Bunga Rampai WMU

May 2, 2007

Hardiknas 2007

Filed under: Education

Hardiknas 2007

 

Momentum Hardiknas 2007 seyogianya menjadi  magma  guna melakukan re-inspirasi, re-visi, re-misi, , re-formasi, re-konseptualisasi, re-komitmen  (silahkan tambah sendiri re re yang lain) bagaimana membangun dunia pendidikan Indonesia di tengah peradaban global yang kompetitif. emoticon
Kebijakan maupun regulasi pendidikan yang carut marut, memberi kesan bahwa bangsa ini memang serius memajukan pendidikan tapi bodoh melakukan aturan-aturan yang dibuat. Keseriusan yang dibangun namun tanpa paradigma yang  akuntabel. Contoh saja, dana Bantuan Operasional Sekolah itu. Tujuannya baik dan mulia. Namun tanpa parameter yang jelas, bahkan ada kesan asal jadi.  Ujung-ujungnya pungutan ini, sumbangan itu  yang dilakukan pihak sekolah tetap saja terjadi. Modus operandi macam-macam.  Belum lagi soal Guru Bantu. Yah, namanya saja guru bantu, maka pengabdiannya cuma dilirik sebelah mata.  Cuma sekarang, bicara pengabdian itu sudah usang. Guru itu baik guru TK, guru SMP, guru SMA, guru SMK, guru PT, dan guru-guru di lembaga pendidikan lainnya adalah profesi. Namanya profesi, maka harus ada gaji atau penghasilan, yang harus mampu memenuhi standar hidup. Guru juga manusia.  Kalau mau jualan buku di sekolah, siapa takut. Siapa sih yang tidak perlu duit.emoticon
Waktu saya dulu, baru dengar  petak-petok sepatu guru mampu membuat kami semua duduk manis. Sekarang lain. Malah ada guru yang minta rokok dari muridnya. Eh, ngerokok sama-sama.emoticon

Pendidikan memang muahaal.   And now, education is a business. Believe it or not?

Ah, jadi ingat saya dengan guru-guru waktu di SD Xaverius V, SMP Xaverius I, SMA Xaverius I, di Palembang semuanya. Penuh dedikasi, sekalipun pergi mengajar dengan menggenjot kereta angin alias sepeda atau sepeda kumbang. Itu kurun waktu  1965 s.d. 1976. Sekarang, oh, sangat maju.  Di halaman parkir sekolah-sekolah itu, sekarang berjejer kendaraan  roda empat mewah dan apik. Punya siapa?  Punya guru dong. Ini ‘kan kemajuan yang signifikan sekaligus menjawab kebutuhan aktual sekarang. emoticon
Guru, engkau patriot pahlawan  bangsa tanpa tanda jasa. Baktimu kuukir dalam sanubariku.emoticon

April 13, 2007

Tragedi IPDN

Filed under: Education

Saya sangat menyesalkan tindak kekerasan di kampus IPDN, sehingga kembali menewaskan seorang praja, Cliff Muntu. Memprihatinkan. Sekalipun hal tsb merupakan aksi segelintir oknum, namun secara institusional jelas wajah IPDN yang ganteng itu tercoreng.

Benar-benar edan. Memalukan

Berbagai aksi menuntut digusurnya IPDN perlu disikapi secara arif.

Sampai-sampai ada teman saya teriak:

Bubarkan IPDN!

Turunkan harga beras!

Kembalikan laptop rakyat!

(Tritura apalagi ini)

Huh! Benar-benar edan

Torang samua basudara

Kita pe saran: Banyaklah berdoa untuk Indonesia tercinta (Oh iyo kote’)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Riosoft