Bunga Rampai WMU

July 27, 2007

11 Tahun Kudatuli

Filed under: Politik

11 Tahun Kudatuli

Hari ini tepat 11 tahun kerusuhan dua puluh tujuh Juli.
Embrio reformasi? Tidak! Ini cuma bagian dari skenario suprastruktur politik tingkat elit .
Penyerbuan kantor DPP PDI Perjuangan di Jalan Diponegoro Jakarta Pusat merupakan tumbal politik untuk mempertahankan sebuah power established.
Sebuah aksi kekerasan yang dipertontonkan sesama anak bangsa.
Sekarang, 11 tahun kejadian itu berlalu.
Namun belum ada investigasi yang serius untuk meneliti siapa-siapa yang berada di balik penyerbuan itu.
Boleh jadi, ini merupakan noktah sejarah, sebuah tragedi kemanusiaan yang dianggap tidak punya muatan politik.
Tapi lebih merupakan tragedi sosial yang menyelimuti relasi antaranak bangsa itu sendiri.
Karena itu, lupakan saja. Tapi, apa harus begitu?
Untuk sebuah kepentingan politik, apapun juga dapat terjadi.

July 25, 2007

Iraq Vs Saudi Arabia

Filed under: Sport

Iraq vs Saudi Arabia: Spirit Asia

Lolosnya Iraq ke final Asian Cup 2007 merupakan sejarah. Negara yang penuh dilanda kemelut perang itu menghempaskan tim ginseng Korea Selatan 4-3 melalui drama adu pinalti yang menegangkan. Sebenarnya saya pegang Korea, tapi kenyataan lain. Saya akui memang Iraq tim yang kuat saat ini di kawasan Asia. Berbagai konflik di dalam negeri tidak membuat kesebelasan negeri seribu satu malam ini patah arang. Sekalipun harus mempersiapkan tim di luar negaranya namun semangat untuk memberikan yang terbaik bagi rakyat dan negaranya luar biasa.
Mudah-mudahan prestasi tim Iraq membawa angin kedamaian di negara mereka.
*
Tahun 2007 ternyata kiblat sepakbola Asia ada di Timur Tengah. Di pihak lain sang singa gurun pasir Saudi Arabia menerkam tim favorit Jepang 3-2. Jepang yang bermain cepat dengan semangat kamikaze selama 2 x 45 menit harus mengakui kekalahan. Di partai inipun saya pegang Jepang. Ternyata prediksi saya kembali salah. Ketenangan dan kesabaran pemain Arab Saudi yang saya pikir berada di balik kemenangan itu. Selain karena hebatnya duet Malek al-Hansari dan Yasser al-Qahtani.
*
Itulah sepakbola. Iraq vs Saudi Arabia adalah hal yang obyektif jika melihat penampilan mereka sejak penyisihan group. Inilah spirit Asia.
Adalah kebanggaan bagi Indonesia manakala final tanggal 29 Juli dilaksanakan di Jakarta untuk memperebutkan juara 1 - 2 dan di Palembang untuk 3 - 4. Sekalipun tim Merah Putih gagal, namun setidaknya kita sangat berbangga karena pelaksanaan final dipercayakan di Indonesia.
(Saya jadi ingat ketika Indonesia dihantam 1 -2 oleh Saudi Arabia. Gol satu-satunya Indonesia dicetak Elli Aiboy setelah memperdaya Yasser al- Mosaelam kiper Saudi Arabia. Wah, hebat kamu Elli..)
*
Sempat terbersit pada diri saya, ai lemak nian uong kito ni ado tontonan bagus di Jakabaring.
Jakmania, jadilah tuan rumah yang bagus.
*
Kecewa karena Indonesia tidak tembus perempat final Asian Cup 2007? Jelas ada itu. Tapi sudahlah, Indonesia memang masih harus lebih banyak berbenah.
(Sekedar catatan sejarah, ketika di Olimpiade Melbourne penghujung tahun 1950-an Indonesia menahan Uni Sovyet 1 -1, Jepang tidak pernah bermimpi untuk mampu bermain bola kaki)

Nasib si Emas Coklat

Nasib si Emas Coklat

emoticon 

Sudah jatuh, tertimpa tangga. Setidaknya itulah nasib pemilik pohon cengkeh termasuk mereka yang bergelut dengan si emas coklat ini. Sekalipun harganya memasuki titik nadir, namun asa tetap digantungkan. Biaya pemeliharaan, biaya pemetikan, biaya penjemuran, biaya penjagaan, biaya keamanan, dan sederet biaya-biaya lainnya sudah tidak sebanding lagi dengan harga jual. Belum lagi saat-saat ini hujan di daratan Minahasa masih sering mengucur dari langit


Memang, sudah 10 tahun terakhir ini harga nya berfluktuasi,  dan terus merosot.  Bahkan tadi siang, saya coba cek di tingkat pedagang pengumpul, harganya terpatok Rp 28.500,- per-kg. Ini untuk kualitas standar, dengan kadar kotor 2% kadar air sekitar 10%. Masih jauh dari harga harapan, yaitu Rp 40.000,-/kg.emoticon

Awal-awal tahun 2000, harga si emas coklat ini di tingkat petani masih lumayan yaitu Rp 67.000,-/kg. Sejak itu mulailah mengalami penurunan, sekaligus berfluktuasi. Tahun 2002 Rp 44.400/kg, tahun 2002 menukik Rp 16.300,- (sehingga tanaman cengkeh banyak ditebang, kayunya dijual dijadikan kayu api atau penumbuk lesung). Kemudian tahun berikut naik lagi. 2004 Rp32.300,-/kg, 2005 Rp28.000,-/kg, 2006 menguat sedikit Rp 36.000,-/kg.

*

Bandingkan saat tahun 1978 misalnya. Harganya sangat fantastis, yaitu mencapai Rp 65.000,-/kg. Waktu itu ongkos transport dalam kota Manado masih Rp 30,-. Karena itulah barang ini (cengkeh) disebut emas coklat. Harga yang super wah  ini mengakibatkan banyak gaya hidup saat itu yang superheboh.

*

Sekarang, bagaimana? Berbagai upaya bahkan pressure   coba dilakukan. Mulai dari inisiatif mengundang dan melobi pabrikan rokok, memboikot rokok-rokok tertentu, meminta Pemerintah  (Provinsi) membeli cengkeh petani, termasuk isu mau berdemo di Istana Negara. Bukan main… Anehnya, petani ribut soal harga, para ekonom di Sulut, atau think tank  di Unsrat misalnya lebih banyak diam seribu bahasa.

*

Memang, kondisi ini membuat cara berpikir sudah tidak rasional. Apapun kiat yang dicoba, saya berpikir akan jauh panggang dari api. Persoalannya hukum ekonomi sekarang berbanding lurus dengan mekanisme pasar. Apalagi sekarang, sudah banyak daerah-daerah di Indonesia penghasil cengkeh.

* emoticon

Solusinya sederhana saja. Booming cengkeh nanti bulan Agustus/September, sekalipun saya tidak punya data riil berapa ton cengkeh yang nantinya siap dijual. Nah, cengkeh itu tahan dulu. Simpan baik-baik jangan dijual. Cuma ini memerlukan kekompakan semua pemilik cengkeh. Di sini berlaku hukum ekonomi. Supply sedikit, Demand banyak, Hargapun naik. Ini teorinya. Tapi, apa bisa. Sementara kebutuhan hidup dengan segala aksessorinya tidak mungkin ditunda, alias berjalan terus. Pabrikan juga tentu akan beli dari pihak lain, termasuk dari luar (efek pasar bebas).

*

Segala sesuatu itu ada waktunya.emoticon

*

Seyogianya, Pemerintah (Provinsi Sulut) juga institusi pendidikan seperti Unsrat memberikan rekomendasi atau apalah namanya, mengajak semua pihak untuk tidak larut  dan terpaku dalam eforia emas coklat. Buat satu terobosan, apa sebaiknya yang dilakukan. Tanaman apa yang dapat menjadi substitusi selain cengkeh itu. Ini perlu sebelum terlambat. Sulut ini bumi yang kaya, tanahnya subur. Namun sentuhan dan belaian bahkan political will  sangat diperlukan.

Que sera-sera, what ever will be, will be ?
I Yayat u Santi

 

 

July 23, 2007

Aku & Aldo

Filed under: Aku & Keluarga


Aku, Aldo dan Hari Anak Nasional 2007

Bagiku Aldo tidak sekedar buah cinta kasih saya dengan Helena Lumenta. Tapi dia adalah anugerah Tuhan yang terbaik dalam hidup aku. Karena itu, aku berkerja, semuanya  untuk anakku: Willy Reinaldo Nusantara.  Artinya,  aku bekerja, aku berpikir, melakukan sesuatu di dunia ini pada akhirnya tertuju bagaimana agar anakku itu selalu sehat, tetap dapat sekolah, selalu bahagia, sehingga nantinya dia dapat menjadi orang yang  berguna bagi bangsa dan negara.

Aldo adalah anak saya satu-satunya. Bayangkan, 4 tahun saya menikah, barulah dia lahir.

Aldo segala-galanya bagiku. Aku bertanggungjawab untuk membesarkan, mendidik dia, sekalipun dengan kehidupan yang jauh dari kemewahan. ( Karena aku cuma seorang pegawai negeri biasa. Segalanya untuk bangsa dan negara. Tapi itulah bagian dari warna kehidupan. Di lingkup PNS itu, sebuah kedekatan merupakan fenomena lurus dalam mendapatkan jabatan. Yang namanya disiplin atau DP3 atau Daftar Urut Kepangkatan atau apapun juga bentuk lainnya, itu saya lihat cuma formalistik belaka. Sedangkan aku orangnya sederhana saja bekerja sebaik-baiknya, apa adanya. Soal perlu kedekatan? Memang perlu untuk membangun karir, namun  ini bukan bagian hidup saya).

Oke, kembali ke ke aku dan Aldo.

Aldo baru berumur 10 tahun. Dia sekarang di kelas 6 SD di sebuah sekolah Katolik di Manado.

Terus terang saya tidak pernah memaksa dia untuk harus berprestasi di sekolah. Aku tidak mau membebani dia dengan harus begini atau harus begitu. Yang penting aku mamberikan teladan yang baik pada dia.

Pernah aku marah sekali pada Aldo. Akhirnya aku introspeksi diri, bahwa apa yang aku lakukan ke dia itu sebuah kesalahan yang aku lakukan. Aku minta maaf ke dia.

Sekalipun dia baru berusia 10 tahun namun suasana demokrasi selalu aku bangun dalam kehidupan di tengah rumah tangga. Artinya saya juga selalu minta pendapat dari Aldo untuk berbagai hal yang spesifik.

Misalnya saya tanyakan dia: “Bagaimana kalau nanti malam kita  makan di luar,  papi ada sedikit tambahan uang, karena papi baru menyelesaikan pekerjaan yang harus dilembur?”

Kalau dia Oke, aku tanyakan sebaiknya di mana. Aldo sukanya makan apa.

Intinya, saya tidak mau memaksakan kehendak pada dia. Kalau dia malas bikin PR, saya cuma bilang nanti ibu guru marah lho.

Pokoknya antara aku berusaha untuk tidak instruktif ke dia. Aku hanya menuntun, mengarahkan dia agar dia tumbuh dan berkembang sesuai dengan imajinasinya.

Bahasa kode

Penyederhanaan bahasa juga menjadi hal yang membangun suasana indah antara saya dan Aldo. Akronim-akronim dalam berkata selalu muncul, dan hanya Aldo dan aku yang tahu artinya. Contoh, saya katakan ke dia: Aldo kalau man jangan lupa sigi dan curam. (artinya: Aldo kalau mandi jangan lupa sikat gigi dan cuci rambut). Nanti mau matlam, Aldo belajar sekarang (matlam: mati lampu), Aldo jangan lupa tanas dan bamin (tanas: tambah nasi, bamin: banyak minum).

Dan masih banyak lagi akronim-akronim bahasa yang hanya dia dan saya yang tahu. Bahkan istri saya tidak semua tahu.

Ini bagian kiat saya untuk memberikan kesan bahwa hidup ini perlu suatu kebersahajaan.

Tentu banyak yang tidak setuju. Tapi itulah Aku dan Aldo.

Dia anakku, di juga sahabatku, di tempat aku melabuhkan dan meleburkan segala kegalauan dan kegilaan dunia.

Dengan istriku: dia adalah tulang rusukku. Pendamping hidup yang setia. Tanpa dia, Aldo entah di mana……

Dia adalah anak Indonesia. Di pundak dia pula  masa depan Indonesia  - Nusantara ini - dipertaruhkan.

July 14, 2007

Kalah Terhormat

Filed under: Sport

Kalah Terhormat

emoticon 

Hasil 2-1 untuk Arab Saudi adalah hasil maksimal.
Timnas PSSI untuk Piala Asia 2007 sudah bermain dengan semangat pantang menyerah setelah sebelumnya menyikat Bahrain 2-1. Sayang memang, kedudukan 1-1 tidak dapat dipertahankan. Malapetaka saat injuri time itu yang membuat dadaku sesak. Tapi itulah suatu pertandingan.
Superioritas tim Arab Saudi memang menjadi bayang-bayang yang sempat juga meragukan saya kalau Indonesia mampu bermain baik. Tapi bagi saya hasil 2-1 sudah maksimal.
Sayang, referee Mr. Ali al-Badawi (dari Uni Emirat Arab) yang memimpin tidak becus. Terlalu berat sebelah. Banyak keputusannya yang kontroversial, merugikan Indonesia. Benturan yang sangat biasa dalam pertandingan tersebut justru berakibat kartu kuning untuk pemain Indonesia. 

Saat injuri time (tambahan waktu 4 menit)  babak kedua, sebenarnya masih ada sekitar 2 menit tersisa, namun wasit telah meniup peluit panjang. Game pun berakhir.

Tapi apapun hasilnya, Bambang Pamungkas, Jandry Pitoy, Ellie Aiboi, Firman Utina, Kharis Julianto, Budi Sudarsono dkk telah bermain baik. Bahkan penonton yang memenuhi Gelora Bung Karno juga bertindak sportif, tidak berulah. Semua menerima kekalahan.
Salut untuk Presiden SBY yang ikut menyaksikan langsung pertandingan itu.
Buat Mr. Ivan Kolev, ini memang kado istimewa untuk anda. Happy Birthday to you. Usia ke-50 14 Juli 2007. Salam 4-3-3.

July 4, 2007

MKPD 2010

Filed under: Manado City

MANADO KOTA PARIWISATA DUNIA 2010
(BUKAN MENGGAPAI MIMPI)
Mengagumkan. Baru beberapa bulan usai pelantikannya, Walikota Manado Penatua Jimmy ‘Imba’ Rogi, Ssos dan Wakil Walikota H. Abdi Buchari mencanangkan obsesi, menjadikan Manado sebagai kota wisata dunia tahun 2010. Atau dengan sebutan Manado Kota Pariwisata Dunia 2010. MKPD 2010.
Obsesi ini jelas bukan sekedar retorika sebagai tonaas pakasaan ‘Wenang’ Manado - orang pertama sebagai pimpinan - yang dipilih secara demokratis masyarakat (baca:walak-walak) yang berdiam di kota Manado, tapi mengacu pertimbangan-pertimbangan yang sahih, eksak dan valid berdasarkan pada referensi  kultur masyarakat Kota Tinutuan itu sendiri. Kultur yang bagaimana itu, saya rangkum dalam beberapa telaah sosiologis, antara lain:
1.       Ciri masyarakat Manado yang easygoing sesuai karakter keminahasaan. Artinya  orang Manado itu mudah dan sangat terbuka (familier) menerima nuansa dari luar. Baik nuansa dalam kategori nasional maupun internasional. Sehingga ciri sebagai orang yang supel, luwes, kalau bacirita  apa adanya (blak-blakan) merupakan kredit poin tersendiri.  Mau bukti? Di Manado ada wilayah-wilayah (slum) tertentu yang pemukimannya dilatarbelakangi nama etnis lain, seperti: Kampung Cina, Kampung Arab, Kampung Jawa, Kampung Bugis, Kampung Bali, Kampung Ternate, dsb. Dan ini bukan hal luar biasa. Bagi orang Manado, kerukunan dan persaudaraan, kebersamaan diatas segala-galanya. Satu hal, orang-orang di sini pokoknya the smiling people.
2.       Perkembangan kota Manado yang sangat pesat selama 10 tahun terakhir yang ditandai dengan berdirinya berbagai pusat perbelanjaan  (mall)  maupun kawasan bisnis dan sarana-sarana publik lainnya  yang sangat representatif sebagai hasil reklamasi pantai, dengan letaknya yang eksotis yaitu di pinggir Teluk Manado langsung menghadap Gunung Manado Tua, Bunaken dan beberapa pulau kecil lainnya. Ini semua sangat mendukung akses bagi terselenggaranya aktivitas bisnis dan niaga yang prima bahkan dalam skala internasional sekalipun. Bandar Udara (Airport) Sam Ratulangi yang telah direnovasi, senantiasa berada dalan posisi stand by  di ujung bibir Pasifik, mampu didarati jenis AirBus 300 bahkan kelas Boeing sekalipun. Didukung pula dengan pelabuhan internasional Bitung yang siap menerima kapal-kapal bertonase besar merapat, baik kapal niaga (cargo), kapal penumpang, dan kapal-kapal berstandar internasional lainnya.
3.       Panorama wisata alam yang sofistikasi. Termasuk wisata budaya bahkan wisata kuliner. Menyaksikan matahari terbenam dari tepian Boulevard ke arah Manado Tua atau Bunaken sambil makan kukis pisang goreng panas-panas somo lupa komang itu ngoni pe stress. Atau morasa tinutuan di Waikeke deng depe par cakalang goreng, nike goreng, dan milu rebus kase dabu-dabu bakasang.  Atau biapong di Wayang, boleh juga. Nasi kuning khas Manado tersedia di kampung Kodo. Kong kalo ngoni ada doi lebe pijo pasiar di Bunaken - menyaksikan surga panorama bawah laut yang termasuk terindah di dunia. Oh ya, yang suka diving, please!

4.       Wisata seni dan budaya tersaji pula di kota Tinutuan, khususnya dari berbagai subetnis yang ada di Sulawesi Utara - Bumi Nyiur Melambai - seperti masamper, ampawayer, katrili, kabasaran, cakalele, musik bambu, kolintang, berbagai tari (maengket, pisok, dan lain-lain), mahzani, dsb. tersaji lengkap.   Cinderamata tersedia di berbagai tempat  seperti kain tenun bentenan, aneka pangan olahan seperti bagea, halua, kukis kelapa, cucur, panada, koyabu, brudel, betawi, lalampa, nasi jaha, dan masih banyak lagi. (terlalu banyak….)

5.       Dan yang penting pula, Manado itu kota yang aman dan tenang.Tapi bukan berarti bahwa kita bebas pamer kekayaan, misalnya melalui parade perhiasan yang nempel di bagian-bagian tubuh dan sengaja atau tidak sengaja diperlihatkan di tempat-tempat umum. So sala itu katu. Artinya begini, yang namanya copet atau tukang todong, relatif tidak ada di kota Tinutuan ini. Bukan berarti sama sekali tidak ada. Sebab kewaspadaan itu tetap perlu di mana-mana. Terus terang, bicara tentang berandal, begundal, preman, di sini juga ada. Tapi kalau kita jual senyum pada mereka niscaya mereka juga senyum pada kita. Sebab pada dasarnya mereka itu orang baik lho. Yang penting kita tahu menempatkan diri. Kalau mereka macam-macam, apa boleh buat, jangan ragu-ragu berteriak minta tolong, kalau perlu menghindar. Kalau sudah terjadi, tenang saja, ingat gestur sang pencoleng, dan lapor ke pihak berwajib. Ini kunci yang berlaku di mana-mana. Manado ada teroris? Sudahlah, kalau niat kita baik, Tuhan selalu menjaga dan memelihara kita. Amin.
6.       Di kota Tinutuan kita tidak bakalan dipusingkan dengan orang peminta-minta (pengemis). Orang Manado  itu anti dengan pengemis. Kalau mereka perlu uang, mereka akan bekerja tentunya.
Yang perlu mendapat perhatian adalah persoalan kebiasaan minum-minuman keras yang di sebagian kalangan orang Manado merupakan bagian hidupnya. Sehingga fenomena ini kerap menjadi kendala tersendiri. Alkohol yang terlalu banyak (over) menyebabkan seseorang menjadi tidak mampu menguasai diri (out of control). Akibatnya merugikan orang lain. Berteriak di jalan (bakuku), baminta di jalan, bahkan dalam berbagai kasus berakhir dengan bakalae sampai dengan bakutikang dan bakupotong. Persoalan ini yang perlu perhatian dari semua pihak. Baik dari Walikota Imba Rogi dan jajarannya, tokoh masyarakat, pemuka agama/gereja, dan siapapun yang berpredikat sebagai warga Manado.
Dan hampir lupa, the last but not the least, kebersihan kota tetap perlu dipelihara. Banjir dan longsor yang kerap melanda Manado di karenakan faktor kesiapan warga manado untuk terus memelihara kebersihan seperti membuang sampah di tempatnya sering-sering  so talupa akang. Karena itu program Pemerintah Kota Manado dengan Jumpa Berlian (Jumat  Pagi Bersih-bersih Lingkungan Anda) merupakan salah satu terapi memelihara Manado kota bersih. Bahkan pusat kota yang terkenal dengan label “stasiun” atau ‘45” itu, sekarang sudah steril dari Pedagang Kaki Lima (PKL).  Bahkan seluruh trotoar di kota Tinutuan sudah steril dari PKL, warung, dsb. Hasilnya ada, Manado - kota Tinutuan itu - mendapat Adipura. Ini sebuah garansi dari Pemerintah bahkan rakyat Indonesia, sebuah penghargaan bahwa Manado itu kota yang bersih.

Oke, welcome to Manado. MKPD 2010. Ingat: Boulevard, Bunaken, Bubur Manado, Bentenan, Bibir Manado (orang Manado itu bicara sampai baseri. Mau tahu apa baseri, ya, kalau bicara penuh sendagurau bahkan materi pembicaraan seperti tidak habis-habis. Selesai bicara yang satu mulai lagi bicara yang lain. Oh kalah, kata mereka yang dari subetinis Tonsea. Orekei, kata mereka yang dari subetnis Tontemboan) 

So, Manado Kota Pariwisata Dunia 2010. It’s a reality. Not a dream. 

wennym-umboh@hotmail.com.

July 1, 2007

Bunga Mendongkrak Sektor Ekonomi

Filed under: Tomohon City
DENGAN BUNGA, MENDONGKRAK SEKTOR EKONOMI

 

 

SAY ITS WITH FLOWER.  Ini ungkapan yang tak asing lagi  di telinga kita. Mengingatkan bahwa sesungguhnya ‘bunga’ melekat dalam bagian hidup manusia. Melekat dalam bagian budaya manusia. Dalam berbagai sisi dan jenjang keberadaan manusia itu sendiri – apapun yang menjadi lazuardi di asa manusia, fenomena bunga merupakan hal yang tak dapat dikesampingkan. Bunga identik dengan keindahan. Bunga identik dengan relasi antarmanusia. Bunga identik dengan harmonisasi kehidupan.

Sebagai bagian dari hidup juga bagian dari kultur manusia maka merajut peluang memasukkan bunga di sektor privat  adalah sah-sah saja. Bahkan sangat menjanjikan sekalipun dalam suasana yang mendebarkan. Artinya gerak kompetitif yang diharapkan memang masih harus melalui berbagai uji kelayakan dan ketangguhan sebagai prasyarat memulai segala sesuatu. Memang masih memiriskan. Secara nasional, bunga belum masuk dalam daftar produk yang menjadi devisa andalan Indonesia. Sebagai side product, bunga masih merupakan faktor   komplementer dalam fungsinya di tengah geliat ekonomi kita. Dan inilah yang harus di setting ulang. Belajar dari bangsa lain yang memobilisasi bunga  sebagai sumber devisa prima merupakan hal yang sangat perlu.

 Anggrek Alam Tomohon

Perlu fasilitasi
Bagi masyarakat  Kota Tomohon yang identik dengan Kota Bunga, Pemerintah di kota ini memang bertekad menjadikan bunga sebagai penggerak utama roda ekonomi. Tentunya serentetan upaya dan tekad terus digulirkan. Termasuk di dalamnya penyelenggaraan berbagai event yang mengetengahkan bunga sebagai primadona.
Tournament of Flowers yang dua tahun terakhir termasuk pameran bunga tahun 2007 yang dihadiri langsung Ibu Mufidah Jusuf Kalla menjanjikan bahwa upaya menjadikan bunga sebagai penggerak di sektor ekonomi merupakan kepastian. Its a dream come true.
Itulah sebabnya Walikota Tomohon  Jefferson  Epe Rumajar dalam berbagai kesempatan terus mengajak warga Kota Bunga memanfaatkan setiap jengkal halaman pekarangan untuk ditanami bunga. “Jadi dengan bunga tidak ada lagi yang gratis. Semuanya harus diperhitungkan nilai ekonominya. Dan ini tentunya untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya dalam satu kesempatan.
Untuk itulah maka memasyarakatkan bunga di sektor publik pada gilirannya merupakan kebijakan Pemerintah Kota Tomohon. Termasuk mendirikan laboratorium kultur jaringan di bilangan Tomohon Barat tepatnya di Woloan untuk tanaman hias guna melakukan penelitian bahkan pengembangan tanaman hias khas Tomohon guna memacu permintaaan pasar domestik bahkan inernasional.
Respons warga Tomohon memang bukan main. Dukungan dari berbagai elemen masyarakat  sangat luar biasa. Terbukti dengan terhiasnya Kota Tomohon dengan bunga di mana-mana. Sekalipun akhirnya harga jual bunga terjadi kenaikan, namun ini suatu hal yang positip bagi pertumbuhan ekonomi di kota ini.

Apalagi nantinya penyelenggaraan Tournament of Flowers 2008 merupakan bagian dari paket Tomohon Festival 2008 semakin ditingkatkan bobotnya dengan mengikutsertakan 33 provinsi se-Indonesia ditambah beberapa negeri jiran siap diajak berperan. Dan inipun akhirnya bakal dijadikan agenda wisata tahunan. Kalau sudah begitu, siap-siaplah masyarakat   Kota Tomohon untuk menerima turis domestik maupun mancanegara yang  akan bertandang ke Kota Bunga.
Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudoyono menjanjikan kesiapannya untuk menghadiri Tournament of Flowers 2008.
Oke, maju terus bersama bunga-bunga yang indah. (wmu)

 

 

 






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Riosoft