Bunga Rampai WMU

June 6, 2008

Nasionalisme di Tengah Badai

Filed under: Fenomena Sosial

Nasionalisme sebagai paham kebangsaan merupakan gerakan politik empiris. Perang Kemerdekaan Amerika (1776-1782) dan Revolusi Perancis (1789) dapat diangkat sebagai acuan dalam mencermati bayang-bayang nasionalisme. Dua peristiwa tersebut sedikit banyak menginspirasi bangsa-bangsa di belahan bumi ini untuk melakukan pergolakan. Pergolakan apa? Tentu saja pergolakan untuk merdeka. Tidak hanya di Eropa, tapi juga di Asia, Afrika pada abad 19 dan awal abad 20.
Spirit Declaration of Independence yang dikalimatkan Thomas Jefferson pada 4 Juli 1776 sebagai cikal bakal perang kemerdekaan Amerika mengandung prinsip liberalism dan human rights, oleh Lafayette – Jenderal Perancis yang sempat terdampar di kancah peperangan kemerdekaan Amerika – diperkenalkannya kepada rakyat Perancis. Situasi di Perancis akhuir abad 18 memang runyam. Otokrasi, feodalisme, absolutisme merupakan wajah yang nyaris tak tenggelam. Akibatnya rakyat Perancis tersentak atas teror yang ada di depan mata. Mereka menentang kebijakan elit penguasa. Revolusi Perancis membangun sebuah tradisi pola pikir baru berdasarkan liberte, egalite, fraternite.
*
Apa yang terjadi di Amerika Serikat pada masa perang kemerdekaan Amerika, juga di Perancis pada masa Revolusi Perancis, beda-beda tipis substansinya dengan fenomena di Bumi Pertiwi Indonesia akhir abad 19. Namun bagi saya pergulatan nasionalisme di Indonesia lebih merupakan bentuk nationalism awareness dan inipun tidak muncul begitu saja. Terjadi kristalisasi dari berbagai rentetan peristiwa yang berproses lama dipengaruhi kejadian-kejadian yang mendahului baik di dalam maupun di luar Bumi Pertiwi. Ini dapat dilihat, pada akhir abad 19 pemerintah (kolonial) Belanda menghadapi crucial point. Pergolakan di daratan Eropa membuat Belanda banyak melakukan restrukturisasi. Baik di bidang politik, ekonomi dan administrasi; sementara pendapatan dari negeri jajahan sudah tidak maksimal mengingat pressure penduduk (Bumi Putera) melalui policy tanam paksa (cultuur stelsel). Termasuk kesulitanmemasarkan berbagai produk dari negeri jajahan di pasaran internasional karena peperangan yang berkepanjangan. Menghadapi hal ini, 2 kebijakan penting dilakoni pemerintah Belanda yaitu melakukan politik pintu terbuka dan memberlakukan pola pendidikan a laBarat di negeri jajahan. Ini adalah peluang skaligus mendorong insting sekelompok pemuda pelajar Indonesia untuk mendirikan organisasi yang nonprimordialism. dimungkinkan pula karena pola pikir realis sebagai dampak ikutan sistem pendidikan yang diterapkan. Dari sinilah wawasan kebangsaan dirintis bahkan dipropagandakan tiga serangkai: dr Wahidin, Sutomo dan Suradji.
*
Frederick Hertz dalam Nationality in History and Politics menyebutkan bahwa ada 4 cita-cita nasionalisme, yaitu mewujudkan persatuan nasional, mewujudkan kebebasan nasional lepas dari campur tangan asing, mewujudkan identitas nasional, dan untuk memperoleh kehormatan, kewibawaan, gengsi dan pengaruh dalam pergaulan di dunia internasional. Titik tolak nasionalisme Indonesia sebagai wujud kesadaran nasional sebenarnya merupakan busur yang mendorong anak panah menuju gerbang kemerdekaan yang di dalamnya ada kepentingan kebangsaan. Sebuah kepentingan kebangsaan yang dipersatukan dari berbagai kesulitan, berbagai krisis. Atau merunut dari sebaris pertanyaan Ernst Renan (1802): Qu’est ce que c’est un nation? C’est le desir d’stre ensemble” (Apakah bangsa itu? Kemauan untuk hidup bersama). Menurut Renan, hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu dengan tidak ditentukan oleh ras, agama, bahasa, peradaban atau kepentingan ekonomi.
Babakan ini pada gilirannya dalam kaca mata nasionalisme Indonesia memunculkan suatu etos. Yaitu etos nasionalisme berlatar kebangsaan yang tidak sempit. Sebuah etos yang berpijak pada solidaritas, senasib dan sepenanggungan. Etos ini bukan cuma eforia yang didendangkan terus menerus sesuai dengan irama tertentu. Juga etos ini bukan berarti mengagungkan bangsa sendiri dan memandang sebelah mata bangsa lain.
Kita tetap bahkan sangat menghargai bangsa lain dengan keberadaannya. Ini merupakan komitmen bahwa bangsa Indonesia ikut peduli pada berbagai gejolak dunia internasional. Intinya, kita peduli pada hak-hak kemanusiaan, kita peduli pada dunia tanpa perang, kita peduli pada pelestarian lingkungan, kita melawan perdagangan manusia, kita anti anarkisme, kita pun ikut berseteru dengan penyalahgunaan narkotika dan sejenisnya, bahkan kitapun menjunjung suatu peradaban bangsa-bangsa yang saling menghormati, saling menghargai. Kita berempati dan mendukung perjuangan bangsa-bangsa yang kedaulatannya dirongrong pihak lain. Di sisi lain, nasionalisme Indonesia diletakkan sebagai upaya untuk mempertahankan kelangsungan hidup bangsa. Sekaligus sebagai kekuatan untuk mencapai cita-cita nasional.
*
Tahun ini, nasionalisme itu berkulminasi dalam 1 abad. Tantangan ke depan memang berat. Berbagai persoalan kebangsaan terus mendera. Belum lagi pergulatan menghadapi krisis energi, krisis pangan. Namun toh, sesulit apapun yang dihadapi jalan ke luar pasti tetap ada. Sebagai bangsa, kita sebenarnya sudah sangat akrab bahkan terbiasa menghadapi berbagai kesulitan. Namun memahami rasa senasib sepenanggungan merupakan kunci untuk ke luar dari krisis. Ketika kepentingan kelompok, visi sektarian yang bermain, saat itu pula bertubi-tubi krisis mewarnai dan mengurainyapun bak membenahi benang kusut, entah dari mana harus diselesaikan.
Namun jangan pula akhirnya sosok Bill Gates – juragan Microsoft Corporation dengan kekayaan Rp 500 Triliun - lebih Indonesia ketimbang orang Indonesia. Mengapa? Bukan apa-apa sih. Justru Bill Gates sangat enjoy berbatik ria saat berceramah di muka para petinggi dan kaum intelektual kita beberapa waktu lalu. Yang lainnya memakai jas, berdasi, bersafari, dan sebagainya.
Ah, mudah-mudahan ini cuma intermezo di sela-sela peringatan Hari Pendidikan Nasional, 10 Tahun Reformasi dan 1 abad Kebangkitan Nasional.

April 30, 2008

Bukan Pecundang!

Filed under: Fenomena Sosial

Saat membuka Pekan Produk Budaya Indonesia tahun 2007 lalu di Jakarta, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan penegasan tentang peluang maksimal melalui apa yang disebutnya sebagai ekonomi pariwisata (economic of tourism). Ekonomi pariwisata ini disebutkan Presiden sebagai ekonomi gelombang keempat. Sebuah gerakan ekonomi yang bersumber pada kekayaan budaya termasuk warisan budaya (heritage), kreativitas, dan lingkungan alam yang disatukan dalam ecotourism.
Ini merupakan kelanjutan dari analisis futurolog Alvin Toffler yang memperkenalkan sebuah gerakan ekonomi gelombang ketiga berpola pada model ekonomi terbuka dengan mengandalkan kekuatan teknologi informasi.
Ajakan Presiden tersebut menacu pada 2 strategi pengembangan, pertama, mengembangkan ekonomi kreatif dengan memadukan ide, seni dan teknologi. Kedua, mengembangkan keunggulan produk ekonomi yang berbasiskan seni budaya dan kerajinan.
Indonesia merupakan negara yang memiliki warisan sejarah budaya tak terbilang banyaknya. Bahkan terbanyak di kawasan Asis Tenggara. Beberapa di antara peninggalan sejarah itu bahkan sudah dimasukkan ke dalam The International Heritage alias peninggalan sejarah internasional oleh UNESCO. Nyaris setiap suku yang ada di negara ini memiliki artefak, situs, manuskrip, yang dilestarikan keberadaannya secara turun- temurun. Namun harus diakui, tak banyak yang melihat ini dari kacamata ekonomi. Padahal jika dipromosikan secara gencar kepada masyarakat internasional, peninggalan sejarah ini bisa menjadi daya pemikat untuk mengundang wisatawan.
Demikian pula hal-hal yang berkaitan dengan lingkungah hidup. Indonesia adalah negara dengan potensi sumber daya alam hayati terbesar di dunia. Keanekaragaman flora dan fauna adalah sumber ekonomi terbarukan yang tersedia dalam jumlah besar. Hanya sayangnya potensi lingkungah ini belum tergarap dengan sempurna. Banyak potensi flora, fauna, keindahan alam, dibiarkan teronggok lepas tanpa arti. Atau sebaliknya, banyak yang dieksploitasi tanpa batas sehingga kelestariannya terancam
*
Harus diakui, kemampuan kita dalam mencipta hasil karya dari bahan yang berlimpah ruah di negeri ini masih sangat rendah. Di antara kita cuma suka berjalan pintas, menjual potensi alam dalam keadaan mentah sehingga harganya sangat murah. Contoh saja adalah kayu gelondongan, rotan, hasil tambang, minyak bumi, minyak sawit, rempah-rempah, sering kita jual ke luar negeri dalam keadaan utuh, dan kita beli lagi dari luar dalam bentuk olahan dengan harga yang berlipat ganda dari harga aslinya. Bangsa lain bisa jadi tidak memiliki sumber alam seperti yang disebutkan namun mereka mendapatkan keuntungan dari komoditas tersebut dari jasa pengolahan bahan mentah menjadi bahan jadi.
Demikian pula ecotourism. Sangat dibutuhkan sebuah kreativitas untuk mengelolanya. Terkadang kita cuma terbuai menunggu orang lain menangani aset keindahan alam yang kita miliki, yang sudah terletak di pelupuk mata kita.
Indonesia mempunyai potensi ecotourism yang sangat luar biasa. Dari catatan Indonesia Ecotourism Community, Indonesia memiliki 10% dari total jenis bunga yang ada di dunia, 12% total jenis mamalia, 16% total jenis hewan reptil dan amfibi, 17% total jenis burung, serta 25% total jenis ikan di dunia.
Menurut Newsome (2002), ecotourism merupakan bagian dari wisata alam yang meliputi: wisata petualangan, nature based, wildlife, dan ecotourism. Sepintas keempat jenis wisata alam tersebut terlihat sama. Perbedaan utamanya ada pada aktivitas inti yang dilakukan wisatawan. Wisata petualangan menekankan pada aktivitas fisik pada kondisi alam yang ekstrim seperti arung jeram, panjat tebing, dll. Nature based menekankan pada aktivitas menikmati keindahan alam seperti danau, pantai, air terjun, pegunungan, wildlife menekankan pada aktivitas mengamati sekaligus menikmati bercengkerama dengan satwa liar seperti bird watcing. Sedangkan ecotourism adalah kegiatan wisata melibatkan unsur pelestarian alam dan lingkungan budaya masyarakat setempat. Intinya ecotourism berbasis pada alam, kesinambungan ekologi, bersifat mendidik, menguntungkan masyarakat setempat dan memuaskan pengunjung
*
Sekali lagi, ini dibutuhkan kreativitas untuk mengelola dan mengolahnya. Karena itu apa yang diangkat Presiden RI mengenai ekonomi gelombang keempat melalui pendekatan tourism yang berbasis pada keunggulan budaya berpadu dengan otentitas lingkungan alam yang asri dan natural paling tidak membangunkan kita bahwa kesemuanya ini telah terhampar di hadapan kita sendiri.
Salah satu negara yang memang telah melakukan gerakan dalam hal ini adalah Jepang. Perdana Menteri Junichiro Koizumi memiliki visi dan melihat peluang dalam sektor ecotourism, sehingga pada awal tahun 2003 Koizumi mencanangkan untuk back to basic menghidupkan kembali pariwisata Jepang yang pernah menjadi sumber devisa utama di masa lalu, guna mengatasi menurunnya perolehan devisa akibat melemahnya daya saing barang-barang industri yang diekspor ke berbagai negara akibat ancaman berbagai produk dari RRC, Taiwan dan Korea Selatan
Segalanya memang harus dimulai, dan tidak ada kata terlambat untuk melakukan sesuatu yang bernilai. Tak berlebihan pula kalau event seperti Tomohon Flowers Festival atau World Ocean Conference merupakan terobosan menguak tabir bahwa sebenarnya alam itu sangat dekat dengan manusia. Tinggalah manusia itu sendiri yang harus berikhtiar dan berkreativitas mengolahnya secara bermartabat tanpa merusak alam itu sendiri.
Kalau kita cuma mau jadi penonton, miskin kreativitas, kapan kita mampu mengangkat harkat hidup di mata bangsa lain.
Karena kita bukan pecundang. Bukan bangsa pecundang!
(Sorot Flower City News ed 10/2008)
(wennym-umboh@hotmail.com/wenny-mu@plasa.com)

December 5, 2007

Antara PR dan Rp: Apa Kata Dunia

Akhirnya sampailah di penghujung tahun 2007.
Seorang sahabat saya bertanya, di tahun ini kesan apa yang paling istimewa saya rasakan. Saya jawab saja sekenanya seperti ungkapan advertisement sebuah produk: kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda.
Memang sangat klise. Bahkan dapat saja menimbulkan tafsiran bahwa ini adalah jawaban dari orang yang sarkastis. Menyederhanakan sesuatu, namun perasaan yang terdalam sesungguhnya terbalut nuansa yang teramat mendebarkan kala mencermati sebuah fenomena tertentu. Bahkan dalam momentum tertentu rasa gundah gulana bercampur dengan suasana kegalauan, suasana emosional dan bersitan optimisme tercampur menjadi satu. Wah, memang benar.
Kahlil Gibran (1883-1931) - penyair dan filosof berdarah Lebanon - dalam The Prophet berkata begini:
Di antara kalian ada yang mengatakan
“Sukacita itu lebih besar dari dukacita.”
Yang lain pula berpandangan:
“Tidak. Dukalah yang lebih besar dari Suka.”
Tetapi aku berkata kepadamu:
Bahwa keduanya tak terpisahkan.
Bersama-sama keduanya datang, dan bila yang satu
Sendiri bertamu di meja makanmu,
Ingatlah selalu bahwa yang lain
Sedang ternyenyak di pembaringanmu.
Sebenarnya engkau ditempatkan
Tepat di tengah timbangan, yang adil
Menengahi Kegembiraan dan Kesedihan….
Saya melihat dan menilai bahwa bagi Kahlil Gibran kehidupan ini lebih bersifat proyektif dan komparatif.
Kehidupan ini bagaikan mengayuh biduk, sangat dibutuhkan gerakan konstan agar biduk itu sendiri dapat meluncur membelah air.
Untuk membangun gerakan tersebut niscaya membutuhkan energi atau spirit yang konstan pula. Demikian pula halnya biduk itu, semakin banyak bobot muatannya, semakin besar pula energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan tenaga yang mampu menggerakkan wahana itu. Nah, di sini diperlukan kolaborasi antara energi, tenaga, gerakan dan sipengayuh itu sendiri.
Sewaktu-waktu dapat saja secara temporer gerakan melemah karena power terkuras. Setelah itu energi merasuk kembali. Sampai akhirnya biduk itu merapat di pantai tujuan.
*
Akhirnya, saya mencoba mengangkat ke permukaan beberapa pekerjaan rumah (PR) yang masih tersisa di tahun 2007 - yang dimanifestasikan sebagai tahun kinerja. Paling tidak ke depan di tengah sekian tantangan yang harus dihadapi, 2 hal yang harus dipertajam oleh Pemerintah Kota Bunga Tomohon. Pertama, image and performance building. Ini berkaitan dengan mengaplikasikan citra, kualitas maupun sistem dan struktur kinerja yang feasibility dan full responsibility. Saya yakin, sebuah citra kepemerintahan yang baik manakala di dalamnya terjalin soliditas, harmonisasi, koordinasi, dan akuntabilitas yang mumpuni di setiap lini dalam melakukan pelayanan ke berbagai strata komunitas. Sebagai public servant, maka ujung tombak melakukan hal itu terletak pada birokrasi. Intinya, ketika penguatan dan kepatutan birokrasi yang reformatif, profesional dan mencerminkan kompetensi tanpa gratifikasi, tanpa warna feodal, tanpa warna primordial dan hal-hal sejenis lainnya dikedepankan, wajah birokrasi itu laksana pelangi membentang di angkasa. Sehingga pemilik modalpun merasa enjoy ketika berinvestasi di Kota Bunga, karena adanya pelayanan yang mempesona, penyederhanaan rentang kendali, dan regulasiadministratif termasuk kepastian hukum dalam berusaha. Kedua, supervision. Suatu pengawasan yang holistik, namun bersifat komprehensif. (Saya lebih cenderung menggunakan sintaksis supervision daripada controlship. Supervision lebih dinamis dan lentur gerakannya. Sebuah controlship cenderung bersifat vertikal, misalnya atasan memeriksa bawahan). Image and performance building akan terjadi ketika pengawasan yang independen itu memperkuat dirinya.
Ketika biduk dikayuh memuat kedua hal ini, maka esensinya good and clean governance telah diwujudnyatakan, dan biduk itu telah fokus berada di sebuah track yang benar, sebuah muara, membangun masyarakat yang sejahtera dan madani.
Ini PR yang bersifat berkelanjutan. Namun logis saja, PR itu akan dapat dikerjakan jika disertai rupiah (Rp). Untuk itu, dalam penggunaan Rp atau anggaran, langkah-langkah efisiensi yang ketat dan penghematan belanja barang termasuk pembiayaan hal-hal yang tidak produktif dan bukan merupakan program prioritas, harus terus dilakukan dengan tegas dan penuh kesungguhan. Terus terang pula, kalau ditanyakan ke saya belanja apa yang harus dihemat atau pembiayaan apa yang tidak produktif, saya no comment. Silakan tanya pada sang policy maker atau decission maker.
Sunggguh, ini realistis. Kalau ada yang mengatakan kesemua ini sebagai common sense of thinking, wah, apa nantinya kata dunia….***

June 23, 2007

Jakarta: Open for All?

Filed under: Fenomena Sosial

Jakarta: Open for All ?

 

Tahun ini Jakarta - ibukota negara RI - berusia 480 tahun. Momentum HUT tahun ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, sekalipun substansinya tetap begitu-begitu saja, seperti PRJ selama 1 bulan, pesta rakyat di tiap wilayah, pentas  seni dan sederet seremoni lainnya.
Tahun ini HUT Jakarta diwarnai dengan persiapan menyongsong Pilkada langsung Gubernur dan Wakil Gubernur yang akan menakhodai ibukota negara RI 5 tahun ke depan. Jadi tanpa disadari, ada kilasan sekaligus  nuansa politik yang membaur di dalam perhelatan HUT Jakarta tahun ini. (Bagi gue, emang rada aneh, masa’ sih penduduk Jakarte udah sekian belas jute, sekian banyak tokoh nasional baik di lingkup birokrat, militer, publik figure, pengusahe, dsb hidup di sane, eh cuma  terakomodasi 2 pasang balon gub ame wakilnye? Secare matematis, kalo’ ade 10 pasang umpame, itu mah logis aje Lho, emangnye kenape kalo cuma 2 pasang, sewot lo  WMU. Ah, kagak la yau..).
Secara pribadi, saya punya hubungan emosional dengan Jakarta.  Sekian puluh tahun lalu, saya menimba ilmu di sana. Lebih kurang 7 tahun saya berkutat dengan perkuliahan di Universitas Indonesia, tepatnya di FISIP UI, yang lokasinya saaat itu masih di Rawamangun Jakarta Timur. Saya tinggal di kawasan Tanjung Priuk, walau akhirnya eksodus alias kontrak rumah pondokan di Jalan Pemuda, dekat dengan kampus. Selain itu, saat ini ada beberapa kita pe saudara kandung yang kerja dan menetap di Jakarta. Jadi bagi saya kedekatan dengan Jakarta masih terasa sampai sekarang ini.
Dibandingkan waktu saya masih di sana - sekitar 30 tahun lalu - dengan saat ini, secara kultural tidak ada perubahan signifikan. Beda-beda tipislah. Copet di bus maupun kriminalitas tetap mengintai, penumpang KRL tetap padat dan semakin padat. Kawasan kumuh tetap ada.
Jakarta tetap merupakan melting pot. Di sini orang dipersilahkan mengadu juntrungannya. Di sini surganya mengadu nasib.
Secara fisik memang Jakarta 30 tahun lalu dengan sekarang, wow, beda banget. Sekarang ini Jakarta sudah mulai jadi hutan beton, bangunan tinggi pencakar langit merambah. Tapi satu hal yang dipastikan tidak berubah cuma satu: Jakarta tetap sebagai sosok pelanggan banjir  yang setia tiap tahun. Bahkan intensitas maupun cakupan wilayah yangg kena banjir semakin meluas. Sehingga ada diskursus, bagaimana kalau ibukota negara dipindahkan ke tempat lain yang aman dari banjir?.
Jakarta di mata saya tetap seperti dulu. Masyarakat Betawi-nya tetap berada di posisi sub-urban. Karena itu, kalau saja si Jampang atawa si Pitung bangkit dari kuburnye, pastilah kaget. Justru kaum Betawi jadi marginal terdesak oleh pendatang? Oh, impossible. Believe it or not?
Yang jelas apa yang dicita-citakan Pahlawan Nasional Muhammad Husni Thamrin untuk menjadikan Jakarta yang nasionalis dan berbudaya masih harus terus diperjuangkan. Bukan hanya oleh kalangan Betawi, namun seluruh rakyat Indonesia. Jakarta adalah simbol eksistensi negara. Eksistensi multi etnis. Bukti nyata: orang dari etnis Minahasa pernah jadi Gubernur di Jakarta.
Pertanyaannya: Jakarta open for all?   Ah, susah-susah gampang ngejawabnye. Kudu berpikir. Yang jelas hidup di Jakarta mesti tahan banting, selain harus punya skill.  Lho emang begitu, sejak Batavia, Sunda Kelapa dan seterusnya, hidup di Jakarta harus berani-berani. Itu so pasti. Buktinya si Jampang, si Pitung, mereka berani-berani.
Jangan datang ke Jakarta kalau akhirnya cuma jadi beban  atau merepotkan Pemerintah DKI di sana. Yang jelas pegang filosofi ini: Sekejam-kejamnya ibu tiri, lebih kejam ibukota negara!.
Kalau saya ke Jakarta, yang lebih dahulu saya lakukan adalah melakukan nostalgia dan nostalgile, seperti: makan di warteg, naik bus berdiri (sambil jaga popoci), ke Ancol, ke Pasar Baru, ke Senen, ke Pasar Ular, ke tukang loak di Pasar Rumput,ke museum Fatahillah, ke TMII, nonton di bioskop Trio di Tanjung Priuk (he..he…he…). Di bioskop ini, masih berlaku sistem interval (setengah pertunjukan istirahat). Di bioskop ini pula penontonnya suka bertepuk tangan atawa tereak-tereak, apalagi kalau yang maen film India, atau silat Cina seperti kungfu Bruce Lee dan  Pendekar Shaolin. Juga ke Taman Lawang, ngeliat banci, ke Marunda Cilincing, dan masih banyak lagi. Ke Kramtung? Nggak la yau. Sori…
Sapa suru datang Jakarta. So what gitu lho. Idih, amit-amit… (wennym-umboh@hotmail.com.)

June 17, 2007

Sabung Ayam: Perlu Diperbolehkan?

Filed under: Fenomena Sosial

Sabung Ayam:  Perlu Diperbolehkan?

 emoticon

Tadi sore, di Stasiun TV Lativi, saya  mengikuti tayangan  ringan  berupa berita mengenai adu domba di Bogor. Adu domba ini  merupakan ajang yang memang memperkelahikan domba, dan  dari domba yang menang  sipemilik tentu akan mendapatkan hadiah (menang taruhan, kira-kira begitu…).

Sekalipun kegiatan ini sifatnya mengadu binatang, namun ada hal lain yang mau diangkat dari  fenomena ini.

Di tayangan tersebut, melalui acara memperkelahikan binatang domba, juga dijadikan ajang pameran domba  - yang tentu saja domba yang ditampilkan adalah domba yang gagah dan bagus potongan tubuhnya -. Kalau domba ini juga adalah yang  selalu menang jika diadu, maka harganya bisa mencapai puluhan juta. Bahkan kegiatan ini direstui Pemerintah Kota Bogor, karena menjadi aset wisata.

Oh yaa, domba-domba yang diadu tersebut  ketika diperkelahikan, harus memenuhi kriteria tertentu  dan ada ketentuan-ketentuan yang  menjadi syarat  saat perkelahian berlangsung. Katakanlah mereka - domba-domba itu - harus bermain secara fair play kira-kira.

Di daerah saya - Minahasa - memang tidak dikenal adu domba itu. Tapi ada masyarakat di sini gemar melakukan sabung ayam. Dan ini ada hadiahnya, yaitu hasil bertaruh tentunya.  Penggemarnya dari segala kalangan. Baik bawah, menengah hingga kalangan atas.

Kegiatan ini dilarang atau tidak direstui Pemerintah  juga para tokoh agama dan berbagai elemen masyarakat lainnya. Karena dianggap menyabung ayam ini  sudah masuk di arena judi dan pertaruhan, serta tidak bermoral karena memperkelahikan binatang secara sengaja (bahkan brutal?). Mungkin itu dasarnya. Karena dilarang, maka penggemar adu ayam melakukannya secara sembunyi-sembunyi, supaya tidak diketahui aparat.

Saya kembali ke adu domba itu. Mengapa  bisa ya… Toh substansinya sama, yaitu mengadu hewan untuk kepuasan adrenalin manusia.

Apa bisa kalau kegiatan sabung ayam ini dihalalkan? Artinya, ketika hewan ini diadu, harus ada syarat-syarat pertandingannya. Misalnya berapa ronde, berapa menit tiap ronde, tanpa taji misalnya, dan sebagainya. Dari ajang ini, sekaligus dilombakanlah atau dipamerkanlah ayam-ayam yang gagah, berkokok unik, Tentu kalau ada transaksi, ayam-ayam demikian berharga mahal. Di satu pihak orang berusaha memelihara ayam sebaik-baiknya supaya melalui ayam ada peningkatan kesejahteraan hidup, dan sebagainya, sekaligus sebagai tontonan menarik, kalau perlu dikembangkan sebagai aset wisata pula, sebagaimana adu domba di Bogor.  Tentu, harus ada restu dari Pemerintah.

Ini cuma gagasan mbeling.  Kesemuanya tergantung kita semua. Cuma, moralitas mau dikemanakan? Atau ada pendapat lain? Silahkan…Kukuruyuuuukkk! Petok, petok!

 

June 13, 2007

Soal PLTN: Itu “kan Baru Wacana

Filed under: Fenomena Sosial

Soal PLTN: Itu ‘kan Baru Wacana?

 emoticon

            Sebagai bangsa merdeka, kita bebas melakukan apa saja sejauh itu ditujukan untuk kesejahteraan dan kemaslahatan rakyat. Tentunya sesuai dengan ridho Allah.emoticon

            Karena itu, ide dari para teknokrat kita untuk membangun PLTN di Semenanjung Muria perlu  kita hargai sekaligus perlu pula ditelaah bersama. Artinya, ini menyangkut masa depan bangsa Indonesia. Bukan hanya masa depan rakyat Indonesia di Jawa, Madura dan Bali;  yang secara konseptual nantinya akan memperoleh outcomes  dari pengelolaan PLTN itu.

            Memang, Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) yang berkedudukan di Serpong Banten sudah mewanti-wanti bahwa ke depan energi nuklir ini merupakan opsi yang relevan dengan situasi dan kondisi manakala akhirnya kita harus menghadapi paceklik sumberdaya energi yang tidak dapat diperbaharui. Seperti BBM, batubara, dan lain sebagainya. Apalagi, pengalaman mengelola energi nuklir ini, kita sudah punya. Sebut saja reaktor nuklir yang ada di Bandung (sejak tahun 50-an), Jogyakarta (tahun 70-an), dan Serpong (tahun 80-an). Ini semua dimanfaatkan sebagai radio isotope yang bermanfaat  di bidang pertanian, peternakan, dan kedokteran.

            Nah, PLTN yang rencananya akan dibangun di Muria, tentu sangat berbeda dengan apa yang ada di Bandung, Jogyakarta maupun Serpong. Reaktor nuklir  Muria ini nantinya akan memasok  kebutuhan listrik di wilayah yang disebutkan di atas.  

            Kita harus acungkan jempol terhadap teknokrat kita - sebagai anak bangsa - yang telah memikirkan secara kritis segala sesuatu yang memang diperlukan bagi kesejahteraan  rakyat di negara tercinta ini.

            Tapi kita perlu pula belajar dari sejarah pengalaman negara lain yang menggunakan energi nuklir ini. Peristiwa bocornya reaktor nuklir di Chernobel Ukraina  pada 26 April 1986 tentu masih membekas di ingatan kita. Meluluhlantakkan warna kehidupan dan lingkungan di sana. Ribuan orang mati tragis, dengan lingkungan yang akhirnya rusak fatal. Di Cina  beberapa tahun lalu terjadi pula kebocoran reaktor, dengan dampak yang sama.

            Ilmu Pengetahuan dan Teknologi merupakan sahabat manusia manakala digunakan  berdasarkan reasoning  yang penuh kearifan. Manusia yang mengelolanyapun harus orang yang benar-benar  berkarakter kemanusiaaan, bermartabat kemanusiaan. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi hanya sebagai bagian untuk membangun harkat kemanusiaan itu sendiri.

            Barangkali penguasaan teknologi kita siap. Tapi karakter kemanusiaan itu sendiri perlu dipertanyakan. Kita harus malu, ketika teknologi yang kita mainkan justru tidak mampu menyelesaikan masalah kemanusiaan yang diakibatkannya. Lihat saja melubernya lumpur di Porong Sidoarjo. Tragedi kemanusiaan yang akhirnya sebagai bangsa kita tidak tahu persis mau berbuat apa. Segala macam cara telah diambil untuk menghentikan lumpur itu, tetapi belum ada hasil yang signifikan.

            Sedangkan mau mengatur harga minyak goreng yang saat ini naik kebablasan, berbagai jurus yang dikeluarkan  agar harga minyak goreng turun wajar belum terlihat hasilnya.

            Kalaupun PLTN itu action, mau dibuang ke mana limbahnya?

            Intinya, perlu dibuka ruang publik,  yang memberi kesempatan  berbagai komponen anak bangsa mendiskusikan wacana ini. Perlu tidak PLTN itu ada. Kalau perlu, waktunya kapan?  Bagaimana SDM pengelolanya. Kalau PLTN tidak perlu, energi alternatif apa yang perlu disiapkan atau diberdayakan, dan seterusnya.

            Memang proyek  berteknologi tinggi yang riskan itu, perlu kajian matang.

             

           

              

           

            emoticon

May 31, 2007

Darah Membasahi Bumi Pasuruan

Filed under: Fenomena Sosial

DARAH MEMBASAHI BUMI PASURUAN

Memiriskan. Tapi itulah yang terjadi. Sampai catatan ini aku publikasikan, 4 orang warga desa Alas Tlogo Lekok Pasuruan tewas dari  moncong bedil yang memuntahkan pelor-pelor dari beberapa pasukan marinir AL, Rabu 30 Mei 2007.
Tidak jelas pula siapa sebenarnya yang memulai. Versi TNI AL berbeda dengan warga Alas Tlego. Marinir  terpaksa menembak (ke bawah ?) sebagai bentuk pembelaan karena mereka diancam warga yang membawa berbagai senjata tajam. Sebaliknya warga mengatakan  lain. Persoalannya apa memang penembakan dengan peluru tajam merupakan pakem yang mau tidak mau mesti diambil.
Buntut dari sengketa tanah yang berkepanjangan. Lahan  Grati yang dalam sengketa telah dimenangkan TNI AL - dan dibeli tahun 1960 -   memang sangat dibutuhkan untuk
kegiatan operasional termasuk latihan tempur.  Berbagai upaya konon telah dilakukan agar warga Alas Tlogo eksodus dari lahan itu. Bahkan TNI AL  telah memberikan kompensasi penggantian lahan per-kepala keluarga 500 m2.
Begitulah. Bagi warga Alas Tlogo, bukan persoalan mereka harus ke luar dari sana. Bagi mereka - sama dengan warga desa lainnya di nusantara ini - tanah yang didiami itu sudah merupakan bagian dari darah daging mereka. Artinya hidup dan mati  warga memang sangat  tergantung dari tanah yang mereka diami. Huh, kompleks memang. (Bahkan di bumi Malesung sendiri, persoalan budel antara kakak adik adakalanya susah diselesaikan).
Tapi begitulah. Sengketa tak selesai. Malah berujung pada maut. Matinya anak bangsa oleh anak bangsa sendiri.
Saya berpikir, hukum formal silahkan berdiri megah. Tapi di satu pihak alur nurani dan moralitas pun semestinya dipancangkan. Kalau tidak, hancur leburlah kita. Hukum rimba yang bermain.
Teringatlah aku, saat  masih kanak-kanak .  Papi membelikan aku sebuah novel  dengan setting sejarah. Sebuah buku yang tebal, ditulis Abdul Muis. Judulnya Untung Surapati. Terus terang, aku sangat menyukai isi novel itu. Aku menyukai heroisme Untung Surapati yang dari Pasuruan. Heroisme  yang luar biasa dari seorang Untung Surapati melawan serdadu Belanda. Tapi heroisme yang sarat dengan nilai kemanusiaan. (Untung Surapati seorang eks budak, yang kemudian berpacaran dengan seorang nona Belanda yang cantik, keturunan bangsawan. Karena sebelumnya dia sempat menyelamatkan nyawa nona Belanda itu dari terjangan ombak di tengah laut. Dia mati syahid setelah diterjang peluru Belanda dalam pertempuran di Bangil).
Ah, sekarang justru sesama anak bangsa yang bertikai. Aku yang sekarang tinggal di Minahasa terenyuh dengan apa yang terjadi di Alas Tlogo.  Rupanya di era modern sekarang ini, tetap saja ada perilaku yang  mengangkangi harkat dan standard  nilai kemanusiaan. Intinya, yang lemah siap diterkam yang kuat (ah, mudah-mudahan perspektif  aku yang keliru) .
Banyak sebenarnya fenomena Alas Tlogo di Indonesia.  Sebagai bangsa, kita kembali perlu belajar, bagaimana menghargai perbedaan. Kalau kita tidak mampu mengelola sense of different celakalah kita.
Sekarang bagaimana? Intinya, persoalan tetap kita kembalikan ke Pemerintah. Kontrak politik, kontrak sosial, kontrak budaya, bahkan kontrak memberdayakan sense of humanism telah diberikan rakyat.  Sebagai rakyat, kita tetap concern dengan  Pemerintah sebagai Pimpinan kita.
Kitapun berharap,  kasus Alas Tlogo ini menjadi pelajaran penting bagi Indonesia. Bahwa bagaimanapun juga kekerasan tidak akan mampu menyelesaikan persoalan. Bahkan sekarang bukan zamannya lagi.
Atau memang di negara ini membangun mekanisme dialog sudah tidak mudah?  Atau memang sudah tersumbat?  Silahkan jawab dengan jujur.
.

May 28, 2007

Transmigrasi OK, Share of Poverty No

Filed under: Fenomena Sosial

Transmigrasi OK, Share of Poverty No Apa yang disampaikan Ketua Komisi B Victor Mailangkay, SH saat Rapat Kerja Komisi B dengan Pemprov Sulut dan mitra kerjanya pekan lalu bahwa Sulut tertutup bagi transmigrasi, perlu saya tanggapi: 1 Sampai saat ini, issue transmigrasi masih merupakan kebijakan nasional. Hanya visi kebijakan transmigrasi tersebut sekarang lebih didorong pada regional enableness setting (pemberdayaan wilayah tujuan). Artinya, kalau resident yang datang ke Sulut memang mempunyai keterampilan atau kemampuan teknis yang dapat memberdayakan wilayah atau komunitas di daerah Sulut, mengapa harus ditolak? 2. Yang perlu kita tolak justru kalau transmigrasi tersebut cuma kedok untuk mentransfer kemiskinan atau melempar kemiskinan (share of poverty). Artinya cuma semata-mata ‘melempar’ penduduk yang tidak punya keterampilan sekaligus mengurangi kepadatan massal di wilayah asal. Apalagi kalau akhirnya cuma jadi beban di daerah penerima (Prov Sulut). Ini yang perlu kita tolak! 3 Kalau kita cermati, sebenarnya transmigrasi spontan sedang terjadi di Prov Sulut. Apalagi mereka yang bergerak di sector ekonomi riil. Di Manado, Tomohon, Kotamobagu misalnya. Wilayah ini tetap merupakan area menarik bagi penduduk daerah lain misalnya mereka yang dari kawasan Barat Indonesia untuk mencari kehidupan di daerah ini seperti penjual makanan, pisang goreng, penjaja jamu, penjual keliling, dsb. Dan kita tidak dapat menolak ataupun mengusir mereka. Dalam konteks NKRI mereka-pun punya hak untuk hidup di Sulut. Sebagaimana orang Sulut juga sah untuk ‘cari makan’ di daerah lain. Yang kita tolak adalah orang datang ke Sulut tapi dengan tujuan tidak baik atau tujuan provokatif lainnya. Mereka adalah musuh dan harus kita lawan dan kita usir! Jadi intinya, dalam konteks NKRI wilayah Sulut harus tetap terbuka untuk sebuah transmigrasi. Otonomi daerah tidak melarang itu. Kecuali kalau Sulut adalah Negara sendiri. Kalau Sulut menutup diri bagi transmigrasi bagi saya ini konsep kebablasan.***

May 2, 2007

Happy Feet

Filed under: Fenomena Sosial

Happy Feet
Manusia perlu malu. Bagi komunitas pinguin di kutub selatan,  kita disebut alien yang serakah. emoticonLingkungan di sana diobrak-abrik, menimbulkan kebingungan dan kemarahan komunitas pinguin-pinguin di sana. Kedamaian, ketenteraman yang terukir di kutub selatan menjadi hancur lebur karena ulah manusia yang mengeksploitasi  natural resources di sana.emoticon Kegembiraan habitat di kutub selatan buyar.

Tokoh pinguin Happy Feet yang selalu berjingkrak-jingkrak dalam dunianya yang harmonis sempat gundah gulana. Happy Feet yang gembira mendadak sedih namun kritis. Manusia dihadapinya dengan semangat pinguinisme. Menyadarkan perilaku manusia yang seenaknya mengeksploitasi alam dengan tidak mengindahkan harmonisasi lingkungan.

Ah, manusia. Rasionalitas yang memporakporandakan peradaban. Mindset yang dirasuki keserakahan. emoticon

Bumiku adalah rumahku. Happy Feeet adalah bagian dari kita. Ia saudara kita. emoticon Sekalipun cuma diangkat dari layar lebar.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Riosoft