Darah Membasahi Bumi Pasuruan
DARAH MEMBASAHI BUMI PASURUAN
Memiriskan. Tapi itulah yang terjadi. Sampai catatan ini aku publikasikan, 4 orang warga desa Alas Tlogo Lekok Pasuruan tewas dari moncong bedil yang memuntahkan pelor-pelor dari beberapa pasukan marinir AL, Rabu 30 Mei 2007. Tidak jelas pula siapa sebenarnya yang memulai. Versi TNI AL berbeda dengan warga Alas Tlego. Marinir terpaksa menembak (ke bawah ?) sebagai bentuk pembelaan karena mereka diancam warga yang membawa berbagai senjata tajam. Sebaliknya warga mengatakan lain. Persoalannya apa memang penembakan dengan peluru tajam merupakan pakem yang mau tidak mau mesti diambil.
Buntut dari sengketa tanah yang berkepanjangan. Lahan Grati yang dalam sengketa telah dimenangkan TNI AL - dan dibeli tahun 1960 - memang sangat dibutuhkan untuk
kegiatan operasional termasuk latihan tempur. Berbagai upaya konon telah dilakukan agar warga Alas Tlogo eksodus dari lahan itu. Bahkan TNI AL telah memberikan kompensasi penggantian lahan per-kepala keluarga 500 m2.
Begitulah. Bagi warga Alas Tlogo, bukan persoalan mereka harus ke luar dari sana. Bagi mereka - sama dengan warga desa lainnya di nusantara ini - tanah yang didiami itu sudah merupakan bagian dari darah daging mereka. Artinya hidup dan mati warga memang sangat tergantung dari tanah yang mereka diami. Huh, kompleks memang. (Bahkan di bumi Malesung sendiri, persoalan budel antara kakak adik adakalanya susah diselesaikan).
Tapi begitulah. Sengketa tak selesai. Malah berujung pada maut. Matinya anak bangsa oleh anak bangsa sendiri.
Saya berpikir, hukum formal silahkan berdiri megah. Tapi di satu pihak alur nurani dan moralitas pun semestinya dipancangkan. Kalau tidak, hancur leburlah kita. Hukum rimba yang bermain.
Teringatlah aku, saat masih kanak-kanak . Papi membelikan aku sebuah novel dengan setting sejarah. Sebuah buku yang tebal, ditulis Abdul Muis. Judulnya Untung Surapati. Terus terang, aku sangat menyukai isi novel itu. Aku menyukai heroisme Untung Surapati yang dari Pasuruan. Heroisme yang luar biasa dari seorang Untung Surapati melawan serdadu Belanda. Tapi heroisme yang sarat dengan nilai kemanusiaan. (Untung Surapati seorang eks budak, yang kemudian berpacaran dengan seorang nona Belanda yang cantik, keturunan bangsawan. Karena sebelumnya dia sempat menyelamatkan nyawa nona Belanda itu dari terjangan ombak di tengah laut. Dia mati syahid setelah diterjang peluru Belanda dalam pertempuran di Bangil).
Ah, sekarang justru sesama anak bangsa yang bertikai. Aku yang sekarang tinggal di Minahasa terenyuh dengan apa yang terjadi di Alas Tlogo. Rupanya di era modern sekarang ini, tetap saja ada perilaku yang mengangkangi harkat dan standard nilai kemanusiaan. Intinya, yang lemah siap diterkam yang kuat (ah, mudah-mudahan perspektif aku yang keliru) .
Banyak sebenarnya fenomena Alas Tlogo di Indonesia. Sebagai bangsa, kita kembali perlu belajar, bagaimana menghargai perbedaan. Kalau kita tidak mampu mengelola sense of different celakalah kita.
Sekarang bagaimana? Intinya, persoalan tetap kita kembalikan ke Pemerintah. Kontrak politik, kontrak sosial, kontrak budaya, bahkan kontrak memberdayakan sense of humanism telah diberikan rakyat. Sebagai rakyat, kita tetap concern dengan Pemerintah sebagai Pimpinan kita.
Kitapun berharap, kasus Alas Tlogo ini menjadi pelajaran penting bagi Indonesia. Bahwa bagaimanapun juga kekerasan tidak akan mampu menyelesaikan persoalan. Bahkan sekarang bukan zamannya lagi.
Atau memang di negara ini membangun mekanisme dialog sudah tidak mudah? Atau memang sudah tersumbat? Silahkan jawab dengan jujur.
.
Setelah menanti sembari terus berupaya berjuang selama dua tahun terakhir, diisi dengan tarik ulur alot tanpa henti, penuh liku-liku, terjadilah finishing touch yang manis. Pemerintah Kabupaten Minahasa akhirnya ‘berbaik hati dan ikhlas’ menyerahkan berbagai aset PDAM Minahasa yang berada di Kota Tomohon. Baik berupa barang bergerak maupun barang tidak bergerak. Kesemuanya meliputi: 3 unit rumah dinas termasuk pekarangan di Uluindano, Kantor Pusat yang terletak di Talete, instalasi air dan jaringan pipa di 5 kecamatan, dan seluruh karyawan PDAM Minahasa yang bermukim di Kota Tomohon sebanyak 168 orang. Air memang sesuatu yang teramat penting dalam hidup manusia. Air sebagai hajat primer dalam kehidupan manusia. Ini pula yang dirasakan masyarakat Tomohon. Ketika Kota Tomohon dibentuk sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Minahasa sesuai amanat UU Nomor 10 Tahun 2003 maka diamanatkan bahwa paling lambat 1 tahun aset-aset yang di daerah hasil pemekaran tersebut harus diserahkan. Salah satunya asset PDAM tersebut, mengingat di Kota Tomohon telah ada institusi yang mengelola air bersih, yaitu PDAM Tomohon. Cuma ternyata aplikasi di lapangan tidak sesederhana itu. Sekalipun unsich telah ada PDAM Tomohon, namun belum dapat berfungsi optimal, dikarenakan ya itu tadi, asset-aset yang diharapkan mampu mendukung manajemen masih ‘ada di tangan’ Kabupaten Minahasa, dalam hal ini PDAM Minahasa. Itu sebabnya, sekalipun institusinya sudah ada, namun air bersih untuk masyarakat Tomohon masih bak kerakap tumbuh di batu. Artinya, mata airnya tersedia banyak – ada 13 titik – namun tidak sempurna mengalir ke rumah tangga konsumen. Sebuah anti klimaks. Karena itu, penyerahan aset dari Pemerintah Kabupaten Minahasa ke Pemerintah Kota Tomohon yang dilaksankan 10 Mei lalu di Lokon Boutique Resort merupakan langkah maju, dan ini perlu diapresiasi. Secara khusus inisiatif Tonaas Wangko um Banua – Bupati Minahasa Stevanus Vreeke Runtu – harus diacungi jempol. Seorang Stevanus Vreeke Runtu sangat mengerti bahwa aset-aset tersebut memang sangat diperlukan untuk menunjang pelayanan air bersih – sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat – di Kota Bunga Tomohon. Walikota Tomohon Jefferson S.M. Rumajar saat seremoni penyerahan aset tersebut mengemukakan bahwa sedikit tertundanya penyerahan aset semata-mata dikarenakan masalah administrasi belaka. “Sekarang masalahnya sudah selesai dan tuntas, karena itu ke depan pelayanan air bersih sudah harus optimal,” ujar Walikota Tomohon. Sementara itu Direktur PDAM Tomohon Habel Runtuwene mengatakan bahwa ini semua merupakan hasil maksimal dari suatu kerja keras baik dari pihak eksekutif maupun legislatif bahkan semua masyarakat Kota Tomohon. Persoalan yang tidak kalah pelik, PDAM Tomohon akhirnya harus menghadapi beban piutang sebesar 9,2 M dengan rincian hutang investasi Rp 6.873.264,194 – hutang operasional Rp 570.794,441 – hutang piutang Rp 1.800.581.837,-. Termasuk perlunya melakukan pemberdayaan optimal pada semua karyawan PDAM Tomohon yang akhirnya mencapai sekitar 200 orang itu. Walikota Tomohon Jefferson S.M. Rumajar mengenai beban piutang itu secara diplomatis mengatakan bahwa Pemkot Tomohon optimis dapat menyelesaikan hal itu. “Yang penting kesejahteraan masyarakat, dan itu yang utama,” imbuh Rumajar. Oke, kita – masyarakat Kota Bunga – patut mensyukuri hal itu. Sekarang kembali ke pengelolaan PDAM Kota Tomohon. Pada gilirannya tentu sangat diperlukan manajemen yang baik dan profesional serta beretos kerja. Dan memang harus begitu. 


Lingkungan di sana diobrak-abrik, menimbulkan kebingungan dan kemarahan komunitas pinguin-pinguin di sana. Kedamaian, ketenteraman yang terukir di kutub selatan menjadi hancur lebur karena ulah manusia yang mengeksploitasi natural resources di sana.
Kegembiraan habitat di kutub selatan buyar.
Sekalipun cuma diangkat dari layar lebar. 