Antara PR dan Rp: Apa Kata Dunia
Akhirnya sampailah di penghujung tahun 2007.
Seorang sahabat saya bertanya, di tahun ini kesan apa yang paling istimewa saya rasakan. Saya jawab saja sekenanya seperti ungkapan advertisement sebuah produk: kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda.
Memang sangat klise. Bahkan dapat saja menimbulkan tafsiran bahwa ini adalah jawaban dari orang yang sarkastis. Menyederhanakan sesuatu, namun perasaan yang terdalam sesungguhnya terbalut nuansa yang teramat mendebarkan kala mencermati sebuah fenomena tertentu. Bahkan dalam momentum tertentu rasa gundah gulana bercampur dengan suasana kegalauan, suasana emosional dan bersitan optimisme tercampur menjadi satu. Wah, memang benar.
Kahlil Gibran (1883-1931) - penyair dan filosof berdarah Lebanon - dalam The Prophet berkata begini:
Di antara kalian ada yang mengatakan
“Sukacita itu lebih besar dari dukacita.”
Yang lain pula berpandangan:
“Tidak. Dukalah yang lebih besar dari Suka.”
Tetapi aku berkata kepadamu:
Bahwa keduanya tak terpisahkan.
Bersama-sama keduanya datang, dan bila yang satu
Sendiri bertamu di meja makanmu,
Ingatlah selalu bahwa yang lain
Sedang ternyenyak di pembaringanmu.
Sebenarnya engkau ditempatkan
Tepat di tengah timbangan, yang adil
Menengahi Kegembiraan dan Kesedihan….
Saya melihat dan menilai bahwa bagi Kahlil Gibran kehidupan ini lebih bersifat proyektif dan komparatif.
Kehidupan ini bagaikan mengayuh biduk, sangat dibutuhkan gerakan konstan agar biduk itu sendiri dapat meluncur membelah air.
Untuk membangun gerakan tersebut niscaya membutuhkan energi atau spirit yang konstan pula. Demikian pula halnya biduk itu, semakin banyak bobot muatannya, semakin besar pula energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan tenaga yang mampu menggerakkan wahana itu. Nah, di sini diperlukan kolaborasi antara energi, tenaga, gerakan dan sipengayuh itu sendiri.
Sewaktu-waktu dapat saja secara temporer gerakan melemah karena power terkuras. Setelah itu energi merasuk kembali. Sampai akhirnya biduk itu merapat di pantai tujuan.
*
Akhirnya, saya mencoba mengangkat ke permukaan beberapa pekerjaan rumah (PR) yang masih tersisa di tahun 2007 - yang dimanifestasikan sebagai tahun kinerja. Paling tidak ke depan di tengah sekian tantangan yang harus dihadapi, 2 hal yang harus dipertajam oleh Pemerintah Kota Bunga Tomohon. Pertama, image and performance building. Ini berkaitan dengan mengaplikasikan citra, kualitas maupun sistem dan struktur kinerja yang feasibility dan full responsibility. Saya yakin, sebuah citra kepemerintahan yang baik manakala di dalamnya terjalin soliditas, harmonisasi, koordinasi, dan akuntabilitas yang mumpuni di setiap lini dalam melakukan pelayanan ke berbagai strata komunitas. Sebagai public servant, maka ujung tombak melakukan hal itu terletak pada birokrasi. Intinya, ketika penguatan dan kepatutan birokrasi yang reformatif, profesional dan mencerminkan kompetensi tanpa gratifikasi, tanpa warna feodal, tanpa warna primordial dan hal-hal sejenis lainnya dikedepankan, wajah birokrasi itu laksana pelangi membentang di angkasa. Sehingga pemilik modalpun merasa enjoy ketika berinvestasi di Kota Bunga, karena adanya pelayanan yang mempesona, penyederhanaan rentang kendali, dan regulasiadministratif termasuk kepastian hukum dalam berusaha. Kedua, supervision. Suatu pengawasan yang holistik, namun bersifat komprehensif. (Saya lebih cenderung menggunakan sintaksis supervision daripada controlship. Supervision lebih dinamis dan lentur gerakannya. Sebuah controlship cenderung bersifat vertikal, misalnya atasan memeriksa bawahan). Image and performance building akan terjadi ketika pengawasan yang independen itu memperkuat dirinya.
Ketika biduk dikayuh memuat kedua hal ini, maka esensinya good and clean governance telah diwujudnyatakan, dan biduk itu telah fokus berada di sebuah track yang benar, sebuah muara, membangun masyarakat yang sejahtera dan madani.
Ini PR yang bersifat berkelanjutan. Namun logis saja, PR itu akan dapat dikerjakan jika disertai rupiah (Rp). Untuk itu, dalam penggunaan Rp atau anggaran, langkah-langkah efisiensi yang ketat dan penghematan belanja barang termasuk pembiayaan hal-hal yang tidak produktif dan bukan merupakan program prioritas, harus terus dilakukan dengan tegas dan penuh kesungguhan. Terus terang pula, kalau ditanyakan ke saya belanja apa yang harus dihemat atau pembiayaan apa yang tidak produktif, saya no comment. Silakan tanya pada sang policy maker atau decission maker.
Sunggguh, ini realistis. Kalau ada yang mengatakan kesemua ini sebagai common sense of thinking, wah, apa nantinya kata dunia….***
