17 - 8 - 2007. 62 tahun Indonesia merdeka. Happy Birthday my country.
Sebuah usia yang sangat matang dalam perjalanan sebuah negara.
Indonesia. Negara yang kemerdekaannya, kedaulatannya diperoleh dengan alunan doa, cucuran darah, cucuran air mata, tetesan keringat, pengobanan para syuhada, para pahlawan bangsa. Kemerdekaan yang diperoleh dengan susah payah. Perang terbuka, gerilya, gerakan di bawah tanah, diplomasi politik maupun budaya, merupakan warna sejarah keheroikan rakyat Indonesia untuk melepaskan diri dari rantai dan barikade penjajahan.
Perjuangan berjalan terus. Bukan lagi dengan bambu runcing, tapi otak runcing.
Perjuangan melawan kemiskinan, melawan kebodohan, merupakan fenomena yang dihadapi saat ini.
Keprihatinan tetap menjadi aroma yang menebar di bumi katulistiwa, bumi nusantara.
Saat ini kita diperhadapkan dengan mulai terdegradasinya semangat patriotisme, melunturnya semangat nasionalisme di kalangan anak bangsa. Tumbuhnya semangat sektarian, semangat kedaerahan yang picik, primordialistik, inkonsistensi terhadap filosofi dan pandangan hidup bangsa, merupakan persoalan yang mengkulminasi di atmosfir ibu pertiwi. Belum lagi, soal penegakan hukum dan human rights, korupsi, kesenjangan sosial, perusakan lingkungan, aksi teror, bencana yang tak kunjung henti, senantiasa menjadi aksesori sebuah perjalanan panjang negara yang gemah ripah loh jinawi.
Tentu ada yang salah, ada yang keliru mengelola negeri ini.
Jangan khianati perjuangan mereka. Para pahlawan bangsa.
Indonesia, tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata.