Hardiknas 2007
Hardiknas 2007

Kebijakan maupun regulasi pendidikan yang carut marut, memberi kesan bahwa bangsa ini memang serius memajukan pendidikan tapi bodoh melakukan aturan-aturan yang dibuat. Keseriusan yang dibangun namun tanpa paradigma yang akuntabel. Contoh saja, dana Bantuan Operasional Sekolah itu. Tujuannya baik dan mulia. Namun tanpa parameter yang jelas, bahkan ada kesan asal jadi. Ujung-ujungnya pungutan ini, sumbangan itu yang dilakukan pihak sekolah tetap saja terjadi. Modus operandi macam-macam. Belum lagi soal Guru Bantu. Yah, namanya saja guru bantu, maka pengabdiannya cuma dilirik sebelah mata. Cuma sekarang, bicara pengabdian itu sudah usang. Guru itu baik guru TK, guru SMP, guru SMA, guru SMK, guru PT, dan guru-guru di lembaga pendidikan lainnya adalah profesi. Namanya profesi, maka harus ada gaji atau penghasilan, yang harus mampu memenuhi standar hidup. Guru juga manusia. Kalau mau jualan buku di sekolah, siapa takut. Siapa sih yang tidak perlu duit.
Waktu saya dulu, baru dengar petak-petok sepatu guru mampu membuat kami semua duduk manis. Sekarang lain. Malah ada guru yang minta rokok dari muridnya. Eh, ngerokok sama-sama.
Pendidikan memang muahaal. And now, education is a business. Believe it or not?
Ah, jadi ingat saya dengan guru-guru waktu di SD Xaverius V, SMP Xaverius I, SMA Xaverius I, di Palembang semuanya. Penuh dedikasi, sekalipun pergi mengajar dengan menggenjot kereta angin alias sepeda atau sepeda kumbang. Itu kurun waktu 1965 s.d. 1976. Sekarang, oh, sangat maju. Di halaman parkir sekolah-sekolah itu, sekarang berjejer kendaraan roda empat mewah dan apik. Punya siapa? Punya guru dong. Ini ‘kan kemajuan yang signifikan sekaligus menjawab kebutuhan aktual sekarang.
Guru, engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa. Baktimu kuukir dalam sanubariku.
