Pilkada DKI & Pilkada Minahasa
Pilkada DKI vs Pilkada Minahasa
Sebenarnya ketika ajang Pilkada Provinsi DKI tahun 2007 digulirkan, saya ingin menyaksikan pentas politik yang cantik dan apik. Suatu event yang menampilkan para anak bangsa di ibukota negara bertarung secara sehat dan fair menuju kursi Jakarta-1/Jakarta-2
Ternyata asa itu cuma mimpi di siang bolong. Masa’ sih cuma terakomodasi 2 pasang calon? Lho, pada ke mane tuh gacoan lain?
Padahal, dari segi jumlah penduduk, ditambah sekian banyak pentolan petinggi bangsa ini yang bermukim dan menetap di ibukota negara, menjadi stempel bahwa akan bermunculan sekian banyak - sekian pasang bakal calon menuju Jakarta-1/Jakarta-2 tersebut. Sebagai centre barometer kehidupan berpolitik, nuansa political minded sudah barang tentu sangat kental di negeri Bang Jampang dan Si Pitung ini. Setidaknya ini prediksi saya.
Ketika pertandingan baru masuk ke ajang pemanasan, banyak nama-nama yang masuk bursa pencalonan. Setidaknya sempat membuat kalang-kabut KPUD DKI maupun parpol yang nantinya akan dijadikan delman politik.
Ah, apa yang terjadi? Antiklimaks. Akhirnya cuma ada 2 pasang bakal calon yang terjaring dan maju. Adang Dorodjatun - Dani Anwar dan Fauzi Bowo - Prijanto. Yang lain pupus di tengah jalan. Lho, emangnye kenape?
Yah, biasalah. Mentok di regulasi. Regulasi politik.
Memang sulit kalau sudah mengacu pada kesepakatan aturan yang diberlakukan. Parpol juga punya kepentingan, dan tidak setiap orang dapat bebas ke luar masuk parpol apalagi orang itu tidak dikenal, tidak seirama dengan alunan musik parpol, setidaknya tidak memberikan nilai plus bagi parpol yang bersangkutan.
Mau masuk via non-parpol? Ini dia masalahnya. Undang-Undang tidak mengizinkan. Jadi bagaimana? Yah sudahlah, gulung saja asa untuk jadi Gubernur/Wakil Gubernur di Jakarta. Saya pikir, dalam suasana dan iklim yang merekomendasikan suatu alur demokrasi, sangat memungkinkan kalau ada yang mau mencalonkan diri tanpa melalui legitimasi parpol. Artinya, calon-calon dari grup independen (non-parpol) seharusnya perlu diberi kesempatan untuk ikut memikirkan dan memimpin rakyat.
Di Minahasa
Ternyata Minahasa nuansa politiknya lebih maju dari Provinsi DKI. Di Minahasa Pilkada masih kira-kira 6 bulan. Namun sampai saat ini, sudah banyak balon Bupati/Wakil Bupati yang siap maju. Baik politisi, pengusaha, birokrat, pemuka agama, dsb. Hanya saja saat ini baru PDI Perjuangan yang siap melabuhkan mereka-mereka ini. Tercatat dari mereka nama-nama seperti Arianne Nangoy, Decky Lantu, Janes Parengkuan, Johny Saerang, Ricko Giroth, Roy O Roring untuk ke pentas Minahasa-1, dan Barbara Oudang Muntu, Djendri Keintjem, Steven Kandouw dan Janes Parengkuan untuk Minahasa-2.
Sementara Golkar masih bermain matematika. Golkar di atas kertas punya gaco yaitu sang Ketua Golkar Minahasa - Bupati Minahasa sekarang. Belum lagi kompetitor lain dari Partai Demokrat atau Damai Sejahtera, atau gabungan beberapa partai.
Artinya segala kemungkinan dapat terjadi. Sehingga prediksi saya, akan terjaring paling tidak 6 balon menuju Minahasa-1/Minahasa-2.
Konklusi
Pilkada Minahasa tentu lebih greng dari Pilkada DKI. Setidaknya dari ramainya bursa balon mengindikasikan bahwa riuh rendah pesta demokrasi di Minahasa akan berjalan ramai, penuh sensasi. Bahkan satu hal: Pilkada Minahasa pasti ramai dengan bunyi piring dan sendok di meja panjang diiringi lagu-lagu pop, hingga lagu daerah.
Namanya juga pesta, dan pesta. Sudah tradisi. Apalagi ada maengket, kabasaran hingga musik bambu. Ah eloknya….
Sudahlah, yang penting ramai dan semuanya aman-aman…





