Bunga Rampai WMU

February 27, 2008

Secara Nasional Industri Florikultura: Perlu Konsolidasi

Filed under: Tomohon City

Tanaman hias saat ini menunjukkan trend tersendiri di lingkup masyarakat. Secara kasat mata nampak bahwa masyarakat saat ini semakin meminati mengusahakan tanaman hias sebagai sebuah usaha tersendiri. Bahkan inipun ditandai dengan semakin banyak pula berbagai buku atau literatur sampai kepada majalah atau penerbitan dengan segmentasi publik tanaman hias. Umumnya yang populer di masyarakat berkisar antara tanaman jenis anggrek, aglonema, anthurium, adenium, dan berbagai bunga sesuai karakteristik wilayah masing-masing.
Penelitian plasma nutfah dalam beberapa tahun terakhir telah berhasil mengumpulkan berbagai spesies atau kultivar. Jenis-jenis tersebut antara lain spesies dari famili Orchidaceae, Zingiberaceae, Araceae, Euphorbiaceae, Palmae dan Olaceae. Jenis-jenis tanaman hias asli Indonesia yang berpotensi nilai ekonomi tinggi cukup banyak, antara lain hasil-hasil silangan terseleksi pada anggrek dan aglonema. Banyak spesies atau kultivar dari famili Zingiberaceae, Araceae, Orchidaceae, Palmae, Polypodiaceae dan Pandaneceae mempunyai potensi untuk dikembangkan lebih lanjut.
Namun dibandingkan dengan banyaknya jenis dan jumlah flora yang terdapat di Indonesia, masih diperlukan sentuhan tangan-tangan ahli dan terampil untuk menyulapnya menjadi komoditas andalan bangsa.
“Peluang perdagangan florikultura sangat terbuka lebar. Tahun 2004 hingga 2005 perdagangan internasional sekitar US$62 miliar dan tahun 2007 meningkat menjadi US$80 miliar. Untuk itu kita harus mampu memanfaatkan peluang ini,” kata Direktur Budidaya Tanaman Hias Departemen Pertanian Agus Wediyanto sebagaimana dilansir KapanLagi.com
Dikemukakan Agus Wediyanto bahwa kontribusi Indonesia pada pasar dunia saat ini telah mencapai US$12 juta. “Karena itu Pemerintah menginginkan teman-teman di industri ini melakukan konsolidasi dan berbenah mengintegrasikan system dan sub system hulu perbenihan dan mengintegrasikannya dengan sub system on farm serta mengintegrasikan dengan sub system hilir”, timpal Agus Wediyanto

Mendukung pertumbuhan ekonomi
Sementara itu Ketua Asosiasi Bunga Indonesia (ASBINDO) Karen Syarief mengatakan industri tanaman hias sudah saatnya ditempatkan sebagai komoditas andalan ekspor non migas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. “Kontribusi industri tanaman hias pada PDB sebesar 13,34 persen itu sudah cukup signifikan dan hal ini berarti industri ini menjanjikan. Negara-negara berkembang di kawasan Amerika Sekatan dan Afrika berhasil mendongkrak PDB dengan industri florikultura dan hal tersebut telah berlangsung sekitar 10 tahun terakhir. Sedangkan Indonesia baru saja akan memulai,” papar Karen.
Dalam situs KapanLagi.com dikemukakan Karen Syarif bahwa dalam perkembangannya industri tanaman hias ini secara nasional masih mengalami banyak hambatan terkait dengan kebijakan pemerintah. Kebijakan-kebijakan tersebut diutarakan Karen merupakan hal yang memberatkan, seperti pungutan-pungutan yang harus dibayar. Selain itu ada juga kebijakan antar Departemen yang saling tumpang tindih sehingga menghambat pergerakan industri ini.

Tak ada harga standar
Sementara itu, perdagangan tanaman hiaspun dalam aplikasinya tidak ada harga standar. Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan pedagang dan pengusaha tanaman hias dalam menentukan nilai jual adalah frekuensi pembelian, jumlah pembelian dan subyektifitas pedagang terhadap status pembeli. Selain itu, harga dipengaruhi juga oleh jenis dan varietas, ukuran tanaman, tingkat laju pertumbuhan, keindahan dan keunikan tanaman hias tersebut.
Selain itu dasar pertimbangan lain adalah lamanya tanaman beredar di masyarakat, kelangkaaan tanaman, kesehatan tanaman, dan lokasi penjualan, bahkan pengaruh hari-hari besar keagamaan, upacara adat, potensi pasar domestik dan luar negeri serta kondisi perekonomian secara regional maupun global.
Dalam bravehost.com disebutkan bahwa permintaaan jenis tanaman hias masih tidak menentu. Sehingga ada kecenderungan petani pengusaha memiliki berbagai jenis tanaman. Kondisi demikian menyebabkan kurang terurusnya kesehatan tanaman karena setiap jenis tanaman memerlukan kondisi pemeliharaan yang tidak sama. Masalah lain adalah adanya petani pengusaha tanaman hias yang bermodal cukup melakukan perbanyakan tanaman hias yang sedang trendy. Hal ini mengakibatkan volume tanaman di pasaran relatif banyak sehingga harga menurun dengan cepat serta menimbulkan kerugian bagi petani dan pengusaha kecil.

Anomali harga
Kecenderungan seperti itulah yang dikatakan pemerhati tanaman hias Ir Helena Lumenta melahirkan anomali harga. “Ini disebabkan pula terjadinya demam bunga yang tinggi, sehingga psikologi ekonomi pun terkena sebagai suatu dampak sampingan,” ujar staf di Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulut ini menambahkan. Ditambahkannya pula, dibandingkan daerah lain seperti Lembang, Sukabumi, Malang maupun sentra-sentra tanaman hias lainnya di Jawa, harga bunga di Tomohon relatif masih lebih mahal. Karena itu, sebagaimana disampaikannya ke FCN, ini perlu mendapat perhatian, apalagi ke depan Tomohon akan dijadikan gateway atau pintu gerbang impor florikultura khususnya di Indonesia Timur. “Jangan justru torang dari Sulut ketika ke Jawa justru beli bunga di sana padahal di Tomohon banyak tersedia,” ujar Helena.
Memang benar, konsolidasi dan pembenahan di bidang industri tanaman hias ini tetap memerlukan perhatian kita semua. Bahkan secara nasional, fenomena ini masih merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan (wmu)

February 19, 2008

Spirit Kota Bunga

Filed under: Tomohon City

Tahun ini Kota Tomohon berusia 5 tahun. Sebuah usia yang tentunya akan dikategorikan dalam proses pertumbuhan menuju dunia hidup yang sebenarnya. Artinya, kalau usia tersebut dikomparasikan pada manusia, tentu saja bayang-bayang dunia kanak-kanak akan membersit.
Namun ketika berada dalam bentangan dan menyaksikan wajah dan tekstur kota ini, dipastikan siapapun dia pasti akan berkata lain. Sebuah kota yang sangat laju perkembangan dan pembangunannya, sebuah kota yang terus merenda asa dan optimisme berdiri tegak sejajar dengan kota-kota lain di Indonesia.
Letak geografis Kota Tomohon berada pada centre Sulawesi Utara, menjadikan Tomohon memiliki akses tinggi dalam tata regional Provinsi Sulawesi Utara. Akses tersebut diformulasikan dengan adanya 4 koridor masuk ke kota ini. Baik dari arah Utara, Timur, Selatan dan Barat. Kesemuanya ini merupakan gateway yang memungkinkan Kota Tomohon akhirnya berperan medan pertemuan dalam menunjang arus transportasi dan penghubung aksesibilitas menuju ke pusat regional ibu kota Provinsi Sulawesi Utara – Manado – dengan daerah sub pusat regional seperti Kota Bitung, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Minahasa Selatan, Kabupaten Minahasa Tenggara, bahkan terus ke Kota Kotamobagu, Kabupaten Bolaang Mongondow. Jarak ke Kota Manado 25 Km, dan ke Bandara Internasional Sam Ratulangi 40 Km, sedangkan ke Pelabuhan Samudra Bitung 74 Km (melewati Kota Manado).

Rural Urban
Morfologi kota yang terletak di ketinggian 700 hingga 1000 meter dari permukaan laut dan berhawa sejuk dengan topografi bergelombang dan berbukit-bukit ini, dipenuhi nuansa kehidupan rural urban. Atau kota yang berkarakter desa (city in village). Karena itulah atmosfir open spaces yang merupakan areal hijau sebagai hutan kota sangat kental mewarnai lingkungan kota.
Di Indonesia, tidak banyak kota yang mempunyai spesifikasi demikian. Kalaupun ada, itupun dalam volume yang terbatas. Sebut saja di antaranya Palembang, Bengkulu, Bogor, dan beberapa kota lain di Indonesia.
Spesifikasi Kota Tomohon ini ditambah pula dengan alamnya yang subur berlembah, udaranya yang sejuk, struktur tanah gembur sehingga tepat untuk ditanami tumbuh-tumbuhan hortikultura seperti sayur-sayuran dan berbagai spesies tanaman hias lainnya. Belum lagi panorama alamnya yang menarik, termasuk pula panorama budaya yang membalut kehidupan komunitas di daerah ini. Bahkan di satu pihak, bunga ataupun tanaman hias itu sendiri sudah merupakan bagian hidup yang tak terlepaskan dari life style subetnis Tombulu atau masyarakat Tomohon.
Itulah sebabnya Walikota Tomohon bersama jajaran Pemerintah Kota didukung berbagai elemen dan publik di Kota ini bertekad menjadikan Tomohon sebagai Kota Bunga, sekaligus menjadi pintu gerbang ekspor nasional tanaman hias khususnya di bagian Indonesia Timur. Tentu saja dengan tetap bersinergi mengoptimalkan potensi hortikultura yang tersedia. Mengingat 70% penduduk usia produktif di kota ini menggantungkan hidupnya dari mengolah tanah.
Dalam hal ini tercermin pula nuansa kuat untuk menjadikan bunga sebagai sector andalan dalam menggerakkan roda ekonomi masyarakat.
Sebuah obsesi?
Yang jelas alur dan langkah menuju ke arah itu sudah dicermati. Apalagi peluang secara nasional sangat terbuka lebar. Bahkan dukungan dari eksekutif pusat mengalir deras, mulai dari institusi pertanian, koperasi, perdagangan, bahkan jaringan private corporate skala internasional sekalipun.

Kiat telah ditempuh
Gebyar TFF 2008 jelas merupakan ajang pembuktian bahkan sebagai legitimasi bahwa Tomohon benar-benar sebagai kota Bunga. Kota yang siap memasuki kancah dengan bunga sebagai product dari sebuah industri florikultura. Sebagai ajang pembuktian, tentu saja memerlukan sebuah proses dan pemberdayaan yang optimal. Karena itu, sebagai sebuah paket moda kepariwisataan tentu saja gaung maupun kesiapan-kesiapan tersebut harus ditangani serius, cermat, bahkan koordinasi antar lini dan elemen baik di tingkat pemerintah maupun publik Kota Tomohon.
Untuk itulah maka target penyiapan sebanyak 10 juta tangkai bunga atau tanaman hias untuk mendukung perhelatan TFF tersebut harus terealisasi pada waktunya. Bahkan bukan tidak mungkin pula penyiapan 10 juta tangkai bunga (potong) tersebut merupakan rekor tersendiri yang nantinya direkam dalam Museum Rekor Indonesia (MURI)….
Penyiapan 10 juta tangkai ini memerlukan perhatian dan konsentrasi penuh. Puluhan kelompok tani di sektor tanaman hias telah dibentuk, seiring dengan lahirnya kelompok-kelompok koperasi yang bergelut di sektor bunga. Termasuk pula penyiapan sarana pengembangan atau laboratorium teknologi plasma nuftah produksi bibit, penyediaan bantuan teknis, penyiapan kebun percontohan, pengiriman petani untuk berlatih dan magang florikultura di Lembang, sampai pada pelatihan mendisain kendaraan berhiaskan bunga. Sampai pada belajar dari sang maestro industri bunga – Belanda. Belajar dari ahlinya.
Yang jelas, berbagai kiat telah ditempuh. Optimismepun memuncak. Dengan kerja keras tentu saja asa yang dirajut akan menjadi nyata. Sebuah spirit Kota Bunga. (wmu)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Riosoft