MANADO KOTA PARIWISATA DUNIA 2010
(BUKAN MENGGAPAI MIMPI)
Mengagumkan. Baru beberapa bulan usai pelantikannya, Walikota Manado Penatua Jimmy ‘Imba’ Rogi, Ssos dan Wakil Walikota H. Abdi Buchari mencanangkan obsesi, menjadikan Manado sebagai kota wisata dunia tahun 2010. Atau dengan sebutan Manado Kota Pariwisata Dunia 2010. MKPD 2010.
Obsesi ini jelas bukan sekedar retorika sebagai tonaas pakasaan ‘Wenang’ Manado - orang pertama sebagai pimpinan - yang dipilih secara demokratis masyarakat (baca:walak-walak) yang berdiam di kota Manado, tapi mengacu pertimbangan-pertimbangan yang sahih, eksak dan valid berdasarkan pada referensi kultur masyarakat Kota Tinutuan itu sendiri. Kultur yang bagaimana itu, saya rangkum dalam beberapa telaah sosiologis, antara lain:
1. Ciri masyarakat Manado yang easygoing sesuai karakter keminahasaan. Artinya orang Manado itu mudah dan sangat terbuka (familier) menerima nuansa dari luar. Baik nuansa dalam kategori nasional maupun internasional. Sehingga ciri sebagai orang yang supel, luwes, kalau bacirita apa adanya (blak-blakan) merupakan kredit poin tersendiri. Mau bukti? Di Manado ada wilayah-wilayah (slum) tertentu yang pemukimannya dilatarbelakangi nama etnis lain, seperti: Kampung Cina, Kampung Arab, Kampung Jawa, Kampung Bugis, Kampung Bali, Kampung Ternate, dsb. Dan ini bukan hal luar biasa. Bagi orang Manado, kerukunan dan persaudaraan, kebersamaan diatas segala-galanya. Satu hal, orang-orang di sini pokoknya the smiling people.
2. Perkembangan kota Manado yang sangat pesat selama 10 tahun terakhir yang ditandai dengan berdirinya berbagai pusat perbelanjaan (mall) maupun kawasan bisnis dan sarana-sarana publik lainnya yang sangat representatif sebagai hasil reklamasi pantai, dengan letaknya yang eksotis yaitu di pinggir Teluk Manado langsung menghadap Gunung Manado Tua, Bunaken dan beberapa pulau kecil lainnya. Ini semua sangat mendukung akses bagi terselenggaranya aktivitas bisnis dan niaga yang prima bahkan dalam skala internasional sekalipun. Bandar Udara (Airport) Sam Ratulangi yang telah direnovasi, senantiasa berada dalan posisi stand by di ujung bibir Pasifik, mampu didarati jenis AirBus 300 bahkan kelas Boeing sekalipun. Didukung pula dengan pelabuhan internasional Bitung yang siap menerima kapal-kapal bertonase besar merapat, baik kapal niaga (cargo), kapal penumpang, dan kapal-kapal berstandar internasional lainnya.
3. Panorama wisata alam yang sofistikasi. Termasuk wisata budaya bahkan wisata kuliner. Menyaksikan matahari terbenam dari tepian Boulevard ke arah Manado Tua atau Bunaken sambil makan kukis pisang goreng panas-panas somo lupa komang itu ngoni pe stress. Atau morasa tinutuan di Waikeke deng depe par cakalang goreng, nike goreng, dan milu rebus kase dabu-dabu bakasang. Atau biapong di Wayang, boleh juga. Nasi kuning khas Manado tersedia di kampung Kodo. Kong kalo ngoni ada doi lebe pijo pasiar di Bunaken - menyaksikan surga panorama bawah laut yang termasuk terindah di dunia. Oh ya, yang suka diving, please!
4. Wisata seni dan budaya tersaji pula di kota Tinutuan, khususnya dari berbagai subetnis yang ada di Sulawesi Utara - Bumi Nyiur Melambai - seperti masamper, ampawayer, katrili, kabasaran, cakalele, musik bambu, kolintang, berbagai tari (maengket, pisok, dan lain-lain), mahzani, dsb. tersaji lengkap. Cinderamata tersedia di berbagai tempat seperti kain tenun bentenan, aneka pangan olahan seperti bagea, halua, kukis kelapa, cucur, panada, koyabu, brudel, betawi, lalampa, nasi jaha, dan masih banyak lagi. (terlalu banyak….)

5. Dan yang penting pula, Manado itu kota yang aman dan tenang.Tapi bukan berarti bahwa kita bebas pamer kekayaan, misalnya melalui parade perhiasan yang
nempel di bagian-bagian tubuh dan sengaja atau tidak sengaja diperlihatkan di tempat-tempat umum.
So sala itu katu. Artinya begini, yang namanya copet atau tukang todong, relatif tidak ada di kota Tinutuan ini. Bukan berarti sama sekali tidak ada. Sebab kewaspadaan itu tetap perlu di mana-mana. Terus terang, bicara tentang berandal, begundal, preman, di sini juga ada. Tapi kalau kita jual senyum pada mereka niscaya mereka juga senyum pada kita. Sebab pada dasarnya mereka itu orang baik
lho. Yang penting kita tahu menempatkan diri. Kalau mereka macam-macam, apa boleh buat, jangan ragu-ragu berteriak minta tolong, kalau perlu menghindar. Kalau sudah terjadi, tenang saja, ingat
gestur sang pencoleng, dan lapor ke pihak berwajib. Ini kunci yang berlaku di mana-mana. Manado ada teroris? Sudahlah, kalau niat kita baik, Tuhan selalu menjaga dan memelihara kita. Amin.
6. Di kota Tinutuan kita tidak bakalan dipusingkan dengan orang peminta-minta (pengemis). Orang Manado itu anti dengan pengemis. Kalau mereka perlu uang, mereka akan bekerja tentunya.
Yang perlu mendapat perhatian adalah persoalan kebiasaan minum-minuman keras yang di sebagian kalangan orang Manado merupakan bagian hidupnya. Sehingga fenomena ini kerap menjadi kendala tersendiri. Alkohol yang terlalu banyak (
over) menyebabkan seseorang menjadi tidak mampu menguasai diri (
out of control). Akibatnya merugikan orang lain. Berteriak di jalan (
bakuku),
baminta di jalan, bahkan dalam berbagai kasus berakhir dengan
bakalae sampai dengan
bakutikang dan
bakupotong. Persoalan ini yang perlu perhatian dari semua pihak. Baik dari Walikota Imba Rogi dan jajarannya, tokoh masyarakat, pemuka agama/gereja, dan siapapun yang berpredikat sebagai warga Manado.
Dan hampir lupa,
the last but not the least, kebersihan kota tetap perlu dipelihara. Banjir dan longsor yang kerap melanda Manado di karenakan faktor kesiapan warga manado untuk terus memelihara kebersihan seperti membuang sampah di tempatnya sering-sering
so talupa akang. Karena itu program Pemerintah Kota Manado dengan
Jumpa Berlian (
Jumat
Pagi
Bersih-bersih
Lingkungan
Anda) merupakan salah satu terapi memelihara Manado kota bersih. Bahkan pusat kota yang terkenal dengan label “stasiun” atau ‘45” itu, sekarang sudah steril dari Pedagang Kaki Lima (PKL). Bahkan seluruh trotoar di kota Tinutuan sudah steril dari PKL, warung, dsb. Hasilnya ada, Manado - kota Tinutuan itu - mendapat Adipura. Ini sebuah garansi dari Pemerintah bahkan rakyat Indonesia, sebuah penghargaan bahwa Manado itu kota yang bersih.
Oke, welcome to Manado. MKPD 2010. Ingat: Boulevard, Bunaken, Bubur Manado, Bentenan, Bibir Manado (orang Manado itu bicara sampai baseri. Mau tahu apa baseri, ya, kalau bicara penuh sendagurau bahkan materi pembicaraan seperti tidak habis-habis. Selesai bicara yang satu mulai lagi bicara yang lain. Oh kalah, kata mereka yang dari subetinis Tonsea. Orekei, kata mereka yang dari subetnis Tontemboan)
So, Manado Kota Pariwisata Dunia 2010. It’s a reality. Not a dream.
wennym-umboh@hotmail.com.