja dalam pengamatan Flower City News,  penyiapan infrastruktur yang memang masih perlu penguatan di sana-sini. Bahkan kitapun maklum, ketika ditargetkan  sedikitnya 5000 wisatawan dalam dan luar negeri  akan menyaksikan perhelatan Tomohon Flower Festival, dipastikan sebagian dari mereka akan nimbrung  di berbagai kawasan wisata yang ada di Kota Tomohon khususnya. Dan tentu saja, tak pelak berbagai obyek wisata yang ada di lingkup Kota Tomohon perlu ada polesan-polesan untuk mempercantik pesona yang ada.<br />
	Belum lagi penyiapan fasilitas akomodasi baik untuk para undangan, juga kesiapan yang sama untuk para pengunjung dari luar Kota Tomohon.<br />
	Kalau dari sisi produksi, ini tinggal proses. Artinya, kesiapan berbagai elemen masyarakat, kalangan pemangkukepentingan, koperasi bunga, kelompok tani, kesiapan pengadaan bibit produksi, pemeliharaan, berbagai kegiatan pelatihan, dan sebagainya, sudah berjalan. Sehingga  penyiapan 10 juta tangkai bunga potong diharapkan dapat terpenuhi.<br />
	Bahkan, keikutsertaan daerah lain jauh-jauh hari  sudah disiapkan. Undangan ke berbagai daerah tersebut diantar secara personal.  Sehingga ada presentasi khusus dari Panitia ke setiap pimpinan daerah yang diundang.<br />
	Dan tentu saja, the last but not the least, menyangkut kesiapan masyarakat Kota Tomohon untuk menjadi tuan rumah – sebagai makawale –  adalah hal yang sangat penting.  Di sisi lain, tidak hanya faktor mental yang memang  menjadi bagian utama, namun juga untuk hal-hal yang cukup prinsip seperti  selalu menjaga lingkungan yang harmonis, sehat dan berkarakter.<br />
	Dan memang, masyarakat Kota Tomohon siap merespons perhelatan Tomohon Flower Festival 2008 dengan tetap memelihara kultur the smilling peoples  yang memang menjadi bagian dari  style orang Minahasa itu sendiri (wenny m. umboh, flower city news ed. 9/2008)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wmu.blogsome.com/2008/03/19/jelang-tff-2008-hitung-mundur-d-day/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Bergerak, dari Hulu ke Hilir</title>
		<link>http://wmu.blogsome.com/2008/03/19/bergerak-dari-hulu-ke-hilir/</link>
		<comments>http://wmu.blogsome.com/2008/03/19/bergerak-dari-hulu-ke-hilir/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Mar 2008 12:11:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wmu</dc:creator>
		
	<category>Tomohon City</category>
		<guid>http://wmu.blogsome.com/2008/03/19/bergerak-dari-hulu-ke-hilir/</guid>
		<description><![CDATA[		Kembali Walikota Tomohon Jefferson SM Rumajar SE mempertegas pentingnya memperkuat  budidaya florikultura. Sebab inilah yang menjadi pilihan terbaik setelah melalui berbagai kajian  yang eksak. Bahkan pada gilirannya merupakan referensi dasar pembangunan ekonomi daerah.  Artinya, dibalik penguatan budidaya florikultura  terjadi daya ungkit  pertumbuhan ekonomi daerah, termasuk di dalamnya penyediaan lapangan kerja, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>	Kembali Walikota Tomohon Jefferson SM Rumajar SE mempertegas pentingnya memperkuat  budidaya florikultura. Sebab inilah yang menjadi pilihan terbaik setelah melalui berbagai kajian  yang eksak. Bahkan pada gilirannya merupakan referensi dasar pembangunan ekonomi daerah.  Artinya, dibalik penguatan budidaya florikultura  terjadi daya ungkit  pertumbuhan ekonomi daerah, termasuk di dalamnya penyediaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat serta pertumbuhan sektor barang dan jasa.<br />
	Dalam gelar Rapat Koordinasi di jajaran Pemerintah Kota Tomohon  pertengahan Maret lalu, Jefferson SM Rumajar mewanti-wanti semua pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk lebih mengoptimalkan performance instansi yang dipimpin untuk tetap berada pada track yang berhulu pada penguatan industri florikultura tersebut. Tentu saja dengan berpedoman pada masing-masing tugas pokok dan fungsi di setiap SKPD.</p>
	<p>Jurus-Jurus Produktif<br />
	Memang dalam draft “Grand Design Pengembangan Industri Florikultura Kota Tomohon”  disebutkan jurus-jurus produktif  yang dapat dilakukan dalam pengembangan usaha florikultura.  Di antaranya adalah menetapkan produk unggulan untuk dijadikan komoditas industri, mengembangkan kawasan sentra industri florikultura, memmanfaatkan sumberdaya alam, mengembangkan teknologi industri florikultura dan memperkuat system produksi, meningkatan kualitas SDM petani dan pelaku usaha yang kompeten, membina kelembagaan usaha, memberdayakan dan mengembangkan kelembagaan usaha serta jejaring usaha, meningkatkan promosi dan membuat akses informasi serta menyediakan infrastruktur pendukung.<br />
	Tentu saja, jurus-jurus tersebut bukan hanya sebagai jargon untuk kepentingan sesaat. Atau hanya sebagai pisau analisa yang cuma membombardir  jurus-jurus dimaksud tanpa ada terminologi dan konsistensi pijakan. Tapi itu semua harus ada gerakan, atau upaya bahkan terobosan yang sistematis, terencana dan terukur dari mana harus dimulai, serta prediksi apa yang dapat muncul sebagai konsekuensi logis dari sebuah kebijakan.<br />
	Dan memang, berbagasi upaya ataupun gebrakan yang dilakukan Pemerintah Kota Tomohon  untuk meretas jalan menuju ke gerbang industri florikultura terus mengalir tak pernah henti. Mulai dari sosialisasi program dan blue print  ke berbagai komponen masyarakat dan para pemangkukepentingan lainnya, mengirimkan kelompok petani bunga menimba pengetahuan tentang bercocok tanam bunga atau tanaman hias di berbagai sentra florikultura seperti Cipanas, membentuk koperasi petani bunga, membangun laboratorium kultur jaringan, penyiapan flower development zone (FDZ) sebagai cikal bakal Kawasan Ekonomi Khusus, belajar pengembangan bunga di negara Kincir Angin, termasuk mengundang para petinggi negara ini yang mempunyai otoritas dan legitimasi yang kuat dalam upaya menumbuhkembangkan suatu gerakan florikultura sebagai bentuk industri. Bahkan sampai kepada penyelenggaraan  pagelaran prestisius yang bertajuk Tomohon Flower Festival.<br />
 “Yang jelas ini semua adalah untuk kepentingan masyarakat Kota Tomohon. Sebab  dari sanalah terjadi multiplier effect ekonomi yang kuat,” ujar Jefferson SM Rumajar.</p>
	<p>Kuncinya pada SDM<br />
Namun tentu saja  torehan-torehan tersebut perlu penterjemahan dan aplikasi lebih lanjut. Dan kembali pada pelaku-pelaku yang memang harus punya kesiapan matang untuk merealisasikan, mewujudnyatakan obsesi yang sudah terpatri.<br />
Beberapa waktu lalu, ketika berkunjung ke Kota Tomohon, Dr Ir Ahmad Dimyati MS – Direktur Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian –  menggarisbawahi keberadaan sumberdaya manusia (SDM) untuk menggerakkan pemberdayaan florikultura sebagai industri merupakan hal mendasar yang harus dipersiapkan. SDM tersebut dikatakan Ahmad Dimyati harus mempunyai wawasan dan pengetahuan dalam mengelola tanaman hias.<br />
Di sisi lain, tentu saja karakteristik SDM tersebut harus spesifik. Yaitu harus  berbeda dengan  petani tanaman pangan kebanyakan. Karakteristik SDM yang dimaksud harus bermuatan sebagai pelaku usaha florikultura.<br />
Draft Grand Strategi Pengembangan Industri  Florikultura Kota Tomohon membagi pelaku usaha florikultura ini ke dalam dua kelompok. Yaitu pelaku berskala usaha kecil dan pelaku berskala usaha besar. Pelaku berskala usaha kecil ini umumnya lebih banyak jumlahnya dibandingkan pelaku usaha berskala besar, dan mereka memasarkan produk untuk kebutuhan dalam negeri serta memasok produk untuk pelaku usaha besar. Sedangkan pelaku berskala usaha besar adalah mereka yang memiliki usaha lahan lebih dari 2 Ha dan memasarkan produk florikultura untuk memenuhi pasar domestic maupun pasar internasional. Namun masing-masing pelaku usaha florikultura ini harus  punya karakter seperti inovatif terhadap teknologi modern, memiliki jiwa kewirausahaan, responsive terhadap perubahan preferensi pasar, berorientasi pada profit, melakukan pengelolaan usaha dengan padat modal, memiliki akses pasar dan informasi, dan memiliki jaringan kerja yang luas.<br />
Kini, semuanya telah bergerak.  Bergerak dari hulu, bunga dan tanaman hias, sebagai sebuah prime mover  - penggerak ekonomi utama - hingga menuju pada tatanan hilir industri florikultura.  (wenny m. umboh, flower city news ed. 9/2008)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wmu.blogsome.com/2008/03/19/bergerak-dari-hulu-ke-hilir/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>TFF dan VIY 2008: Sebuah Sinergitas</title>
		<link>http://wmu.blogsome.com/2008/03/19/tff-dan-viy-2008-sebuah-sinergitas/</link>
		<comments>http://wmu.blogsome.com/2008/03/19/tff-dan-viy-2008-sebuah-sinergitas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Mar 2008 09:12:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wmu</dc:creator>
		
	<category>Tomohon City</category>
		<guid>http://wmu.blogsome.com/2008/03/19/tff-dan-viy-2008-sebuah-sinergitas/</guid>
		<description><![CDATA[	
	Saat meresmikan program Visit Indonesia Year (VIY) 2008 akhir Desember lalu di Jakarta, Menteri Kebudayaan  dan Pariwisata Jero Wacik mengatakan bahwa VIY 2008 bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan sektor pariwisata dengan melibatkan komponen masyarakat secara luas, berpartisipasi mensukseskan tahun kunjungan wisata Indonesia 2008.
	Dikatakan Jero Wacik,  VIY 2008 merupakan upaya untuk meningkatkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>
	Saat meresmikan program Visit Indonesia Year (VIY) 2008 akhir Desember lalu di Jakarta, Menteri Kebudayaan  dan Pariwisata Jero Wacik mengatakan bahwa VIY 2008 bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan sektor pariwisata dengan melibatkan komponen masyarakat secara luas, berpartisipasi mensukseskan tahun kunjungan wisata Indonesia 2008.<br />
	Dikatakan Jero Wacik,  VIY 2008 merupakan upaya untuk meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia di tingkat nasional dan internasional.  “Digelarnya YIY 2008 tersebut didasari oleh beberapa pemikiran antara lain Indonesia sudah sangat lama tidak mengadakan tahun kunjungan setelah yang terakhir pada tahun 1991 dan persepsi Indonesia di mata dunia yang semakin membaik. Selain itu tahun 2008 ini merupakan momentum yang tepat, berkaitan dengan 100 tahun kebangkitan nasional,’ ungkap Jero Wacik.<br />
	Bahkan untuk VIY, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata sangat optimis target kunjungan 7 juta wisatawan mancanegara pada tahun 2008 dapat diraih, sekaligus meningkatkan target kunjungan wisatawan mancanegara dari tahun sebelumnya sebanyak 5,5 juta wisman. Optimisme itu terlihat dari adanya peningkatan angka kunjungan wisatawan mancanegara pada Januari 2008 yang meningkat sekitar 13 persen dari periode yang sama tahun 2007.</p>
	<p>TFF: Super Wisata<br />
	Tentu saja penyelenggaraan Tomohon Flower Festival merupakan benang merah dari VIY2008. Bahkan lebih dari itu. Tomohon Flower Festival  merupakan terobosan baru untuk memperkuat warna kepariwisataan di Indonesia  bahkan di Sulawesi Utara khususnya di Kota Tomohon. Perhelatan Tomohon Flower Festival 2008 merupakan ajang super wisata yang siap mengangkat pamor Kota Tomohon. Dalam hal ini Departemen Kebudayaan dan Pariwisata  telah menetapkan Tomohon Flower Festival sebagai agenda tahunan. Khusus untuk tahun ini Tomohon Flower Festival merupakan event  nasional yang sudah masuk dalam agenda VIY 2008.<br />
	Harus diakui pula, secara makro pencanangan Visit Indonesia Year 2008 tersebut sekaligus sebagai tolok ukur keberhasilan pembangunan industri pariwisata di tanah air. Secara nasional memang berbagai  perhelatan kepariwisataan Indonesia telah dan siap digeber. Mulai dari program Kenali Negerimu Cintai Negerimu, Sapta Pesona, juga peluncuran film-film pariwisata dan berbagai materi kepariwisataan lainnya.<br />
	Bagi Kota Tomohon jelas ini semua merupakan babakan baru bagi pencerahan dunia pariwisata di kota ini. Hal ini akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karena perputaran roda ekonomi di bidang wisata  akan semakin signifikan melalui berbagai fasilitas pendukung seperti penginapan (home stay), resort, cottage, restoran dan kuliner,  transportasi, travel, termasuk pentas seni, cenderamata, penjualan bunga dan tanaman hias. Ini semua merupakan item yang sangat berperan dalam mendukung geliat dunia wisata sekaligus roda perekonomian masyarakat.<br />
	Bahkan akhirnya Tomohon Flower Festival 2008 menjadi sangat strategis jika dikaitkan dengan beberapa kegiatan promosi berskala nasional maupun internasional seperti Pekan Florikultura Nasional 2008,  World Ocean Conference 2009 dan Visit North Sulawesi 2010.<br />
	Karena itu penyelenggaraan Tomohon Flower Festival 2008 merupakan bagian yang tak terpisahkan dari program Tahun Kunjungan Indonesia 2008. Yang jelas, Pemerintah dan masyarakat Kota Tomohon telah bertekad untuk mensukseskan perhelatan ini.  Artinya,  melalui penyelenggaraan Tomohon Flower Festival tersebut, tidak hanya dunia pariwisata nasional yang terangkat, tapi secara internal terjadi perputaran roda ekonomi masyarakat. Bahkan ke depan, efek ganda yang terjadi merupakan sebuah pencerahan bagi terwujudnya sebuah disain industri florikultura. Dan memang, inilah yang diharapkan. Namun yang jelas ini semua bukan merupakan tujuan akhir. Karena yang terpenting adalah bagaimana masyarakat Kota Tomohon ini pada gilirannya berada pada  tingkat kualifikasi kualitas hidup yang tidak  hanya sekedar memadai, namun ada warna kesejahteraan di dalamnya. (wenny m. umboh, flower city news ed.9/2008) </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wmu.blogsome.com/2008/03/19/tff-dan-viy-2008-sebuah-sinergitas/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Rumajarnomics</title>
		<link>http://wmu.blogsome.com/2008/03/19/rumajarnomics/</link>
		<comments>http://wmu.blogsome.com/2008/03/19/rumajarnomics/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Mar 2008 01:40:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wmu</dc:creator>
		
	<category>Tomohon City</category>
		<guid>http://wmu.blogsome.com/2008/03/19/rumajarnomics/</guid>
		<description><![CDATA[	
Rumajarnomics
	Catatan: Wenny  M  Umboh
(Sorot, Flower City News, ed. 9/2008)
	Genderang  itu telah ditabuh. Berarti arak-arakan telah bergerak. Sebuah perjalanan yang istimewa, bahkan sangat spesial.   Arak-arakan masyarakat Kota Tomohon  membangun dirinya dengan melekatkan pada  fenomena kultural yang telah menjadi bagian dari darah daging  sendiri. Sebuah pemberdayaan tradisi yang ditandai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>
Rumajarnomics</p>
	<p>Catatan: Wenny  M  Umboh<br />
(Sorot, Flower City News, ed. 9/2008)</p>
	<p>Genderang  itu telah ditabuh. Berarti arak-arakan telah bergerak. Sebuah perjalanan yang istimewa, bahkan sangat spesial.   Arak-arakan masyarakat Kota Tomohon  membangun dirinya dengan melekatkan pada  fenomena kultural yang telah menjadi bagian dari darah daging  sendiri. Sebuah pemberdayaan tradisi yang ditandai betapa dekatnya masyarakat di kota ini dengan bunga. Sekali lagi, bunga.<br />
Memang demikian. Dan inilah yang dibidik oleh seorang Jefferson SM Rumajar SE – Walikota pertama pilihan rakyat Kota Tomohon –  untuk membangun tatanan ekonomi, membangun kualitas hidup atau kesejahteraan masyarakat.  Bunga merupakan wahana yang menjadi pilihan.  Pilihan utama!<br />
Dan memang sepertinya hampir tidak ada daerah lain di Indonesia yang beralternatif membangun ekonomi dengan bunga.  Kalaupun ada, itupun cuma dipandang sebelah mata.<br />
Bagi Jefferson SM Rumajar, fenomena bunga yang telah menjadi bagian hidup masyarakat Kota Tomohon dan akhirnya  melahirkan decission bahwa bunga sebagai sektor unggulan  dalam menggerakkan kehidupan ekonomi  sudah dikaji secara dalam bahkan melibatkan para pakar di bidang florikultura. Baik pakar bisnisnya maupun pakar teknologi florikultura itu sendiri. Apalagi sang Walikota ini punya background ilmu ekonomi. Jadi lengkaplah, perpaduan antara kultur, naluri, realitas, dan keilmuan itu sendiri. Inilah yang menjadi lazuardi pada asa Jefferson SM Rumajar.<br />
Saya meminjam data Nancy Laws – seorang spesialis marketing ekspor florikultura yang menetap di Paris –  yang dipublikasikannya tahun 2008. Nilai ekspor florikultura di berbagai negara yang menurut saya sangat fantastis. Uni Eropa 3 miliar Euros, Colombia 800 juta Euros, Ecuador 500 juta Euros, Kenya 300 juta Euros, Israel 150 juta euros, dan Indonesia cuma 15 juta euros. Dikatakan Nancy Laws,  in 2005 Indonesia exported $4,523,602 worth of live plants – only 0,01% of the $4,585,411,719 world trade in live plants. Indonesia plant exports increased only 2% in a year where Taiwan increased exports by 11%, China increased exports by 24%, South Korea by 61%, Thailand by 35%, Malaysia 22%.<br />
Sebuah angka yang memiriskan. Secara nasional memang Indonesia kalah jauh dalam permainan ini dibandingkan negara lain<br />
Demikian pula dengan data dari Asosiasi Bunga Indonesia (ASBINDO). Perkembangan ekspor industri florikultura dunia pada tahun 2007 mencapai  US$80 miliar. Khusus untuk Eropa dan Amerika Serikat kontribusinya US$9 miliar. Sedangkan Indonesia hanya US$15 juta<br />
Bagi Jefferson SM Rumajar tentu saja angka ini boleh jadi telah menggelitik instingnya untuk mengambil langkah menabuh genderang. Berarti potensi berbisnis bunga peluangnya sangat besar, terbuka lebar.<br />
Dalam wawancara beliau di Tempo edisi 16 Maret 2008, hitung-hitungannya begini. “Satu hektar bunga krisan bisa menghasilkan Rp300 juta dalam 100 hari. Tidak ada jenis pertanian lain yang bisa menghasilkan nilai setinggi ini. Jagung dalam satu hektar paling tinggi menghasilkan Rp7 juta. Padi menghasilkan sekitar Rp6 juta. Di Belanda lebih spektakuler lagi, satu hektar tanaman bunga rose bisa menghasilkan 1 juta euro (Rp13 miliar). Ini sebuah potensi untuk mengembangkan ekonomi. Inilah pula  yang ingin dijalankan di Tomohon. Pasar bunga potong nasional 250 juta tangkai pertahun dan baru bisa dipasok sebesar 158 juta. Sementara pasar bunga dunia pertahun mencapai  US$80 miliar dan sumbangan Indonesia berdasarkan  data 2006 baru mencapai US$12 juta.”<br />
Untuk tingkat lokal, tahun 2005 Tomohon memproduksi 2 juta tangkai bunga. Tahun 2006 mencapai 5 juta tangkai. Pada 2007 mencapai 10 juta tangkai. Sekalipun 50% masih dipasok dari Bandung. Dan tentu tendensi ini memperlihatkan demand sangat kuat.<br />
Bahkan  pada tahun 2005 ketika Jefferson SM Rumajar diangkat sebagai Walikota pertumbuhan ekonomi 4,1 persen (nasional 5,8%), Tahun 2006 naik menjadi 6,1 persen (nasional 5,7 persen), dan tahun 2007 naik hingga 6,8 persen (nasional 6,1 persen dan Sulut 6,3 persen). Paling tidak indikator angka ini memperlihatkan adanya gairah ekonomi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat.  Berarti pula ada peningkatan pendapatan masyarakat, yang ditandai dengan bergairahnya sektor riil, sehingga ada trend peningkatan daya beli masyarakat.<br />
Data mereka yang belum bekerja terjadi penurunan. Jika tahun 2005 data angkatan kerja tercatat kurang lebih 18.000 orang menganggur, tahun 2007  berkurang hingga 3000 orang. Dan ternyata sebagian besar dari mereka itu telah berprofesi  di sektor florikultura<br />
Jadi ketika data ini berbicara mengungkap apa yang ada di lapangan tentu kita perlu mempertajam sudut pandang filosofi ekonomi yang dikembangkan Jefferson SM Rumajar.<br />
Sebuah filosofi ekonomi yang saya sebut sebagai Rumajarnomics.<br />
Atau ada yang berminat  mengkajinya lebih lanjut? </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wmu.blogsome.com/2008/03/19/rumajarnomics/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Menengok Geliat Kawanua di Palembang</title>
		<link>http://wmu.blogsome.com/2008/03/01/menengok-geliat-kawanua-di-palembang/</link>
		<comments>http://wmu.blogsome.com/2008/03/01/menengok-geliat-kawanua-di-palembang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Mar 2008 13:24:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wmu</dc:creator>
		
	<category>From Sulut with Love</category>
		<guid>http://wmu.blogsome.com/2008/03/01/menengok-geliat-kawanua-di-palembang/</guid>
		<description><![CDATA[	Catatan: Wenny M. Umboh*)
	Saya berkesempatan mengambil cuti tahun 2006 lalu, bertandang ke Kota Palembang – yang kental dengan  sebutan kota empek-empek serta jembatan Ampera sebagai ikon kota – sekaligus mengunjungi komunitas Kawanua yang bermukim di kota ini. Saya harus akui, ternyata masyarakat Kawanua di Palembang merupakan entitas yang turut mewarnai gerak kehidupan uong kito [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Catatan: Wenny M. Umboh*)</p>
	<p>Saya berkesempatan mengambil cuti tahun 2006 lalu, bertandang ke Kota Palembang – yang kental dengan  sebutan kota empek-empek serta jembatan Ampera sebagai ikon kota – sekaligus mengunjungi komunitas Kawanua yang bermukim di kota ini. Saya harus akui, ternyata masyarakat Kawanua di Palembang merupakan entitas yang turut mewarnai gerak kehidupan uong kito  (sebutan khas orang Palembang), bahkan Pemerintah Kota Palembang  merespons positif keberadaan Kawanua di Palembang yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Kawanua Palembang (K3P) sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakat Palembang itu sendiri<br />
*<br />
	Ketika pesawat yang saya tumpangi mendarat mulus di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, kesan pertama yang muncul adalah saya tiba di sebuah kota yang sedang melakukan pembenahan akses publik secara luar biasa.<br />
	Dahulu tahun 2004 saat bersama dengan tim PON XVI Sulut tiba di bandara ini sebagai gerbang memasuki kota empek-empek saya merasa gerah dengan keberadaan bandara ini. Sudah kecil ditambah lagi dengan fasilitas serba terbatas membuat suasana hati saya menjadi sumpeg. Tidak habis pikir, masak sih kota multi niaga sekelas Palembang mempunyai bandara yang menurut saya tidak representatif. Artinya sebuah bandara yang mampu mendukung gerak dinamis kehidupan roda niaga tersebut. Hanya untuk menjemput bagasi harus bakusesak disebuah ruangan yang bagi saya sempit tidak memadai. Memang sudah kesekian kali saya berada di bandara ini dan saat itu saya berpikir sepertinya tidak ada prioritas pemerintah daerah untuk mengurusi pintu masuk kota ini.<br />
	Awal Maret 2006 ini saya kembali berkesempatan datang ke Palembang. Saya harus katakan luar biasa, perubahan hebat. Saya tiba di sebuah bandara yang benar-benar representatif. Ada kelegaan, ada kepuasan dan dalam hati saya menggumam, so ini tu bandara berkelas. Semua fasilitas memang mendukung bagi keberadaan sebuah bandara internasional, yang mempunyai airlines ke beberapa kota penting di kawasan ASEAN. Memang harus begitu, apalagi Pemprovsus (akronim yang lazim digunakan pers di daerah ini untuk menyebutkan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan) memiliki Sriwijaya Airlines - perusahaan penerbangan yang saat ini sedang berupaya menambah beberapa armada,  bahkan dalam waktu dekat ini  siap meramaikan penerbangan ke Manado, mengingat peluang pasar yang signifikan dengan potensi wisata yang ada di bumi Nyiur Melambai. Sedang di sisi lain guna mendukung misi Pemprovsus menjadikan Sumsel sebagai  daerah Lumbung Pangan dan Energi Nasional memang perlu membuka network area dengan provinsi lain yang berpotensi sebagai market area. Atau dengan kata lain, keberadaan Sumsel sebagai lumbung energi dan lumbung pangan tersebut seyogianya harus dapat dirasakan kemanfaatannya oleh daerah lain.  </p>
	<p>Manado di mata orang Palembang<br />
	Di sejumlah pekerja  pers Palembang, seperti Sumatera Express, Sriwijaya Post, Berita Pagi, ketika saya temui mereka bahkan  sudah mengetahui Manado yang indah dan aman, dan sering mereka berkelakar menyebut Manado kota 4 B (Bunaken, Boulevard, Bubur Manado, dan sambil tersenyum mereka bilang Bibir Manado). Dalam hati saya menggumam, tahu juga kalian dengan Manado!<br />
Saat HUT PWI dan Hari Pers Nasional XXII tingkat Provinsi Sumsel yang dipusatkan di Kabupaten Banyuasin tepatnya di kota Pangkalanbalai 10 Maret lalu, kepada rekan-rekan pers di daerah ini saya katakan bahwa Pemkot dan masyarakat Manado mempunyai misi menjadikan Manado kota wisata dunia tahun 2010. Ternyata  mereka mengakui Manado sangat berpotensi untuk itu, apalagi didukung dengan wisata alam, wisata budaya dan wisata kuliner yang sangat menunjang, dengan style Kawanua yang ceplas-ceplos.<br />
    	Harus pula saya akui, ketertarikan orang Palembang dengan Manado akhir-akhir ini tidak lepas pula dari kehadiran seorang Ferry Rotinsulu, kiper nasional U-23 yang saat ini menjadi  penjaga gawang nomor satu Sriwijaya FC (klub sepak bola divisi utama home base di Stadion Bumi Sriwijaya Palembang). Ferry Rotinsulu ini telah menjadi idola bagi orang Palembang khususnya Sriwijayamania. Ketika Sriwijaya FC bermain       imbang 0 - 0 dengan Persib saat bermain di Bandung beberapa waktu lalu dengan penampilan gemilang Ferry menepis tendangan pinalti Persib, penggila bola di Palembang berujar, oi lihai nian uong menado siko ini dak sala nian kito ado dio (hebat orang Manado satu ini tidak salah  kita ada dia). Kegemilangan Ferry dan penampilan  anyar Laskar Sriwijaya  akhirnya menjadi newsline di koran-koran Palembang selama beberapa hari.<br />
	Secara obyektif memang harus saya akui bagi orang Palembang, Sulut unsich identik dengan Manado. Artinya begini, orang Minahasa itu di mata orang Palembang adalah orang Manado, orang Sangir Talaud ya orang Manado, orang Bolmong juga ya orang Manado. Memang labeling atau stereotype ini harus diluruskan. Namun kenyataan demikian, sekalipun saya jelaskan soal keberadaan etnis (suku) maupun subetnis di Sulut terlebih setelah adanya pemekaran wilayah, mereka memang memahami namun kenyataan demikian. Sulut diidentikan dengan Manado. Sama dengan orang-orang Barat yang mengidentikan Indonesia dengan Bali misalnya. Jadi saya pikir sementara ini biarlah fenomena ini terjadi.<br />
	Di Palembang, masyarakat Kawanua di kota ini  membentuk organisasi Kerukunan Keluarga Kawanua Palembang (K3P), yang menghimpun semua Kawanua yang ada di Palembang dan sekitarnya (seperti di Plaju, Sungai Gerong, Prabumulih, Kayu Agung, Sekayu dan berbagai wilayah hinterland lainnya seperti Pendopo, Indralaya, Betung, dan sebagainya). Seperti dikatakan Capt. Boy Makadada - Ketua K3P - bahwa organisasi ini menyatukan siapa saja yang merasa ada keturunan dari leluhur Minahasa dan tidak terbatas dari agama manapun atau keluarga yang suami atau istri dari lain etnis. Di K3P dikatakan Boy Makadada warga Kawanua saling berbagi rasa, saling bantu sehingga sekalipun jauh dari tanah Minahasa namun tetap merasakan suasana keminaesaan dan tidak merasa terasing satu dengan lainnya. Lebih daripada itu ungkap Boy, karena sudah lahir, besar, kerja dan hidup di Palembang, tetap merasa seperti di kampung sendiri sehingga ada rasa sayang dan muncul dalam hatisanubari untuk memelihara tempat tinggal sekarang yaitu Kota Palembang. Artinya bagaimana warga kawanua ikut merespons positip berbagai kebijakan dan pembangunan di kota empek-empek ini. Dan untuk memelihara nuansa tersebut, K3P melakukan berbagai aktivitas seperti pertemuan-pertemuan rutin di rumah anggota yang diisi dengan peribadatan, makan minum bersama dengan menu khas Minahasa, melakukan kegiatan kesenian dan olahraga, menerbitkan buletin K3P sebagai media komunikasi dan informasi. Beberapa kali kesenian Minahasa seperti tari maengket, tari pisok, katrili, dan sebagainya tampil di TV lokal seperti TV Sumsel, TV Pal. Olahraga Contract Bridge yang menjadi tradisi warga Kawanua tetap menjadi bagian tak terpisahkan dalam lingkungan K3P. “Kita  so siap mo supply pe-bridge handal bagi tim Sumsel di berbagai even seperti PON karena adanya warga Kawanua yang berada di squad Sumsel seharusnya menjadi kebanggaan dan mengangkat pamor Sulut di bumi Sriwijaya. Contoh Ferry Rotinsulu di sepakbola ataupun mantan atlet lainnya seperti almarhum Jo Supit (bridge), Henry Rumesser (tenis meja),  Eva Poluan (menembak), Johny Kokong (judo), Kalalo bersaudara (renang) dan sebagainya yang sekarang menetap di Palembang dan pernah memperkuat Sumsel dalam berbagai iven olahraga baik nasional maupun internasional,” ujar Ferry Umboh - pengurus seksi Pemuda dan Olahraga K3P.<br />
	Saya benar-benar kagum dengan Kawanua-Kawanua di Palembang. Apalagi bertepatan dengan cuti saya di kota ini, Pemkot Palembang bersama dengan Badan Kerjasama Sosial Budaya Paguyuban Indonesia (BKSBPI) di Palembang - yang menghimpun seluruh suku dan etnis di Palembang yang sementara tercatat 32 paguyuban sebagai anggota - menyelenggarakan festival kesenian lagu berbahasa daerah antarpaguyuban tersebut.<br />
	Memang BKSPI ini masih baru. Pengurusnya baru dilantik Gubernur Syahrial Oesman 4 Maret 2006 lalu. Sebagai Ketua Umum Djohan Hanafiah - seorang budayawan Palembang. Ada 5 orang dari K3P yang menjadi pengurus BKSPI termasuk Ketua K3P Capt. Boy Makadada terpilih sebagai Bendahara. Ketika pelantikan yang diselenggarakan di kawasan wisata Benteng Kuto Besak tepat di pinggir Sungai Musi dengan latar belakang Jembatan Ampera, Tari Maengket mendapat kehormatan dari 3 daerah untuk tampil pertama mengisi acara (wow&#8230;). Dilanjutkan dengan tari dari Sumatera Barat dan Lampung. Saat itu Gubernur Syahrial Oesman dalam pengantar sewaktu pelantikan sempat memuji Sulut sebagai daerah yang damai penuh dengan aneka budaya dan kesenian bahkan mengemukakan Gubernur S.H. Sarundajang sebagai tokoh teladan dan sahabat baiknya!<br />
	Festival kesenian  lagu berbahasa daerah antarpaguyuban tersebut dilaksanakan tanggal 11 dan 12 Maret 2006 tetap di kawasan Benteng Kuto Besak. K3P yang memang sudah mempersiapkan tim keseniannya mengutus  Paula Mambu sebagai penyanyi dengan penari latar 5 orang masing-masing Eva Poluan, Mariska Mangindaan, Fane Undang, Diana Santi, Keke Poluan. Sebagai lagu wajib adalah Bang Toyib (yang diaransemen dalam bahasa daerah untuk versi Kawanua adalah Peitua Toyib), dan lagu pilihan Sapa Suruh Datang Palembang. Dari 32 tumpukan paguyuban yang tampil, dipilih 15 terbaik. Salah satunya Paula Mambu dkk. Bahkan para penonton yang sempat berdecak kagum dengan penampilan para wewene ini berani memastikan  3 besar sudah di tangan. Apalagi saat pengumuman 15 terbaik selesai, Walikota Manado Ir Eddy Santana mau manggung menyumbangkan sebuah lagu berirama melayu, dengan diiringi tim kesenian K3P sebagai penari latar.<br />
	Final festival kesenian tsb akan dilaksanakan 24 Maret mendatang. Akan tampil 15 tim. Saat ini tim kesenian K3P sedang latihan intensif. Mereka berusaha akan tampil prima nantinya. Kita doakan saja saudara-saudara kita di perantuan ini - warga Kawanua di Palembang sukses dan mendapat juara dalam perhelatan tersebut. So, tidak ada salahnya  warga Kawanua di Sulut yang berkesempatan,  menghadiri acara ini mendukung tim kesenian K3P. Karena melalui mereka pula gaung Sulut dikumandangkan.<br />
	Sayang, saya sendiri tidak mungkin menyaksikan penampilan mereka, karena cuti saya sudah habis. Sekarang ini saja sudah siap-siap kembali ke Manado. Oke, selamat berfestival, selamat bertanding. Ngoni bisa! Kalau juara saya janji kirim brenebon tompaso dan kacangtore kawangkoan for ngoni mo pesta akang.</p>
	<p>	*)Begawe di Bagian Humas Sekdakot Tomohon. Dulu aku lamo di Palembang. Sekolanyo  SD di Xaverius Limo, SMP di Xaveriuis Kamboja, SMA di Bangau. Sudatu kuliah di UI. Eh ma’ini  la di Manado. Ai nasib, nasib. Ca’itula&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wmu.blogsome.com/2008/03/01/menengok-geliat-kawanua-di-palembang/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
