Bunga Rampai WMU

June 29, 2007

Pilkada DKI & Pilkada Minahasa

Filed under: Politik

Pilkada DKI vs Pilkada Minahasa

 

Sebenarnya ketika ajang Pilkada Provinsi DKI tahun 2007 digulirkan, saya ingin menyaksikan pentas politik yang cantik dan apik. Suatu event yang menampilkan  para anak bangsa di ibukota negara bertarung secara sehat dan fair  menuju kursi Jakarta-1/Jakarta-2
Ternyata asa itu cuma mimpi di siang bolong. Masa’ sih cuma terakomodasi 2 pasang calon? Lho, pada ke mane tuh gacoan lain?
Padahal, dari segi jumlah penduduk, ditambah sekian banyak pentolan petinggi bangsa ini yang bermukim dan menetap di ibukota negara, menjadi stempel bahwa akan bermunculan  sekian banyak - sekian pasang bakal calon menuju Jakarta-1/Jakarta-2 tersebut. Sebagai centre barometer kehidupan berpolitik, nuansa political minded sudah barang tentu sangat kental di negeri Bang Jampang dan Si Pitung ini. Setidaknya ini prediksi saya.
Ketika pertandingan baru masuk ke ajang pemanasan, banyak nama-nama yang masuk bursa pencalonan. Setidaknya sempat membuat kalang-kabut KPUD DKI maupun parpol yang nantinya akan dijadikan delman politik.
Ah, apa yang terjadi? Antiklimaks. Akhirnya cuma ada 2 pasang bakal calon yang terjaring dan maju. Adang  Dorodjatun - Dani Anwar dan Fauzi Bowo - Prijanto.  Yang lain pupus di tengah jalan. Lho, emangnye kenape?
Yah, biasalah. Mentok di regulasi. Regulasi politik.
Memang sulit kalau sudah mengacu pada kesepakatan aturan yang diberlakukan. Parpol juga punya kepentingan, dan tidak setiap orang dapat bebas ke luar masuk parpol apalagi orang itu tidak dikenal,  tidak seirama dengan alunan musik parpol, setidaknya tidak memberikan nilai plus bagi parpol yang bersangkutan.
Mau masuk via non-parpol? Ini dia masalahnya. Undang-Undang tidak mengizinkan. Jadi bagaimana? Yah sudahlah, gulung saja asa untuk jadi Gubernur/Wakil Gubernur di Jakarta.  Saya pikir, dalam suasana dan iklim yang merekomendasikan suatu alur demokrasi, sangat memungkinkan kalau ada yang mau mencalonkan diri tanpa melalui legitimasi parpol. Artinya, calon-calon dari grup independen (non-parpol) seharusnya perlu diberi kesempatan untuk ikut memikirkan dan memimpin rakyat.

 

Di Minahasa
Ternyata Minahasa nuansa politiknya lebih maju dari Provinsi DKI. Di Minahasa Pilkada masih kira-kira 6 bulan. Namun sampai saat ini, sudah banyak balon Bupati/Wakil Bupati yang siap maju. Baik politisi, pengusaha, birokrat, pemuka agama, dsb.  Hanya saja saat ini baru PDI Perjuangan yang siap melabuhkan mereka-mereka ini. Tercatat dari mereka nama-nama seperti Arianne Nangoy, Decky Lantu, Janes Parengkuan, Johny Saerang, Ricko Giroth, Roy O Roring untuk ke pentas Minahasa-1, dan Barbara Oudang Muntu, Djendri Keintjem, Steven Kandouw dan Janes Parengkuan untuk Minahasa-2.
Sementara Golkar masih bermain matematika. Golkar di atas kertas punya gaco yaitu sang Ketua Golkar Minahasa - Bupati Minahasa sekarang. Belum lagi kompetitor lain dari Partai Demokrat atau Damai Sejahtera, atau gabungan beberapa partai.
Artinya segala kemungkinan dapat terjadi. Sehingga prediksi saya, akan terjaring paling tidak 6 balon menuju Minahasa-1/Minahasa-2.

 

Konklusi
Pilkada Minahasa tentu lebih greng dari Pilkada DKI.  Setidaknya dari ramainya bursa balon mengindikasikan  bahwa riuh rendah pesta demokrasi di Minahasa akan berjalan ramai, penuh sensasi. Bahkan satu hal: Pilkada Minahasa pasti ramai dengan bunyi piring dan sendok di meja panjang diiringi lagu-lagu pop, hingga lagu daerah.
Namanya juga pesta, dan pesta. Sudah tradisi. Apalagi ada maengket, kabasaran hingga musik bambu. Ah eloknya….
Sudahlah, yang penting ramai dan semuanya aman-aman…

 

 

 

 

Pilkada Minahasa

Filed under: Politik


Meniti Demokrasi di Tanah Minahasa

 

Pilkada Bupati dan Wakil Bupati di Kabupaten Minahasa yang agenda politiknya dilaksanakan sekitar Desember 2007 atau paling lambat awal 2008 merupakan event politik penting dan perlu kesiapan matang sekaligus perlu kehati-hatian dan kecermatan di setiap lini, termasuk institusi yang punya keabsahan dalam menyiapkan dan memfasilitasi suksesi tersebut.

Merupakan agenda politik yang penting, dengan dilatarbelakangi paling tidak 4 (empat) fenomena sebagai berikut:

1.         Bagi Sulawesi Utara disadari atau tidak, Minahasa merupakan barometer sekaligus denyut nadi bumi Nyiur Melambai. Dari ranah Minahasa inilah banyak dilahirkan para think tank  yang telah dan sedang mengarsiteki perjalanan Sulawesi Utara khususnya maupun di tengah-tengah pentas belantara nusantara Indonesia  saat ini bahkan sejak era pergerakan nasional. Sejarah merangkum sertra mencatat fenomena tersebut sebagai pembuktian empiris. Oleh karena itu diharapkan, melalui pilkada dimaksud pada gilirannya mampu menghasilkan terobosan penting dan berbobot guna memberikan pencerahan dan pencitraan positip bagi Sulawesi Utara.

2.         Minahasa pascapemekaran diharapkan tetap memelihara spirit dan identitas ke-minaesa-an. Dan pilkada Kabupaten Minahasa merupakan ajang pembuktian hal ini. Secara skematis, dengan 18 kecamatan saat ini dan didominasi subetnis toulour, toutemboan, toumbulu, dan dengan 300.650 jiwa saat ini yang mendiami wilayah seluas 1.024 km2 tentu bukan menjadi tolok ukur bahwa persoalan menjadi non-kompleks. Justru diprediksi eforia di lingkup akar rumput penuh resistensi, serta sangat mungkin mencuat manakala dan ketika aura politik bersifat non-akomodatif.

3.         Sebaliknya harus pula dipahami bahwa masyarakat Minahasa memiliki dan mewarisi tradisi kepekaan politik yang tinggi atau di atas rata-rata. Indikasi bahwa pendidikan politik menjadi bagian kehidupan tatanan kemasyarakatan, ditandai dengan kultur terbuka terhadap konteks baru (easy going). Artinya, sikap itu melahirkan suatu keinginan untuk belajar dari pengalaman-pengalaman baru dan menyerap serta memilih nilai-nilai baru. Daya serap yang fokus memungkinkan ada kemampuan penerimaan  secara mudah, gamblang  dan absolut apa yang diintroduksi dari luar termasuk budaya politik dimaksud. Namun  kepekaan politik yang intens dapat saja menjelma menjadi kepiluan politik manakala proses politik yang non-akomodatif bahkan non-apresiatif mencuat, menggesek bahkan membentur karakter politik di wilayah akar rumput.

4.         Bagaimanapun juga diharapkan outcome pilkada akan memunculkan kepemimpinan  tonaaas wangko um banua  yang konsisten dan mampu menstimulasi, melakukan perubahan bahkan pembaruan weltanschaung Minahasa ke depan pascapemekaran wilayah  bahkan seluruh bumi malesung ke depan. Artinya, konsekuensi logis dari eforia otonomi yang  di satu sisi melahirkan kecenderungan-kecenderungan   sektarian atau  primordialisme kedaerahan sempit, perlu direkonstruksi dalam konteks sistem budaya yang tepat sesuai karakter tou-minahasa yang ulet, pantang menyerah, siap melakukan apa saja untuk suatu kebaikan bersama. Tonaas wangko um banua harus mampu melakukan sekaligus  penyesuaian visi pada tataran nilai kultural sebagai jawaban atas perkembangan peradaban global.  Merekonstruksi visi ini semakin perlu manakala di berbagai daerah lainnya semangat bahkan etos nasionalisme dalam bingkai NKRI yang berdasarkan Pancasila mulai diusik-usik. Dengan demikian, kepemimpinan 5 tahun ke depan  tonaas wangko sudah memberi arah: mau dibawa  ke mana Minahasa ke depan?

            I Yayat u Santi !  (wennym-umboh@hotmail.com.)

June 25, 2007

Pilkada DKI: Calon Independen?

Filed under: Politik

Pilkada DKI: Calon Independen, Monggo..?

        Bagaimanapun Pilkada DKI Jakarta tetap menarik diikuti. Fenomena klasik: DKI Jakarta sebagai ibukota negara semestinya menjadi tolok ukur  atau barometer  bagi  mekanisme maupun sistem politik pilkada di tanah air. Logikanya begitu. Walaupun ini cara pandang yang tidak logis! Disatu pihak, sebagai lokus yang paling dekat dengan suprastruktur kekuasaan maupun dapur kebijakan politik nasional, tentu rakyat Jakarta setidaknya lebih political minded ketimbang daerah lain di Indonesia.

        Ternyata ada hal menarik.

        Hasil penelitian Pusat Kajian Politik FISIP UI  menyimpulkan 37% pemilih di DKI butuh calon non-partai alias independen. Bahkan 68% menyatakan belum ada pilihan (ini logis karena hari H masih sekian lama eh, tidak juga. 8 Agustus 2007 sudah di depan mata). 24% masih ragu hak pilih, dan 8% menyatakan tidak akan gunakan hak pilih.

        Ini masyarakat Jakarta. Hasil penelitian ini tentu perlu direspons. Terserah direspons secara positip atau dengan sebelah mata. KPUD DKI tentu lebih memahami, karena otoritas institusional pelaksanaan Pilkada ada pada mereka.

        UU 32/2004  memberikan regulasi calon Kepala Daerah plus Wakilnya dicalonkan parpol atau gabungan parpol. Secara kasat mata ini menggugurkan impian adanya calon independen.

        Ini ‘kan Indonesia. Kalau untuk kebaikan bersama, bagi calon independen, monggo wae mas. Emangnye kenape sih.. bang..
        Hus, jangan nabrak-nabrak aturan. Aturan dibikin untuk kebaikan bersama.
        Cikini di Gondangdia
        Aku begini karena dia
        Happy birthday Jakarta. 480 year’s old. I  love  you.emoticon
       

June 23, 2007

Jakarta: Open for All?

Filed under: Fenomena Sosial

Jakarta: Open for All ?

 

Tahun ini Jakarta - ibukota negara RI - berusia 480 tahun. Momentum HUT tahun ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, sekalipun substansinya tetap begitu-begitu saja, seperti PRJ selama 1 bulan, pesta rakyat di tiap wilayah, pentas  seni dan sederet seremoni lainnya.
Tahun ini HUT Jakarta diwarnai dengan persiapan menyongsong Pilkada langsung Gubernur dan Wakil Gubernur yang akan menakhodai ibukota negara RI 5 tahun ke depan. Jadi tanpa disadari, ada kilasan sekaligus  nuansa politik yang membaur di dalam perhelatan HUT Jakarta tahun ini. (Bagi gue, emang rada aneh, masa’ sih penduduk Jakarte udah sekian belas jute, sekian banyak tokoh nasional baik di lingkup birokrat, militer, publik figure, pengusahe, dsb hidup di sane, eh cuma  terakomodasi 2 pasang balon gub ame wakilnye? Secare matematis, kalo’ ade 10 pasang umpame, itu mah logis aje Lho, emangnye kenape kalo cuma 2 pasang, sewot lo  WMU. Ah, kagak la yau..).
Secara pribadi, saya punya hubungan emosional dengan Jakarta.  Sekian puluh tahun lalu, saya menimba ilmu di sana. Lebih kurang 7 tahun saya berkutat dengan perkuliahan di Universitas Indonesia, tepatnya di FISIP UI, yang lokasinya saaat itu masih di Rawamangun Jakarta Timur. Saya tinggal di kawasan Tanjung Priuk, walau akhirnya eksodus alias kontrak rumah pondokan di Jalan Pemuda, dekat dengan kampus. Selain itu, saat ini ada beberapa kita pe saudara kandung yang kerja dan menetap di Jakarta. Jadi bagi saya kedekatan dengan Jakarta masih terasa sampai sekarang ini.
Dibandingkan waktu saya masih di sana - sekitar 30 tahun lalu - dengan saat ini, secara kultural tidak ada perubahan signifikan. Beda-beda tipislah. Copet di bus maupun kriminalitas tetap mengintai, penumpang KRL tetap padat dan semakin padat. Kawasan kumuh tetap ada.
Jakarta tetap merupakan melting pot. Di sini orang dipersilahkan mengadu juntrungannya. Di sini surganya mengadu nasib.
Secara fisik memang Jakarta 30 tahun lalu dengan sekarang, wow, beda banget. Sekarang ini Jakarta sudah mulai jadi hutan beton, bangunan tinggi pencakar langit merambah. Tapi satu hal yang dipastikan tidak berubah cuma satu: Jakarta tetap sebagai sosok pelanggan banjir  yang setia tiap tahun. Bahkan intensitas maupun cakupan wilayah yangg kena banjir semakin meluas. Sehingga ada diskursus, bagaimana kalau ibukota negara dipindahkan ke tempat lain yang aman dari banjir?.
Jakarta di mata saya tetap seperti dulu. Masyarakat Betawi-nya tetap berada di posisi sub-urban. Karena itu, kalau saja si Jampang atawa si Pitung bangkit dari kuburnye, pastilah kaget. Justru kaum Betawi jadi marginal terdesak oleh pendatang? Oh, impossible. Believe it or not?
Yang jelas apa yang dicita-citakan Pahlawan Nasional Muhammad Husni Thamrin untuk menjadikan Jakarta yang nasionalis dan berbudaya masih harus terus diperjuangkan. Bukan hanya oleh kalangan Betawi, namun seluruh rakyat Indonesia. Jakarta adalah simbol eksistensi negara. Eksistensi multi etnis. Bukti nyata: orang dari etnis Minahasa pernah jadi Gubernur di Jakarta.
Pertanyaannya: Jakarta open for all?   Ah, susah-susah gampang ngejawabnye. Kudu berpikir. Yang jelas hidup di Jakarta mesti tahan banting, selain harus punya skill.  Lho emang begitu, sejak Batavia, Sunda Kelapa dan seterusnya, hidup di Jakarta harus berani-berani. Itu so pasti. Buktinya si Jampang, si Pitung, mereka berani-berani.
Jangan datang ke Jakarta kalau akhirnya cuma jadi beban  atau merepotkan Pemerintah DKI di sana. Yang jelas pegang filosofi ini: Sekejam-kejamnya ibu tiri, lebih kejam ibukota negara!.
Kalau saya ke Jakarta, yang lebih dahulu saya lakukan adalah melakukan nostalgia dan nostalgile, seperti: makan di warteg, naik bus berdiri (sambil jaga popoci), ke Ancol, ke Pasar Baru, ke Senen, ke Pasar Ular, ke tukang loak di Pasar Rumput,ke museum Fatahillah, ke TMII, nonton di bioskop Trio di Tanjung Priuk (he..he…he…). Di bioskop ini, masih berlaku sistem interval (setengah pertunjukan istirahat). Di bioskop ini pula penontonnya suka bertepuk tangan atawa tereak-tereak, apalagi kalau yang maen film India, atau silat Cina seperti kungfu Bruce Lee dan  Pendekar Shaolin. Juga ke Taman Lawang, ngeliat banci, ke Marunda Cilincing, dan masih banyak lagi. Ke Kramtung? Nggak la yau. Sori…
Sapa suru datang Jakarta. So what gitu lho. Idih, amit-amit… (wennym-umboh@hotmail.com.)

June 19, 2007

Viva Laskar Kalinyamat

Filed under: Sport

 

Viva Laskar Kalinyamat

 emoticon

Pertarungan dramatis. Melalui adu pinalti setelah skor tetap 0 - 0 lewat perpanjangan waktu 2 kali 15 menit Persib Maung Bandung pupus ambisinya untuk melaju ke 16 besar Copa Indonesia 2007. Adu pinalti yang menegangkan itu disudahi Laskar Kalinyamat Persijap Jepara dengan kemenangan 4 - 3.

Jelas Bobotoh kecewa berat. Tapi itulah permainan. Sama seperti ketika Persekappas membuyarkan  mimpi Arema Malang di Gajayana kemarin.

Permainan menyerang Maung Bandung berhasil diredam dengan pertahanan grendel anak-anak Jepara, ditambah penampilan luar biasa kiper Persijap Fance.

Salut Laskar Kalinyamat! Persib juga bermain baik.

Seandainya tim Merah Putih Indonesia  mengkolaborasi bermain menyerang seperti Persib dan bermain bertahan seperti Persijap, saya yakin tim Merah Putih akan ditakuti siapapun juga. Artinya semangat juang, semangat bermain tak pupus selama bola ada di lapangan.

Sekali lagi, selamat untuk Persijap Laskar Kalinyamat Jepara.

Dewi Fortuna tidak berpihak ke Maung Bandung. Sekalipun sebenarnya di menit akhir babak II perpanjangan waktu Persijap harus diberi hadiah pinalti, setelah pemain depan Persijap dijatuhkan Bayu Suta di daerah pinalti Persib. Wasit M. Syueib masih menolong Persib. Namun kutukan jatuh saat adu pinalti itu. Lorenzo Cabanas dan Suwita Patah - sang kapten Maung Bandung - gagal menceploskan bola ke gawang Fance.

Yang jelas kedua tim bermain bagus.  Cuma kali ini Maung Bandung yang harus menerima kekalahan. Bobotoh juga harus terima.

Itulah fair play.  Di olahraga kalah dan menang hal biasa. Di olahraga juga kalah dan menang hal luar biasa.

Olahraga penuh kejutan, sama seperti politik. Cuma olahraga ada sportifitas, politik ada intrik dan kekuasaan. (Tiba-tiba saya teringat, di Way Kambas Lampung, gajah juga dapat bermain sepakbola. Namanya sepakbola gajah. Pintar juga gajah-gajah di sana…)

(wennym-umboh@hotmail.com.)

Dirjen Hortikultura: “SDM Harus Dipersiapkan”

Filed under: Tomohon City

 

Dirjen Hortikultura: “SDM Harus Dipersiapkan”

 

Berbagai upaya,  terobosan, maupun gebrakan Pemerintah Kota Tomohon  mewujudnyatakan Kota Tomohon sebagai Kota Bunga terus mengalir tak pernah henti. Mulai dari sosialisasi program  dan blueprint ke berbagai komponen masyarakat dan para stakeholders  lainnya, mengirimkan kelompok petani bunga menimba pengetahuan tentang bunga atau tanaman hias di sentra-sentra florikultura  seperti Cipanas, Lembang di Jawa Barat, termasuk di dalamnya mengundang petinggi birokrasi  dari Jakaarta, yang punya otoritas guna memberi bobot dan referensi bagi pencitraan Kota Bunga itu sendiri.
Secara keseluruhan ini semua memerlukan keseriusan, ketekunan, bahkan harus pandai-pandai dan bijak memanfaatkan momentum. Karena itu pencanangan “Tomohon Menuju Kota Bunga” yang dilakukan Dirjen Hortikultura Departemen Pertanian RI Dr. Ir. Ahmad Dimjati MS tanggal 9 Mei lalu, merupakan bagian penting yang harus diperhitungkan.
Saat berkunjung ke Kota Tomohon, Dirjen Hortikultura bersama Direktur Tanaman Hias Ir. Budhy Marwoto, MSi terkesan dengan pandangan pertama. Beraneka bunga dan tanaman hias  di sepanjang jalan arteri Kota Tomohon membuat Dirjen Hortikultura kagum. Tak ayal ketika  rombongan Departemen Pertanian RI menginjakkan kaki di halaman Kantor Walikota Tomohon, kepada Flower City News Ahmad Dimjati  mengatakan, sebagai Kota yang baru berusia 4 tahun,  ini fenomena luar biasa. “Saya sendiri tidak menyangka lho mas,” ujar Dirjen Hortikultura kepada Flower City News.
Saat menyampaikan sambutan – yang didahului dengan penanaman tanaman hias di halaman Kantor Walikota –  dalam acara pencanangan “Tomohon Menuju Kota Bunga”, Dr. Ir. Ahmad Dimjati MS menilai bahwa prospek Tomohon dengan mengandalkan florikultura  sebagai upaya peningkatan ekonomi sangat baik. Bagi Dimjati, potensi dan kultur masyarakat Kota Tomohon yang melekat dengan bunga merupakan hal yang menguntungkan. Namun di sisi lain Dirjen Hortikultura mewanti-wanti bahwa kultur itu sendiri harus dipadankan atau didampingi dengan perkembangan teknologi modern. Artinya, dalam bercocok-tanam atau mengusahakan tanaman hias sebagai industri florikultura,  perlu diisi sentuhan-sentuhan teknologi pertanian. “Tidak cukup hanya dengan cara-cara konvensional. Apalagi topografi Kota Tomohon sangat mendukung,” tutur Dimjati.
Hal yang menarik saat berdialog dengan para petani bunga, Dirjen Hortikultura menekankan bahwa keberadaan Sumberdaya Manusia (SDM) untuk mendukung gerakan pemberdayaan florikultura merupakan hal mendasar yang harus dipersiapkan. SDM  tersebut dikatakan Ahmad Dimjati harus mempunyai wawasan dan pengetahuan  dalam mengelola tanaman hias. Dimjati mengingatkan perlunya kerja keras dalam menekuni bidang ini, sekaligus  digarisbawahinya agar petani bunga menanam bunga yang punya nilai jual.
Di tingkatan Pemerintah Kota, Ahmad Dimjati menekankan perlunya sinergitas antar unit, seperti Dinas Perdagangan, Dinas Koperasi, Dinas Pertanian, Dinas Pekerjan Umum, dan sebagainya. Diutarakan Dirjen Hortikultura, sinergitas dan koordinasi harus jalan, mengingat Pemerintah Kota berfungsi sebagai fasilitator maupun motivator dalam mengembangkan florikultura sebagai industri.
Sebuah masukan yang penting dari Pak Dirjen…
 (wennym-umboh@hotmail.com.)
 

 

 

 

 

 

 

June 17, 2007

Sabung Ayam: Perlu Diperbolehkan?

Filed under: Fenomena Sosial

Sabung Ayam:  Perlu Diperbolehkan?

 emoticon

Tadi sore, di Stasiun TV Lativi, saya  mengikuti tayangan  ringan  berupa berita mengenai adu domba di Bogor. Adu domba ini  merupakan ajang yang memang memperkelahikan domba, dan  dari domba yang menang  sipemilik tentu akan mendapatkan hadiah (menang taruhan, kira-kira begitu…).

Sekalipun kegiatan ini sifatnya mengadu binatang, namun ada hal lain yang mau diangkat dari  fenomena ini.

Di tayangan tersebut, melalui acara memperkelahikan binatang domba, juga dijadikan ajang pameran domba  - yang tentu saja domba yang ditampilkan adalah domba yang gagah dan bagus potongan tubuhnya -. Kalau domba ini juga adalah yang  selalu menang jika diadu, maka harganya bisa mencapai puluhan juta. Bahkan kegiatan ini direstui Pemerintah Kota Bogor, karena menjadi aset wisata.

Oh yaa, domba-domba yang diadu tersebut  ketika diperkelahikan, harus memenuhi kriteria tertentu  dan ada ketentuan-ketentuan yang  menjadi syarat  saat perkelahian berlangsung. Katakanlah mereka - domba-domba itu - harus bermain secara fair play kira-kira.

Di daerah saya - Minahasa - memang tidak dikenal adu domba itu. Tapi ada masyarakat di sini gemar melakukan sabung ayam. Dan ini ada hadiahnya, yaitu hasil bertaruh tentunya.  Penggemarnya dari segala kalangan. Baik bawah, menengah hingga kalangan atas.

Kegiatan ini dilarang atau tidak direstui Pemerintah  juga para tokoh agama dan berbagai elemen masyarakat lainnya. Karena dianggap menyabung ayam ini  sudah masuk di arena judi dan pertaruhan, serta tidak bermoral karena memperkelahikan binatang secara sengaja (bahkan brutal?). Mungkin itu dasarnya. Karena dilarang, maka penggemar adu ayam melakukannya secara sembunyi-sembunyi, supaya tidak diketahui aparat.

Saya kembali ke adu domba itu. Mengapa  bisa ya… Toh substansinya sama, yaitu mengadu hewan untuk kepuasan adrenalin manusia.

Apa bisa kalau kegiatan sabung ayam ini dihalalkan? Artinya, ketika hewan ini diadu, harus ada syarat-syarat pertandingannya. Misalnya berapa ronde, berapa menit tiap ronde, tanpa taji misalnya, dan sebagainya. Dari ajang ini, sekaligus dilombakanlah atau dipamerkanlah ayam-ayam yang gagah, berkokok unik, Tentu kalau ada transaksi, ayam-ayam demikian berharga mahal. Di satu pihak orang berusaha memelihara ayam sebaik-baiknya supaya melalui ayam ada peningkatan kesejahteraan hidup, dan sebagainya, sekaligus sebagai tontonan menarik, kalau perlu dikembangkan sebagai aset wisata pula, sebagaimana adu domba di Bogor.  Tentu, harus ada restu dari Pemerintah.

Ini cuma gagasan mbeling.  Kesemuanya tergantung kita semua. Cuma, moralitas mau dikemanakan? Atau ada pendapat lain? Silahkan…Kukuruyuuuukkk! Petok, petok!

 

Singo Edan vs Laskar Sakera

Filed under: Sport

Singo Edan vs Laskar Sakera

 

Sebuah pertarungan yang luar biasa.

Dari partai hidup mati Arema ‘Singo Edan’ vs Persekappas ‘Laskar Sakera’ Pasuruan di leg kedua   Copa Indonesia 2007, memupuskan harapan Aremania untuk menyaksikan klub kesayangan mereka melaju ke babak 16 besar.  

Bermain sore ini di Stadion Gajayana Malang, tuan rumah berhasil ditahan tim tamu dengan skor 0 - 0. Sehingga Arema - jawara 2 kali berturut-turut Copa Indonesia sebelumnya - secara keseluruhan  kalah dengan agregat 0 -1.

Padahal, sebelum bermain saya optimis, pasukan  Singo Edan  akan mengamuk dengan skor kemenangan 2 - 0. Ternyata hasilnya di luar dugaan saya.

Permainan  sepakbola bertahan anak-anak Laskar Sakera benar-benar saya perlu acungkan jempol. Bermain di bawah tekanan - yang praktis selama 90 menit permainan dikuasai Singo Edan - ditambah tekanan Aremania yang meluber hingga ke pinggir lapangan, ditambah kepemimpinan wasit yang cenderung berpihak ke tuan rumah, tidak mengendorkan semangat juang Laskar Sakera.

Anak-anak Pasuruan sangat disiplin menjaga pertahanan mereka, di samping performance  kiper Ronny Tri Prasnanto yang gemilang  menyelamatkan dan mementahkan sekian banyak peluang Arema. Sebaliknya, pemain-pemain Arena terlalu emosional  dan tidak tenang dalam menyelesaikan setiap kesempatan untuk mencetak gol.

Tapi di luar semua itu, bagi saya kedua kesebelasan telah menampilkan sebuah permainan yang terbaik.

Sayang, tim-tim dari Sulawesi Utara (Persmin ‘Manguni’ Minahasa, Persibom ‘Fajar Bulawan’ Bolaang Mongondow, dan Persma ‘Badai Biru’ Manado)  sudah harus  out  saat Copa  2007 ini dimulai. Alasan, mereka lebih fokus ke Liga Divisi Utama. Bahkan Persma Manado sebelum bertanding  sudah menyatakan tidak mau ikut di ajang Copa 2007 tersebut. Tim-tim Sulut ini disibukkan dengan urusan pembentukan tim memasuki putaran II Divisi Utama. Sehingga tim seperti Persmin atau Persibom cuma memainkan lapis kedua mereka. Artinya memang sengaja siap kalah.

Sayang, sementara tim-tim lain seperti Arema, Persekappas, dsb sangat serius di Copa ini, tim-tim  Divisi Utama Sulut masih berkutat di ajang “seleksi” dan “pembentukan tim”.

Persoalannya pula, Persmin dan Persibom dipecundangi kesebelasan yang notabene setingkat di bawah mereka.

Fantasi saya kembali ke Pentas Divisi Utama 2006. Ketika itu Persmin Minahasa bersama Persekappas Pasuruan tampil  bersama sebagai juara ketiga. Bahkan Persmin dinobatkan sebagai tim fair play.

Dari ajang Copa 2007 ini paling tidak saya bisa menilai bagaimana kesiapan tim-tim Divisi Utama Sulut.

Saya berharap ada kejutan  yang diciptakan  tim-tim Sulut di pentas Divisi Utama  2007 ini. Artinya,  filosofi mengorbankan suatu kesempatan untuk memenangkan peluang lainnya dapat dibuktikan. Sebuah pembuktian, sebuah keharusan. Gol…….!

 

 

 

 

 

 

June 13, 2007

Soal PLTN: Itu “kan Baru Wacana

Filed under: Fenomena Sosial

Soal PLTN: Itu ‘kan Baru Wacana?

 emoticon

            Sebagai bangsa merdeka, kita bebas melakukan apa saja sejauh itu ditujukan untuk kesejahteraan dan kemaslahatan rakyat. Tentunya sesuai dengan ridho Allah.emoticon

            Karena itu, ide dari para teknokrat kita untuk membangun PLTN di Semenanjung Muria perlu  kita hargai sekaligus perlu pula ditelaah bersama. Artinya, ini menyangkut masa depan bangsa Indonesia. Bukan hanya masa depan rakyat Indonesia di Jawa, Madura dan Bali;  yang secara konseptual nantinya akan memperoleh outcomes  dari pengelolaan PLTN itu.

            Memang, Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) yang berkedudukan di Serpong Banten sudah mewanti-wanti bahwa ke depan energi nuklir ini merupakan opsi yang relevan dengan situasi dan kondisi manakala akhirnya kita harus menghadapi paceklik sumberdaya energi yang tidak dapat diperbaharui. Seperti BBM, batubara, dan lain sebagainya. Apalagi, pengalaman mengelola energi nuklir ini, kita sudah punya. Sebut saja reaktor nuklir yang ada di Bandung (sejak tahun 50-an), Jogyakarta (tahun 70-an), dan Serpong (tahun 80-an). Ini semua dimanfaatkan sebagai radio isotope yang bermanfaat  di bidang pertanian, peternakan, dan kedokteran.

            Nah, PLTN yang rencananya akan dibangun di Muria, tentu sangat berbeda dengan apa yang ada di Bandung, Jogyakarta maupun Serpong. Reaktor nuklir  Muria ini nantinya akan memasok  kebutuhan listrik di wilayah yang disebutkan di atas.  

            Kita harus acungkan jempol terhadap teknokrat kita - sebagai anak bangsa - yang telah memikirkan secara kritis segala sesuatu yang memang diperlukan bagi kesejahteraan  rakyat di negara tercinta ini.

            Tapi kita perlu pula belajar dari sejarah pengalaman negara lain yang menggunakan energi nuklir ini. Peristiwa bocornya reaktor nuklir di Chernobel Ukraina  pada 26 April 1986 tentu masih membekas di ingatan kita. Meluluhlantakkan warna kehidupan dan lingkungan di sana. Ribuan orang mati tragis, dengan lingkungan yang akhirnya rusak fatal. Di Cina  beberapa tahun lalu terjadi pula kebocoran reaktor, dengan dampak yang sama.

            Ilmu Pengetahuan dan Teknologi merupakan sahabat manusia manakala digunakan  berdasarkan reasoning  yang penuh kearifan. Manusia yang mengelolanyapun harus orang yang benar-benar  berkarakter kemanusiaaan, bermartabat kemanusiaan. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi hanya sebagai bagian untuk membangun harkat kemanusiaan itu sendiri.

            Barangkali penguasaan teknologi kita siap. Tapi karakter kemanusiaan itu sendiri perlu dipertanyakan. Kita harus malu, ketika teknologi yang kita mainkan justru tidak mampu menyelesaikan masalah kemanusiaan yang diakibatkannya. Lihat saja melubernya lumpur di Porong Sidoarjo. Tragedi kemanusiaan yang akhirnya sebagai bangsa kita tidak tahu persis mau berbuat apa. Segala macam cara telah diambil untuk menghentikan lumpur itu, tetapi belum ada hasil yang signifikan.

            Sedangkan mau mengatur harga minyak goreng yang saat ini naik kebablasan, berbagai jurus yang dikeluarkan  agar harga minyak goreng turun wajar belum terlihat hasilnya.

            Kalaupun PLTN itu action, mau dibuang ke mana limbahnya?

            Intinya, perlu dibuka ruang publik,  yang memberi kesempatan  berbagai komponen anak bangsa mendiskusikan wacana ini. Perlu tidak PLTN itu ada. Kalau perlu, waktunya kapan?  Bagaimana SDM pengelolanya. Kalau PLTN tidak perlu, energi alternatif apa yang perlu disiapkan atau diberdayakan, dan seterusnya.

            Memang proyek  berteknologi tinggi yang riskan itu, perlu kajian matang.

             

           

              

           

            emoticon

June 1, 2007

Selamat Waisak 1-6-2007

Filed under: Greetings

 

Kepada seluruh umat Budha, dengan sukacita saya mengucapkan:

 

Selamat merayakan Hari Suci Waisak  1 Juni 2007

 

Bagi saya karakter maupun spirit hidup  Sang Budha - Pangeran Sidharta Gautama - merupakan teladan bagi umat manusia dalam  merangkul, mengisi dan berjuang mengatasi persoalan kehidupan. Pahit dan manis adalah  bagian utuh dari kekayaan dan citra kemanusiaan itu sendiri.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Riosoft