Bunga Rampai WMU

July 25, 2007

Iraq Vs Saudi Arabia

Filed under: Sport

Iraq vs Saudi Arabia: Spirit Asia

Lolosnya Iraq ke final Asian Cup 2007 merupakan sejarah. Negara yang penuh dilanda kemelut perang itu menghempaskan tim ginseng Korea Selatan 4-3 melalui drama adu pinalti yang menegangkan. Sebenarnya saya pegang Korea, tapi kenyataan lain. Saya akui memang Iraq tim yang kuat saat ini di kawasan Asia. Berbagai konflik di dalam negeri tidak membuat kesebelasan negeri seribu satu malam ini patah arang. Sekalipun harus mempersiapkan tim di luar negaranya namun semangat untuk memberikan yang terbaik bagi rakyat dan negaranya luar biasa.
Mudah-mudahan prestasi tim Iraq membawa angin kedamaian di negara mereka.
*
Tahun 2007 ternyata kiblat sepakbola Asia ada di Timur Tengah. Di pihak lain sang singa gurun pasir Saudi Arabia menerkam tim favorit Jepang 3-2. Jepang yang bermain cepat dengan semangat kamikaze selama 2 x 45 menit harus mengakui kekalahan. Di partai inipun saya pegang Jepang. Ternyata prediksi saya kembali salah. Ketenangan dan kesabaran pemain Arab Saudi yang saya pikir berada di balik kemenangan itu. Selain karena hebatnya duet Malek al-Hansari dan Yasser al-Qahtani.
*
Itulah sepakbola. Iraq vs Saudi Arabia adalah hal yang obyektif jika melihat penampilan mereka sejak penyisihan group. Inilah spirit Asia.
Adalah kebanggaan bagi Indonesia manakala final tanggal 29 Juli dilaksanakan di Jakarta untuk memperebutkan juara 1 - 2 dan di Palembang untuk 3 - 4. Sekalipun tim Merah Putih gagal, namun setidaknya kita sangat berbangga karena pelaksanaan final dipercayakan di Indonesia.
(Saya jadi ingat ketika Indonesia dihantam 1 -2 oleh Saudi Arabia. Gol satu-satunya Indonesia dicetak Elli Aiboy setelah memperdaya Yasser al- Mosaelam kiper Saudi Arabia. Wah, hebat kamu Elli..)
*
Sempat terbersit pada diri saya, ai lemak nian uong kito ni ado tontonan bagus di Jakabaring.
Jakmania, jadilah tuan rumah yang bagus.
*
Kecewa karena Indonesia tidak tembus perempat final Asian Cup 2007? Jelas ada itu. Tapi sudahlah, Indonesia memang masih harus lebih banyak berbenah.
(Sekedar catatan sejarah, ketika di Olimpiade Melbourne penghujung tahun 1950-an Indonesia menahan Uni Sovyet 1 -1, Jepang tidak pernah bermimpi untuk mampu bermain bola kaki)

Nasib si Emas Coklat

Nasib si Emas Coklat

emoticon 

Sudah jatuh, tertimpa tangga. Setidaknya itulah nasib pemilik pohon cengkeh termasuk mereka yang bergelut dengan si emas coklat ini. Sekalipun harganya memasuki titik nadir, namun asa tetap digantungkan. Biaya pemeliharaan, biaya pemetikan, biaya penjemuran, biaya penjagaan, biaya keamanan, dan sederet biaya-biaya lainnya sudah tidak sebanding lagi dengan harga jual. Belum lagi saat-saat ini hujan di daratan Minahasa masih sering mengucur dari langit


Memang, sudah 10 tahun terakhir ini harga nya berfluktuasi,  dan terus merosot.  Bahkan tadi siang, saya coba cek di tingkat pedagang pengumpul, harganya terpatok Rp 28.500,- per-kg. Ini untuk kualitas standar, dengan kadar kotor 2% kadar air sekitar 10%. Masih jauh dari harga harapan, yaitu Rp 40.000,-/kg.emoticon

Awal-awal tahun 2000, harga si emas coklat ini di tingkat petani masih lumayan yaitu Rp 67.000,-/kg. Sejak itu mulailah mengalami penurunan, sekaligus berfluktuasi. Tahun 2002 Rp 44.400/kg, tahun 2002 menukik Rp 16.300,- (sehingga tanaman cengkeh banyak ditebang, kayunya dijual dijadikan kayu api atau penumbuk lesung). Kemudian tahun berikut naik lagi. 2004 Rp32.300,-/kg, 2005 Rp28.000,-/kg, 2006 menguat sedikit Rp 36.000,-/kg.

*

Bandingkan saat tahun 1978 misalnya. Harganya sangat fantastis, yaitu mencapai Rp 65.000,-/kg. Waktu itu ongkos transport dalam kota Manado masih Rp 30,-. Karena itulah barang ini (cengkeh) disebut emas coklat. Harga yang super wah  ini mengakibatkan banyak gaya hidup saat itu yang superheboh.

*

Sekarang, bagaimana? Berbagai upaya bahkan pressure   coba dilakukan. Mulai dari inisiatif mengundang dan melobi pabrikan rokok, memboikot rokok-rokok tertentu, meminta Pemerintah  (Provinsi) membeli cengkeh petani, termasuk isu mau berdemo di Istana Negara. Bukan main… Anehnya, petani ribut soal harga, para ekonom di Sulut, atau think tank  di Unsrat misalnya lebih banyak diam seribu bahasa.

*

Memang, kondisi ini membuat cara berpikir sudah tidak rasional. Apapun kiat yang dicoba, saya berpikir akan jauh panggang dari api. Persoalannya hukum ekonomi sekarang berbanding lurus dengan mekanisme pasar. Apalagi sekarang, sudah banyak daerah-daerah di Indonesia penghasil cengkeh.

* emoticon

Solusinya sederhana saja. Booming cengkeh nanti bulan Agustus/September, sekalipun saya tidak punya data riil berapa ton cengkeh yang nantinya siap dijual. Nah, cengkeh itu tahan dulu. Simpan baik-baik jangan dijual. Cuma ini memerlukan kekompakan semua pemilik cengkeh. Di sini berlaku hukum ekonomi. Supply sedikit, Demand banyak, Hargapun naik. Ini teorinya. Tapi, apa bisa. Sementara kebutuhan hidup dengan segala aksessorinya tidak mungkin ditunda, alias berjalan terus. Pabrikan juga tentu akan beli dari pihak lain, termasuk dari luar (efek pasar bebas).

*

Segala sesuatu itu ada waktunya.emoticon

*

Seyogianya, Pemerintah (Provinsi Sulut) juga institusi pendidikan seperti Unsrat memberikan rekomendasi atau apalah namanya, mengajak semua pihak untuk tidak larut  dan terpaku dalam eforia emas coklat. Buat satu terobosan, apa sebaiknya yang dilakukan. Tanaman apa yang dapat menjadi substitusi selain cengkeh itu. Ini perlu sebelum terlambat. Sulut ini bumi yang kaya, tanahnya subur. Namun sentuhan dan belaian bahkan political will  sangat diperlukan.

Que sera-sera, what ever will be, will be ?
I Yayat u Santi

 

 






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Riosoft