Bunga Rampai WMU

June 6, 2008

Nasionalisme di Tengah Badai

Filed under: Fenomena Sosial

Nasionalisme sebagai paham kebangsaan merupakan gerakan politik empiris. Perang Kemerdekaan Amerika (1776-1782) dan Revolusi Perancis (1789) dapat diangkat sebagai acuan dalam mencermati bayang-bayang nasionalisme. Dua peristiwa tersebut sedikit banyak menginspirasi bangsa-bangsa di belahan bumi ini untuk melakukan pergolakan. Pergolakan apa? Tentu saja pergolakan untuk merdeka. Tidak hanya di Eropa, tapi juga di Asia, Afrika pada abad 19 dan awal abad 20.
Spirit Declaration of Independence yang dikalimatkan Thomas Jefferson pada 4 Juli 1776 sebagai cikal bakal perang kemerdekaan Amerika mengandung prinsip liberalism dan human rights, oleh Lafayette – Jenderal Perancis yang sempat terdampar di kancah peperangan kemerdekaan Amerika – diperkenalkannya kepada rakyat Perancis. Situasi di Perancis akhuir abad 18 memang runyam. Otokrasi, feodalisme, absolutisme merupakan wajah yang nyaris tak tenggelam. Akibatnya rakyat Perancis tersentak atas teror yang ada di depan mata. Mereka menentang kebijakan elit penguasa. Revolusi Perancis membangun sebuah tradisi pola pikir baru berdasarkan liberte, egalite, fraternite.
*
Apa yang terjadi di Amerika Serikat pada masa perang kemerdekaan Amerika, juga di Perancis pada masa Revolusi Perancis, beda-beda tipis substansinya dengan fenomena di Bumi Pertiwi Indonesia akhir abad 19. Namun bagi saya pergulatan nasionalisme di Indonesia lebih merupakan bentuk nationalism awareness dan inipun tidak muncul begitu saja. Terjadi kristalisasi dari berbagai rentetan peristiwa yang berproses lama dipengaruhi kejadian-kejadian yang mendahului baik di dalam maupun di luar Bumi Pertiwi. Ini dapat dilihat, pada akhir abad 19 pemerintah (kolonial) Belanda menghadapi crucial point. Pergolakan di daratan Eropa membuat Belanda banyak melakukan restrukturisasi. Baik di bidang politik, ekonomi dan administrasi; sementara pendapatan dari negeri jajahan sudah tidak maksimal mengingat pressure penduduk (Bumi Putera) melalui policy tanam paksa (cultuur stelsel). Termasuk kesulitanmemasarkan berbagai produk dari negeri jajahan di pasaran internasional karena peperangan yang berkepanjangan. Menghadapi hal ini, 2 kebijakan penting dilakoni pemerintah Belanda yaitu melakukan politik pintu terbuka dan memberlakukan pola pendidikan a laBarat di negeri jajahan. Ini adalah peluang skaligus mendorong insting sekelompok pemuda pelajar Indonesia untuk mendirikan organisasi yang nonprimordialism. dimungkinkan pula karena pola pikir realis sebagai dampak ikutan sistem pendidikan yang diterapkan. Dari sinilah wawasan kebangsaan dirintis bahkan dipropagandakan tiga serangkai: dr Wahidin, Sutomo dan Suradji.
*
Frederick Hertz dalam Nationality in History and Politics menyebutkan bahwa ada 4 cita-cita nasionalisme, yaitu mewujudkan persatuan nasional, mewujudkan kebebasan nasional lepas dari campur tangan asing, mewujudkan identitas nasional, dan untuk memperoleh kehormatan, kewibawaan, gengsi dan pengaruh dalam pergaulan di dunia internasional. Titik tolak nasionalisme Indonesia sebagai wujud kesadaran nasional sebenarnya merupakan busur yang mendorong anak panah menuju gerbang kemerdekaan yang di dalamnya ada kepentingan kebangsaan. Sebuah kepentingan kebangsaan yang dipersatukan dari berbagai kesulitan, berbagai krisis. Atau merunut dari sebaris pertanyaan Ernst Renan (1802): Qu’est ce que c’est un nation? C’est le desir d’stre ensemble” (Apakah bangsa itu? Kemauan untuk hidup bersama). Menurut Renan, hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu dengan tidak ditentukan oleh ras, agama, bahasa, peradaban atau kepentingan ekonomi.
Babakan ini pada gilirannya dalam kaca mata nasionalisme Indonesia memunculkan suatu etos. Yaitu etos nasionalisme berlatar kebangsaan yang tidak sempit. Sebuah etos yang berpijak pada solidaritas, senasib dan sepenanggungan. Etos ini bukan cuma eforia yang didendangkan terus menerus sesuai dengan irama tertentu. Juga etos ini bukan berarti mengagungkan bangsa sendiri dan memandang sebelah mata bangsa lain.
Kita tetap bahkan sangat menghargai bangsa lain dengan keberadaannya. Ini merupakan komitmen bahwa bangsa Indonesia ikut peduli pada berbagai gejolak dunia internasional. Intinya, kita peduli pada hak-hak kemanusiaan, kita peduli pada dunia tanpa perang, kita peduli pada pelestarian lingkungan, kita melawan perdagangan manusia, kita anti anarkisme, kita pun ikut berseteru dengan penyalahgunaan narkotika dan sejenisnya, bahkan kitapun menjunjung suatu peradaban bangsa-bangsa yang saling menghormati, saling menghargai. Kita berempati dan mendukung perjuangan bangsa-bangsa yang kedaulatannya dirongrong pihak lain. Di sisi lain, nasionalisme Indonesia diletakkan sebagai upaya untuk mempertahankan kelangsungan hidup bangsa. Sekaligus sebagai kekuatan untuk mencapai cita-cita nasional.
*
Tahun ini, nasionalisme itu berkulminasi dalam 1 abad. Tantangan ke depan memang berat. Berbagai persoalan kebangsaan terus mendera. Belum lagi pergulatan menghadapi krisis energi, krisis pangan. Namun toh, sesulit apapun yang dihadapi jalan ke luar pasti tetap ada. Sebagai bangsa, kita sebenarnya sudah sangat akrab bahkan terbiasa menghadapi berbagai kesulitan. Namun memahami rasa senasib sepenanggungan merupakan kunci untuk ke luar dari krisis. Ketika kepentingan kelompok, visi sektarian yang bermain, saat itu pula bertubi-tubi krisis mewarnai dan mengurainyapun bak membenahi benang kusut, entah dari mana harus diselesaikan.
Namun jangan pula akhirnya sosok Bill Gates – juragan Microsoft Corporation dengan kekayaan Rp 500 Triliun - lebih Indonesia ketimbang orang Indonesia. Mengapa? Bukan apa-apa sih. Justru Bill Gates sangat enjoy berbatik ria saat berceramah di muka para petinggi dan kaum intelektual kita beberapa waktu lalu. Yang lainnya memakai jas, berdasi, bersafari, dan sebagainya.
Ah, mudah-mudahan ini cuma intermezo di sela-sela peringatan Hari Pendidikan Nasional, 10 Tahun Reformasi dan 1 abad Kebangkitan Nasional.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://wmu.blogsome.com/2008/06/06/nasionalisme-di-tengah-badai/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.


Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Riosoft