Bunga Rampai WMU

March 19, 2008

Rumajarnomics

Filed under: Tomohon City

Rumajarnomics

Catatan: Wenny M Umboh
(Sorot, Flower City News, ed. 9/2008)

Genderang itu telah ditabuh. Berarti arak-arakan telah bergerak. Sebuah perjalanan yang istimewa, bahkan sangat spesial. Arak-arakan masyarakat Kota Tomohon membangun dirinya dengan melekatkan pada fenomena kultural yang telah menjadi bagian dari darah daging sendiri. Sebuah pemberdayaan tradisi yang ditandai betapa dekatnya masyarakat di kota ini dengan bunga. Sekali lagi, bunga.
Memang demikian. Dan inilah yang dibidik oleh seorang Jefferson SM Rumajar SE – Walikota pertama pilihan rakyat Kota Tomohon – untuk membangun tatanan ekonomi, membangun kualitas hidup atau kesejahteraan masyarakat. Bunga merupakan wahana yang menjadi pilihan. Pilihan utama!
Dan memang sepertinya hampir tidak ada daerah lain di Indonesia yang beralternatif membangun ekonomi dengan bunga. Kalaupun ada, itupun cuma dipandang sebelah mata.
Bagi Jefferson SM Rumajar, fenomena bunga yang telah menjadi bagian hidup masyarakat Kota Tomohon dan akhirnya melahirkan decission bahwa bunga sebagai sektor unggulan dalam menggerakkan kehidupan ekonomi sudah dikaji secara dalam bahkan melibatkan para pakar di bidang florikultura. Baik pakar bisnisnya maupun pakar teknologi florikultura itu sendiri. Apalagi sang Walikota ini punya background ilmu ekonomi. Jadi lengkaplah, perpaduan antara kultur, naluri, realitas, dan keilmuan itu sendiri. Inilah yang menjadi lazuardi pada asa Jefferson SM Rumajar.
Saya meminjam data Nancy Laws – seorang spesialis marketing ekspor florikultura yang menetap di Paris – yang dipublikasikannya tahun 2008. Nilai ekspor florikultura di berbagai negara yang menurut saya sangat fantastis. Uni Eropa 3 miliar Euros, Colombia 800 juta Euros, Ecuador 500 juta Euros, Kenya 300 juta Euros, Israel 150 juta euros, dan Indonesia cuma 15 juta euros. Dikatakan Nancy Laws, in 2005 Indonesia exported $4,523,602 worth of live plants – only 0,01% of the $4,585,411,719 world trade in live plants. Indonesia plant exports increased only 2% in a year where Taiwan increased exports by 11%, China increased exports by 24%, South Korea by 61%, Thailand by 35%, Malaysia 22%.
Sebuah angka yang memiriskan. Secara nasional memang Indonesia kalah jauh dalam permainan ini dibandingkan negara lain
Demikian pula dengan data dari Asosiasi Bunga Indonesia (ASBINDO). Perkembangan ekspor industri florikultura dunia pada tahun 2007 mencapai US$80 miliar. Khusus untuk Eropa dan Amerika Serikat kontribusinya US$9 miliar. Sedangkan Indonesia hanya US$15 juta
Bagi Jefferson SM Rumajar tentu saja angka ini boleh jadi telah menggelitik instingnya untuk mengambil langkah menabuh genderang. Berarti potensi berbisnis bunga peluangnya sangat besar, terbuka lebar.
Dalam wawancara beliau di Tempo edisi 16 Maret 2008, hitung-hitungannya begini. “Satu hektar bunga krisan bisa menghasilkan Rp300 juta dalam 100 hari. Tidak ada jenis pertanian lain yang bisa menghasilkan nilai setinggi ini. Jagung dalam satu hektar paling tinggi menghasilkan Rp7 juta. Padi menghasilkan sekitar Rp6 juta. Di Belanda lebih spektakuler lagi, satu hektar tanaman bunga rose bisa menghasilkan 1 juta euro (Rp13 miliar). Ini sebuah potensi untuk mengembangkan ekonomi. Inilah pula yang ingin dijalankan di Tomohon. Pasar bunga potong nasional 250 juta tangkai pertahun dan baru bisa dipasok sebesar 158 juta. Sementara pasar bunga dunia pertahun mencapai US$80 miliar dan sumbangan Indonesia berdasarkan data 2006 baru mencapai US$12 juta.”
Untuk tingkat lokal, tahun 2005 Tomohon memproduksi 2 juta tangkai bunga. Tahun 2006 mencapai 5 juta tangkai. Pada 2007 mencapai 10 juta tangkai. Sekalipun 50% masih dipasok dari Bandung. Dan tentu tendensi ini memperlihatkan demand sangat kuat.
Bahkan pada tahun 2005 ketika Jefferson SM Rumajar diangkat sebagai Walikota pertumbuhan ekonomi 4,1 persen (nasional 5,8%), Tahun 2006 naik menjadi 6,1 persen (nasional 5,7 persen), dan tahun 2007 naik hingga 6,8 persen (nasional 6,1 persen dan Sulut 6,3 persen). Paling tidak indikator angka ini memperlihatkan adanya gairah ekonomi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Berarti pula ada peningkatan pendapatan masyarakat, yang ditandai dengan bergairahnya sektor riil, sehingga ada trend peningkatan daya beli masyarakat.
Data mereka yang belum bekerja terjadi penurunan. Jika tahun 2005 data angkatan kerja tercatat kurang lebih 18.000 orang menganggur, tahun 2007 berkurang hingga 3000 orang. Dan ternyata sebagian besar dari mereka itu telah berprofesi di sektor florikultura
Jadi ketika data ini berbicara mengungkap apa yang ada di lapangan tentu kita perlu mempertajam sudut pandang filosofi ekonomi yang dikembangkan Jefferson SM Rumajar.
Sebuah filosofi ekonomi yang saya sebut sebagai Rumajarnomics.
Atau ada yang berminat mengkajinya lebih lanjut?

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://wmu.blogsome.com/2008/03/19/rumajarnomics/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.


Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Riosoft