Secara Nasional Industri Florikultura: Perlu Konsolidasi
Tanaman hias saat ini menunjukkan trend tersendiri di lingkup masyarakat. Secara kasat mata nampak bahwa masyarakat saat ini semakin meminati mengusahakan tanaman hias sebagai sebuah usaha tersendiri. Bahkan inipun ditandai dengan semakin banyak pula berbagai buku atau literatur sampai kepada majalah atau penerbitan dengan segmentasi publik tanaman hias. Umumnya yang populer di masyarakat berkisar antara tanaman jenis anggrek, aglonema, anthurium, adenium, dan berbagai bunga sesuai karakteristik wilayah masing-masing.
Penelitian plasma nutfah dalam beberapa tahun terakhir telah berhasil mengumpulkan berbagai spesies atau kultivar. Jenis-jenis tersebut antara lain spesies dari famili Orchidaceae, Zingiberaceae, Araceae, Euphorbiaceae, Palmae dan Olaceae. Jenis-jenis tanaman hias asli Indonesia yang berpotensi nilai ekonomi tinggi cukup banyak, antara lain hasil-hasil silangan terseleksi pada anggrek dan aglonema. Banyak spesies atau kultivar dari famili Zingiberaceae, Araceae, Orchidaceae, Palmae, Polypodiaceae dan Pandaneceae mempunyai potensi untuk dikembangkan lebih lanjut.
Namun dibandingkan dengan banyaknya jenis dan jumlah flora yang terdapat di Indonesia, masih diperlukan sentuhan tangan-tangan ahli dan terampil untuk menyulapnya menjadi komoditas andalan bangsa.
“Peluang perdagangan florikultura sangat terbuka lebar. Tahun 2004 hingga 2005 perdagangan internasional sekitar US$62 miliar dan tahun 2007 meningkat menjadi US$80 miliar. Untuk itu kita harus mampu memanfaatkan peluang ini,” kata Direktur Budidaya Tanaman Hias Departemen Pertanian Agus Wediyanto sebagaimana dilansir KapanLagi.com
Dikemukakan Agus Wediyanto bahwa kontribusi Indonesia pada pasar dunia saat ini telah mencapai US$12 juta. “Karena itu Pemerintah menginginkan teman-teman di industri ini melakukan konsolidasi dan berbenah mengintegrasikan system dan sub system hulu perbenihan dan mengintegrasikannya dengan sub system on farm serta mengintegrasikan dengan sub system hilir”, timpal Agus Wediyanto
Mendukung pertumbuhan ekonomi
Sementara itu Ketua Asosiasi Bunga Indonesia (ASBINDO) Karen Syarief mengatakan industri tanaman hias sudah saatnya ditempatkan sebagai komoditas andalan ekspor non migas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. “Kontribusi industri tanaman hias pada PDB sebesar 13,34 persen itu sudah cukup signifikan dan hal ini berarti industri ini menjanjikan. Negara-negara berkembang di kawasan Amerika Sekatan dan Afrika berhasil mendongkrak PDB dengan industri florikultura dan hal tersebut telah berlangsung sekitar 10 tahun terakhir. Sedangkan Indonesia baru saja akan memulai,” papar Karen.
Dalam situs KapanLagi.com dikemukakan Karen Syarif bahwa dalam perkembangannya industri tanaman hias ini secara nasional masih mengalami banyak hambatan terkait dengan kebijakan pemerintah. Kebijakan-kebijakan tersebut diutarakan Karen merupakan hal yang memberatkan, seperti pungutan-pungutan yang harus dibayar. Selain itu ada juga kebijakan antar Departemen yang saling tumpang tindih sehingga menghambat pergerakan industri ini.
Tak ada harga standar
Sementara itu, perdagangan tanaman hiaspun dalam aplikasinya tidak ada harga standar. Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan pedagang dan pengusaha tanaman hias dalam menentukan nilai jual adalah frekuensi pembelian, jumlah pembelian dan subyektifitas pedagang terhadap status pembeli. Selain itu, harga dipengaruhi juga oleh jenis dan varietas, ukuran tanaman, tingkat laju pertumbuhan, keindahan dan keunikan tanaman hias tersebut.
Selain itu dasar pertimbangan lain adalah lamanya tanaman beredar di masyarakat, kelangkaaan tanaman, kesehatan tanaman, dan lokasi penjualan, bahkan pengaruh hari-hari besar keagamaan, upacara adat, potensi pasar domestik dan luar negeri serta kondisi perekonomian secara regional maupun global.
Dalam bravehost.com disebutkan bahwa permintaaan jenis tanaman hias masih tidak menentu. Sehingga ada kecenderungan petani pengusaha memiliki berbagai jenis tanaman. Kondisi demikian menyebabkan kurang terurusnya kesehatan tanaman karena setiap jenis tanaman memerlukan kondisi pemeliharaan yang tidak sama. Masalah lain adalah adanya petani pengusaha tanaman hias yang bermodal cukup melakukan perbanyakan tanaman hias yang sedang trendy. Hal ini mengakibatkan volume tanaman di pasaran relatif banyak sehingga harga menurun dengan cepat serta menimbulkan kerugian bagi petani dan pengusaha kecil.
Anomali harga
Kecenderungan seperti itulah yang dikatakan pemerhati tanaman hias Ir Helena Lumenta melahirkan anomali harga. “Ini disebabkan pula terjadinya demam bunga yang tinggi, sehingga psikologi ekonomi pun terkena sebagai suatu dampak sampingan,” ujar staf di Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulut ini menambahkan. Ditambahkannya pula, dibandingkan daerah lain seperti Lembang, Sukabumi, Malang maupun sentra-sentra tanaman hias lainnya di Jawa, harga bunga di Tomohon relatif masih lebih mahal. Karena itu, sebagaimana disampaikannya ke FCN, ini perlu mendapat perhatian, apalagi ke depan Tomohon akan dijadikan gateway atau pintu gerbang impor florikultura khususnya di Indonesia Timur. “Jangan justru torang dari Sulut ketika ke Jawa justru beli bunga di sana padahal di Tomohon banyak tersedia,” ujar Helena.
Memang benar, konsolidasi dan pembenahan di bidang industri tanaman hias ini tetap memerlukan perhatian kita semua. Bahkan secara nasional, fenomena ini masih merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan (wmu)
