Aku & Aldo
Aku, Aldo dan Hari Anak Nasional 2007 Bagiku Aldo tidak sekedar buah cinta kasih saya dengan Helena Lumenta. Tapi dia adalah anugerah Tuhan yang terbaik dalam hidup aku. Karena itu, aku berkerja, semuanya untuk anakku: Willy Reinaldo Nusantara. Artinya, aku bekerja, aku berpikir, melakukan sesuatu di dunia ini pada akhirnya tertuju bagaimana agar anakku itu selalu sehat, tetap dapat sekolah, selalu bahagia, sehingga nantinya dia dapat menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara. Aldo adalah anak saya satu-satunya. Bayangkan, 4 tahun saya menikah, barulah dia lahir. Aldo segala-galanya bagiku. Aku bertanggungjawab untuk membesarkan, mendidik dia, sekalipun dengan kehidupan yang jauh dari kemewahan. ( Karena aku cuma seorang pegawai negeri biasa. Segalanya untuk bangsa dan negara. Tapi itulah bagian dari warna kehidupan. Di lingkup PNS itu, sebuah kedekatan merupakan fenomena lurus dalam mendapatkan jabatan. Yang namanya disiplin atau DP3 atau Daftar Urut Kepangkatan atau apapun juga bentuk lainnya, itu saya lihat cuma formalistik belaka. Sedangkan aku orangnya sederhana saja bekerja sebaik-baiknya, apa adanya. Soal perlu kedekatan? Memang perlu untuk membangun karir, namun ini bukan bagian hidup saya). Oke, kembali ke ke aku dan Aldo. Aldo baru berumur 10 tahun. Dia sekarang di kelas 6 SD di sebuah sekolah Katolik di Manado. Terus terang saya tidak pernah memaksa dia untuk harus berprestasi di sekolah. Aku tidak mau membebani dia dengan harus begini atau harus begitu. Yang penting aku mamberikan teladan yang baik pada dia. Pernah aku marah sekali pada Aldo. Akhirnya aku introspeksi diri, bahwa apa yang aku lakukan ke dia itu sebuah kesalahan yang aku lakukan. Aku minta maaf ke dia. Sekalipun dia baru berusia 10 tahun namun suasana demokrasi selalu aku bangun dalam kehidupan di tengah rumah tangga. Artinya saya juga selalu minta pendapat dari Aldo untuk berbagai hal yang spesifik. Misalnya saya tanyakan dia: “Bagaimana kalau nanti malam kita makan di luar, papi ada sedikit tambahan uang, karena papi baru menyelesaikan pekerjaan yang harus dilembur?” Kalau dia Oke, aku tanyakan sebaiknya di mana. Aldo sukanya makan apa. Intinya, saya tidak mau memaksakan kehendak pada dia. Kalau dia malas bikin PR, saya cuma bilang nanti ibu guru marah lho. Pokoknya antara aku berusaha untuk tidak instruktif ke dia. Aku hanya menuntun, mengarahkan dia agar dia tumbuh dan berkembang sesuai dengan imajinasinya. Penyederhanaan bahasa juga menjadi hal yang membangun suasana indah antara saya dan Aldo. Akronim-akronim dalam berkata selalu muncul, dan hanya Aldo dan aku yang tahu artinya. Contoh, saya katakan ke dia: Aldo kalau man jangan lupa sigi dan curam. (artinya: Aldo kalau mandi jangan lupa sikat gigi dan cuci rambut). Nanti mau matlam, Aldo belajar sekarang (matlam: mati lampu), Aldo jangan lupa tanas dan bamin (tanas: tambah nasi, bamin: banyak minum). Dan masih banyak lagi akronim-akronim bahasa yang hanya dia dan saya yang tahu. Bahkan istri saya tidak semua tahu. Ini bagian kiat saya untuk memberikan kesan bahwa hidup ini perlu suatu kebersahajaan. Tentu banyak yang tidak setuju. Tapi itulah Aku dan Aldo. Dia anakku, di juga sahabatku, di tempat aku melabuhkan dan meleburkan segala kegalauan dan kegilaan dunia. Dengan istriku: dia adalah tulang rusukku. Pendamping hidup yang setia. Tanpa dia, Aldo entah di mana…… Dia adalah anak Indonesia. Di pundak dia pula masa depan Indonesia - Nusantara ini - dipertaruhkan.

