Bunga Rampai WMU

March 19, 2008

Bergerak, dari Hulu ke Hilir

Filed under: Tomohon City

Kembali Walikota Tomohon Jefferson SM Rumajar SE mempertegas pentingnya memperkuat budidaya florikultura. Sebab inilah yang menjadi pilihan terbaik setelah melalui berbagai kajian yang eksak. Bahkan pada gilirannya merupakan referensi dasar pembangunan ekonomi daerah. Artinya, dibalik penguatan budidaya florikultura terjadi daya ungkit pertumbuhan ekonomi daerah, termasuk di dalamnya penyediaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat serta pertumbuhan sektor barang dan jasa.
Dalam gelar Rapat Koordinasi di jajaran Pemerintah Kota Tomohon pertengahan Maret lalu, Jefferson SM Rumajar mewanti-wanti semua pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk lebih mengoptimalkan performance instansi yang dipimpin untuk tetap berada pada track yang berhulu pada penguatan industri florikultura tersebut. Tentu saja dengan berpedoman pada masing-masing tugas pokok dan fungsi di setiap SKPD.

Jurus-Jurus Produktif
Memang dalam draft “Grand Design Pengembangan Industri Florikultura Kota Tomohon” disebutkan jurus-jurus produktif yang dapat dilakukan dalam pengembangan usaha florikultura. Di antaranya adalah menetapkan produk unggulan untuk dijadikan komoditas industri, mengembangkan kawasan sentra industri florikultura, memmanfaatkan sumberdaya alam, mengembangkan teknologi industri florikultura dan memperkuat system produksi, meningkatan kualitas SDM petani dan pelaku usaha yang kompeten, membina kelembagaan usaha, memberdayakan dan mengembangkan kelembagaan usaha serta jejaring usaha, meningkatkan promosi dan membuat akses informasi serta menyediakan infrastruktur pendukung.
Tentu saja, jurus-jurus tersebut bukan hanya sebagai jargon untuk kepentingan sesaat. Atau hanya sebagai pisau analisa yang cuma membombardir jurus-jurus dimaksud tanpa ada terminologi dan konsistensi pijakan. Tapi itu semua harus ada gerakan, atau upaya bahkan terobosan yang sistematis, terencana dan terukur dari mana harus dimulai, serta prediksi apa yang dapat muncul sebagai konsekuensi logis dari sebuah kebijakan.
Dan memang, berbagasi upaya ataupun gebrakan yang dilakukan Pemerintah Kota Tomohon untuk meretas jalan menuju ke gerbang industri florikultura terus mengalir tak pernah henti. Mulai dari sosialisasi program dan blue print ke berbagai komponen masyarakat dan para pemangkukepentingan lainnya, mengirimkan kelompok petani bunga menimba pengetahuan tentang bercocok tanam bunga atau tanaman hias di berbagai sentra florikultura seperti Cipanas, membentuk koperasi petani bunga, membangun laboratorium kultur jaringan, penyiapan flower development zone (FDZ) sebagai cikal bakal Kawasan Ekonomi Khusus, belajar pengembangan bunga di negara Kincir Angin, termasuk mengundang para petinggi negara ini yang mempunyai otoritas dan legitimasi yang kuat dalam upaya menumbuhkembangkan suatu gerakan florikultura sebagai bentuk industri. Bahkan sampai kepada penyelenggaraan pagelaran prestisius yang bertajuk Tomohon Flower Festival.
“Yang jelas ini semua adalah untuk kepentingan masyarakat Kota Tomohon. Sebab dari sanalah terjadi multiplier effect ekonomi yang kuat,” ujar Jefferson SM Rumajar.

Kuncinya pada SDM
Namun tentu saja torehan-torehan tersebut perlu penterjemahan dan aplikasi lebih lanjut. Dan kembali pada pelaku-pelaku yang memang harus punya kesiapan matang untuk merealisasikan, mewujudnyatakan obsesi yang sudah terpatri.
Beberapa waktu lalu, ketika berkunjung ke Kota Tomohon, Dr Ir Ahmad Dimyati MS – Direktur Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian – menggarisbawahi keberadaan sumberdaya manusia (SDM) untuk menggerakkan pemberdayaan florikultura sebagai industri merupakan hal mendasar yang harus dipersiapkan. SDM tersebut dikatakan Ahmad Dimyati harus mempunyai wawasan dan pengetahuan dalam mengelola tanaman hias.
Di sisi lain, tentu saja karakteristik SDM tersebut harus spesifik. Yaitu harus berbeda dengan petani tanaman pangan kebanyakan. Karakteristik SDM yang dimaksud harus bermuatan sebagai pelaku usaha florikultura.
Draft Grand Strategi Pengembangan Industri Florikultura Kota Tomohon membagi pelaku usaha florikultura ini ke dalam dua kelompok. Yaitu pelaku berskala usaha kecil dan pelaku berskala usaha besar. Pelaku berskala usaha kecil ini umumnya lebih banyak jumlahnya dibandingkan pelaku usaha berskala besar, dan mereka memasarkan produk untuk kebutuhan dalam negeri serta memasok produk untuk pelaku usaha besar. Sedangkan pelaku berskala usaha besar adalah mereka yang memiliki usaha lahan lebih dari 2 Ha dan memasarkan produk florikultura untuk memenuhi pasar domestic maupun pasar internasional. Namun masing-masing pelaku usaha florikultura ini harus punya karakter seperti inovatif terhadap teknologi modern, memiliki jiwa kewirausahaan, responsive terhadap perubahan preferensi pasar, berorientasi pada profit, melakukan pengelolaan usaha dengan padat modal, memiliki akses pasar dan informasi, dan memiliki jaringan kerja yang luas.
Kini, semuanya telah bergerak. Bergerak dari hulu, bunga dan tanaman hias, sebagai sebuah prime mover - penggerak ekonomi utama - hingga menuju pada tatanan hilir industri florikultura. (wenny m. umboh, flower city news ed. 9/2008)

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://wmu.blogsome.com/2008/03/19/bergerak-dari-hulu-ke-hilir/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.


Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Riosoft