So, tahun 2010 merupakan tahun suksesi kepemimpinan di Bumi Nyiur Melambai. Perhelatan politik yang ber make up demokrasi, bergulir. Tidak hanya di lingkup Provinsi Sulut, tapi juga di beberapa kabupaten dan kota. Sebut saja seperti Kota Manado, Tomohon, Kabupaten Minahasa Selatan, Minahasa Utara. Wah, wah, bakalan rame ini… Cuma sampai sekarang ini sepertinya bakal calon atau bakal kandidat papan 1 yang mau maju, belum mau secara terang-terangan menyatakan kesiapan mereka.
Untuk Provinsi prediksi saya nama-nama seperti SH Sarundajang (incumbent), RM Luntungan (Bupati Minsel), Linneke Watoelangkow (Ketua Umum DPD Partai Demokrat Sulut/Wakil Walikota Tomohon) akan siap maju bertarung. Mereka-mereka ini punya nilai. Punya kelebihan masing-masing. Ada yang bilang EE ‘Lape’ Mangindaan akan pulang kandang. Tapi rasanya Lape yang adalah mantan Gub akan lebih banyak berkiprah di pusat. Bisa jadi dia akan ditarik SBY sebagai Menteri.
Di papan 2 provinsi saya lebih respek dari kalangan bisnis untuk maju. Sebab ke depan saya mengharapkan Sulut akan menjadi region pusat investasi maupun kawasan pasar modal terpadu untuk Indonesia timur. Resourcesnya sangat menunjang, baik human, nature, social culture, dsb.
Waktu dari sekarang masih sekitar 9 bulan. Heh, nyanda lama itu…
August 1, 2009
March 1, 2008
Menengok Geliat Kawanua di Palembang
Catatan: Wenny M. Umboh*)
Saya berkesempatan mengambil cuti tahun 2006 lalu, bertandang ke Kota Palembang – yang kental dengan sebutan kota empek-empek serta jembatan Ampera sebagai ikon kota – sekaligus mengunjungi komunitas Kawanua yang bermukim di kota ini. Saya harus akui, ternyata masyarakat Kawanua di Palembang merupakan entitas yang turut mewarnai gerak kehidupan uong kito (sebutan khas orang Palembang), bahkan Pemerintah Kota Palembang merespons positif keberadaan Kawanua di Palembang yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Kawanua Palembang (K3P) sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakat Palembang itu sendiri
*
Ketika pesawat yang saya tumpangi mendarat mulus di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, kesan pertama yang muncul adalah saya tiba di sebuah kota yang sedang melakukan pembenahan akses publik secara luar biasa.
Dahulu tahun 2004 saat bersama dengan tim PON XVI Sulut tiba di bandara ini sebagai gerbang memasuki kota empek-empek saya merasa gerah dengan keberadaan bandara ini. Sudah kecil ditambah lagi dengan fasilitas serba terbatas membuat suasana hati saya menjadi sumpeg. Tidak habis pikir, masak sih kota multi niaga sekelas Palembang mempunyai bandara yang menurut saya tidak representatif. Artinya sebuah bandara yang mampu mendukung gerak dinamis kehidupan roda niaga tersebut. Hanya untuk menjemput bagasi harus bakusesak disebuah ruangan yang bagi saya sempit tidak memadai. Memang sudah kesekian kali saya berada di bandara ini dan saat itu saya berpikir sepertinya tidak ada prioritas pemerintah daerah untuk mengurusi pintu masuk kota ini.
Awal Maret 2006 ini saya kembali berkesempatan datang ke Palembang. Saya harus katakan luar biasa, perubahan hebat. Saya tiba di sebuah bandara yang benar-benar representatif. Ada kelegaan, ada kepuasan dan dalam hati saya menggumam, so ini tu bandara berkelas. Semua fasilitas memang mendukung bagi keberadaan sebuah bandara internasional, yang mempunyai airlines ke beberapa kota penting di kawasan ASEAN. Memang harus begitu, apalagi Pemprovsus (akronim yang lazim digunakan pers di daerah ini untuk menyebutkan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan) memiliki Sriwijaya Airlines - perusahaan penerbangan yang saat ini sedang berupaya menambah beberapa armada, bahkan dalam waktu dekat ini siap meramaikan penerbangan ke Manado, mengingat peluang pasar yang signifikan dengan potensi wisata yang ada di bumi Nyiur Melambai. Sedang di sisi lain guna mendukung misi Pemprovsus menjadikan Sumsel sebagai daerah Lumbung Pangan dan Energi Nasional memang perlu membuka network area dengan provinsi lain yang berpotensi sebagai market area. Atau dengan kata lain, keberadaan Sumsel sebagai lumbung energi dan lumbung pangan tersebut seyogianya harus dapat dirasakan kemanfaatannya oleh daerah lain.
Manado di mata orang Palembang
Di sejumlah pekerja pers Palembang, seperti Sumatera Express, Sriwijaya Post, Berita Pagi, ketika saya temui mereka bahkan sudah mengetahui Manado yang indah dan aman, dan sering mereka berkelakar menyebut Manado kota 4 B (Bunaken, Boulevard, Bubur Manado, dan sambil tersenyum mereka bilang Bibir Manado). Dalam hati saya menggumam, tahu juga kalian dengan Manado!
Saat HUT PWI dan Hari Pers Nasional XXII tingkat Provinsi Sumsel yang dipusatkan di Kabupaten Banyuasin tepatnya di kota Pangkalanbalai 10 Maret lalu, kepada rekan-rekan pers di daerah ini saya katakan bahwa Pemkot dan masyarakat Manado mempunyai misi menjadikan Manado kota wisata dunia tahun 2010. Ternyata mereka mengakui Manado sangat berpotensi untuk itu, apalagi didukung dengan wisata alam, wisata budaya dan wisata kuliner yang sangat menunjang, dengan style Kawanua yang ceplas-ceplos.
Harus pula saya akui, ketertarikan orang Palembang dengan Manado akhir-akhir ini tidak lepas pula dari kehadiran seorang Ferry Rotinsulu, kiper nasional U-23 yang saat ini menjadi penjaga gawang nomor satu Sriwijaya FC (klub sepak bola divisi utama home base di Stadion Bumi Sriwijaya Palembang). Ferry Rotinsulu ini telah menjadi idola bagi orang Palembang khususnya Sriwijayamania. Ketika Sriwijaya FC bermain imbang 0 - 0 dengan Persib saat bermain di Bandung beberapa waktu lalu dengan penampilan gemilang Ferry menepis tendangan pinalti Persib, penggila bola di Palembang berujar, oi lihai nian uong menado siko ini dak sala nian kito ado dio (hebat orang Manado satu ini tidak salah kita ada dia). Kegemilangan Ferry dan penampilan anyar Laskar Sriwijaya akhirnya menjadi newsline di koran-koran Palembang selama beberapa hari.
Secara obyektif memang harus saya akui bagi orang Palembang, Sulut unsich identik dengan Manado. Artinya begini, orang Minahasa itu di mata orang Palembang adalah orang Manado, orang Sangir Talaud ya orang Manado, orang Bolmong juga ya orang Manado. Memang labeling atau stereotype ini harus diluruskan. Namun kenyataan demikian, sekalipun saya jelaskan soal keberadaan etnis (suku) maupun subetnis di Sulut terlebih setelah adanya pemekaran wilayah, mereka memang memahami namun kenyataan demikian. Sulut diidentikan dengan Manado. Sama dengan orang-orang Barat yang mengidentikan Indonesia dengan Bali misalnya. Jadi saya pikir sementara ini biarlah fenomena ini terjadi.
Di Palembang, masyarakat Kawanua di kota ini membentuk organisasi Kerukunan Keluarga Kawanua Palembang (K3P), yang menghimpun semua Kawanua yang ada di Palembang dan sekitarnya (seperti di Plaju, Sungai Gerong, Prabumulih, Kayu Agung, Sekayu dan berbagai wilayah hinterland lainnya seperti Pendopo, Indralaya, Betung, dan sebagainya). Seperti dikatakan Capt. Boy Makadada - Ketua K3P - bahwa organisasi ini menyatukan siapa saja yang merasa ada keturunan dari leluhur Minahasa dan tidak terbatas dari agama manapun atau keluarga yang suami atau istri dari lain etnis. Di K3P dikatakan Boy Makadada warga Kawanua saling berbagi rasa, saling bantu sehingga sekalipun jauh dari tanah Minahasa namun tetap merasakan suasana keminaesaan dan tidak merasa terasing satu dengan lainnya. Lebih daripada itu ungkap Boy, karena sudah lahir, besar, kerja dan hidup di Palembang, tetap merasa seperti di kampung sendiri sehingga ada rasa sayang dan muncul dalam hatisanubari untuk memelihara tempat tinggal sekarang yaitu Kota Palembang. Artinya bagaimana warga kawanua ikut merespons positip berbagai kebijakan dan pembangunan di kota empek-empek ini. Dan untuk memelihara nuansa tersebut, K3P melakukan berbagai aktivitas seperti pertemuan-pertemuan rutin di rumah anggota yang diisi dengan peribadatan, makan minum bersama dengan menu khas Minahasa, melakukan kegiatan kesenian dan olahraga, menerbitkan buletin K3P sebagai media komunikasi dan informasi. Beberapa kali kesenian Minahasa seperti tari maengket, tari pisok, katrili, dan sebagainya tampil di TV lokal seperti TV Sumsel, TV Pal. Olahraga Contract Bridge yang menjadi tradisi warga Kawanua tetap menjadi bagian tak terpisahkan dalam lingkungan K3P. “Kita so siap mo supply pe-bridge handal bagi tim Sumsel di berbagai even seperti PON karena adanya warga Kawanua yang berada di squad Sumsel seharusnya menjadi kebanggaan dan mengangkat pamor Sulut di bumi Sriwijaya. Contoh Ferry Rotinsulu di sepakbola ataupun mantan atlet lainnya seperti almarhum Jo Supit (bridge), Henry Rumesser (tenis meja), Eva Poluan (menembak), Johny Kokong (judo), Kalalo bersaudara (renang) dan sebagainya yang sekarang menetap di Palembang dan pernah memperkuat Sumsel dalam berbagai iven olahraga baik nasional maupun internasional,” ujar Ferry Umboh - pengurus seksi Pemuda dan Olahraga K3P.
Saya benar-benar kagum dengan Kawanua-Kawanua di Palembang. Apalagi bertepatan dengan cuti saya di kota ini, Pemkot Palembang bersama dengan Badan Kerjasama Sosial Budaya Paguyuban Indonesia (BKSBPI) di Palembang - yang menghimpun seluruh suku dan etnis di Palembang yang sementara tercatat 32 paguyuban sebagai anggota - menyelenggarakan festival kesenian lagu berbahasa daerah antarpaguyuban tersebut.
Memang BKSPI ini masih baru. Pengurusnya baru dilantik Gubernur Syahrial Oesman 4 Maret 2006 lalu. Sebagai Ketua Umum Djohan Hanafiah - seorang budayawan Palembang. Ada 5 orang dari K3P yang menjadi pengurus BKSPI termasuk Ketua K3P Capt. Boy Makadada terpilih sebagai Bendahara. Ketika pelantikan yang diselenggarakan di kawasan wisata Benteng Kuto Besak tepat di pinggir Sungai Musi dengan latar belakang Jembatan Ampera, Tari Maengket mendapat kehormatan dari 3 daerah untuk tampil pertama mengisi acara (wow…). Dilanjutkan dengan tari dari Sumatera Barat dan Lampung. Saat itu Gubernur Syahrial Oesman dalam pengantar sewaktu pelantikan sempat memuji Sulut sebagai daerah yang damai penuh dengan aneka budaya dan kesenian bahkan mengemukakan Gubernur S.H. Sarundajang sebagai tokoh teladan dan sahabat baiknya!
Festival kesenian lagu berbahasa daerah antarpaguyuban tersebut dilaksanakan tanggal 11 dan 12 Maret 2006 tetap di kawasan Benteng Kuto Besak. K3P yang memang sudah mempersiapkan tim keseniannya mengutus Paula Mambu sebagai penyanyi dengan penari latar 5 orang masing-masing Eva Poluan, Mariska Mangindaan, Fane Undang, Diana Santi, Keke Poluan. Sebagai lagu wajib adalah Bang Toyib (yang diaransemen dalam bahasa daerah untuk versi Kawanua adalah Peitua Toyib), dan lagu pilihan Sapa Suruh Datang Palembang. Dari 32 tumpukan paguyuban yang tampil, dipilih 15 terbaik. Salah satunya Paula Mambu dkk. Bahkan para penonton yang sempat berdecak kagum dengan penampilan para wewene ini berani memastikan 3 besar sudah di tangan. Apalagi saat pengumuman 15 terbaik selesai, Walikota Manado Ir Eddy Santana mau manggung menyumbangkan sebuah lagu berirama melayu, dengan diiringi tim kesenian K3P sebagai penari latar.
Final festival kesenian tsb akan dilaksanakan 24 Maret mendatang. Akan tampil 15 tim. Saat ini tim kesenian K3P sedang latihan intensif. Mereka berusaha akan tampil prima nantinya. Kita doakan saja saudara-saudara kita di perantuan ini - warga Kawanua di Palembang sukses dan mendapat juara dalam perhelatan tersebut. So, tidak ada salahnya warga Kawanua di Sulut yang berkesempatan, menghadiri acara ini mendukung tim kesenian K3P. Karena melalui mereka pula gaung Sulut dikumandangkan.
Sayang, saya sendiri tidak mungkin menyaksikan penampilan mereka, karena cuti saya sudah habis. Sekarang ini saja sudah siap-siap kembali ke Manado. Oke, selamat berfestival, selamat bertanding. Ngoni bisa! Kalau juara saya janji kirim brenebon tompaso dan kacangtore kawangkoan for ngoni mo pesta akang.
*)Begawe di Bagian Humas Sekdakot Tomohon. Dulu aku lamo di Palembang. Sekolanyo SD di Xaverius Limo, SMP di Xaveriuis Kamboja, SMA di Bangau. Sudatu kuliah di UI. Eh ma’ini la di Manado. Ai nasib, nasib. Ca’itula….
August 8, 2007
Simon & Kambing
Simon dan Kambing
Wajar saja berbagai elemen masyarakat di North Celebes terusik. Ucapan Dirjen Mineral, Batubara dan Panasbumi Departemen ESDM Dr Ir Simon Sembiring yang mengkomparasikan Pemprov Sulut dengan kambing, sangat tidak etis. Apapun alasannya, ucapan Simon Sembiring yang saat itu sebagai pembicara kunci, tidak menunjukkan kepakaran maupun intelektualitas dia sebagai seorang teknokrat. Apalagi ucapan itu keluar dari forum resmi, sebuah Seminar Nasional yang membahas tentang Pertambangan, Lingkungan dan Kesra yang dilaksanakan di Unsrat hari Senin lalu (6-8).
“Sedangkan kambing dapat diajak kerjasama…” Tidak ada pepatah - petitih yang menunjuk ke arah itu. Masalah lingkungan adalah masalah masa depan umat manusia. Bukan sekedar masalah boleh atau tidak boleh sebuah kegiatan yang mengelola lingkungan itu beroperasi.
*
Jadi apa yang menjadi pembelaan Simon Sembiring semakin menunjukkan bahwa dia adalah sosok manusia yang tidak mengenal sopan santun.
Saya sendiri banyak bergaul dengan halak kita. Saya tahu orang Batak itu kalau bicara ceplas-ceplos. Orang Manado juga. Cuma orang Manado itu mengerti di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.
Aku pikir orang bernama Simon Sembiring itu memang orang keras termasuk karakternya. Yah, seperti Simon Petrus itu, muridnya Yesus Kristus. Tapi Simon Petrus itu dibalik karakternya yang keras, dia punya jiwa ksatria. Simon Petrus mau mengaku dengan tulus kalau dia telah berbuat salah.
*
Bah, ini Manado Bang!
Horas!
Mauliate!
July 25, 2007
Nasib si Emas Coklat
Nasib si Emas Coklat
Sudah jatuh, tertimpa tangga. Setidaknya itulah nasib pemilik pohon cengkeh termasuk mereka yang bergelut dengan si emas coklat ini. Sekalipun harganya memasuki titik nadir, namun asa tetap digantungkan. Biaya pemeliharaan, biaya pemetikan, biaya penjemuran, biaya penjagaan, biaya keamanan, dan sederet biaya-biaya lainnya sudah tidak sebanding lagi dengan harga jual. Belum lagi saat-saat ini hujan di daratan Minahasa masih sering mengucur dari langit
Memang, sudah 10 tahun terakhir ini harga nya berfluktuasi, dan terus merosot. Bahkan tadi siang, saya coba cek di tingkat pedagang pengumpul, harganya terpatok Rp 28.500,- per-kg. Ini untuk kualitas standar, dengan kadar kotor 2% kadar air sekitar 10%. Masih jauh dari harga harapan, yaitu Rp 40.000,-/kg.![]()
Awal-awal tahun 2000, harga si emas coklat ini di tingkat petani masih lumayan yaitu Rp 67.000,-/kg. Sejak itu mulailah mengalami penurunan, sekaligus berfluktuasi. Tahun 2002 Rp 44.400/kg, tahun 2002 menukik Rp 16.300,- (sehingga tanaman cengkeh banyak ditebang, kayunya dijual dijadikan kayu api atau penumbuk lesung). Kemudian tahun berikut naik lagi. 2004 Rp32.300,-/kg, 2005 Rp28.000,-/kg, 2006 menguat sedikit Rp 36.000,-/kg.
*
Bandingkan saat tahun 1978 misalnya. Harganya sangat fantastis, yaitu mencapai Rp 65.000,-/kg. Waktu itu ongkos transport dalam kota Manado masih Rp 30,-. Karena itulah barang ini (cengkeh) disebut emas coklat. Harga yang super wah ini mengakibatkan banyak gaya hidup saat itu yang superheboh.
*
Sekarang, bagaimana? Berbagai upaya bahkan pressure coba dilakukan. Mulai dari inisiatif mengundang dan melobi pabrikan rokok, memboikot rokok-rokok tertentu, meminta Pemerintah (Provinsi) membeli cengkeh petani, termasuk isu mau berdemo di Istana Negara. Bukan main… Anehnya, petani ribut soal harga, para ekonom di Sulut, atau think tank di Unsrat misalnya lebih banyak diam seribu bahasa.
*
Memang, kondisi ini membuat cara berpikir sudah tidak rasional. Apapun kiat yang dicoba, saya berpikir akan jauh panggang dari api. Persoalannya hukum ekonomi sekarang berbanding lurus dengan mekanisme pasar. Apalagi sekarang, sudah banyak daerah-daerah di Indonesia penghasil cengkeh.
* 
Solusinya sederhana saja. Booming cengkeh nanti bulan Agustus/September, sekalipun saya tidak punya data riil berapa ton cengkeh yang nantinya siap dijual. Nah, cengkeh itu tahan dulu. Simpan baik-baik jangan dijual. Cuma ini memerlukan kekompakan semua pemilik cengkeh. Di sini berlaku hukum ekonomi. Supply sedikit, Demand banyak, Hargapun naik. Ini teorinya. Tapi, apa bisa. Sementara kebutuhan hidup dengan segala aksessorinya tidak mungkin ditunda, alias berjalan terus. Pabrikan juga tentu akan beli dari pihak lain, termasuk dari luar (efek pasar bebas).
*
Segala sesuatu itu ada waktunya.
*
Seyogianya, Pemerintah (Provinsi Sulut) juga institusi pendidikan seperti Unsrat memberikan rekomendasi atau apalah namanya, mengajak semua pihak untuk tidak larut dan terpaku dalam eforia emas coklat. Buat satu terobosan, apa sebaiknya yang dilakukan. Tanaman apa yang dapat menjadi substitusi selain cengkeh itu. Ini perlu sebelum terlambat. Sulut ini bumi yang kaya, tanahnya subur. Namun sentuhan dan belaian bahkan political will sangat diperlukan.
Que sera-sera, what ever will be, will be ?I Yayat u Santi
May 7, 2007
Reshuffle KIB II: Sulut Legowo
Reshuffle KIB Jilid II: SULUT - pun Legowo
Akhirnya Presiden SBY - sesuai dengan kewenangan konstitusionalnya atau hak prerogatifnya - di Istana Negara tepat pukul 16.00 WITA hari ini mengumumkan Reshuffle Terbatas Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II. Dalam Reshuffle tersebut terjadi pergantian sejumlah Menteri termasuk pergeseran posisi.
Sebagaimana dikatakan Presiden SBY, ada tiga (3) tujuan penataan kembali KIB. Yaitu: untuk meningkatkan efektivitas dan kinerja dalam masa waktu 2½ tahun ke depan, meningkatkan teamwork, dan pemberdayaan berdasarkan the right man in the right place.
Untuk itu, saya perlu memberikan komentar![]()
1. Momentum Reshuffle Jilid II yang tidak mengakomodasikan seorangpun Putra asal Sulut, paling tidak mengindikasikan tiga (3) hal, yaitu: 1. Lemahnya posisi tawar (bargaining position) komunikasi politik Sulut di lingkup suprastruktur. Padahal Sulut mempunyai banyak person yang mempunyai kapabilitas untuk diposisikan dalam KIB. Sebut saja EE Mangindaan, Theo Sambuaga, S.H. Sarundajang, 2. Sulut tidak mempunyai liason officers atau mak comblang politik yang mampu melakukan manuver di tingkat nasional. 3. Berdasarkan logika politik, hal ini membuktikan bahwa paling tidak saat ini Istana Negara masih melihat Putra Sulut dengan sebelah mata. Artinya, secara kontekstual, karakteristik Sulut belum seirama dengan kultur maupun manajemen politik di tingkat suprastruktur.
2. Presiden SBY mewanti-wanti bahwa untuk 2½ tahun ke depan, tidak akan ada lagi penataan kabinet. Karena ini adalah komposisi yang up to date. Namun secara proporsional dan tuntutan bahwa ada perubahan signifikan dalam tataran social welfare, maka tetap perlu suatu kurun waktu untuk melakukan penilaian terhadap performance (kinerja) kabinet. Sehingga tidak menutup kemungkinan jika terjadi penataan ulang KIB. Selama tujuan tersebut untuk meningkatkan social welfare, hal ini adalah sah saja. Mengapa tidak.
3. Presiden SBY sangat berhati-hati dalam melakukan Reshuffle. Ini terlihat dengan belum digantinya M. Ma’aruf - Mendagri - yang sudah sekian lama sakit, dan tidak dapat menjalankan tugasnya. Benar ada waktu 3 (tiga) bulan untuk evaluasi berdasarkan saran dari tim dokter kepresidenan. Seandainya M. Ma’aruf dapat kembali bertugas, tentu kita -bangsa Indonesia bersyukur -, namun jika karena kesehatan harus tetap menjalani pengobatan atau beristirahat, maka bukan tidak mungkin tokoh Sulut seperti EE Mangindaan atau S.H. Sarundajang dapat mengisi jabatan Mendagri.
4. Saya tidak melihat the right man in the right place khususnya pada Mensesneg. Figur Hatta Radjasa yang lulusan ITB harus melakukan pekerjaan yang bersifat administrasi negara seperti bias. Kalaupun ini bukan karena hembusan bargaining politik dengan parpol, tentulah Presiden SBY yang lebih tahu mengenai alasan penempatan Hatta Radjasa di posisi Mensesneg.
5. Saya sendiri sebenarnya mengharapkan ada Reshuffle di Kementerian Pendidikan Nasional. Hal ini didasarkan pada harapan untuk lebih memberikan pencerahan pada dunia pendidikan nasional, mampu memperjuangkan kuota 20% anggaran APBN untuk Pendidikan, mampu membawa misi ‘Pendidikan Sekolah Untuk Semua’. Sekarang ini banyak anak Indonesia yang putus sekolah, putus kuliah, karena tidak mampu membiayai pendidikan/sekolah mereka. Berbagai kebijakan bantuan pendidikan, bantuan sekolah, bea siswa dsb, ternyata belum menyentuh pada mereka yang benar-benar membutuhkan. Demikian juga diperlukan revisi, penataan dunia pendidikan tinggi. IPDN contohnya. Juga biaya kuliah yang sangat mahal saat ini Di sektor ekonomi, juga sebenarnya perlu ada penyegaran. Sektor ekonomi riil kita masih berkutat pada tingginya angka kemiskinan, pengangguran, termasuk memacu angka investasi yang tahun 2006 terpuruk pada 2,3%.
6. Akhirnya nomenklatur Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) mengalami kerancuan. Mengapa? Karena sebagian besar Menteri yang duduk di KIB berasal dari Kawasan Barat Indonesia. Yang dari Kawasan Indonesia Timur cuma beberapa orang.
Hak prerogatif memang merupakan hak politik Presiden. Kitapun harus maklum, harus menyadari hal itu. Yang tidak terpilih, harus legowo. Benar kata Presiden SBY, bahwa dahulupun dirinya pernah direshuffle dalam kementerian yang lalu. Namun akhirnya kembali lagi, bahkan bukan Menteri, tapi Presiden. Rakyatlah yang memilih!
Reshuffle KIB Jilid II: SULUT - pun Legowo
Akhirnya Presiden SBY - sesuai dengan kewenangan konstitusionalnya atau hak prerogatifnya - di Istana Negara tepat pukul 16.00 WITA hari ini mengumumkan Reshuffle Terbatas Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II. Dalam Reshuffle tersebut terjadi pergantian sejumlah Menteri termasuk pergeseran posisi.
Sebagaimana dikatakan Presiden SBY, ada tiga (3) tujuan penataan kembali KIB. Yaitu: untuk meningkatkan efektivitas dan kinerja dalam masa waktu 2½ tahun ke depan, meningkatkan teamwork, dan pemberdayaan berdasarkan the right man in the right place.
Untuk itu, saya perlu memberikan news comment:
1. Momentum Reshuffle Jilid II yang tidak mengakomodasikan seorangpun Putra asal Sulut, paling tidak mengindikasikan tiga (3) hal, yaitu: 1. Lemahnya posisi tawar (bargaining position) komunikasi politik Sulut di lingkup suprastruktur. Padahal Sulut mempunyai banyak person yang mempunyai kapabilitas untuk diposisikan dalam KIB. Sebut saja EE Mangindaan, Theo Sambuaga, S.H. Sarundajang, 2. Sulut tidak mempunyai liason officers atau mak comblang politik yang mampu melakukan manuver di tingkat nasional. 3. Berdasarkan logika politik, hal ini membuktikan bahwa paling tidak saat ini Istana Negara masih melihat Putra Sulut dengan sebelah mata. Artinya, secara kontekstual, karakteristik Sulut belum seirama dengan kultur maupun manajemen politik di tingkat suprastruktur.
2. Presiden SBY mewanti-wanti bahwa untuk 2½ tahun ke depan, tidak akan ada lagi penataan kabinet. Karena ini adalah komposisi yang up to date. Namun secara proporsional dan tuntutan bahwa ada perubahan signifikan dalam tataran social welfare, maka tetap perlu suatu kurun waktu untuk melakukan penilaian terhadap performance (kinerja) kabinet. Sehingga tidak menutup kemungkinan jika terjadi penataan ulang KIB. Selama tujuan tersebut untuk meningkatkan social welfare, hal ini adalah sah saja. Mengapa tidak.
3. Presiden SBY sangat berhati-hati dalam melakukan Reshuffle. Ini terlihat dengan belum digantinya M. Ma’aruf - Mendagri - yang sudah sekian lama sakit, dan tidak dapat menjalankan tugasnya. Benar ada waktu 3 (tiga) bulan untuk evaluasi berdasarkan saran dari tim dokter kepresidenan. Seandainya M. Ma’aruf dapat kembali bertugas, tentu kita -bangsa Indonesia bersyukur -, namun jika karena kesehatan harus tetap menjalani pengobatan atau beristirahat, maka bukan tidak mungkin tokoh Sulut seperti EE Mangindaan atau S.H. Sarundajang dapat mengisi jabatan Mendagri.
4. Saya tidak melihat the right man in the right place khususnya pada Mensesneg. Figur Hatta Radjasa yang lulusan ITB harus melakukan pekerjaan yang bersifat administrasi negara seperti bias. Kalaupun ini bukan karena hembusan bargaining politik dengan parpol, tentulah Presiden SBY yang lebih tahu mengenai alasan penempatan Hatta Radjasa di posisi Mensesneg.
5. Saya sendiri sebenarnya mengharapkan ada Reshuffle di Kementerian Pendidikan Nasional. Hal ini didasarkan pada harapan untuk lebih memberikan pencerahan pada dunia pendidikan nasional, mampu memperjuangkan kuota 20% anggaran APBN untuk Pendidikan, mampu membawa misi ‘Pendidikan Sekolah Untuk Semua’. Sekarang ini banyak anak Indonesia yang putus sekolah, putus kuliah, karena tidak mampu membiayai pendidikan/sekolah mereka. Berbagai kebijakan bantuan pendidikan, bantuan sekolah, bea siswa dsb, ternyata belum menyentuh pada mereka yang benar-benar membutuhkan. Demikian juga diperlukan revisi, penataan dunia pendidikan tinggi. IPDN contohnya. Juga biaya kuliah yang sangat mahal saat ini Di sektor ekonomi, juga sebenarnya perlu ada penyegaran. Sektor ekonomi riil kita masih berkutat pada tingginya angka kemiskinan, pengangguran, termasuk memacu angka investasi yang tahun 2006 terpuruk pada 2,3%.
6. Akhirnya nomenklatur Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) mengalami kerancuan. Mengapa? Karena sebagian besar Menteri yang duduk di KIB berasal dari Kawasan Barat Indonesia. Yang dari Kawasan Indonesia Timur cuma beberapa orang.
Hak prerogatif memang merupakan hak politik Presiden. Kitapun harus maklum, harus menyadari hal itu. Yang tidak terpilih, harus legowo. Benar kata Presiden SBY, bahwa dahulupun dirinya pernah direshuffle dalam kementerian yang lalu. Namun akhirnya kembali lagi, bahkan bukan Menteri, tapi Presiden. Rakyat yang memilih!
