Bunga Rampai WMU

March 1, 2008

Menengok Geliat Kawanua di Palembang

Catatan: Wenny M. Umboh*)

Saya berkesempatan mengambil cuti tahun 2006 lalu, bertandang ke Kota Palembang – yang kental dengan sebutan kota empek-empek serta jembatan Ampera sebagai ikon kota – sekaligus mengunjungi komunitas Kawanua yang bermukim di kota ini. Saya harus akui, ternyata masyarakat Kawanua di Palembang merupakan entitas yang turut mewarnai gerak kehidupan uong kito (sebutan khas orang Palembang), bahkan Pemerintah Kota Palembang merespons positif keberadaan Kawanua di Palembang yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Kawanua Palembang (K3P) sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakat Palembang itu sendiri
*
Ketika pesawat yang saya tumpangi mendarat mulus di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, kesan pertama yang muncul adalah saya tiba di sebuah kota yang sedang melakukan pembenahan akses publik secara luar biasa.
Dahulu tahun 2004 saat bersama dengan tim PON XVI Sulut tiba di bandara ini sebagai gerbang memasuki kota empek-empek saya merasa gerah dengan keberadaan bandara ini. Sudah kecil ditambah lagi dengan fasilitas serba terbatas membuat suasana hati saya menjadi sumpeg. Tidak habis pikir, masak sih kota multi niaga sekelas Palembang mempunyai bandara yang menurut saya tidak representatif. Artinya sebuah bandara yang mampu mendukung gerak dinamis kehidupan roda niaga tersebut. Hanya untuk menjemput bagasi harus bakusesak disebuah ruangan yang bagi saya sempit tidak memadai. Memang sudah kesekian kali saya berada di bandara ini dan saat itu saya berpikir sepertinya tidak ada prioritas pemerintah daerah untuk mengurusi pintu masuk kota ini.
Awal Maret 2006 ini saya kembali berkesempatan datang ke Palembang. Saya harus katakan luar biasa, perubahan hebat. Saya tiba di sebuah bandara yang benar-benar representatif. Ada kelegaan, ada kepuasan dan dalam hati saya menggumam, so ini tu bandara berkelas. Semua fasilitas memang mendukung bagi keberadaan sebuah bandara internasional, yang mempunyai airlines ke beberapa kota penting di kawasan ASEAN. Memang harus begitu, apalagi Pemprovsus (akronim yang lazim digunakan pers di daerah ini untuk menyebutkan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan) memiliki Sriwijaya Airlines - perusahaan penerbangan yang saat ini sedang berupaya menambah beberapa armada, bahkan dalam waktu dekat ini siap meramaikan penerbangan ke Manado, mengingat peluang pasar yang signifikan dengan potensi wisata yang ada di bumi Nyiur Melambai. Sedang di sisi lain guna mendukung misi Pemprovsus menjadikan Sumsel sebagai daerah Lumbung Pangan dan Energi Nasional memang perlu membuka network area dengan provinsi lain yang berpotensi sebagai market area. Atau dengan kata lain, keberadaan Sumsel sebagai lumbung energi dan lumbung pangan tersebut seyogianya harus dapat dirasakan kemanfaatannya oleh daerah lain.

Manado di mata orang Palembang
Di sejumlah pekerja pers Palembang, seperti Sumatera Express, Sriwijaya Post, Berita Pagi, ketika saya temui mereka bahkan sudah mengetahui Manado yang indah dan aman, dan sering mereka berkelakar menyebut Manado kota 4 B (Bunaken, Boulevard, Bubur Manado, dan sambil tersenyum mereka bilang Bibir Manado). Dalam hati saya menggumam, tahu juga kalian dengan Manado!
Saat HUT PWI dan Hari Pers Nasional XXII tingkat Provinsi Sumsel yang dipusatkan di Kabupaten Banyuasin tepatnya di kota Pangkalanbalai 10 Maret lalu, kepada rekan-rekan pers di daerah ini saya katakan bahwa Pemkot dan masyarakat Manado mempunyai misi menjadikan Manado kota wisata dunia tahun 2010. Ternyata mereka mengakui Manado sangat berpotensi untuk itu, apalagi didukung dengan wisata alam, wisata budaya dan wisata kuliner yang sangat menunjang, dengan style Kawanua yang ceplas-ceplos.
Harus pula saya akui, ketertarikan orang Palembang dengan Manado akhir-akhir ini tidak lepas pula dari kehadiran seorang Ferry Rotinsulu, kiper nasional U-23 yang saat ini menjadi penjaga gawang nomor satu Sriwijaya FC (klub sepak bola divisi utama home base di Stadion Bumi Sriwijaya Palembang). Ferry Rotinsulu ini telah menjadi idola bagi orang Palembang khususnya Sriwijayamania. Ketika Sriwijaya FC bermain imbang 0 - 0 dengan Persib saat bermain di Bandung beberapa waktu lalu dengan penampilan gemilang Ferry menepis tendangan pinalti Persib, penggila bola di Palembang berujar, oi lihai nian uong menado siko ini dak sala nian kito ado dio (hebat orang Manado satu ini tidak salah kita ada dia). Kegemilangan Ferry dan penampilan anyar Laskar Sriwijaya akhirnya menjadi newsline di koran-koran Palembang selama beberapa hari.
Secara obyektif memang harus saya akui bagi orang Palembang, Sulut unsich identik dengan Manado. Artinya begini, orang Minahasa itu di mata orang Palembang adalah orang Manado, orang Sangir Talaud ya orang Manado, orang Bolmong juga ya orang Manado. Memang labeling atau stereotype ini harus diluruskan. Namun kenyataan demikian, sekalipun saya jelaskan soal keberadaan etnis (suku) maupun subetnis di Sulut terlebih setelah adanya pemekaran wilayah, mereka memang memahami namun kenyataan demikian. Sulut diidentikan dengan Manado. Sama dengan orang-orang Barat yang mengidentikan Indonesia dengan Bali misalnya. Jadi saya pikir sementara ini biarlah fenomena ini terjadi.
Di Palembang, masyarakat Kawanua di kota ini membentuk organisasi Kerukunan Keluarga Kawanua Palembang (K3P), yang menghimpun semua Kawanua yang ada di Palembang dan sekitarnya (seperti di Plaju, Sungai Gerong, Prabumulih, Kayu Agung, Sekayu dan berbagai wilayah hinterland lainnya seperti Pendopo, Indralaya, Betung, dan sebagainya). Seperti dikatakan Capt. Boy Makadada - Ketua K3P - bahwa organisasi ini menyatukan siapa saja yang merasa ada keturunan dari leluhur Minahasa dan tidak terbatas dari agama manapun atau keluarga yang suami atau istri dari lain etnis. Di K3P dikatakan Boy Makadada warga Kawanua saling berbagi rasa, saling bantu sehingga sekalipun jauh dari tanah Minahasa namun tetap merasakan suasana keminaesaan dan tidak merasa terasing satu dengan lainnya. Lebih daripada itu ungkap Boy, karena sudah lahir, besar, kerja dan hidup di Palembang, tetap merasa seperti di kampung sendiri sehingga ada rasa sayang dan muncul dalam hatisanubari untuk memelihara tempat tinggal sekarang yaitu Kota Palembang. Artinya bagaimana warga kawanua ikut merespons positip berbagai kebijakan dan pembangunan di kota empek-empek ini. Dan untuk memelihara nuansa tersebut, K3P melakukan berbagai aktivitas seperti pertemuan-pertemuan rutin di rumah anggota yang diisi dengan peribadatan, makan minum bersama dengan menu khas Minahasa, melakukan kegiatan kesenian dan olahraga, menerbitkan buletin K3P sebagai media komunikasi dan informasi. Beberapa kali kesenian Minahasa seperti tari maengket, tari pisok, katrili, dan sebagainya tampil di TV lokal seperti TV Sumsel, TV Pal. Olahraga Contract Bridge yang menjadi tradisi warga Kawanua tetap menjadi bagian tak terpisahkan dalam lingkungan K3P. “Kita so siap mo supply pe-bridge handal bagi tim Sumsel di berbagai even seperti PON karena adanya warga Kawanua yang berada di squad Sumsel seharusnya menjadi kebanggaan dan mengangkat pamor Sulut di bumi Sriwijaya. Contoh Ferry Rotinsulu di sepakbola ataupun mantan atlet lainnya seperti almarhum Jo Supit (bridge), Henry Rumesser (tenis meja), Eva Poluan (menembak), Johny Kokong (judo), Kalalo bersaudara (renang) dan sebagainya yang sekarang menetap di Palembang dan pernah memperkuat Sumsel dalam berbagai iven olahraga baik nasional maupun internasional,” ujar Ferry Umboh - pengurus seksi Pemuda dan Olahraga K3P.
Saya benar-benar kagum dengan Kawanua-Kawanua di Palembang. Apalagi bertepatan dengan cuti saya di kota ini, Pemkot Palembang bersama dengan Badan Kerjasama Sosial Budaya Paguyuban Indonesia (BKSBPI) di Palembang - yang menghimpun seluruh suku dan etnis di Palembang yang sementara tercatat 32 paguyuban sebagai anggota - menyelenggarakan festival kesenian lagu berbahasa daerah antarpaguyuban tersebut.
Memang BKSPI ini masih baru. Pengurusnya baru dilantik Gubernur Syahrial Oesman 4 Maret 2006 lalu. Sebagai Ketua Umum Djohan Hanafiah - seorang budayawan Palembang. Ada 5 orang dari K3P yang menjadi pengurus BKSPI termasuk Ketua K3P Capt. Boy Makadada terpilih sebagai Bendahara. Ketika pelantikan yang diselenggarakan di kawasan wisata Benteng Kuto Besak tepat di pinggir Sungai Musi dengan latar belakang Jembatan Ampera, Tari Maengket mendapat kehormatan dari 3 daerah untuk tampil pertama mengisi acara (wow…). Dilanjutkan dengan tari dari Sumatera Barat dan Lampung. Saat itu Gubernur Syahrial Oesman dalam pengantar sewaktu pelantikan sempat memuji Sulut sebagai daerah yang damai penuh dengan aneka budaya dan kesenian bahkan mengemukakan Gubernur S.H. Sarundajang sebagai tokoh teladan dan sahabat baiknya!
Festival kesenian lagu berbahasa daerah antarpaguyuban tersebut dilaksanakan tanggal 11 dan 12 Maret 2006 tetap di kawasan Benteng Kuto Besak. K3P yang memang sudah mempersiapkan tim keseniannya mengutus Paula Mambu sebagai penyanyi dengan penari latar 5 orang masing-masing Eva Poluan, Mariska Mangindaan, Fane Undang, Diana Santi, Keke Poluan. Sebagai lagu wajib adalah Bang Toyib (yang diaransemen dalam bahasa daerah untuk versi Kawanua adalah Peitua Toyib), dan lagu pilihan Sapa Suruh Datang Palembang. Dari 32 tumpukan paguyuban yang tampil, dipilih 15 terbaik. Salah satunya Paula Mambu dkk. Bahkan para penonton yang sempat berdecak kagum dengan penampilan para wewene ini berani memastikan 3 besar sudah di tangan. Apalagi saat pengumuman 15 terbaik selesai, Walikota Manado Ir Eddy Santana mau manggung menyumbangkan sebuah lagu berirama melayu, dengan diiringi tim kesenian K3P sebagai penari latar.
Final festival kesenian tsb akan dilaksanakan 24 Maret mendatang. Akan tampil 15 tim. Saat ini tim kesenian K3P sedang latihan intensif. Mereka berusaha akan tampil prima nantinya. Kita doakan saja saudara-saudara kita di perantuan ini - warga Kawanua di Palembang sukses dan mendapat juara dalam perhelatan tersebut. So, tidak ada salahnya warga Kawanua di Sulut yang berkesempatan, menghadiri acara ini mendukung tim kesenian K3P. Karena melalui mereka pula gaung Sulut dikumandangkan.
Sayang, saya sendiri tidak mungkin menyaksikan penampilan mereka, karena cuti saya sudah habis. Sekarang ini saja sudah siap-siap kembali ke Manado. Oke, selamat berfestival, selamat bertanding. Ngoni bisa! Kalau juara saya janji kirim brenebon tompaso dan kacangtore kawangkoan for ngoni mo pesta akang.

*)Begawe di Bagian Humas Sekdakot Tomohon. Dulu aku lamo di Palembang. Sekolanyo SD di Xaverius Limo, SMP di Xaveriuis Kamboja, SMA di Bangau. Sudatu kuliah di UI. Eh ma’ini la di Manado. Ai nasib, nasib. Ca’itula….

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://wmu.blogsome.com/2008/03/01/menengok-geliat-kawanua-di-palembang/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.


Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Riosoft