Bunga Rampai WMU

April 30, 2008

Bukan Pecundang!

Filed under: Fenomena Sosial

Saat membuka Pekan Produk Budaya Indonesia tahun 2007 lalu di Jakarta, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan penegasan tentang peluang maksimal melalui apa yang disebutnya sebagai ekonomi pariwisata (economic of tourism). Ekonomi pariwisata ini disebutkan Presiden sebagai ekonomi gelombang keempat. Sebuah gerakan ekonomi yang bersumber pada kekayaan budaya termasuk warisan budaya (heritage), kreativitas, dan lingkungan alam yang disatukan dalam ecotourism.
Ini merupakan kelanjutan dari analisis futurolog Alvin Toffler yang memperkenalkan sebuah gerakan ekonomi gelombang ketiga berpola pada model ekonomi terbuka dengan mengandalkan kekuatan teknologi informasi.
Ajakan Presiden tersebut menacu pada 2 strategi pengembangan, pertama, mengembangkan ekonomi kreatif dengan memadukan ide, seni dan teknologi. Kedua, mengembangkan keunggulan produk ekonomi yang berbasiskan seni budaya dan kerajinan.
Indonesia merupakan negara yang memiliki warisan sejarah budaya tak terbilang banyaknya. Bahkan terbanyak di kawasan Asis Tenggara. Beberapa di antara peninggalan sejarah itu bahkan sudah dimasukkan ke dalam The International Heritage alias peninggalan sejarah internasional oleh UNESCO. Nyaris setiap suku yang ada di negara ini memiliki artefak, situs, manuskrip, yang dilestarikan keberadaannya secara turun- temurun. Namun harus diakui, tak banyak yang melihat ini dari kacamata ekonomi. Padahal jika dipromosikan secara gencar kepada masyarakat internasional, peninggalan sejarah ini bisa menjadi daya pemikat untuk mengundang wisatawan.
Demikian pula hal-hal yang berkaitan dengan lingkungah hidup. Indonesia adalah negara dengan potensi sumber daya alam hayati terbesar di dunia. Keanekaragaman flora dan fauna adalah sumber ekonomi terbarukan yang tersedia dalam jumlah besar. Hanya sayangnya potensi lingkungah ini belum tergarap dengan sempurna. Banyak potensi flora, fauna, keindahan alam, dibiarkan teronggok lepas tanpa arti. Atau sebaliknya, banyak yang dieksploitasi tanpa batas sehingga kelestariannya terancam
*
Harus diakui, kemampuan kita dalam mencipta hasil karya dari bahan yang berlimpah ruah di negeri ini masih sangat rendah. Di antara kita cuma suka berjalan pintas, menjual potensi alam dalam keadaan mentah sehingga harganya sangat murah. Contoh saja adalah kayu gelondongan, rotan, hasil tambang, minyak bumi, minyak sawit, rempah-rempah, sering kita jual ke luar negeri dalam keadaan utuh, dan kita beli lagi dari luar dalam bentuk olahan dengan harga yang berlipat ganda dari harga aslinya. Bangsa lain bisa jadi tidak memiliki sumber alam seperti yang disebutkan namun mereka mendapatkan keuntungan dari komoditas tersebut dari jasa pengolahan bahan mentah menjadi bahan jadi.
Demikian pula ecotourism. Sangat dibutuhkan sebuah kreativitas untuk mengelolanya. Terkadang kita cuma terbuai menunggu orang lain menangani aset keindahan alam yang kita miliki, yang sudah terletak di pelupuk mata kita.
Indonesia mempunyai potensi ecotourism yang sangat luar biasa. Dari catatan Indonesia Ecotourism Community, Indonesia memiliki 10% dari total jenis bunga yang ada di dunia, 12% total jenis mamalia, 16% total jenis hewan reptil dan amfibi, 17% total jenis burung, serta 25% total jenis ikan di dunia.
Menurut Newsome (2002), ecotourism merupakan bagian dari wisata alam yang meliputi: wisata petualangan, nature based, wildlife, dan ecotourism. Sepintas keempat jenis wisata alam tersebut terlihat sama. Perbedaan utamanya ada pada aktivitas inti yang dilakukan wisatawan. Wisata petualangan menekankan pada aktivitas fisik pada kondisi alam yang ekstrim seperti arung jeram, panjat tebing, dll. Nature based menekankan pada aktivitas menikmati keindahan alam seperti danau, pantai, air terjun, pegunungan, wildlife menekankan pada aktivitas mengamati sekaligus menikmati bercengkerama dengan satwa liar seperti bird watcing. Sedangkan ecotourism adalah kegiatan wisata melibatkan unsur pelestarian alam dan lingkungan budaya masyarakat setempat. Intinya ecotourism berbasis pada alam, kesinambungan ekologi, bersifat mendidik, menguntungkan masyarakat setempat dan memuaskan pengunjung
*
Sekali lagi, ini dibutuhkan kreativitas untuk mengelola dan mengolahnya. Karena itu apa yang diangkat Presiden RI mengenai ekonomi gelombang keempat melalui pendekatan tourism yang berbasis pada keunggulan budaya berpadu dengan otentitas lingkungan alam yang asri dan natural paling tidak membangunkan kita bahwa kesemuanya ini telah terhampar di hadapan kita sendiri.
Salah satu negara yang memang telah melakukan gerakan dalam hal ini adalah Jepang. Perdana Menteri Junichiro Koizumi memiliki visi dan melihat peluang dalam sektor ecotourism, sehingga pada awal tahun 2003 Koizumi mencanangkan untuk back to basic menghidupkan kembali pariwisata Jepang yang pernah menjadi sumber devisa utama di masa lalu, guna mengatasi menurunnya perolehan devisa akibat melemahnya daya saing barang-barang industri yang diekspor ke berbagai negara akibat ancaman berbagai produk dari RRC, Taiwan dan Korea Selatan
Segalanya memang harus dimulai, dan tidak ada kata terlambat untuk melakukan sesuatu yang bernilai. Tak berlebihan pula kalau event seperti Tomohon Flowers Festival atau World Ocean Conference merupakan terobosan menguak tabir bahwa sebenarnya alam itu sangat dekat dengan manusia. Tinggalah manusia itu sendiri yang harus berikhtiar dan berkreativitas mengolahnya secara bermartabat tanpa merusak alam itu sendiri.
Kalau kita cuma mau jadi penonton, miskin kreativitas, kapan kita mampu mengangkat harkat hidup di mata bangsa lain.
Karena kita bukan pecundang. Bukan bangsa pecundang!
(Sorot Flower City News ed 10/2008)
(wennym-umboh@hotmail.com/wenny-mu@plasa.com)

April 16, 2008

Dari Bunga, Membangun Prestasi Menegakkan Prestise

Filed under: Tomohon City

Kerja all out.
Paling tidak inilah deskripsi yang harus diketengahkan kepada pemerintah dan masyarakat Kota Tomohon menghadapi gebyar Tomohon Flower Festival (TFF) 2008 yang akan dilaksanakan selama 1 pekan di akhir Juni hingga awal Juli 2008. Tepatnya tanggal 29 Juni 2008 hingga 4 Juli 2008. Dari 12 agenda kegiatan TFF tersebut, maka Tournament of Flowers (Parade Bunga) merupakan event unggulan yang dipastikan mampu mempersolek Kota Tomohon menjadi cantik, gagah, bahkan sangat berbunga-bunga.
Walaupun sebenarnya kalau dari segi pengalaman, pemerintah dan masyarakat di Kota ini sudah melekat bagaimana mengelola kegiatan agenda parade bunga ini. Mengingat kegiatan ini telah 2 kali dilaksanakan yaitu tahun 2006 dan 2007 lalu. Namun saat itu masih berskala lokal. Sedangkan tahun ini terjadi ekspansi, yaitu sudah berskala nasional. Meliputi kota-kota di berbagai provinsi yang ada di tanah air, termasuk seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Utara. Bahkan ke depan atau tahun-tahun berikut sudah melibatkan negara-negara luar.
Bahkan Sekretaris Kota Tomohon selaku Ketua Umum Panitia TFF 2008
Drs Johny JP Mambu SH MSi memastikan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara akan menghadiri sekaligus membuka serta menyaksikan Parade Bunga tersebut. Dikatakan Johny JP Mambu bahwa tim advance kepresidenan telah melakukan peninjauan kesiapan Pemerintah Kota Tomohon awal April lalu. Bahkan dijadualkan pula nantinya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan melakukan kunjungan kerja di antaranya meresmikan Kantor Sinode GMIM.

Pematangan persiapan
Karena itu tak berlebihan jika Ketua Umum Panitia TFF 2008 Drs Johny JP Mambu SH Msi mengemukakan bahwa event TFF ini merupakan prestise bagi Kota Tomohon – pemerintah dan masyarakat – selaku tuan rumah maupun penyelenggara.
Sejak 2007 lalu persiapan telah dilakukan. Mulai dari penyusunan cetak biru Kota Bunga Tomohon yang disusul dengan Perda Kota Bunga Tomohon dan Festival Bunga Tomohon yang difasilitasi Komite Pemantauan Penyelenggaraan Otonomi Daerah dengan Indonesia Netherland of Agency (INA). Termasuk pula serangkaian konsultasi-konsultasi dengan para Menteri terkait seperti Menteri Perdagangan untuk pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bunga dan mekanisme perdagangannya, Menteri Koperasi dan UKM untuk pengembangan dan pembinan koperasi bunga. Bahkan diprogramkam Tomohon menjadi pilot project nasional Kota Koperasi. Mentari Pertanian untuk pembinaan dan perngembangan bunga, serta Menteri Pariwisata dan Kebudayaan RI yang menjadikan Tournament of Flowers sebagai kalender tetap pariwisata nasional.
Bahkan sebelumnya telah dibentuk koperasi yang mengkhususkan bergerak di sektor bunga, yaitu 35 koperasi dan 1 koperasi induk ditambah dengan 129 kelompok petani bunga. Belum lagi penyelenggaraan pembinaan, pendidikan dan pelatihan bagi petani bunga serta anggota kelompok tani bunga termasuk pelatihan merangkai bunga hias kendaraan, mengikuti berbagai kegiatan promosi di dalam maupun di luar daerah serta melaksanakan kunjungan kerja untuk belajar pengembangan dan pengelolaan bunga di Belanda. Dan yang sangat penting pula adalah membentuk panitia pelaksana Tomohon Flowers Festival 2008 .

Sebagai pelecut
Bahkan ke depan, Tomohon dipastikan siap menuju ke wilayah industri florikultura. Ini tentunya berbekal potensi dan keberadaan yang dimiliki. Kesiapan memang telah dibangun dan dikembangkan. Bahkan untuk menuju ke domain tersebut telah disiapkan kawasan 900 hektare untuk pertanian khusus tanaman hias, yang nantinya akan dikembangkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Sehingga dipastikan bahwa Parade Bunga yang telah menjadi agenda wisata tahunan ini merupakan pelecut untuk menuju ke medan industri florikultura ini.
Kepada Flower City News Kadis Pertanian Perkebunan Peternakan dan Perikanan Kota Tomohon Vonny F Pontoh membeberkan bahwa Kota Tomohon sudah sangat siap untuk menuju ke industri florikultura. Hal ini dikatakan Vonny F Pontoh dengan telah tersusunnya Grand Strategy Industri Florikultura Kota Tomohon 2007 – 2012 dan dengan telah ditetapkannya 3 Peraturan Daerah menyangkut florikultura merupakan bukti bahwa kesiapan tersebut memang sudah diaplikasikan. Hanya di sisi lain Pontoh menggarisbawahi bahwa masyarakat Kota Bunga Tomohon harus mampu menyikapi hal ini, sebab ketika akan memasuki tahapan ekspor maka segala sesuatunya harus benar-benar siap. “Siap menghadapi para kompetitor bidang florikultura lainnya baik dari segi kualitas, kuantitas maupun kontinuitas,” ujar Vonny F Pontoh dengan nada optimistik.
Kendala lain yang disebutkan Kadis Tabunakan Kota Tomohon ini adalah menyangkut kemampuan menyiapkan produk yang memenuhi Standar Operasional Produksi (SOP) sesuai permintaan pasar internasional. Artinya sebagaimana dijelaskan Vonny F Pontoh kepada Flower City News penguasaan teknologi produksi di tingkat petani hingga saat ini masih berada pada skala tradisional dan belum mengarah pada pertanian modern ramah lingkungan. “Ini artinya profesionalisme SDM pertanian harus terus ditingkatkan,” timpal Vonny F Pontoh.

Undangan telah dikirim
Sedangkan kesiapan peserta yang diundang mengikuti berbagai kegiatan TFF 2008 memang terus dievaluasi. Namun Ketua Umum Panitia TFF 2008 Drs Johny JP Mambu, SH Msi mengatakan bahwa sekitar 70% daerah yang diundang sudah menyatakan kesiapan untuk hadir dan menjadi peserta di berbagai kegiatan TFF tersebut. Namun ada juga yang menyatakan akan hadir sebagai peninjau. Berbagai kota yang menyatakan kesiapannya antara lain Kota Kotamobagu, Kota Jogyakarta, Kota Mataram, Kota Pangkalpinang, Kota Gorontalo, Kota Padang, Kota Palembang, Kota Bitung, Kota Kendari, Kota Bengkulu, Kota Manado, Kota Jayapura, Kota Palu, Kota Kupang, Kota Ternate, Kota Samarinda, dan sebagainya. Sebagian memang siap hadir, namun akan memberikan informasi lebih lanjut.
Ketua Umum Panitia TFF 2008 Drs Johny JP Mambu SH Msi mengatakan sekalipun undangan yang telah diantar tidak langsung diserahkan ke kepala daerah, namun yang membawa undangan telah diterima oleh sekda atau asisten di daerah tersebut, itu sudah cukup.
Yang jelas ini adalah kerja all out. Membangun prestasi menegakkan prestise. (Flower City News ed. 10/2008) (wennym-umboh@hotmail.com)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Riosoft