Bunga Mendongkrak Sektor Ekonomi
DENGAN BUNGA, MENDONGKRAK SEKTOR EKONOMI
Sebagai bagian dari hidup juga bagian dari kultur manusia maka merajut peluang memasukkan bunga di sektor privat adalah sah-sah saja. Bahkan sangat menjanjikan sekalipun dalam suasana yang mendebarkan. Artinya gerak kompetitif yang diharapkan memang masih harus melalui berbagai uji kelayakan dan ketangguhan sebagai prasyarat memulai segala sesuatu. Memang masih memiriskan. Secara nasional, bunga belum masuk dalam daftar produk yang menjadi devisa andalan Indonesia. Sebagai side product, bunga masih merupakan faktor komplementer dalam fungsinya di tengah geliat ekonomi kita. Dan inilah yang harus di setting ulang. Belajar dari bangsa lain yang memobilisasi bunga sebagai sumber devisa prima merupakan hal yang sangat perlu.
Bagi masyarakat Kota Tomohon yang identik dengan Kota Bunga, Pemerintah di kota ini memang bertekad menjadikan bunga sebagai penggerak utama roda ekonomi. Tentunya serentetan upaya dan tekad terus digulirkan. Termasuk di dalamnya penyelenggaraan berbagai event yang mengetengahkan bunga sebagai primadona.
Tournament of Flowers yang dua tahun terakhir termasuk pameran bunga tahun 2007 yang dihadiri langsung Ibu Mufidah Jusuf Kalla menjanjikan bahwa upaya menjadikan bunga sebagai penggerak di sektor ekonomi merupakan kepastian. Its a dream come true.
Itulah sebabnya Walikota Tomohon Jefferson Epe Rumajar dalam berbagai kesempatan terus mengajak warga Kota Bunga memanfaatkan setiap jengkal halaman pekarangan untuk ditanami bunga. “Jadi dengan bunga tidak ada lagi yang gratis. Semuanya harus diperhitungkan nilai ekonominya. Dan ini tentunya untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya dalam satu kesempatan.
Untuk itulah maka memasyarakatkan bunga di sektor publik pada gilirannya merupakan kebijakan Pemerintah Kota Tomohon. Termasuk mendirikan laboratorium kultur jaringan di bilangan Tomohon Barat tepatnya di Woloan untuk tanaman hias guna melakukan penelitian bahkan pengembangan tanaman hias khas Tomohon guna memacu permintaaan pasar domestik bahkan inernasional.
Respons warga Tomohon memang bukan main. Dukungan dari berbagai elemen masyarakat sangat luar biasa. Terbukti dengan terhiasnya Kota Tomohon dengan bunga di mana-mana. Sekalipun akhirnya harga jual bunga terjadi kenaikan, namun ini suatu hal yang positip bagi pertumbuhan ekonomi di kota ini.
|
|

Sebagai bagian dari hidup juga bagian dari kultur manusia maka merajut peluang memasukkan bunga di sektor privat adalah sah-sah saja. Bahkan sangat menjanjikan sekalipun dalam suasana yang mendebarkan. Artinya gerak kompetitif yang diharapkan memang masih harus melalui berbagai uji kelayakan dan ketangguhan sebagai prasyarat memulai segala sesuatu. Memang masih memiriskan. Secara nasional, bunga belum masuk dalam daftar produk yang menjadi devisa andalan Indonesia. Sebagai side product, bunga masih merupakan faktor komplementer dalam fungsinya di tengah geliat ekonomi kita. Dan inilah yang harus di setting ulang. Belajar dari bangsa lain yang memobilisasi bunga sebagai sumber devisa prima merupakan hal yang sangat perlu.

Bagi masyarakat Kota Tomohon yang identik dengan Kota Bunga, Pemerintah di kota ini memang bertekad menjadikan bunga sebagai penggerak utama roda ekonomi. Tentunya serentetan upaya dan tekad terus digulirkan. Termasuk di dalamnya penyelenggaraan berbagai event yang mengetengahkan bunga sebagai primadona.
Tournament of Flowers yang dua tahun terakhir termasuk pameran bunga tahun 2007 yang dihadiri langsung Ibu Mufidah Jusuf Kalla menjanjikan bahwa upaya menjadikan bunga sebagai penggerak di sektor ekonomi merupakan kepastian. Its a dream come true.
Itulah sebabnya Walikota Tomohon Jefferson Epe Rumajar dalam berbagai kesempatan terus mengajak warga Kota Bunga memanfaatkan setiap jengkal halaman pekarangan untuk ditanami bunga. “Jadi dengan bunga tidak ada lagi yang gratis. Semuanya harus diperhitungkan nilai ekonominya. Dan ini tentunya untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya dalam satu kesempatan.
Untuk itulah maka memasyarakatkan bunga di sektor publik pada gilirannya merupakan kebijakan Pemerintah Kota Tomohon. Termasuk mendirikan laboratorium kultur jaringan di bilangan Tomohon Barat tepatnya di Woloan untuk tanaman hias guna melakukan penelitian bahkan pengembangan tanaman hias khas Tomohon guna memacu permintaaan pasar domestik bahkan inernasional.
Respons warga Tomohon memang bukan main. Dukungan dari berbagai elemen masyarakat sangat luar biasa. Terbukti dengan terhiasnya Kota Tomohon dengan bunga di mana-mana. Sekalipun akhirnya harga jual bunga terjadi kenaikan, namun ini suatu hal yang positip bagi pertumbuhan ekonomi di kota ini.
Apalagi nantinya penyelenggaraan Tournament of Flowers 2008 merupakan bagian dari paket Tomohon Festival 2008 semakin ditingkatkan bobotnya dengan mengikutsertakan 33 provinsi se-Indonesia ditambah beberapa negeri jiran siap diajak berperan. Dan inipun akhirnya bakal dijadikan agenda wisata tahunan. Kalau sudah begitu, siap-siaplah masyarakat Kota Tomohon untuk menerima turis domestik maupun mancanegara yang akan bertandang ke Kota Bunga.
Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudoyono menjanjikan kesiapannya untuk menghadiri Tournament of Flowers 2008.
Oke, maju terus bersama bunga-bunga yang indah. (wmu)
