Bunga Rampai WMU

April 16, 2008

Dari Bunga, Membangun Prestasi Menegakkan Prestise

Filed under: Tomohon City

Kerja all out.
Paling tidak inilah deskripsi yang harus diketengahkan kepada pemerintah dan masyarakat Kota Tomohon menghadapi gebyar Tomohon Flower Festival (TFF) 2008 yang akan dilaksanakan selama 1 pekan di akhir Juni hingga awal Juli 2008. Tepatnya tanggal 29 Juni 2008 hingga 4 Juli 2008. Dari 12 agenda kegiatan TFF tersebut, maka Tournament of Flowers (Parade Bunga) merupakan event unggulan yang dipastikan mampu mempersolek Kota Tomohon menjadi cantik, gagah, bahkan sangat berbunga-bunga.
Walaupun sebenarnya kalau dari segi pengalaman, pemerintah dan masyarakat di Kota ini sudah melekat bagaimana mengelola kegiatan agenda parade bunga ini. Mengingat kegiatan ini telah 2 kali dilaksanakan yaitu tahun 2006 dan 2007 lalu. Namun saat itu masih berskala lokal. Sedangkan tahun ini terjadi ekspansi, yaitu sudah berskala nasional. Meliputi kota-kota di berbagai provinsi yang ada di tanah air, termasuk seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Utara. Bahkan ke depan atau tahun-tahun berikut sudah melibatkan negara-negara luar.
Bahkan Sekretaris Kota Tomohon selaku Ketua Umum Panitia TFF 2008
Drs Johny JP Mambu SH MSi memastikan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara akan menghadiri sekaligus membuka serta menyaksikan Parade Bunga tersebut. Dikatakan Johny JP Mambu bahwa tim advance kepresidenan telah melakukan peninjauan kesiapan Pemerintah Kota Tomohon awal April lalu. Bahkan dijadualkan pula nantinya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan melakukan kunjungan kerja di antaranya meresmikan Kantor Sinode GMIM.

Pematangan persiapan
Karena itu tak berlebihan jika Ketua Umum Panitia TFF 2008 Drs Johny JP Mambu SH Msi mengemukakan bahwa event TFF ini merupakan prestise bagi Kota Tomohon – pemerintah dan masyarakat – selaku tuan rumah maupun penyelenggara.
Sejak 2007 lalu persiapan telah dilakukan. Mulai dari penyusunan cetak biru Kota Bunga Tomohon yang disusul dengan Perda Kota Bunga Tomohon dan Festival Bunga Tomohon yang difasilitasi Komite Pemantauan Penyelenggaraan Otonomi Daerah dengan Indonesia Netherland of Agency (INA). Termasuk pula serangkaian konsultasi-konsultasi dengan para Menteri terkait seperti Menteri Perdagangan untuk pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bunga dan mekanisme perdagangannya, Menteri Koperasi dan UKM untuk pengembangan dan pembinan koperasi bunga. Bahkan diprogramkam Tomohon menjadi pilot project nasional Kota Koperasi. Mentari Pertanian untuk pembinaan dan perngembangan bunga, serta Menteri Pariwisata dan Kebudayaan RI yang menjadikan Tournament of Flowers sebagai kalender tetap pariwisata nasional.
Bahkan sebelumnya telah dibentuk koperasi yang mengkhususkan bergerak di sektor bunga, yaitu 35 koperasi dan 1 koperasi induk ditambah dengan 129 kelompok petani bunga. Belum lagi penyelenggaraan pembinaan, pendidikan dan pelatihan bagi petani bunga serta anggota kelompok tani bunga termasuk pelatihan merangkai bunga hias kendaraan, mengikuti berbagai kegiatan promosi di dalam maupun di luar daerah serta melaksanakan kunjungan kerja untuk belajar pengembangan dan pengelolaan bunga di Belanda. Dan yang sangat penting pula adalah membentuk panitia pelaksana Tomohon Flowers Festival 2008 .

Sebagai pelecut
Bahkan ke depan, Tomohon dipastikan siap menuju ke wilayah industri florikultura. Ini tentunya berbekal potensi dan keberadaan yang dimiliki. Kesiapan memang telah dibangun dan dikembangkan. Bahkan untuk menuju ke domain tersebut telah disiapkan kawasan 900 hektare untuk pertanian khusus tanaman hias, yang nantinya akan dikembangkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Sehingga dipastikan bahwa Parade Bunga yang telah menjadi agenda wisata tahunan ini merupakan pelecut untuk menuju ke medan industri florikultura ini.
Kepada Flower City News Kadis Pertanian Perkebunan Peternakan dan Perikanan Kota Tomohon Vonny F Pontoh membeberkan bahwa Kota Tomohon sudah sangat siap untuk menuju ke industri florikultura. Hal ini dikatakan Vonny F Pontoh dengan telah tersusunnya Grand Strategy Industri Florikultura Kota Tomohon 2007 – 2012 dan dengan telah ditetapkannya 3 Peraturan Daerah menyangkut florikultura merupakan bukti bahwa kesiapan tersebut memang sudah diaplikasikan. Hanya di sisi lain Pontoh menggarisbawahi bahwa masyarakat Kota Bunga Tomohon harus mampu menyikapi hal ini, sebab ketika akan memasuki tahapan ekspor maka segala sesuatunya harus benar-benar siap. “Siap menghadapi para kompetitor bidang florikultura lainnya baik dari segi kualitas, kuantitas maupun kontinuitas,” ujar Vonny F Pontoh dengan nada optimistik.
Kendala lain yang disebutkan Kadis Tabunakan Kota Tomohon ini adalah menyangkut kemampuan menyiapkan produk yang memenuhi Standar Operasional Produksi (SOP) sesuai permintaan pasar internasional. Artinya sebagaimana dijelaskan Vonny F Pontoh kepada Flower City News penguasaan teknologi produksi di tingkat petani hingga saat ini masih berada pada skala tradisional dan belum mengarah pada pertanian modern ramah lingkungan. “Ini artinya profesionalisme SDM pertanian harus terus ditingkatkan,” timpal Vonny F Pontoh.

Undangan telah dikirim
Sedangkan kesiapan peserta yang diundang mengikuti berbagai kegiatan TFF 2008 memang terus dievaluasi. Namun Ketua Umum Panitia TFF 2008 Drs Johny JP Mambu, SH Msi mengatakan bahwa sekitar 70% daerah yang diundang sudah menyatakan kesiapan untuk hadir dan menjadi peserta di berbagai kegiatan TFF tersebut. Namun ada juga yang menyatakan akan hadir sebagai peninjau. Berbagai kota yang menyatakan kesiapannya antara lain Kota Kotamobagu, Kota Jogyakarta, Kota Mataram, Kota Pangkalpinang, Kota Gorontalo, Kota Padang, Kota Palembang, Kota Bitung, Kota Kendari, Kota Bengkulu, Kota Manado, Kota Jayapura, Kota Palu, Kota Kupang, Kota Ternate, Kota Samarinda, dan sebagainya. Sebagian memang siap hadir, namun akan memberikan informasi lebih lanjut.
Ketua Umum Panitia TFF 2008 Drs Johny JP Mambu SH Msi mengatakan sekalipun undangan yang telah diantar tidak langsung diserahkan ke kepala daerah, namun yang membawa undangan telah diterima oleh sekda atau asisten di daerah tersebut, itu sudah cukup.
Yang jelas ini adalah kerja all out. Membangun prestasi menegakkan prestise. (Flower City News ed. 10/2008) (wennym-umboh@hotmail.com)

March 19, 2008

Jelang TFF 2008: Hitung Mundur D-day

Filed under: Tomohon City

Gebyar event Tomohon Flower Festival 2008 sudah di depan mata. Ajang prestisius bahkan terbilang spektakuler ini mau tidak mau menuntut kematangan kesiapan. Berbagai garda penting seperti penyiapan suprastruktur seperti bunga dan seperangkat komitmen berbagai pihak, juga infrastruktur pendukung yang siap berperan seperti fasilitas-fasilitas spesifik lainnya termasuk kesiapan mental publik Kota Bunga Tomohon memang perlu diperkuat di sana-sini.
Maklum, ini event pertama bagi Kota Bunga – yang baru berusia 5 tahun - diselenggarakan secara nasional. Jadi jelas saja ada semacam situasi kehati-hatian dalam penyiapan ajang ini. Apalagi bisa dipastikan pimpinan nasional – Presiden RI – juga unsur Kabinet Indonesia Bersatu akan hadir dalam acara pembukaan Tomohon Flower Festival tersebut. Memang, sebelumnya Pemerintah dan Masyarakat Kota Tomohon sudah berpengalaman dalam menyelenggarakan karnaval bunga, paling tidak beberapa tahun terakhir ini. Hanya saya tahun ini karnaval tersebut hanya sebagai satu bagian dari sekian kegiatan yang dihentak nantinya. Bahkan karnaval bunga tersebut memperoleh nama yang istimewa, Tournament of Flower. Memang, tidak salah kalau ada yang berpandangan bahwa Tournament of Flower ini mirip-mirip dengan Tournament of Roses di Passadena. Betul, Festival Bunga (Mawar) Passadena – yang memang telah mendunia itu – menjadi inspirasi penyelenggaraan Tournament of Flower tersebut.
Sejauh ini, kesiapan-kesiapan menuju event Tomohon Flower Festival berjalan sesuai dengan track yang telah disusun. Bahkan Ketua Umum Panitia Tomohon Flower Festival 2008 Drs JP Mambu SH Msi, mengatakan bahwa dari sisi waktu, kesiapan penyelenggaraan Tomohon Flower Festival 2008 berlaku day by day. Artinya, secara umum bahkan teknis, setiap hari merupakan agenda aksi yang mutlak harus ada kesiapan, ada penanganan dan ujung-ujungnya ada finishing. Dan ini harus.
Paling tidak itulah gambaran realitas dari apa yang dikemukakan Drs. JP Mambu SH, Msi. Dari berbagai persiapan menyongsong pelaksanaan Tomohon Flower Festival sudah berlaku hitung mundur. Hitung mundur D-day.
Hanya saja dalam pengamatan Flower City News, penyiapan infrastruktur yang memang masih perlu penguatan di sana-sini. Bahkan kitapun maklum, ketika ditargetkan sedikitnya 5000 wisatawan dalam dan luar negeri akan menyaksikan perhelatan Tomohon Flower Festival, dipastikan sebagian dari mereka akan nimbrung di berbagai kawasan wisata yang ada di Kota Tomohon khususnya. Dan tentu saja, tak pelak berbagai obyek wisata yang ada di lingkup Kota Tomohon perlu ada polesan-polesan untuk mempercantik pesona yang ada.
Belum lagi penyiapan fasilitas akomodasi baik untuk para undangan, juga kesiapan yang sama untuk para pengunjung dari luar Kota Tomohon.
Kalau dari sisi produksi, ini tinggal proses. Artinya, kesiapan berbagai elemen masyarakat, kalangan pemangkukepentingan, koperasi bunga, kelompok tani, kesiapan pengadaan bibit produksi, pemeliharaan, berbagai kegiatan pelatihan, dan sebagainya, sudah berjalan. Sehingga penyiapan 10 juta tangkai bunga potong diharapkan dapat terpenuhi.
Bahkan, keikutsertaan daerah lain jauh-jauh hari sudah disiapkan. Undangan ke berbagai daerah tersebut diantar secara personal. Sehingga ada presentasi khusus dari Panitia ke setiap pimpinan daerah yang diundang.
Dan tentu saja, the last but not the least, menyangkut kesiapan masyarakat Kota Tomohon untuk menjadi tuan rumah – sebagai makawale – adalah hal yang sangat penting. Di sisi lain, tidak hanya faktor mental yang memang menjadi bagian utama, namun juga untuk hal-hal yang cukup prinsip seperti selalu menjaga lingkungan yang harmonis, sehat dan berkarakter.
Dan memang, masyarakat Kota Tomohon siap merespons perhelatan Tomohon Flower Festival 2008 dengan tetap memelihara kultur the smilling peoples yang memang menjadi bagian dari style orang Minahasa itu sendiri (wenny m. umboh, flower city news ed. 9/2008)

Bergerak, dari Hulu ke Hilir

Filed under: Tomohon City

Kembali Walikota Tomohon Jefferson SM Rumajar SE mempertegas pentingnya memperkuat budidaya florikultura. Sebab inilah yang menjadi pilihan terbaik setelah melalui berbagai kajian yang eksak. Bahkan pada gilirannya merupakan referensi dasar pembangunan ekonomi daerah. Artinya, dibalik penguatan budidaya florikultura terjadi daya ungkit pertumbuhan ekonomi daerah, termasuk di dalamnya penyediaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat serta pertumbuhan sektor barang dan jasa.
Dalam gelar Rapat Koordinasi di jajaran Pemerintah Kota Tomohon pertengahan Maret lalu, Jefferson SM Rumajar mewanti-wanti semua pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk lebih mengoptimalkan performance instansi yang dipimpin untuk tetap berada pada track yang berhulu pada penguatan industri florikultura tersebut. Tentu saja dengan berpedoman pada masing-masing tugas pokok dan fungsi di setiap SKPD.

Jurus-Jurus Produktif
Memang dalam draft “Grand Design Pengembangan Industri Florikultura Kota Tomohon” disebutkan jurus-jurus produktif yang dapat dilakukan dalam pengembangan usaha florikultura. Di antaranya adalah menetapkan produk unggulan untuk dijadikan komoditas industri, mengembangkan kawasan sentra industri florikultura, memmanfaatkan sumberdaya alam, mengembangkan teknologi industri florikultura dan memperkuat system produksi, meningkatan kualitas SDM petani dan pelaku usaha yang kompeten, membina kelembagaan usaha, memberdayakan dan mengembangkan kelembagaan usaha serta jejaring usaha, meningkatkan promosi dan membuat akses informasi serta menyediakan infrastruktur pendukung.
Tentu saja, jurus-jurus tersebut bukan hanya sebagai jargon untuk kepentingan sesaat. Atau hanya sebagai pisau analisa yang cuma membombardir jurus-jurus dimaksud tanpa ada terminologi dan konsistensi pijakan. Tapi itu semua harus ada gerakan, atau upaya bahkan terobosan yang sistematis, terencana dan terukur dari mana harus dimulai, serta prediksi apa yang dapat muncul sebagai konsekuensi logis dari sebuah kebijakan.
Dan memang, berbagasi upaya ataupun gebrakan yang dilakukan Pemerintah Kota Tomohon untuk meretas jalan menuju ke gerbang industri florikultura terus mengalir tak pernah henti. Mulai dari sosialisasi program dan blue print ke berbagai komponen masyarakat dan para pemangkukepentingan lainnya, mengirimkan kelompok petani bunga menimba pengetahuan tentang bercocok tanam bunga atau tanaman hias di berbagai sentra florikultura seperti Cipanas, membentuk koperasi petani bunga, membangun laboratorium kultur jaringan, penyiapan flower development zone (FDZ) sebagai cikal bakal Kawasan Ekonomi Khusus, belajar pengembangan bunga di negara Kincir Angin, termasuk mengundang para petinggi negara ini yang mempunyai otoritas dan legitimasi yang kuat dalam upaya menumbuhkembangkan suatu gerakan florikultura sebagai bentuk industri. Bahkan sampai kepada penyelenggaraan pagelaran prestisius yang bertajuk Tomohon Flower Festival.
“Yang jelas ini semua adalah untuk kepentingan masyarakat Kota Tomohon. Sebab dari sanalah terjadi multiplier effect ekonomi yang kuat,” ujar Jefferson SM Rumajar.

Kuncinya pada SDM
Namun tentu saja torehan-torehan tersebut perlu penterjemahan dan aplikasi lebih lanjut. Dan kembali pada pelaku-pelaku yang memang harus punya kesiapan matang untuk merealisasikan, mewujudnyatakan obsesi yang sudah terpatri.
Beberapa waktu lalu, ketika berkunjung ke Kota Tomohon, Dr Ir Ahmad Dimyati MS – Direktur Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian – menggarisbawahi keberadaan sumberdaya manusia (SDM) untuk menggerakkan pemberdayaan florikultura sebagai industri merupakan hal mendasar yang harus dipersiapkan. SDM tersebut dikatakan Ahmad Dimyati harus mempunyai wawasan dan pengetahuan dalam mengelola tanaman hias.
Di sisi lain, tentu saja karakteristik SDM tersebut harus spesifik. Yaitu harus berbeda dengan petani tanaman pangan kebanyakan. Karakteristik SDM yang dimaksud harus bermuatan sebagai pelaku usaha florikultura.
Draft Grand Strategi Pengembangan Industri Florikultura Kota Tomohon membagi pelaku usaha florikultura ini ke dalam dua kelompok. Yaitu pelaku berskala usaha kecil dan pelaku berskala usaha besar. Pelaku berskala usaha kecil ini umumnya lebih banyak jumlahnya dibandingkan pelaku usaha berskala besar, dan mereka memasarkan produk untuk kebutuhan dalam negeri serta memasok produk untuk pelaku usaha besar. Sedangkan pelaku berskala usaha besar adalah mereka yang memiliki usaha lahan lebih dari 2 Ha dan memasarkan produk florikultura untuk memenuhi pasar domestic maupun pasar internasional. Namun masing-masing pelaku usaha florikultura ini harus punya karakter seperti inovatif terhadap teknologi modern, memiliki jiwa kewirausahaan, responsive terhadap perubahan preferensi pasar, berorientasi pada profit, melakukan pengelolaan usaha dengan padat modal, memiliki akses pasar dan informasi, dan memiliki jaringan kerja yang luas.
Kini, semuanya telah bergerak. Bergerak dari hulu, bunga dan tanaman hias, sebagai sebuah prime mover - penggerak ekonomi utama - hingga menuju pada tatanan hilir industri florikultura. (wenny m. umboh, flower city news ed. 9/2008)

TFF dan VIY 2008: Sebuah Sinergitas

Filed under: Tomohon City

Saat meresmikan program Visit Indonesia Year (VIY) 2008 akhir Desember lalu di Jakarta, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengatakan bahwa VIY 2008 bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan sektor pariwisata dengan melibatkan komponen masyarakat secara luas, berpartisipasi mensukseskan tahun kunjungan wisata Indonesia 2008.
Dikatakan Jero Wacik, VIY 2008 merupakan upaya untuk meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia di tingkat nasional dan internasional. “Digelarnya YIY 2008 tersebut didasari oleh beberapa pemikiran antara lain Indonesia sudah sangat lama tidak mengadakan tahun kunjungan setelah yang terakhir pada tahun 1991 dan persepsi Indonesia di mata dunia yang semakin membaik. Selain itu tahun 2008 ini merupakan momentum yang tepat, berkaitan dengan 100 tahun kebangkitan nasional,’ ungkap Jero Wacik.
Bahkan untuk VIY, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata sangat optimis target kunjungan 7 juta wisatawan mancanegara pada tahun 2008 dapat diraih, sekaligus meningkatkan target kunjungan wisatawan mancanegara dari tahun sebelumnya sebanyak 5,5 juta wisman. Optimisme itu terlihat dari adanya peningkatan angka kunjungan wisatawan mancanegara pada Januari 2008 yang meningkat sekitar 13 persen dari periode yang sama tahun 2007.

TFF: Super Wisata
Tentu saja penyelenggaraan Tomohon Flower Festival merupakan benang merah dari VIY2008. Bahkan lebih dari itu. Tomohon Flower Festival merupakan terobosan baru untuk memperkuat warna kepariwisataan di Indonesia bahkan di Sulawesi Utara khususnya di Kota Tomohon. Perhelatan Tomohon Flower Festival 2008 merupakan ajang super wisata yang siap mengangkat pamor Kota Tomohon. Dalam hal ini Departemen Kebudayaan dan Pariwisata telah menetapkan Tomohon Flower Festival sebagai agenda tahunan. Khusus untuk tahun ini Tomohon Flower Festival merupakan event nasional yang sudah masuk dalam agenda VIY 2008.
Harus diakui pula, secara makro pencanangan Visit Indonesia Year 2008 tersebut sekaligus sebagai tolok ukur keberhasilan pembangunan industri pariwisata di tanah air. Secara nasional memang berbagai perhelatan kepariwisataan Indonesia telah dan siap digeber. Mulai dari program Kenali Negerimu Cintai Negerimu, Sapta Pesona, juga peluncuran film-film pariwisata dan berbagai materi kepariwisataan lainnya.
Bagi Kota Tomohon jelas ini semua merupakan babakan baru bagi pencerahan dunia pariwisata di kota ini. Hal ini akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karena perputaran roda ekonomi di bidang wisata akan semakin signifikan melalui berbagai fasilitas pendukung seperti penginapan (home stay), resort, cottage, restoran dan kuliner, transportasi, travel, termasuk pentas seni, cenderamata, penjualan bunga dan tanaman hias. Ini semua merupakan item yang sangat berperan dalam mendukung geliat dunia wisata sekaligus roda perekonomian masyarakat.
Bahkan akhirnya Tomohon Flower Festival 2008 menjadi sangat strategis jika dikaitkan dengan beberapa kegiatan promosi berskala nasional maupun internasional seperti Pekan Florikultura Nasional 2008, World Ocean Conference 2009 dan Visit North Sulawesi 2010.
Karena itu penyelenggaraan Tomohon Flower Festival 2008 merupakan bagian yang tak terpisahkan dari program Tahun Kunjungan Indonesia 2008. Yang jelas, Pemerintah dan masyarakat Kota Tomohon telah bertekad untuk mensukseskan perhelatan ini. Artinya, melalui penyelenggaraan Tomohon Flower Festival tersebut, tidak hanya dunia pariwisata nasional yang terangkat, tapi secara internal terjadi perputaran roda ekonomi masyarakat. Bahkan ke depan, efek ganda yang terjadi merupakan sebuah pencerahan bagi terwujudnya sebuah disain industri florikultura. Dan memang, inilah yang diharapkan. Namun yang jelas ini semua bukan merupakan tujuan akhir. Karena yang terpenting adalah bagaimana masyarakat Kota Tomohon ini pada gilirannya berada pada tingkat kualifikasi kualitas hidup yang tidak hanya sekedar memadai, namun ada warna kesejahteraan di dalamnya. (wenny m. umboh, flower city news ed.9/2008)

Rumajarnomics

Filed under: Tomohon City

Rumajarnomics

Catatan: Wenny M Umboh
(Sorot, Flower City News, ed. 9/2008)

Genderang itu telah ditabuh. Berarti arak-arakan telah bergerak. Sebuah perjalanan yang istimewa, bahkan sangat spesial. Arak-arakan masyarakat Kota Tomohon membangun dirinya dengan melekatkan pada fenomena kultural yang telah menjadi bagian dari darah daging sendiri. Sebuah pemberdayaan tradisi yang ditandai betapa dekatnya masyarakat di kota ini dengan bunga. Sekali lagi, bunga.
Memang demikian. Dan inilah yang dibidik oleh seorang Jefferson SM Rumajar SE – Walikota pertama pilihan rakyat Kota Tomohon – untuk membangun tatanan ekonomi, membangun kualitas hidup atau kesejahteraan masyarakat. Bunga merupakan wahana yang menjadi pilihan. Pilihan utama!
Dan memang sepertinya hampir tidak ada daerah lain di Indonesia yang beralternatif membangun ekonomi dengan bunga. Kalaupun ada, itupun cuma dipandang sebelah mata.
Bagi Jefferson SM Rumajar, fenomena bunga yang telah menjadi bagian hidup masyarakat Kota Tomohon dan akhirnya melahirkan decission bahwa bunga sebagai sektor unggulan dalam menggerakkan kehidupan ekonomi sudah dikaji secara dalam bahkan melibatkan para pakar di bidang florikultura. Baik pakar bisnisnya maupun pakar teknologi florikultura itu sendiri. Apalagi sang Walikota ini punya background ilmu ekonomi. Jadi lengkaplah, perpaduan antara kultur, naluri, realitas, dan keilmuan itu sendiri. Inilah yang menjadi lazuardi pada asa Jefferson SM Rumajar.
Saya meminjam data Nancy Laws – seorang spesialis marketing ekspor florikultura yang menetap di Paris – yang dipublikasikannya tahun 2008. Nilai ekspor florikultura di berbagai negara yang menurut saya sangat fantastis. Uni Eropa 3 miliar Euros, Colombia 800 juta Euros, Ecuador 500 juta Euros, Kenya 300 juta Euros, Israel 150 juta euros, dan Indonesia cuma 15 juta euros. Dikatakan Nancy Laws, in 2005 Indonesia exported $4,523,602 worth of live plants – only 0,01% of the $4,585,411,719 world trade in live plants. Indonesia plant exports increased only 2% in a year where Taiwan increased exports by 11%, China increased exports by 24%, South Korea by 61%, Thailand by 35%, Malaysia 22%.
Sebuah angka yang memiriskan. Secara nasional memang Indonesia kalah jauh dalam permainan ini dibandingkan negara lain
Demikian pula dengan data dari Asosiasi Bunga Indonesia (ASBINDO). Perkembangan ekspor industri florikultura dunia pada tahun 2007 mencapai US$80 miliar. Khusus untuk Eropa dan Amerika Serikat kontribusinya US$9 miliar. Sedangkan Indonesia hanya US$15 juta
Bagi Jefferson SM Rumajar tentu saja angka ini boleh jadi telah menggelitik instingnya untuk mengambil langkah menabuh genderang. Berarti potensi berbisnis bunga peluangnya sangat besar, terbuka lebar.
Dalam wawancara beliau di Tempo edisi 16 Maret 2008, hitung-hitungannya begini. “Satu hektar bunga krisan bisa menghasilkan Rp300 juta dalam 100 hari. Tidak ada jenis pertanian lain yang bisa menghasilkan nilai setinggi ini. Jagung dalam satu hektar paling tinggi menghasilkan Rp7 juta. Padi menghasilkan sekitar Rp6 juta. Di Belanda lebih spektakuler lagi, satu hektar tanaman bunga rose bisa menghasilkan 1 juta euro (Rp13 miliar). Ini sebuah potensi untuk mengembangkan ekonomi. Inilah pula yang ingin dijalankan di Tomohon. Pasar bunga potong nasional 250 juta tangkai pertahun dan baru bisa dipasok sebesar 158 juta. Sementara pasar bunga dunia pertahun mencapai US$80 miliar dan sumbangan Indonesia berdasarkan data 2006 baru mencapai US$12 juta.”
Untuk tingkat lokal, tahun 2005 Tomohon memproduksi 2 juta tangkai bunga. Tahun 2006 mencapai 5 juta tangkai. Pada 2007 mencapai 10 juta tangkai. Sekalipun 50% masih dipasok dari Bandung. Dan tentu tendensi ini memperlihatkan demand sangat kuat.
Bahkan pada tahun 2005 ketika Jefferson SM Rumajar diangkat sebagai Walikota pertumbuhan ekonomi 4,1 persen (nasional 5,8%), Tahun 2006 naik menjadi 6,1 persen (nasional 5,7 persen), dan tahun 2007 naik hingga 6,8 persen (nasional 6,1 persen dan Sulut 6,3 persen). Paling tidak indikator angka ini memperlihatkan adanya gairah ekonomi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Berarti pula ada peningkatan pendapatan masyarakat, yang ditandai dengan bergairahnya sektor riil, sehingga ada trend peningkatan daya beli masyarakat.
Data mereka yang belum bekerja terjadi penurunan. Jika tahun 2005 data angkatan kerja tercatat kurang lebih 18.000 orang menganggur, tahun 2007 berkurang hingga 3000 orang. Dan ternyata sebagian besar dari mereka itu telah berprofesi di sektor florikultura
Jadi ketika data ini berbicara mengungkap apa yang ada di lapangan tentu kita perlu mempertajam sudut pandang filosofi ekonomi yang dikembangkan Jefferson SM Rumajar.
Sebuah filosofi ekonomi yang saya sebut sebagai Rumajarnomics.
Atau ada yang berminat mengkajinya lebih lanjut?

February 27, 2008

Secara Nasional Industri Florikultura: Perlu Konsolidasi

Filed under: Tomohon City

Tanaman hias saat ini menunjukkan trend tersendiri di lingkup masyarakat. Secara kasat mata nampak bahwa masyarakat saat ini semakin meminati mengusahakan tanaman hias sebagai sebuah usaha tersendiri. Bahkan inipun ditandai dengan semakin banyak pula berbagai buku atau literatur sampai kepada majalah atau penerbitan dengan segmentasi publik tanaman hias. Umumnya yang populer di masyarakat berkisar antara tanaman jenis anggrek, aglonema, anthurium, adenium, dan berbagai bunga sesuai karakteristik wilayah masing-masing.
Penelitian plasma nutfah dalam beberapa tahun terakhir telah berhasil mengumpulkan berbagai spesies atau kultivar. Jenis-jenis tersebut antara lain spesies dari famili Orchidaceae, Zingiberaceae, Araceae, Euphorbiaceae, Palmae dan Olaceae. Jenis-jenis tanaman hias asli Indonesia yang berpotensi nilai ekonomi tinggi cukup banyak, antara lain hasil-hasil silangan terseleksi pada anggrek dan aglonema. Banyak spesies atau kultivar dari famili Zingiberaceae, Araceae, Orchidaceae, Palmae, Polypodiaceae dan Pandaneceae mempunyai potensi untuk dikembangkan lebih lanjut.
Namun dibandingkan dengan banyaknya jenis dan jumlah flora yang terdapat di Indonesia, masih diperlukan sentuhan tangan-tangan ahli dan terampil untuk menyulapnya menjadi komoditas andalan bangsa.
“Peluang perdagangan florikultura sangat terbuka lebar. Tahun 2004 hingga 2005 perdagangan internasional sekitar US$62 miliar dan tahun 2007 meningkat menjadi US$80 miliar. Untuk itu kita harus mampu memanfaatkan peluang ini,” kata Direktur Budidaya Tanaman Hias Departemen Pertanian Agus Wediyanto sebagaimana dilansir KapanLagi.com
Dikemukakan Agus Wediyanto bahwa kontribusi Indonesia pada pasar dunia saat ini telah mencapai US$12 juta. “Karena itu Pemerintah menginginkan teman-teman di industri ini melakukan konsolidasi dan berbenah mengintegrasikan system dan sub system hulu perbenihan dan mengintegrasikannya dengan sub system on farm serta mengintegrasikan dengan sub system hilir”, timpal Agus Wediyanto

Mendukung pertumbuhan ekonomi
Sementara itu Ketua Asosiasi Bunga Indonesia (ASBINDO) Karen Syarief mengatakan industri tanaman hias sudah saatnya ditempatkan sebagai komoditas andalan ekspor non migas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. “Kontribusi industri tanaman hias pada PDB sebesar 13,34 persen itu sudah cukup signifikan dan hal ini berarti industri ini menjanjikan. Negara-negara berkembang di kawasan Amerika Sekatan dan Afrika berhasil mendongkrak PDB dengan industri florikultura dan hal tersebut telah berlangsung sekitar 10 tahun terakhir. Sedangkan Indonesia baru saja akan memulai,” papar Karen.
Dalam situs KapanLagi.com dikemukakan Karen Syarif bahwa dalam perkembangannya industri tanaman hias ini secara nasional masih mengalami banyak hambatan terkait dengan kebijakan pemerintah. Kebijakan-kebijakan tersebut diutarakan Karen merupakan hal yang memberatkan, seperti pungutan-pungutan yang harus dibayar. Selain itu ada juga kebijakan antar Departemen yang saling tumpang tindih sehingga menghambat pergerakan industri ini.

Tak ada harga standar
Sementara itu, perdagangan tanaman hiaspun dalam aplikasinya tidak ada harga standar. Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan pedagang dan pengusaha tanaman hias dalam menentukan nilai jual adalah frekuensi pembelian, jumlah pembelian dan subyektifitas pedagang terhadap status pembeli. Selain itu, harga dipengaruhi juga oleh jenis dan varietas, ukuran tanaman, tingkat laju pertumbuhan, keindahan dan keunikan tanaman hias tersebut.
Selain itu dasar pertimbangan lain adalah lamanya tanaman beredar di masyarakat, kelangkaaan tanaman, kesehatan tanaman, dan lokasi penjualan, bahkan pengaruh hari-hari besar keagamaan, upacara adat, potensi pasar domestik dan luar negeri serta kondisi perekonomian secara regional maupun global.
Dalam bravehost.com disebutkan bahwa permintaaan jenis tanaman hias masih tidak menentu. Sehingga ada kecenderungan petani pengusaha memiliki berbagai jenis tanaman. Kondisi demikian menyebabkan kurang terurusnya kesehatan tanaman karena setiap jenis tanaman memerlukan kondisi pemeliharaan yang tidak sama. Masalah lain adalah adanya petani pengusaha tanaman hias yang bermodal cukup melakukan perbanyakan tanaman hias yang sedang trendy. Hal ini mengakibatkan volume tanaman di pasaran relatif banyak sehingga harga menurun dengan cepat serta menimbulkan kerugian bagi petani dan pengusaha kecil.

Anomali harga
Kecenderungan seperti itulah yang dikatakan pemerhati tanaman hias Ir Helena Lumenta melahirkan anomali harga. “Ini disebabkan pula terjadinya demam bunga yang tinggi, sehingga psikologi ekonomi pun terkena sebagai suatu dampak sampingan,” ujar staf di Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulut ini menambahkan. Ditambahkannya pula, dibandingkan daerah lain seperti Lembang, Sukabumi, Malang maupun sentra-sentra tanaman hias lainnya di Jawa, harga bunga di Tomohon relatif masih lebih mahal. Karena itu, sebagaimana disampaikannya ke FCN, ini perlu mendapat perhatian, apalagi ke depan Tomohon akan dijadikan gateway atau pintu gerbang impor florikultura khususnya di Indonesia Timur. “Jangan justru torang dari Sulut ketika ke Jawa justru beli bunga di sana padahal di Tomohon banyak tersedia,” ujar Helena.
Memang benar, konsolidasi dan pembenahan di bidang industri tanaman hias ini tetap memerlukan perhatian kita semua. Bahkan secara nasional, fenomena ini masih merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan (wmu)

February 19, 2008

Spirit Kota Bunga

Filed under: Tomohon City

Tahun ini Kota Tomohon berusia 5 tahun. Sebuah usia yang tentunya akan dikategorikan dalam proses pertumbuhan menuju dunia hidup yang sebenarnya. Artinya, kalau usia tersebut dikomparasikan pada manusia, tentu saja bayang-bayang dunia kanak-kanak akan membersit.
Namun ketika berada dalam bentangan dan menyaksikan wajah dan tekstur kota ini, dipastikan siapapun dia pasti akan berkata lain. Sebuah kota yang sangat laju perkembangan dan pembangunannya, sebuah kota yang terus merenda asa dan optimisme berdiri tegak sejajar dengan kota-kota lain di Indonesia.
Letak geografis Kota Tomohon berada pada centre Sulawesi Utara, menjadikan Tomohon memiliki akses tinggi dalam tata regional Provinsi Sulawesi Utara. Akses tersebut diformulasikan dengan adanya 4 koridor masuk ke kota ini. Baik dari arah Utara, Timur, Selatan dan Barat. Kesemuanya ini merupakan gateway yang memungkinkan Kota Tomohon akhirnya berperan medan pertemuan dalam menunjang arus transportasi dan penghubung aksesibilitas menuju ke pusat regional ibu kota Provinsi Sulawesi Utara – Manado – dengan daerah sub pusat regional seperti Kota Bitung, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Minahasa Selatan, Kabupaten Minahasa Tenggara, bahkan terus ke Kota Kotamobagu, Kabupaten Bolaang Mongondow. Jarak ke Kota Manado 25 Km, dan ke Bandara Internasional Sam Ratulangi 40 Km, sedangkan ke Pelabuhan Samudra Bitung 74 Km (melewati Kota Manado).

Rural Urban
Morfologi kota yang terletak di ketinggian 700 hingga 1000 meter dari permukaan laut dan berhawa sejuk dengan topografi bergelombang dan berbukit-bukit ini, dipenuhi nuansa kehidupan rural urban. Atau kota yang berkarakter desa (city in village). Karena itulah atmosfir open spaces yang merupakan areal hijau sebagai hutan kota sangat kental mewarnai lingkungan kota.
Di Indonesia, tidak banyak kota yang mempunyai spesifikasi demikian. Kalaupun ada, itupun dalam volume yang terbatas. Sebut saja di antaranya Palembang, Bengkulu, Bogor, dan beberapa kota lain di Indonesia.
Spesifikasi Kota Tomohon ini ditambah pula dengan alamnya yang subur berlembah, udaranya yang sejuk, struktur tanah gembur sehingga tepat untuk ditanami tumbuh-tumbuhan hortikultura seperti sayur-sayuran dan berbagai spesies tanaman hias lainnya. Belum lagi panorama alamnya yang menarik, termasuk pula panorama budaya yang membalut kehidupan komunitas di daerah ini. Bahkan di satu pihak, bunga ataupun tanaman hias itu sendiri sudah merupakan bagian hidup yang tak terlepaskan dari life style subetnis Tombulu atau masyarakat Tomohon.
Itulah sebabnya Walikota Tomohon bersama jajaran Pemerintah Kota didukung berbagai elemen dan publik di Kota ini bertekad menjadikan Tomohon sebagai Kota Bunga, sekaligus menjadi pintu gerbang ekspor nasional tanaman hias khususnya di bagian Indonesia Timur. Tentu saja dengan tetap bersinergi mengoptimalkan potensi hortikultura yang tersedia. Mengingat 70% penduduk usia produktif di kota ini menggantungkan hidupnya dari mengolah tanah.
Dalam hal ini tercermin pula nuansa kuat untuk menjadikan bunga sebagai sector andalan dalam menggerakkan roda ekonomi masyarakat.
Sebuah obsesi?
Yang jelas alur dan langkah menuju ke arah itu sudah dicermati. Apalagi peluang secara nasional sangat terbuka lebar. Bahkan dukungan dari eksekutif pusat mengalir deras, mulai dari institusi pertanian, koperasi, perdagangan, bahkan jaringan private corporate skala internasional sekalipun.

Kiat telah ditempuh
Gebyar TFF 2008 jelas merupakan ajang pembuktian bahkan sebagai legitimasi bahwa Tomohon benar-benar sebagai kota Bunga. Kota yang siap memasuki kancah dengan bunga sebagai product dari sebuah industri florikultura. Sebagai ajang pembuktian, tentu saja memerlukan sebuah proses dan pemberdayaan yang optimal. Karena itu, sebagai sebuah paket moda kepariwisataan tentu saja gaung maupun kesiapan-kesiapan tersebut harus ditangani serius, cermat, bahkan koordinasi antar lini dan elemen baik di tingkat pemerintah maupun publik Kota Tomohon.
Untuk itulah maka target penyiapan sebanyak 10 juta tangkai bunga atau tanaman hias untuk mendukung perhelatan TFF tersebut harus terealisasi pada waktunya. Bahkan bukan tidak mungkin pula penyiapan 10 juta tangkai bunga (potong) tersebut merupakan rekor tersendiri yang nantinya direkam dalam Museum Rekor Indonesia (MURI)….
Penyiapan 10 juta tangkai ini memerlukan perhatian dan konsentrasi penuh. Puluhan kelompok tani di sektor tanaman hias telah dibentuk, seiring dengan lahirnya kelompok-kelompok koperasi yang bergelut di sektor bunga. Termasuk pula penyiapan sarana pengembangan atau laboratorium teknologi plasma nuftah produksi bibit, penyediaan bantuan teknis, penyiapan kebun percontohan, pengiriman petani untuk berlatih dan magang florikultura di Lembang, sampai pada pelatihan mendisain kendaraan berhiaskan bunga. Sampai pada belajar dari sang maestro industri bunga – Belanda. Belajar dari ahlinya.
Yang jelas, berbagai kiat telah ditempuh. Optimismepun memuncak. Dengan kerja keras tentu saja asa yang dirajut akan menjadi nyata. Sebuah spirit Kota Bunga. (wmu)

December 5, 2007

Antara PR dan Rp: Apa Kata Dunia

Akhirnya sampailah di penghujung tahun 2007.
Seorang sahabat saya bertanya, di tahun ini kesan apa yang paling istimewa saya rasakan. Saya jawab saja sekenanya seperti ungkapan advertisement sebuah produk: kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda.
Memang sangat klise. Bahkan dapat saja menimbulkan tafsiran bahwa ini adalah jawaban dari orang yang sarkastis. Menyederhanakan sesuatu, namun perasaan yang terdalam sesungguhnya terbalut nuansa yang teramat mendebarkan kala mencermati sebuah fenomena tertentu. Bahkan dalam momentum tertentu rasa gundah gulana bercampur dengan suasana kegalauan, suasana emosional dan bersitan optimisme tercampur menjadi satu. Wah, memang benar.
Kahlil Gibran (1883-1931) - penyair dan filosof berdarah Lebanon - dalam The Prophet berkata begini:
Di antara kalian ada yang mengatakan
“Sukacita itu lebih besar dari dukacita.”
Yang lain pula berpandangan:
“Tidak. Dukalah yang lebih besar dari Suka.”
Tetapi aku berkata kepadamu:
Bahwa keduanya tak terpisahkan.
Bersama-sama keduanya datang, dan bila yang satu
Sendiri bertamu di meja makanmu,
Ingatlah selalu bahwa yang lain
Sedang ternyenyak di pembaringanmu.
Sebenarnya engkau ditempatkan
Tepat di tengah timbangan, yang adil
Menengahi Kegembiraan dan Kesedihan….
Saya melihat dan menilai bahwa bagi Kahlil Gibran kehidupan ini lebih bersifat proyektif dan komparatif.
Kehidupan ini bagaikan mengayuh biduk, sangat dibutuhkan gerakan konstan agar biduk itu sendiri dapat meluncur membelah air.
Untuk membangun gerakan tersebut niscaya membutuhkan energi atau spirit yang konstan pula. Demikian pula halnya biduk itu, semakin banyak bobot muatannya, semakin besar pula energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan tenaga yang mampu menggerakkan wahana itu. Nah, di sini diperlukan kolaborasi antara energi, tenaga, gerakan dan sipengayuh itu sendiri.
Sewaktu-waktu dapat saja secara temporer gerakan melemah karena power terkuras. Setelah itu energi merasuk kembali. Sampai akhirnya biduk itu merapat di pantai tujuan.
*
Akhirnya, saya mencoba mengangkat ke permukaan beberapa pekerjaan rumah (PR) yang masih tersisa di tahun 2007 - yang dimanifestasikan sebagai tahun kinerja. Paling tidak ke depan di tengah sekian tantangan yang harus dihadapi, 2 hal yang harus dipertajam oleh Pemerintah Kota Bunga Tomohon. Pertama, image and performance building. Ini berkaitan dengan mengaplikasikan citra, kualitas maupun sistem dan struktur kinerja yang feasibility dan full responsibility. Saya yakin, sebuah citra kepemerintahan yang baik manakala di dalamnya terjalin soliditas, harmonisasi, koordinasi, dan akuntabilitas yang mumpuni di setiap lini dalam melakukan pelayanan ke berbagai strata komunitas. Sebagai public servant, maka ujung tombak melakukan hal itu terletak pada birokrasi. Intinya, ketika penguatan dan kepatutan birokrasi yang reformatif, profesional dan mencerminkan kompetensi tanpa gratifikasi, tanpa warna feodal, tanpa warna primordial dan hal-hal sejenis lainnya dikedepankan, wajah birokrasi itu laksana pelangi membentang di angkasa. Sehingga pemilik modalpun merasa enjoy ketika berinvestasi di Kota Bunga, karena adanya pelayanan yang mempesona, penyederhanaan rentang kendali, dan regulasiadministratif termasuk kepastian hukum dalam berusaha. Kedua, supervision. Suatu pengawasan yang holistik, namun bersifat komprehensif. (Saya lebih cenderung menggunakan sintaksis supervision daripada controlship. Supervision lebih dinamis dan lentur gerakannya. Sebuah controlship cenderung bersifat vertikal, misalnya atasan memeriksa bawahan). Image and performance building akan terjadi ketika pengawasan yang independen itu memperkuat dirinya.
Ketika biduk dikayuh memuat kedua hal ini, maka esensinya good and clean governance telah diwujudnyatakan, dan biduk itu telah fokus berada di sebuah track yang benar, sebuah muara, membangun masyarakat yang sejahtera dan madani.
Ini PR yang bersifat berkelanjutan. Namun logis saja, PR itu akan dapat dikerjakan jika disertai rupiah (Rp). Untuk itu, dalam penggunaan Rp atau anggaran, langkah-langkah efisiensi yang ketat dan penghematan belanja barang termasuk pembiayaan hal-hal yang tidak produktif dan bukan merupakan program prioritas, harus terus dilakukan dengan tegas dan penuh kesungguhan. Terus terang pula, kalau ditanyakan ke saya belanja apa yang harus dihemat atau pembiayaan apa yang tidak produktif, saya no comment. Silakan tanya pada sang policy maker atau decission maker.
Sunggguh, ini realistis. Kalau ada yang mengatakan kesemua ini sebagai common sense of thinking, wah, apa nantinya kata dunia….***

November 4, 2007

Sentuhan Mesra Bagi Pariwisata

Filed under: Tomohon City

Peringatan Hari Pariwisata Dunia tahun 2007 ini bertemakan Tourism Opens for Women.
Tema ini sedikit banyak membuat saya kaget, tersenyum juga membelalakan mata. Namun ada juga bersitan rasa kagum, rasa hormat, bahkan kebanggaan yang luar biasa setelah menelusuri latarbelakang mengapa tema dunia ini diangkat.
Situs Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata mengetengahkan bahwa tema ini sesungguhnya sangat kontekstual. Yaitu mendorong persamaan gender sekaligus pemberdayan perempuan serta dikaitkan dengan tujuan pembangunan milenium (Millenium Development Goals - MDGs) yang ditargetkan tercapai pada tahun 2015. Dari 8 MDGs tersebut memang ada 3 target yang langsung mengena pada kaum perempuan. Yaitu promote gender quality and empower women (persamaan gender dan pemberdayaan perempuan), dan reduce child mortality (penurunan angka kelahiran balita), dan improve mothernal health (peningkatan kesehatan ibu). “Peringatan Hari Pariwisata Dunia tahun 2007 kali ini didedikasikan kepada kaum hawa yang telah memberikan emansipasi nyata untuk dunia pariwisata,” kata Menbudpar Jero Wacik saat memberikan sambutan pada peringatan Hari Pariwisata Dunia 27 September 2007 lalu di Jakarta.
Jero Wacik mengatakan bahwa pariwisata terbukti telah mengangkat kehidupan masyarakat, bahkan sektor ini mampu menggerakkan roda perekonomian mulai dari tingkat bawah hingga dalam skala makro dan berdampak langsung pada tingkat kesejahteraan masyarakat.
Selain bertitikberat pada persamaan gender, saya merasakan bahwa efek tema Hari Pariwisata Dunia tahun 2007 ini menjadikan kita respek terhadap kaum perempuan. Bahwa sebenarnya perempuan sangat berperan dalam memajukan dunia wisata di Indonesia. Artinya, silahkan saja mengidentikkan secara positip dunia kepariwisataaan kita dengan keberadaan kaum perempuan itu sendiri. Sebuah harkat dan martabat yang relevan dengan sebuah keindahan, sebuah jatidiri yang penuh pesona.
*
Perayaan Hari Pariwisata Dunia tahun ini di Indonesia terasa lebih istimewa. Ini disebabkan dikaitkannya Perayaan ini dengan persiapan menghadapi event Tahun Kunjungan Indonesia 2008 (Visit Indonesia Year 2008) dan World Culture Forum 2008. Dalam hal ini, situs Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menyebutkan Depbudpar bersama dengan para pemangkukepentingan terkait termasuk Pemerintah daerah menyiapkan rangkaian lebih dari 100 events diberbagai daerah. Termasuk pula tentunya ajang Tomohon Flower Festival 2008 (TFF 2008).
Ajang ini dipastikan menjadi magnet tersendiri bagi kebangkitan pariwisata di Provinsi Sulawesi Utara umumnya, dan di Kota Tomohon khususnya. Perhelatan yang berskala nasional bahkan diikuti pula beberapa negara luar ini bahkan dijadikan kalender tahunan tetap yang siap diselenggarakan Pemerintah dan masyarakat Kota Tomohon. Secara nasional tentu saja kegiatan ini menjadi pemicu dan pemacu bagi terjadinya distribusi pendapatan berbagai kawasan di seluruh nusantara. Artinya tidak hanya pelancong asing, tapi wisatawan nusantara pun berperan besar dalam memutar roda perekonomian bangsa. Bahkan untuk ini pemerintah mempunyai komitmen mendorong pengembangan pariwisata yang berbasis kerakyatan (community based tourism development).
Dalam cetak biru Pemasaran 2006, secara nasional Depbudpar telah menetapkan skenario target kunjungan wisman Indonesia pada 2007. Target moderat sebanyak 5,61 juta wisman, target optimistis 6,16 juta dan target akselerasi sebanyak 7,016 juta wisman. Tahun 2008 ditargetkan tujuh juta kunjungan dan pada akhir tahun 2011 terget kunjungan sebanyak 10 juta. Dari kesemua itu target 2007 ini pemasukan devisa sebanyak 4,71 miliar dolar Amerika, dan 5,82 miliar dolar Amerika untuk target optimistis dan 5,46 miliar dolar Amerika untuk target akselerasi.
*
Secara skematis, VIY 2008 sudah di depan mata. Bagi Pemerintah dan masyarakat kota Bunga Tomohon TFF 2008 kurang beberapa langkah lagi.
Satu hal yang tetap perlu dikembangkan adalah menanamkan mental wisata (tourism minded) di kalangan publik Kota Bunga.
Supaya nantinya tidak kaget menghadapi TFF di medio 2008 tersebut, memang perlu suatu pre-conditioning. Katakanlah semacam ajang pemanasan sebelum perhelatan digeber. Ini yang menurut saya perlu diformulasikan.
Banyak lokasi-lokasi wisata di Kota Bunga. Demikian pula banyak aset wisata yang tersedia. Tinggalah sentuhan manis yang diperlukan. Ibarat sentuhan kepada kaum hawa, sekaligus memberikan nuansa kemanjaan.
Welcome to Tomohon City.

August 1, 2007

Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2007

Filed under: Tomohon City

Hari Lingkungan Hidup a la Kota Bunga

Pagi menjelang siang kemarin (31/7), masyarakat dan pemerintah Kota Tomohon memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
Acaranya tidak sekedar seremonial, yang diisi dengan petatah-petitih pimpinan pemerintah untuk mengajak berbagai elemen masyarakat menjaga kelestarian lingkungan alam, memelihara konservasi, etc.
Namun yang penting adalah komitmen pemerintah dan masyarakat Kota Bunga untuk terus memperbaiki kualitas lingkungan. Komitmen itu sendiri ditandai dengan penanaman pohon pakoba - eugenia sp - oleh para pimpinan eksekutif dan legislatif kota ini. Pohon ini merupakan tanaman asli Minahasa khususnya di Tomohon yang sudah mulai langka karena banyak ditebang warga sebelumnya.
Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini di Kota Tomohon dilaksanakan di Rurukan 1, sebuah wilayah kelurahan yang berbukit, sejuk, berjarak sekitar 4 Km arah Timur dari pusat Kota Tomohon. Wilayah ini terletak di ketinggian 1200 m dari permukaan laut, merupakan sentra hortikultura. Wilayah ini juga merupakan kawasan agrowisata.
Kita berharap, komitmen untuk terus memperbaiki kualitas lingkungan ini tidak hanya sampai di Bukit Rurukan, namun menjalar ke semua warga Kota Bunga.
Pak Walikota mengingatkan, banjir tempo hari (Februari 2006) yang melanda sebagian Kota Tomohon disebabkan semakin berkurangnya daerah resapan air di wilayah Tomohon Timur, karena aksi pembabatan hutan secara serampangan.
Kita tumete witu untete tinetean ne nimatete






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Riosoft