Spirit Kota Bunga
Tahun ini Kota Tomohon berusia 5 tahun. Sebuah usia yang tentunya akan dikategorikan dalam proses pertumbuhan menuju dunia hidup yang sebenarnya. Artinya, kalau usia tersebut dikomparasikan pada manusia, tentu saja bayang-bayang dunia kanak-kanak akan membersit.
Namun ketika berada dalam bentangan dan menyaksikan wajah dan tekstur kota ini, dipastikan siapapun dia pasti akan berkata lain. Sebuah kota yang sangat laju perkembangan dan pembangunannya, sebuah kota yang terus merenda asa dan optimisme berdiri tegak sejajar dengan kota-kota lain di Indonesia.
Letak geografis Kota Tomohon berada pada centre Sulawesi Utara, menjadikan Tomohon memiliki akses tinggi dalam tata regional Provinsi Sulawesi Utara. Akses tersebut diformulasikan dengan adanya 4 koridor masuk ke kota ini. Baik dari arah Utara, Timur, Selatan dan Barat. Kesemuanya ini merupakan gateway yang memungkinkan Kota Tomohon akhirnya berperan medan pertemuan dalam menunjang arus transportasi dan penghubung aksesibilitas menuju ke pusat regional ibu kota Provinsi Sulawesi Utara – Manado – dengan daerah sub pusat regional seperti Kota Bitung, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Minahasa Selatan, Kabupaten Minahasa Tenggara, bahkan terus ke Kota Kotamobagu, Kabupaten Bolaang Mongondow. Jarak ke Kota Manado 25 Km, dan ke Bandara Internasional Sam Ratulangi 40 Km, sedangkan ke Pelabuhan Samudra Bitung 74 Km (melewati Kota Manado).
Rural Urban
Morfologi kota yang terletak di ketinggian 700 hingga 1000 meter dari permukaan laut dan berhawa sejuk dengan topografi bergelombang dan berbukit-bukit ini, dipenuhi nuansa kehidupan rural urban. Atau kota yang berkarakter desa (city in village). Karena itulah atmosfir open spaces yang merupakan areal hijau sebagai hutan kota sangat kental mewarnai lingkungan kota.
Di Indonesia, tidak banyak kota yang mempunyai spesifikasi demikian. Kalaupun ada, itupun dalam volume yang terbatas. Sebut saja di antaranya Palembang, Bengkulu, Bogor, dan beberapa kota lain di Indonesia.
Spesifikasi Kota Tomohon ini ditambah pula dengan alamnya yang subur berlembah, udaranya yang sejuk, struktur tanah gembur sehingga tepat untuk ditanami tumbuh-tumbuhan hortikultura seperti sayur-sayuran dan berbagai spesies tanaman hias lainnya. Belum lagi panorama alamnya yang menarik, termasuk pula panorama budaya yang membalut kehidupan komunitas di daerah ini. Bahkan di satu pihak, bunga ataupun tanaman hias itu sendiri sudah merupakan bagian hidup yang tak terlepaskan dari life style subetnis Tombulu atau masyarakat Tomohon.
Itulah sebabnya Walikota Tomohon bersama jajaran Pemerintah Kota didukung berbagai elemen dan publik di Kota ini bertekad menjadikan Tomohon sebagai Kota Bunga, sekaligus menjadi pintu gerbang ekspor nasional tanaman hias khususnya di bagian Indonesia Timur. Tentu saja dengan tetap bersinergi mengoptimalkan potensi hortikultura yang tersedia. Mengingat 70% penduduk usia produktif di kota ini menggantungkan hidupnya dari mengolah tanah.
Dalam hal ini tercermin pula nuansa kuat untuk menjadikan bunga sebagai sector andalan dalam menggerakkan roda ekonomi masyarakat.
Sebuah obsesi?
Yang jelas alur dan langkah menuju ke arah itu sudah dicermati. Apalagi peluang secara nasional sangat terbuka lebar. Bahkan dukungan dari eksekutif pusat mengalir deras, mulai dari institusi pertanian, koperasi, perdagangan, bahkan jaringan private corporate skala internasional sekalipun.
Kiat telah ditempuh
Gebyar TFF 2008 jelas merupakan ajang pembuktian bahkan sebagai legitimasi bahwa Tomohon benar-benar sebagai kota Bunga. Kota yang siap memasuki kancah dengan bunga sebagai product dari sebuah industri florikultura. Sebagai ajang pembuktian, tentu saja memerlukan sebuah proses dan pemberdayaan yang optimal. Karena itu, sebagai sebuah paket moda kepariwisataan tentu saja gaung maupun kesiapan-kesiapan tersebut harus ditangani serius, cermat, bahkan koordinasi antar lini dan elemen baik di tingkat pemerintah maupun publik Kota Tomohon.
Untuk itulah maka target penyiapan sebanyak 10 juta tangkai bunga atau tanaman hias untuk mendukung perhelatan TFF tersebut harus terealisasi pada waktunya. Bahkan bukan tidak mungkin pula penyiapan 10 juta tangkai bunga (potong) tersebut merupakan rekor tersendiri yang nantinya direkam dalam Museum Rekor Indonesia (MURI)….
Penyiapan 10 juta tangkai ini memerlukan perhatian dan konsentrasi penuh. Puluhan kelompok tani di sektor tanaman hias telah dibentuk, seiring dengan lahirnya kelompok-kelompok koperasi yang bergelut di sektor bunga. Termasuk pula penyiapan sarana pengembangan atau laboratorium teknologi plasma nuftah produksi bibit, penyediaan bantuan teknis, penyiapan kebun percontohan, pengiriman petani untuk berlatih dan magang florikultura di Lembang, sampai pada pelatihan mendisain kendaraan berhiaskan bunga. Sampai pada belajar dari sang maestro industri bunga – Belanda. Belajar dari ahlinya.
Yang jelas, berbagai kiat telah ditempuh. Optimismepun memuncak. Dengan kerja keras tentu saja asa yang dirajut akan menjadi nyata. Sebuah spirit Kota Bunga. (wmu)
