Iraq Vs Saudi Arabia
Iraq vs Saudi Arabia: Spirit Asia
Lolosnya Iraq ke final Asian Cup 2007 merupakan sejarah. Negara yang penuh dilanda kemelut perang itu menghempaskan tim ginseng Korea Selatan 4-3 melalui drama adu pinalti yang menegangkan. Sebenarnya saya pegang Korea, tapi kenyataan lain. Saya akui memang Iraq tim yang kuat saat ini di kawasan Asia. Berbagai konflik di dalam negeri tidak membuat kesebelasan negeri seribu satu malam ini patah arang. Sekalipun harus mempersiapkan tim di luar negaranya namun semangat untuk memberikan yang terbaik bagi rakyat dan negaranya luar biasa.
Mudah-mudahan prestasi tim Iraq membawa angin kedamaian di negara mereka.
*
Tahun 2007 ternyata kiblat sepakbola Asia ada di Timur Tengah. Di pihak lain sang singa gurun pasir Saudi Arabia menerkam tim favorit Jepang 3-2. Jepang yang bermain cepat dengan semangat kamikaze selama 2 x 45 menit harus mengakui kekalahan. Di partai inipun saya pegang Jepang. Ternyata prediksi saya kembali salah. Ketenangan dan kesabaran pemain Arab Saudi yang saya pikir berada di balik kemenangan itu. Selain karena hebatnya duet Malek al-Hansari dan Yasser al-Qahtani.
*
Itulah sepakbola. Iraq vs Saudi Arabia adalah hal yang obyektif jika melihat penampilan mereka sejak penyisihan group. Inilah spirit Asia.
Adalah kebanggaan bagi Indonesia manakala final tanggal 29 Juli dilaksanakan di Jakarta untuk memperebutkan juara 1 - 2 dan di Palembang untuk 3 - 4. Sekalipun tim Merah Putih gagal, namun setidaknya kita sangat berbangga karena pelaksanaan final dipercayakan di Indonesia.
(Saya jadi ingat ketika Indonesia dihantam 1 -2 oleh Saudi Arabia. Gol satu-satunya Indonesia dicetak Elli Aiboy setelah memperdaya Yasser al- Mosaelam kiper Saudi Arabia. Wah, hebat kamu Elli..)
*
Sempat terbersit pada diri saya, ai lemak nian uong kito ni ado tontonan bagus di Jakabaring.
Jakmania, jadilah tuan rumah yang bagus.
*
Kecewa karena Indonesia tidak tembus perempat final Asian Cup 2007? Jelas ada itu. Tapi sudahlah, Indonesia memang masih harus lebih banyak berbenah.
(Sekedar catatan sejarah, ketika di Olimpiade Melbourne penghujung tahun 1950-an Indonesia menahan Uni Sovyet 1 -1, Jepang tidak pernah bermimpi untuk mampu bermain bola kaki)


