Bunga Rampai WMU

March 19, 2008

Jelang TFF 2008: Hitung Mundur D-day

Filed under: Tomohon City

Gebyar event Tomohon Flower Festival 2008 sudah di depan mata. Ajang prestisius bahkan terbilang spektakuler ini mau tidak mau menuntut kematangan kesiapan. Berbagai garda penting seperti penyiapan suprastruktur seperti bunga dan seperangkat komitmen berbagai pihak, juga infrastruktur pendukung yang siap berperan seperti fasilitas-fasilitas spesifik lainnya termasuk kesiapan mental publik Kota Bunga Tomohon memang perlu diperkuat di sana-sini.
Maklum, ini event pertama bagi Kota Bunga – yang baru berusia 5 tahun - diselenggarakan secara nasional. Jadi jelas saja ada semacam situasi kehati-hatian dalam penyiapan ajang ini. Apalagi bisa dipastikan pimpinan nasional – Presiden RI – juga unsur Kabinet Indonesia Bersatu akan hadir dalam acara pembukaan Tomohon Flower Festival tersebut. Memang, sebelumnya Pemerintah dan Masyarakat Kota Tomohon sudah berpengalaman dalam menyelenggarakan karnaval bunga, paling tidak beberapa tahun terakhir ini. Hanya saya tahun ini karnaval tersebut hanya sebagai satu bagian dari sekian kegiatan yang dihentak nantinya. Bahkan karnaval bunga tersebut memperoleh nama yang istimewa, Tournament of Flower. Memang, tidak salah kalau ada yang berpandangan bahwa Tournament of Flower ini mirip-mirip dengan Tournament of Roses di Passadena. Betul, Festival Bunga (Mawar) Passadena – yang memang telah mendunia itu – menjadi inspirasi penyelenggaraan Tournament of Flower tersebut.
Sejauh ini, kesiapan-kesiapan menuju event Tomohon Flower Festival berjalan sesuai dengan track yang telah disusun. Bahkan Ketua Umum Panitia Tomohon Flower Festival 2008 Drs JP Mambu SH Msi, mengatakan bahwa dari sisi waktu, kesiapan penyelenggaraan Tomohon Flower Festival 2008 berlaku day by day. Artinya, secara umum bahkan teknis, setiap hari merupakan agenda aksi yang mutlak harus ada kesiapan, ada penanganan dan ujung-ujungnya ada finishing. Dan ini harus.
Paling tidak itulah gambaran realitas dari apa yang dikemukakan Drs. JP Mambu SH, Msi. Dari berbagai persiapan menyongsong pelaksanaan Tomohon Flower Festival sudah berlaku hitung mundur. Hitung mundur D-day.
Hanya saja dalam pengamatan Flower City News, penyiapan infrastruktur yang memang masih perlu penguatan di sana-sini. Bahkan kitapun maklum, ketika ditargetkan sedikitnya 5000 wisatawan dalam dan luar negeri akan menyaksikan perhelatan Tomohon Flower Festival, dipastikan sebagian dari mereka akan nimbrung di berbagai kawasan wisata yang ada di Kota Tomohon khususnya. Dan tentu saja, tak pelak berbagai obyek wisata yang ada di lingkup Kota Tomohon perlu ada polesan-polesan untuk mempercantik pesona yang ada.
Belum lagi penyiapan fasilitas akomodasi baik untuk para undangan, juga kesiapan yang sama untuk para pengunjung dari luar Kota Tomohon.
Kalau dari sisi produksi, ini tinggal proses. Artinya, kesiapan berbagai elemen masyarakat, kalangan pemangkukepentingan, koperasi bunga, kelompok tani, kesiapan pengadaan bibit produksi, pemeliharaan, berbagai kegiatan pelatihan, dan sebagainya, sudah berjalan. Sehingga penyiapan 10 juta tangkai bunga potong diharapkan dapat terpenuhi.
Bahkan, keikutsertaan daerah lain jauh-jauh hari sudah disiapkan. Undangan ke berbagai daerah tersebut diantar secara personal. Sehingga ada presentasi khusus dari Panitia ke setiap pimpinan daerah yang diundang.
Dan tentu saja, the last but not the least, menyangkut kesiapan masyarakat Kota Tomohon untuk menjadi tuan rumah – sebagai makawale – adalah hal yang sangat penting. Di sisi lain, tidak hanya faktor mental yang memang menjadi bagian utama, namun juga untuk hal-hal yang cukup prinsip seperti selalu menjaga lingkungan yang harmonis, sehat dan berkarakter.
Dan memang, masyarakat Kota Tomohon siap merespons perhelatan Tomohon Flower Festival 2008 dengan tetap memelihara kultur the smilling peoples yang memang menjadi bagian dari style orang Minahasa itu sendiri (wenny m. umboh, flower city news ed. 9/2008)

Bergerak, dari Hulu ke Hilir

Filed under: Tomohon City

Kembali Walikota Tomohon Jefferson SM Rumajar SE mempertegas pentingnya memperkuat budidaya florikultura. Sebab inilah yang menjadi pilihan terbaik setelah melalui berbagai kajian yang eksak. Bahkan pada gilirannya merupakan referensi dasar pembangunan ekonomi daerah. Artinya, dibalik penguatan budidaya florikultura terjadi daya ungkit pertumbuhan ekonomi daerah, termasuk di dalamnya penyediaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat serta pertumbuhan sektor barang dan jasa.
Dalam gelar Rapat Koordinasi di jajaran Pemerintah Kota Tomohon pertengahan Maret lalu, Jefferson SM Rumajar mewanti-wanti semua pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk lebih mengoptimalkan performance instansi yang dipimpin untuk tetap berada pada track yang berhulu pada penguatan industri florikultura tersebut. Tentu saja dengan berpedoman pada masing-masing tugas pokok dan fungsi di setiap SKPD.

Jurus-Jurus Produktif
Memang dalam draft “Grand Design Pengembangan Industri Florikultura Kota Tomohon” disebutkan jurus-jurus produktif yang dapat dilakukan dalam pengembangan usaha florikultura. Di antaranya adalah menetapkan produk unggulan untuk dijadikan komoditas industri, mengembangkan kawasan sentra industri florikultura, memmanfaatkan sumberdaya alam, mengembangkan teknologi industri florikultura dan memperkuat system produksi, meningkatan kualitas SDM petani dan pelaku usaha yang kompeten, membina kelembagaan usaha, memberdayakan dan mengembangkan kelembagaan usaha serta jejaring usaha, meningkatkan promosi dan membuat akses informasi serta menyediakan infrastruktur pendukung.
Tentu saja, jurus-jurus tersebut bukan hanya sebagai jargon untuk kepentingan sesaat. Atau hanya sebagai pisau analisa yang cuma membombardir jurus-jurus dimaksud tanpa ada terminologi dan konsistensi pijakan. Tapi itu semua harus ada gerakan, atau upaya bahkan terobosan yang sistematis, terencana dan terukur dari mana harus dimulai, serta prediksi apa yang dapat muncul sebagai konsekuensi logis dari sebuah kebijakan.
Dan memang, berbagasi upaya ataupun gebrakan yang dilakukan Pemerintah Kota Tomohon untuk meretas jalan menuju ke gerbang industri florikultura terus mengalir tak pernah henti. Mulai dari sosialisasi program dan blue print ke berbagai komponen masyarakat dan para pemangkukepentingan lainnya, mengirimkan kelompok petani bunga menimba pengetahuan tentang bercocok tanam bunga atau tanaman hias di berbagai sentra florikultura seperti Cipanas, membentuk koperasi petani bunga, membangun laboratorium kultur jaringan, penyiapan flower development zone (FDZ) sebagai cikal bakal Kawasan Ekonomi Khusus, belajar pengembangan bunga di negara Kincir Angin, termasuk mengundang para petinggi negara ini yang mempunyai otoritas dan legitimasi yang kuat dalam upaya menumbuhkembangkan suatu gerakan florikultura sebagai bentuk industri. Bahkan sampai kepada penyelenggaraan pagelaran prestisius yang bertajuk Tomohon Flower Festival.
“Yang jelas ini semua adalah untuk kepentingan masyarakat Kota Tomohon. Sebab dari sanalah terjadi multiplier effect ekonomi yang kuat,” ujar Jefferson SM Rumajar.

Kuncinya pada SDM
Namun tentu saja torehan-torehan tersebut perlu penterjemahan dan aplikasi lebih lanjut. Dan kembali pada pelaku-pelaku yang memang harus punya kesiapan matang untuk merealisasikan, mewujudnyatakan obsesi yang sudah terpatri.
Beberapa waktu lalu, ketika berkunjung ke Kota Tomohon, Dr Ir Ahmad Dimyati MS – Direktur Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian – menggarisbawahi keberadaan sumberdaya manusia (SDM) untuk menggerakkan pemberdayaan florikultura sebagai industri merupakan hal mendasar yang harus dipersiapkan. SDM tersebut dikatakan Ahmad Dimyati harus mempunyai wawasan dan pengetahuan dalam mengelola tanaman hias.
Di sisi lain, tentu saja karakteristik SDM tersebut harus spesifik. Yaitu harus berbeda dengan petani tanaman pangan kebanyakan. Karakteristik SDM yang dimaksud harus bermuatan sebagai pelaku usaha florikultura.
Draft Grand Strategi Pengembangan Industri Florikultura Kota Tomohon membagi pelaku usaha florikultura ini ke dalam dua kelompok. Yaitu pelaku berskala usaha kecil dan pelaku berskala usaha besar. Pelaku berskala usaha kecil ini umumnya lebih banyak jumlahnya dibandingkan pelaku usaha berskala besar, dan mereka memasarkan produk untuk kebutuhan dalam negeri serta memasok produk untuk pelaku usaha besar. Sedangkan pelaku berskala usaha besar adalah mereka yang memiliki usaha lahan lebih dari 2 Ha dan memasarkan produk florikultura untuk memenuhi pasar domestic maupun pasar internasional. Namun masing-masing pelaku usaha florikultura ini harus punya karakter seperti inovatif terhadap teknologi modern, memiliki jiwa kewirausahaan, responsive terhadap perubahan preferensi pasar, berorientasi pada profit, melakukan pengelolaan usaha dengan padat modal, memiliki akses pasar dan informasi, dan memiliki jaringan kerja yang luas.
Kini, semuanya telah bergerak. Bergerak dari hulu, bunga dan tanaman hias, sebagai sebuah prime mover - penggerak ekonomi utama - hingga menuju pada tatanan hilir industri florikultura. (wenny m. umboh, flower city news ed. 9/2008)

TFF dan VIY 2008: Sebuah Sinergitas

Filed under: Tomohon City

Saat meresmikan program Visit Indonesia Year (VIY) 2008 akhir Desember lalu di Jakarta, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengatakan bahwa VIY 2008 bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan sektor pariwisata dengan melibatkan komponen masyarakat secara luas, berpartisipasi mensukseskan tahun kunjungan wisata Indonesia 2008.
Dikatakan Jero Wacik, VIY 2008 merupakan upaya untuk meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia di tingkat nasional dan internasional. “Digelarnya YIY 2008 tersebut didasari oleh beberapa pemikiran antara lain Indonesia sudah sangat lama tidak mengadakan tahun kunjungan setelah yang terakhir pada tahun 1991 dan persepsi Indonesia di mata dunia yang semakin membaik. Selain itu tahun 2008 ini merupakan momentum yang tepat, berkaitan dengan 100 tahun kebangkitan nasional,’ ungkap Jero Wacik.
Bahkan untuk VIY, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata sangat optimis target kunjungan 7 juta wisatawan mancanegara pada tahun 2008 dapat diraih, sekaligus meningkatkan target kunjungan wisatawan mancanegara dari tahun sebelumnya sebanyak 5,5 juta wisman. Optimisme itu terlihat dari adanya peningkatan angka kunjungan wisatawan mancanegara pada Januari 2008 yang meningkat sekitar 13 persen dari periode yang sama tahun 2007.

TFF: Super Wisata
Tentu saja penyelenggaraan Tomohon Flower Festival merupakan benang merah dari VIY2008. Bahkan lebih dari itu. Tomohon Flower Festival merupakan terobosan baru untuk memperkuat warna kepariwisataan di Indonesia bahkan di Sulawesi Utara khususnya di Kota Tomohon. Perhelatan Tomohon Flower Festival 2008 merupakan ajang super wisata yang siap mengangkat pamor Kota Tomohon. Dalam hal ini Departemen Kebudayaan dan Pariwisata telah menetapkan Tomohon Flower Festival sebagai agenda tahunan. Khusus untuk tahun ini Tomohon Flower Festival merupakan event nasional yang sudah masuk dalam agenda VIY 2008.
Harus diakui pula, secara makro pencanangan Visit Indonesia Year 2008 tersebut sekaligus sebagai tolok ukur keberhasilan pembangunan industri pariwisata di tanah air. Secara nasional memang berbagai perhelatan kepariwisataan Indonesia telah dan siap digeber. Mulai dari program Kenali Negerimu Cintai Negerimu, Sapta Pesona, juga peluncuran film-film pariwisata dan berbagai materi kepariwisataan lainnya.
Bagi Kota Tomohon jelas ini semua merupakan babakan baru bagi pencerahan dunia pariwisata di kota ini. Hal ini akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karena perputaran roda ekonomi di bidang wisata akan semakin signifikan melalui berbagai fasilitas pendukung seperti penginapan (home stay), resort, cottage, restoran dan kuliner, transportasi, travel, termasuk pentas seni, cenderamata, penjualan bunga dan tanaman hias. Ini semua merupakan item yang sangat berperan dalam mendukung geliat dunia wisata sekaligus roda perekonomian masyarakat.
Bahkan akhirnya Tomohon Flower Festival 2008 menjadi sangat strategis jika dikaitkan dengan beberapa kegiatan promosi berskala nasional maupun internasional seperti Pekan Florikultura Nasional 2008, World Ocean Conference 2009 dan Visit North Sulawesi 2010.
Karena itu penyelenggaraan Tomohon Flower Festival 2008 merupakan bagian yang tak terpisahkan dari program Tahun Kunjungan Indonesia 2008. Yang jelas, Pemerintah dan masyarakat Kota Tomohon telah bertekad untuk mensukseskan perhelatan ini. Artinya, melalui penyelenggaraan Tomohon Flower Festival tersebut, tidak hanya dunia pariwisata nasional yang terangkat, tapi secara internal terjadi perputaran roda ekonomi masyarakat. Bahkan ke depan, efek ganda yang terjadi merupakan sebuah pencerahan bagi terwujudnya sebuah disain industri florikultura. Dan memang, inilah yang diharapkan. Namun yang jelas ini semua bukan merupakan tujuan akhir. Karena yang terpenting adalah bagaimana masyarakat Kota Tomohon ini pada gilirannya berada pada tingkat kualifikasi kualitas hidup yang tidak hanya sekedar memadai, namun ada warna kesejahteraan di dalamnya. (wenny m. umboh, flower city news ed.9/2008)

Rumajarnomics

Filed under: Tomohon City

Rumajarnomics

Catatan: Wenny M Umboh
(Sorot, Flower City News, ed. 9/2008)

Genderang itu telah ditabuh. Berarti arak-arakan telah bergerak. Sebuah perjalanan yang istimewa, bahkan sangat spesial. Arak-arakan masyarakat Kota Tomohon membangun dirinya dengan melekatkan pada fenomena kultural yang telah menjadi bagian dari darah daging sendiri. Sebuah pemberdayaan tradisi yang ditandai betapa dekatnya masyarakat di kota ini dengan bunga. Sekali lagi, bunga.
Memang demikian. Dan inilah yang dibidik oleh seorang Jefferson SM Rumajar SE – Walikota pertama pilihan rakyat Kota Tomohon – untuk membangun tatanan ekonomi, membangun kualitas hidup atau kesejahteraan masyarakat. Bunga merupakan wahana yang menjadi pilihan. Pilihan utama!
Dan memang sepertinya hampir tidak ada daerah lain di Indonesia yang beralternatif membangun ekonomi dengan bunga. Kalaupun ada, itupun cuma dipandang sebelah mata.
Bagi Jefferson SM Rumajar, fenomena bunga yang telah menjadi bagian hidup masyarakat Kota Tomohon dan akhirnya melahirkan decission bahwa bunga sebagai sektor unggulan dalam menggerakkan kehidupan ekonomi sudah dikaji secara dalam bahkan melibatkan para pakar di bidang florikultura. Baik pakar bisnisnya maupun pakar teknologi florikultura itu sendiri. Apalagi sang Walikota ini punya background ilmu ekonomi. Jadi lengkaplah, perpaduan antara kultur, naluri, realitas, dan keilmuan itu sendiri. Inilah yang menjadi lazuardi pada asa Jefferson SM Rumajar.
Saya meminjam data Nancy Laws – seorang spesialis marketing ekspor florikultura yang menetap di Paris – yang dipublikasikannya tahun 2008. Nilai ekspor florikultura di berbagai negara yang menurut saya sangat fantastis. Uni Eropa 3 miliar Euros, Colombia 800 juta Euros, Ecuador 500 juta Euros, Kenya 300 juta Euros, Israel 150 juta euros, dan Indonesia cuma 15 juta euros. Dikatakan Nancy Laws, in 2005 Indonesia exported $4,523,602 worth of live plants – only 0,01% of the $4,585,411,719 world trade in live plants. Indonesia plant exports increased only 2% in a year where Taiwan increased exports by 11%, China increased exports by 24%, South Korea by 61%, Thailand by 35%, Malaysia 22%.
Sebuah angka yang memiriskan. Secara nasional memang Indonesia kalah jauh dalam permainan ini dibandingkan negara lain
Demikian pula dengan data dari Asosiasi Bunga Indonesia (ASBINDO). Perkembangan ekspor industri florikultura dunia pada tahun 2007 mencapai US$80 miliar. Khusus untuk Eropa dan Amerika Serikat kontribusinya US$9 miliar. Sedangkan Indonesia hanya US$15 juta
Bagi Jefferson SM Rumajar tentu saja angka ini boleh jadi telah menggelitik instingnya untuk mengambil langkah menabuh genderang. Berarti potensi berbisnis bunga peluangnya sangat besar, terbuka lebar.
Dalam wawancara beliau di Tempo edisi 16 Maret 2008, hitung-hitungannya begini. “Satu hektar bunga krisan bisa menghasilkan Rp300 juta dalam 100 hari. Tidak ada jenis pertanian lain yang bisa menghasilkan nilai setinggi ini. Jagung dalam satu hektar paling tinggi menghasilkan Rp7 juta. Padi menghasilkan sekitar Rp6 juta. Di Belanda lebih spektakuler lagi, satu hektar tanaman bunga rose bisa menghasilkan 1 juta euro (Rp13 miliar). Ini sebuah potensi untuk mengembangkan ekonomi. Inilah pula yang ingin dijalankan di Tomohon. Pasar bunga potong nasional 250 juta tangkai pertahun dan baru bisa dipasok sebesar 158 juta. Sementara pasar bunga dunia pertahun mencapai US$80 miliar dan sumbangan Indonesia berdasarkan data 2006 baru mencapai US$12 juta.”
Untuk tingkat lokal, tahun 2005 Tomohon memproduksi 2 juta tangkai bunga. Tahun 2006 mencapai 5 juta tangkai. Pada 2007 mencapai 10 juta tangkai. Sekalipun 50% masih dipasok dari Bandung. Dan tentu tendensi ini memperlihatkan demand sangat kuat.
Bahkan pada tahun 2005 ketika Jefferson SM Rumajar diangkat sebagai Walikota pertumbuhan ekonomi 4,1 persen (nasional 5,8%), Tahun 2006 naik menjadi 6,1 persen (nasional 5,7 persen), dan tahun 2007 naik hingga 6,8 persen (nasional 6,1 persen dan Sulut 6,3 persen). Paling tidak indikator angka ini memperlihatkan adanya gairah ekonomi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Berarti pula ada peningkatan pendapatan masyarakat, yang ditandai dengan bergairahnya sektor riil, sehingga ada trend peningkatan daya beli masyarakat.
Data mereka yang belum bekerja terjadi penurunan. Jika tahun 2005 data angkatan kerja tercatat kurang lebih 18.000 orang menganggur, tahun 2007 berkurang hingga 3000 orang. Dan ternyata sebagian besar dari mereka itu telah berprofesi di sektor florikultura
Jadi ketika data ini berbicara mengungkap apa yang ada di lapangan tentu kita perlu mempertajam sudut pandang filosofi ekonomi yang dikembangkan Jefferson SM Rumajar.
Sebuah filosofi ekonomi yang saya sebut sebagai Rumajarnomics.
Atau ada yang berminat mengkajinya lebih lanjut?

March 1, 2008

Menengok Geliat Kawanua di Palembang

Catatan: Wenny M. Umboh*)

Saya berkesempatan mengambil cuti tahun 2006 lalu, bertandang ke Kota Palembang – yang kental dengan sebutan kota empek-empek serta jembatan Ampera sebagai ikon kota – sekaligus mengunjungi komunitas Kawanua yang bermukim di kota ini. Saya harus akui, ternyata masyarakat Kawanua di Palembang merupakan entitas yang turut mewarnai gerak kehidupan uong kito (sebutan khas orang Palembang), bahkan Pemerintah Kota Palembang merespons positif keberadaan Kawanua di Palembang yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Kawanua Palembang (K3P) sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakat Palembang itu sendiri
*
Ketika pesawat yang saya tumpangi mendarat mulus di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, kesan pertama yang muncul adalah saya tiba di sebuah kota yang sedang melakukan pembenahan akses publik secara luar biasa.
Dahulu tahun 2004 saat bersama dengan tim PON XVI Sulut tiba di bandara ini sebagai gerbang memasuki kota empek-empek saya merasa gerah dengan keberadaan bandara ini. Sudah kecil ditambah lagi dengan fasilitas serba terbatas membuat suasana hati saya menjadi sumpeg. Tidak habis pikir, masak sih kota multi niaga sekelas Palembang mempunyai bandara yang menurut saya tidak representatif. Artinya sebuah bandara yang mampu mendukung gerak dinamis kehidupan roda niaga tersebut. Hanya untuk menjemput bagasi harus bakusesak disebuah ruangan yang bagi saya sempit tidak memadai. Memang sudah kesekian kali saya berada di bandara ini dan saat itu saya berpikir sepertinya tidak ada prioritas pemerintah daerah untuk mengurusi pintu masuk kota ini.
Awal Maret 2006 ini saya kembali berkesempatan datang ke Palembang. Saya harus katakan luar biasa, perubahan hebat. Saya tiba di sebuah bandara yang benar-benar representatif. Ada kelegaan, ada kepuasan dan dalam hati saya menggumam, so ini tu bandara berkelas. Semua fasilitas memang mendukung bagi keberadaan sebuah bandara internasional, yang mempunyai airlines ke beberapa kota penting di kawasan ASEAN. Memang harus begitu, apalagi Pemprovsus (akronim yang lazim digunakan pers di daerah ini untuk menyebutkan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan) memiliki Sriwijaya Airlines - perusahaan penerbangan yang saat ini sedang berupaya menambah beberapa armada, bahkan dalam waktu dekat ini siap meramaikan penerbangan ke Manado, mengingat peluang pasar yang signifikan dengan potensi wisata yang ada di bumi Nyiur Melambai. Sedang di sisi lain guna mendukung misi Pemprovsus menjadikan Sumsel sebagai daerah Lumbung Pangan dan Energi Nasional memang perlu membuka network area dengan provinsi lain yang berpotensi sebagai market area. Atau dengan kata lain, keberadaan Sumsel sebagai lumbung energi dan lumbung pangan tersebut seyogianya harus dapat dirasakan kemanfaatannya oleh daerah lain.

Manado di mata orang Palembang
Di sejumlah pekerja pers Palembang, seperti Sumatera Express, Sriwijaya Post, Berita Pagi, ketika saya temui mereka bahkan sudah mengetahui Manado yang indah dan aman, dan sering mereka berkelakar menyebut Manado kota 4 B (Bunaken, Boulevard, Bubur Manado, dan sambil tersenyum mereka bilang Bibir Manado). Dalam hati saya menggumam, tahu juga kalian dengan Manado!
Saat HUT PWI dan Hari Pers Nasional XXII tingkat Provinsi Sumsel yang dipusatkan di Kabupaten Banyuasin tepatnya di kota Pangkalanbalai 10 Maret lalu, kepada rekan-rekan pers di daerah ini saya katakan bahwa Pemkot dan masyarakat Manado mempunyai misi menjadikan Manado kota wisata dunia tahun 2010. Ternyata mereka mengakui Manado sangat berpotensi untuk itu, apalagi didukung dengan wisata alam, wisata budaya dan wisata kuliner yang sangat menunjang, dengan style Kawanua yang ceplas-ceplos.
Harus pula saya akui, ketertarikan orang Palembang dengan Manado akhir-akhir ini tidak lepas pula dari kehadiran seorang Ferry Rotinsulu, kiper nasional U-23 yang saat ini menjadi penjaga gawang nomor satu Sriwijaya FC (klub sepak bola divisi utama home base di Stadion Bumi Sriwijaya Palembang). Ferry Rotinsulu ini telah menjadi idola bagi orang Palembang khususnya Sriwijayamania. Ketika Sriwijaya FC bermain imbang 0 - 0 dengan Persib saat bermain di Bandung beberapa waktu lalu dengan penampilan gemilang Ferry menepis tendangan pinalti Persib, penggila bola di Palembang berujar, oi lihai nian uong menado siko ini dak sala nian kito ado dio (hebat orang Manado satu ini tidak salah kita ada dia). Kegemilangan Ferry dan penampilan anyar Laskar Sriwijaya akhirnya menjadi newsline di koran-koran Palembang selama beberapa hari.
Secara obyektif memang harus saya akui bagi orang Palembang, Sulut unsich identik dengan Manado. Artinya begini, orang Minahasa itu di mata orang Palembang adalah orang Manado, orang Sangir Talaud ya orang Manado, orang Bolmong juga ya orang Manado. Memang labeling atau stereotype ini harus diluruskan. Namun kenyataan demikian, sekalipun saya jelaskan soal keberadaan etnis (suku) maupun subetnis di Sulut terlebih setelah adanya pemekaran wilayah, mereka memang memahami namun kenyataan demikian. Sulut diidentikan dengan Manado. Sama dengan orang-orang Barat yang mengidentikan Indonesia dengan Bali misalnya. Jadi saya pikir sementara ini biarlah fenomena ini terjadi.
Di Palembang, masyarakat Kawanua di kota ini membentuk organisasi Kerukunan Keluarga Kawanua Palembang (K3P), yang menghimpun semua Kawanua yang ada di Palembang dan sekitarnya (seperti di Plaju, Sungai Gerong, Prabumulih, Kayu Agung, Sekayu dan berbagai wilayah hinterland lainnya seperti Pendopo, Indralaya, Betung, dan sebagainya). Seperti dikatakan Capt. Boy Makadada - Ketua K3P - bahwa organisasi ini menyatukan siapa saja yang merasa ada keturunan dari leluhur Minahasa dan tidak terbatas dari agama manapun atau keluarga yang suami atau istri dari lain etnis. Di K3P dikatakan Boy Makadada warga Kawanua saling berbagi rasa, saling bantu sehingga sekalipun jauh dari tanah Minahasa namun tetap merasakan suasana keminaesaan dan tidak merasa terasing satu dengan lainnya. Lebih daripada itu ungkap Boy, karena sudah lahir, besar, kerja dan hidup di Palembang, tetap merasa seperti di kampung sendiri sehingga ada rasa sayang dan muncul dalam hatisanubari untuk memelihara tempat tinggal sekarang yaitu Kota Palembang. Artinya bagaimana warga kawanua ikut merespons positip berbagai kebijakan dan pembangunan di kota empek-empek ini. Dan untuk memelihara nuansa tersebut, K3P melakukan berbagai aktivitas seperti pertemuan-pertemuan rutin di rumah anggota yang diisi dengan peribadatan, makan minum bersama dengan menu khas Minahasa, melakukan kegiatan kesenian dan olahraga, menerbitkan buletin K3P sebagai media komunikasi dan informasi. Beberapa kali kesenian Minahasa seperti tari maengket, tari pisok, katrili, dan sebagainya tampil di TV lokal seperti TV Sumsel, TV Pal. Olahraga Contract Bridge yang menjadi tradisi warga Kawanua tetap menjadi bagian tak terpisahkan dalam lingkungan K3P. “Kita so siap mo supply pe-bridge handal bagi tim Sumsel di berbagai even seperti PON karena adanya warga Kawanua yang berada di squad Sumsel seharusnya menjadi kebanggaan dan mengangkat pamor Sulut di bumi Sriwijaya. Contoh Ferry Rotinsulu di sepakbola ataupun mantan atlet lainnya seperti almarhum Jo Supit (bridge), Henry Rumesser (tenis meja), Eva Poluan (menembak), Johny Kokong (judo), Kalalo bersaudara (renang) dan sebagainya yang sekarang menetap di Palembang dan pernah memperkuat Sumsel dalam berbagai iven olahraga baik nasional maupun internasional,” ujar Ferry Umboh - pengurus seksi Pemuda dan Olahraga K3P.
Saya benar-benar kagum dengan Kawanua-Kawanua di Palembang. Apalagi bertepatan dengan cuti saya di kota ini, Pemkot Palembang bersama dengan Badan Kerjasama Sosial Budaya Paguyuban Indonesia (BKSBPI) di Palembang - yang menghimpun seluruh suku dan etnis di Palembang yang sementara tercatat 32 paguyuban sebagai anggota - menyelenggarakan festival kesenian lagu berbahasa daerah antarpaguyuban tersebut.
Memang BKSPI ini masih baru. Pengurusnya baru dilantik Gubernur Syahrial Oesman 4 Maret 2006 lalu. Sebagai Ketua Umum Djohan Hanafiah - seorang budayawan Palembang. Ada 5 orang dari K3P yang menjadi pengurus BKSPI termasuk Ketua K3P Capt. Boy Makadada terpilih sebagai Bendahara. Ketika pelantikan yang diselenggarakan di kawasan wisata Benteng Kuto Besak tepat di pinggir Sungai Musi dengan latar belakang Jembatan Ampera, Tari Maengket mendapat kehormatan dari 3 daerah untuk tampil pertama mengisi acara (wow…). Dilanjutkan dengan tari dari Sumatera Barat dan Lampung. Saat itu Gubernur Syahrial Oesman dalam pengantar sewaktu pelantikan sempat memuji Sulut sebagai daerah yang damai penuh dengan aneka budaya dan kesenian bahkan mengemukakan Gubernur S.H. Sarundajang sebagai tokoh teladan dan sahabat baiknya!
Festival kesenian lagu berbahasa daerah antarpaguyuban tersebut dilaksanakan tanggal 11 dan 12 Maret 2006 tetap di kawasan Benteng Kuto Besak. K3P yang memang sudah mempersiapkan tim keseniannya mengutus Paula Mambu sebagai penyanyi dengan penari latar 5 orang masing-masing Eva Poluan, Mariska Mangindaan, Fane Undang, Diana Santi, Keke Poluan. Sebagai lagu wajib adalah Bang Toyib (yang diaransemen dalam bahasa daerah untuk versi Kawanua adalah Peitua Toyib), dan lagu pilihan Sapa Suruh Datang Palembang. Dari 32 tumpukan paguyuban yang tampil, dipilih 15 terbaik. Salah satunya Paula Mambu dkk. Bahkan para penonton yang sempat berdecak kagum dengan penampilan para wewene ini berani memastikan 3 besar sudah di tangan. Apalagi saat pengumuman 15 terbaik selesai, Walikota Manado Ir Eddy Santana mau manggung menyumbangkan sebuah lagu berirama melayu, dengan diiringi tim kesenian K3P sebagai penari latar.
Final festival kesenian tsb akan dilaksanakan 24 Maret mendatang. Akan tampil 15 tim. Saat ini tim kesenian K3P sedang latihan intensif. Mereka berusaha akan tampil prima nantinya. Kita doakan saja saudara-saudara kita di perantuan ini - warga Kawanua di Palembang sukses dan mendapat juara dalam perhelatan tersebut. So, tidak ada salahnya warga Kawanua di Sulut yang berkesempatan, menghadiri acara ini mendukung tim kesenian K3P. Karena melalui mereka pula gaung Sulut dikumandangkan.
Sayang, saya sendiri tidak mungkin menyaksikan penampilan mereka, karena cuti saya sudah habis. Sekarang ini saja sudah siap-siap kembali ke Manado. Oke, selamat berfestival, selamat bertanding. Ngoni bisa! Kalau juara saya janji kirim brenebon tompaso dan kacangtore kawangkoan for ngoni mo pesta akang.

*)Begawe di Bagian Humas Sekdakot Tomohon. Dulu aku lamo di Palembang. Sekolanyo SD di Xaverius Limo, SMP di Xaveriuis Kamboja, SMA di Bangau. Sudatu kuliah di UI. Eh ma’ini la di Manado. Ai nasib, nasib. Ca’itula….






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Riosoft