Singo Edan vs Laskar Sakera
Sebuah pertarungan yang luar biasa. 
Dari partai hidup mati Arema ‘Singo Edan’ vs Persekappas ‘Laskar Sakera’ Pasuruan di leg kedua Copa Indonesia 2007, memupuskan harapan Aremania untuk menyaksikan klub kesayangan mereka melaju ke babak 16 besar.
Bermain sore ini di Stadion Gajayana Malang, tuan rumah berhasil ditahan tim tamu dengan skor 0 - 0. Sehingga Arema - jawara 2 kali berturut-turut Copa Indonesia sebelumnya - secara keseluruhan kalah dengan agregat 0 -1.
Padahal, sebelum bermain saya optimis, pasukan Singo Edan akan mengamuk dengan skor kemenangan 2 - 0. Ternyata hasilnya di luar dugaan saya.
Permainan sepakbola bertahan anak-anak Laskar Sakera benar-benar saya perlu acungkan jempol. Bermain di bawah tekanan - yang praktis selama 90 menit permainan dikuasai Singo Edan - ditambah tekanan Aremania yang meluber hingga ke pinggir lapangan, ditambah kepemimpinan wasit yang cenderung berpihak ke tuan rumah, tidak mengendorkan semangat juang Laskar Sakera.
Anak-anak Pasuruan sangat disiplin menjaga pertahanan mereka, di samping performance kiper Ronny Tri Prasnanto yang gemilang menyelamatkan dan mementahkan sekian banyak peluang Arema. Sebaliknya, pemain-pemain Arena terlalu emosional dan tidak tenang dalam menyelesaikan setiap kesempatan untuk mencetak gol.
Tapi di luar semua itu, bagi saya kedua kesebelasan telah menampilkan sebuah permainan yang terbaik.
Sayang, tim-tim dari Sulawesi Utara (Persmin ‘Manguni’ Minahasa, Persibom ‘Fajar Bulawan’ Bolaang Mongondow, dan Persma ‘Badai Biru’ Manado) sudah harus out saat Copa 2007 ini dimulai. Alasan, mereka lebih fokus ke Liga Divisi Utama. Bahkan Persma Manado sebelum bertanding sudah menyatakan tidak mau ikut di ajang Copa 2007 tersebut. Tim-tim Sulut ini disibukkan dengan urusan pembentukan tim memasuki putaran II Divisi Utama. Sehingga tim seperti Persmin atau Persibom cuma memainkan lapis kedua mereka. Artinya memang sengaja siap kalah.
Sayang, sementara tim-tim lain seperti Arema, Persekappas, dsb sangat serius di Copa ini, tim-tim Divisi Utama Sulut masih berkutat di ajang “seleksi” dan “pembentukan tim”.
Persoalannya pula, Persmin dan Persibom dipecundangi kesebelasan yang notabene setingkat di bawah mereka.
Fantasi saya kembali ke Pentas Divisi Utama 2006. Ketika itu Persmin Minahasa bersama Persekappas Pasuruan tampil bersama sebagai juara ketiga. Bahkan Persmin dinobatkan sebagai tim fair play.
Dari ajang Copa 2007 ini paling tidak saya bisa menilai bagaimana kesiapan tim-tim Divisi Utama Sulut.
Saya berharap ada kejutan yang diciptakan tim-tim Sulut di pentas Divisi Utama 2007 ini. Artinya, filosofi mengorbankan suatu kesempatan untuk memenangkan peluang lainnya dapat dibuktikan. Sebuah pembuktian, sebuah keharusan. Gol…….!