Catatan dari Kota Tomohon (2)
Catatan dari Kota Tomohon (2)
Ok my lovers, kembali ke Catatan dari Kota Tomohon (sudah dua minggu Catatan ini dipending. Biasalah, sedikit non teknis di software).
Nah, saat ini Kota Tomohon di bawah kepemimpinan Walikota Jefferson S.M. Rumajar terus membenahi dirinya. Terus bersolek. Dipermoi. Berbagai terobosan dan inovasi terus bergulir sebagai komitmennya membangun social-welfare masyarakat seiring dengan tekad mewujudkan visi Tomohon sebagai kota budaya yang indah, beriman, mapalus, demokratis, aman dan ramah lingkungan serta tanpa KKN (mapalus merupakan karakter adat orang Minahasa yang bertumpu pada kerjasama dan kegotongroyongan dalam menyikapi suatu persoalan tertentu. Bak kata pepatah: ringan sama dijinjing, berat sama dipikul).
Secara strategis dan taktis, untuk menggerakkan roda ekonomi masyarakat, Jefferson S.M. Rumajar menangkap peluang di sektor floriculture sebagai prime mover roda ekonomi tersebut. Hal ini didasari fakta pada budaya menanam bunga yang telah mendarahdaging di lingkup masyarakat Kota Tomohon, selain karena kondisi agroklimat yang menunjang, bahkan ketersediaan plasma nutfah yang menjamin terus eksistensi tanaman hias. Bahkan permintaan pasar yang meluas dan nilai ekonomi tinggi yang diperoleh di sektor floriculture merupakan garansi yang realistis.
Gayungpun bersambut. Secara antusias masyarakat merespons komitmen Jefferson S.M. Rumajar. Ini dibuktikan dengan semakin maraknya gerakan menanam bunga dan berbisnis tanamn hias. Mulai dari halaman rumah, ruang tamu, halaaman kantor, pokoknya apa saja space yang tersedia untuk berkreasi dengan bunga hidup, dimanfaatkan sebaik-baiknya. Berbagai kelompok organisasi mulai dari Dharma Wanita, PKK, Kelompok Tani, Kelompok Pemuda dan Pelajar, secara antusias akrab dengan bunga. Pokoknya no day without flowers.
