Happy Birthday: Tomohon City
Congratulations and Celebrations
Kota Tomohon: 9th year’s today
Mangemo sako mangemo
Wangunen um Banua…….
Congratulations and Celebrations
Kota Tomohon: 9th year’s today
Mangemo sako mangemo
Wangunen um Banua…….
Keberbagaian sebagai suatu perbedaan, bukan merupakan sumber perpecahan; tapi sebagai sumber kekayaan bersama.
Hari ini Prov Sulawesi Utara ber HUT ke 46. Banyak Selamat. Termasuk untuk SHS Berhasil. God bless North Celebes. Tekad menjadikan Sulut sebagai pintu gerbang Indonesia di kawasan Asia Pasifik merupakan sebuah kepastian.
Akhirnya Jefferson SM Rumajar pada Rabu 22/9 resmi mendekam di rutan Cipinang. Dugaan korupsi dana APBD Tomohon 2006-2008 sebesar Rp 19,8 M menerpa dia. Mantan Walikota Tomohon ini menjalani proses hukum.
Kita lihat sajalah bagaimana ini semua berjalan.
So, tahun 2010 merupakan tahun suksesi kepemimpinan di Bumi Nyiur Melambai. Perhelatan politik yang ber make up demokrasi, bergulir. Tidak hanya di lingkup Provinsi Sulut, tapi juga di beberapa kabupaten dan kota. Sebut saja seperti Kota Manado, Tomohon, Kabupaten Minahasa Selatan, Minahasa Utara. Wah, wah, bakalan rame ini… Cuma sampai sekarang ini sepertinya bakal calon atau bakal kandidat papan 1 yang mau maju, belum mau secara terang-terangan menyatakan kesiapan mereka.
Untuk Provinsi prediksi saya nama-nama seperti SH Sarundajang (incumbent), RM Luntungan (Bupati Minsel), Linneke Watoelangkow (Ketua Umum DPD Partai Demokrat Sulut/Wakil Walikota Tomohon) akan siap maju bertarung. Mereka-mereka ini punya nilai. Punya kelebihan masing-masing. Ada yang bilang EE ‘Lape’ Mangindaan akan pulang kandang. Tapi rasanya Lape yang adalah mantan Gub akan lebih banyak berkiprah di pusat. Bisa jadi dia akan ditarik SBY sebagai Menteri.
Di papan 2 provinsi saya lebih respek dari kalangan bisnis untuk maju. Sebab ke depan saya mengharapkan Sulut akan menjadi region pusat investasi maupun kawasan pasar modal terpadu untuk Indonesia timur. Resourcesnya sangat menunjang, baik human, nature, social culture, dsb.
Waktu dari sekarang masih sekitar 9 bulan. Heh, nyanda lama itu…
Hingga akhir pekan ini (11/7) dari hitung cepat membentangkan hasil bahwa SBY- Budiono tetap perkasa. Bahkan bayang-bayang kemenangan sudah di pelupuk mata. Sudah di telapak tangan.
Prediksi saya bahwa akan terjadi 2 putaran pada Pilpreswapres 2009-2014 kelihatannya tidak terbukti. Bahkan Calon Wapres JK telah memberi selamat lebih dulu kepada SBY sekalipun hasil final penghitungan suara oleh KPU baru nanti diumumkan beberapa hari ke depan.
Memang bagi saya hasil yang dicapai pasangan nomor 2 ini cukup fantastis. Sampai di kisaran 60% jumlah suara. Soalnya dalam debat Capres/Cawapres sebelumnya saya menilai pasangan nomor 2 ini tidak pula menyampaikan hal-hal baru yang spesifik. Pasangan ini lebih berkutat pada progress report selama 5 tahun terakhir. Beda dengan pasangan nomor 1 dan 3.
Vox populi vox Dei. Apapun hasilnya kita perlu terima dan mensupport. Soal adanya berbagai temuan di lapangan itu soal lain. Biarlah ranah hukum yang bermain di sana.
Akhirnya sayapun berkonklusi. Bahwa kemenangan pasangan Lanjutkan ini lebih pada performance dan ketokohan SBY.
Artinya, tanpa ada tim sukses pun SBY Budiono tetap saya yakin akan memenangi pertarungan ini. Tanpa ada Malarangeng, Ruhut, Batagoena dll itu, tetap pasangan 2 ini berkibar. Selamat. Rakyat pun siap menanti konkretisasi selama kampanye. Kesejahteraan meningkat, kemiskinan dicukur, pengangguran digunting, KKN ditebas, pertumbuhan ekonomi minimal 7 – 8 %, rakyat sehat NKRI kuat.
Selingkuh politik? Itu mah biasalah…… Namanya hidup di dunia fana…..
Nasionalisme sebagai paham kebangsaan merupakan gerakan politik empiris. Perang Kemerdekaan Amerika (1776-1782) dan Revolusi Perancis (1789) dapat diangkat sebagai acuan dalam mencermati bayang-bayang nasionalisme. Dua peristiwa tersebut sedikit banyak menginspirasi bangsa-bangsa di belahan bumi ini untuk melakukan pergolakan. Pergolakan apa? Tentu saja pergolakan untuk merdeka. Tidak hanya di Eropa, tapi juga di Asia, Afrika pada abad 19 dan awal abad 20.
Spirit Declaration of Independence yang dikalimatkan Thomas Jefferson pada 4 Juli 1776 sebagai cikal bakal perang kemerdekaan Amerika mengandung prinsip liberalism dan human rights, oleh Lafayette – Jenderal Perancis yang sempat terdampar di kancah peperangan kemerdekaan Amerika – diperkenalkannya kepada rakyat Perancis. Situasi di Perancis akhuir abad 18 memang runyam. Otokrasi, feodalisme, absolutisme merupakan wajah yang nyaris tak tenggelam. Akibatnya rakyat Perancis tersentak atas teror yang ada di depan mata. Mereka menentang kebijakan elit penguasa. Revolusi Perancis membangun sebuah tradisi pola pikir baru berdasarkan liberte, egalite, fraternite.
*
Apa yang terjadi di Amerika Serikat pada masa perang kemerdekaan Amerika, juga di Perancis pada masa Revolusi Perancis, beda-beda tipis substansinya dengan fenomena di Bumi Pertiwi Indonesia akhir abad 19. Namun bagi saya pergulatan nasionalisme di Indonesia lebih merupakan bentuk nationalism awareness dan inipun tidak muncul begitu saja. Terjadi kristalisasi dari berbagai rentetan peristiwa yang berproses lama dipengaruhi kejadian-kejadian yang mendahului baik di dalam maupun di luar Bumi Pertiwi. Ini dapat dilihat, pada akhir abad 19 pemerintah (kolonial) Belanda menghadapi crucial point. Pergolakan di daratan Eropa membuat Belanda banyak melakukan restrukturisasi. Baik di bidang politik, ekonomi dan administrasi; sementara pendapatan dari negeri jajahan sudah tidak maksimal mengingat pressure penduduk (Bumi Putera) melalui policy tanam paksa (cultuur stelsel). Termasuk kesulitanmemasarkan berbagai produk dari negeri jajahan di pasaran internasional karena peperangan yang berkepanjangan. Menghadapi hal ini, 2 kebijakan penting dilakoni pemerintah Belanda yaitu melakukan politik pintu terbuka dan memberlakukan pola pendidikan a laBarat di negeri jajahan. Ini adalah peluang skaligus mendorong insting sekelompok pemuda pelajar Indonesia untuk mendirikan organisasi yang nonprimordialism. dimungkinkan pula karena pola pikir realis sebagai dampak ikutan sistem pendidikan yang diterapkan. Dari sinilah wawasan kebangsaan dirintis bahkan dipropagandakan tiga serangkai: dr Wahidin, Sutomo dan Suradji.
*
Frederick Hertz dalam Nationality in History and Politics menyebutkan bahwa ada 4 cita-cita nasionalisme, yaitu mewujudkan persatuan nasional, mewujudkan kebebasan nasional lepas dari campur tangan asing, mewujudkan identitas nasional, dan untuk memperoleh kehormatan, kewibawaan, gengsi dan pengaruh dalam pergaulan di dunia internasional. Titik tolak nasionalisme Indonesia sebagai wujud kesadaran nasional sebenarnya merupakan busur yang mendorong anak panah menuju gerbang kemerdekaan yang di dalamnya ada kepentingan kebangsaan. Sebuah kepentingan kebangsaan yang dipersatukan dari berbagai kesulitan, berbagai krisis. Atau merunut dari sebaris pertanyaan Ernst Renan (1802): Qu’est ce que c’est un nation? C’est le desir d’stre ensemble” (Apakah bangsa itu? Kemauan untuk hidup bersama). Menurut Renan, hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu dengan tidak ditentukan oleh ras, agama, bahasa, peradaban atau kepentingan ekonomi.
Babakan ini pada gilirannya dalam kaca mata nasionalisme Indonesia memunculkan suatu etos. Yaitu etos nasionalisme berlatar kebangsaan yang tidak sempit. Sebuah etos yang berpijak pada solidaritas, senasib dan sepenanggungan. Etos ini bukan cuma eforia yang didendangkan terus menerus sesuai dengan irama tertentu. Juga etos ini bukan berarti mengagungkan bangsa sendiri dan memandang sebelah mata bangsa lain.
Kita tetap bahkan sangat menghargai bangsa lain dengan keberadaannya. Ini merupakan komitmen bahwa bangsa Indonesia ikut peduli pada berbagai gejolak dunia internasional. Intinya, kita peduli pada hak-hak kemanusiaan, kita peduli pada dunia tanpa perang, kita peduli pada pelestarian lingkungan, kita melawan perdagangan manusia, kita anti anarkisme, kita pun ikut berseteru dengan penyalahgunaan narkotika dan sejenisnya, bahkan kitapun menjunjung suatu peradaban bangsa-bangsa yang saling menghormati, saling menghargai. Kita berempati dan mendukung perjuangan bangsa-bangsa yang kedaulatannya dirongrong pihak lain. Di sisi lain, nasionalisme Indonesia diletakkan sebagai upaya untuk mempertahankan kelangsungan hidup bangsa. Sekaligus sebagai kekuatan untuk mencapai cita-cita nasional.
*
Tahun ini, nasionalisme itu berkulminasi dalam 1 abad. Tantangan ke depan memang berat. Berbagai persoalan kebangsaan terus mendera. Belum lagi pergulatan menghadapi krisis energi, krisis pangan. Namun toh, sesulit apapun yang dihadapi jalan ke luar pasti tetap ada. Sebagai bangsa, kita sebenarnya sudah sangat akrab bahkan terbiasa menghadapi berbagai kesulitan. Namun memahami rasa senasib sepenanggungan merupakan kunci untuk ke luar dari krisis. Ketika kepentingan kelompok, visi sektarian yang bermain, saat itu pula bertubi-tubi krisis mewarnai dan mengurainyapun bak membenahi benang kusut, entah dari mana harus diselesaikan.
Namun jangan pula akhirnya sosok Bill Gates – juragan Microsoft Corporation dengan kekayaan Rp 500 Triliun - lebih Indonesia ketimbang orang Indonesia. Mengapa? Bukan apa-apa sih. Justru Bill Gates sangat enjoy berbatik ria saat berceramah di muka para petinggi dan kaum intelektual kita beberapa waktu lalu. Yang lainnya memakai jas, berdasi, bersafari, dan sebagainya.
Ah, mudah-mudahan ini cuma intermezo di sela-sela peringatan Hari Pendidikan Nasional, 10 Tahun Reformasi dan 1 abad Kebangkitan Nasional.
Saat membuka Pekan Produk Budaya Indonesia tahun 2007 lalu di Jakarta, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan penegasan tentang peluang maksimal melalui apa yang disebutnya sebagai ekonomi pariwisata (economic of tourism). Ekonomi pariwisata ini disebutkan Presiden sebagai ekonomi gelombang keempat. Sebuah gerakan ekonomi yang bersumber pada kekayaan budaya termasuk warisan budaya (heritage), kreativitas, dan lingkungan alam yang disatukan dalam ecotourism.
Ini merupakan kelanjutan dari analisis futurolog Alvin Toffler yang memperkenalkan sebuah gerakan ekonomi gelombang ketiga berpola pada model ekonomi terbuka dengan mengandalkan kekuatan teknologi informasi.
Ajakan Presiden tersebut menacu pada 2 strategi pengembangan, pertama, mengembangkan ekonomi kreatif dengan memadukan ide, seni dan teknologi. Kedua, mengembangkan keunggulan produk ekonomi yang berbasiskan seni budaya dan kerajinan.
Indonesia merupakan negara yang memiliki warisan sejarah budaya tak terbilang banyaknya. Bahkan terbanyak di kawasan Asis Tenggara. Beberapa di antara peninggalan sejarah itu bahkan sudah dimasukkan ke dalam The International Heritage alias peninggalan sejarah internasional oleh UNESCO. Nyaris setiap suku yang ada di negara ini memiliki artefak, situs, manuskrip, yang dilestarikan keberadaannya secara turun- temurun. Namun harus diakui, tak banyak yang melihat ini dari kacamata ekonomi. Padahal jika dipromosikan secara gencar kepada masyarakat internasional, peninggalan sejarah ini bisa menjadi daya pemikat untuk mengundang wisatawan.
Demikian pula hal-hal yang berkaitan dengan lingkungah hidup. Indonesia adalah negara dengan potensi sumber daya alam hayati terbesar di dunia. Keanekaragaman flora dan fauna adalah sumber ekonomi terbarukan yang tersedia dalam jumlah besar. Hanya sayangnya potensi lingkungah ini belum tergarap dengan sempurna. Banyak potensi flora, fauna, keindahan alam, dibiarkan teronggok lepas tanpa arti. Atau sebaliknya, banyak yang dieksploitasi tanpa batas sehingga kelestariannya terancam
*
Harus diakui, kemampuan kita dalam mencipta hasil karya dari bahan yang berlimpah ruah di negeri ini masih sangat rendah. Di antara kita cuma suka berjalan pintas, menjual potensi alam dalam keadaan mentah sehingga harganya sangat murah. Contoh saja adalah kayu gelondongan, rotan, hasil tambang, minyak bumi, minyak sawit, rempah-rempah, sering kita jual ke luar negeri dalam keadaan utuh, dan kita beli lagi dari luar dalam bentuk olahan dengan harga yang berlipat ganda dari harga aslinya. Bangsa lain bisa jadi tidak memiliki sumber alam seperti yang disebutkan namun mereka mendapatkan keuntungan dari komoditas tersebut dari jasa pengolahan bahan mentah menjadi bahan jadi.
Demikian pula ecotourism. Sangat dibutuhkan sebuah kreativitas untuk mengelolanya. Terkadang kita cuma terbuai menunggu orang lain menangani aset keindahan alam yang kita miliki, yang sudah terletak di pelupuk mata kita.
Indonesia mempunyai potensi ecotourism yang sangat luar biasa. Dari catatan Indonesia Ecotourism Community, Indonesia memiliki 10% dari total jenis bunga yang ada di dunia, 12% total jenis mamalia, 16% total jenis hewan reptil dan amfibi, 17% total jenis burung, serta 25% total jenis ikan di dunia.
Menurut Newsome (2002), ecotourism merupakan bagian dari wisata alam yang meliputi: wisata petualangan, nature based, wildlife, dan ecotourism. Sepintas keempat jenis wisata alam tersebut terlihat sama. Perbedaan utamanya ada pada aktivitas inti yang dilakukan wisatawan. Wisata petualangan menekankan pada aktivitas fisik pada kondisi alam yang ekstrim seperti arung jeram, panjat tebing, dll. Nature based menekankan pada aktivitas menikmati keindahan alam seperti danau, pantai, air terjun, pegunungan, wildlife menekankan pada aktivitas mengamati sekaligus menikmati bercengkerama dengan satwa liar seperti bird watcing. Sedangkan ecotourism adalah kegiatan wisata melibatkan unsur pelestarian alam dan lingkungan budaya masyarakat setempat. Intinya ecotourism berbasis pada alam, kesinambungan ekologi, bersifat mendidik, menguntungkan masyarakat setempat dan memuaskan pengunjung
*
Sekali lagi, ini dibutuhkan kreativitas untuk mengelola dan mengolahnya. Karena itu apa yang diangkat Presiden RI mengenai ekonomi gelombang keempat melalui pendekatan tourism yang berbasis pada keunggulan budaya berpadu dengan otentitas lingkungan alam yang asri dan natural paling tidak membangunkan kita bahwa kesemuanya ini telah terhampar di hadapan kita sendiri.
Salah satu negara yang memang telah melakukan gerakan dalam hal ini adalah Jepang. Perdana Menteri Junichiro Koizumi memiliki visi dan melihat peluang dalam sektor ecotourism, sehingga pada awal tahun 2003 Koizumi mencanangkan untuk back to basic menghidupkan kembali pariwisata Jepang yang pernah menjadi sumber devisa utama di masa lalu, guna mengatasi menurunnya perolehan devisa akibat melemahnya daya saing barang-barang industri yang diekspor ke berbagai negara akibat ancaman berbagai produk dari RRC, Taiwan dan Korea Selatan
Segalanya memang harus dimulai, dan tidak ada kata terlambat untuk melakukan sesuatu yang bernilai. Tak berlebihan pula kalau event seperti Tomohon Flowers Festival atau World Ocean Conference merupakan terobosan menguak tabir bahwa sebenarnya alam itu sangat dekat dengan manusia. Tinggalah manusia itu sendiri yang harus berikhtiar dan berkreativitas mengolahnya secara bermartabat tanpa merusak alam itu sendiri.
Kalau kita cuma mau jadi penonton, miskin kreativitas, kapan kita mampu mengangkat harkat hidup di mata bangsa lain.
Karena kita bukan pecundang. Bukan bangsa pecundang!
(Sorot Flower City News ed 10/2008)
(wennym-umboh@hotmail.com/wenny-mu@plasa.com)
Kerja all out.
Paling tidak inilah deskripsi yang harus diketengahkan kepada pemerintah dan masyarakat Kota Tomohon menghadapi gebyar Tomohon Flower Festival (TFF) 2008 yang akan dilaksanakan selama 1 pekan di akhir Juni hingga awal Juli 2008. Tepatnya tanggal 29 Juni 2008 hingga 4 Juli 2008. Dari 12 agenda kegiatan TFF tersebut, maka Tournament of Flowers (Parade Bunga) merupakan event unggulan yang dipastikan mampu mempersolek Kota Tomohon menjadi cantik, gagah, bahkan sangat berbunga-bunga.
Walaupun sebenarnya kalau dari segi pengalaman, pemerintah dan masyarakat di Kota ini sudah melekat bagaimana mengelola kegiatan agenda parade bunga ini. Mengingat kegiatan ini telah 2 kali dilaksanakan yaitu tahun 2006 dan 2007 lalu. Namun saat itu masih berskala lokal. Sedangkan tahun ini terjadi ekspansi, yaitu sudah berskala nasional. Meliputi kota-kota di berbagai provinsi yang ada di tanah air, termasuk seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Utara. Bahkan ke depan atau tahun-tahun berikut sudah melibatkan negara-negara luar.
Bahkan Sekretaris Kota Tomohon selaku Ketua Umum Panitia TFF 2008
Drs Johny JP Mambu SH MSi memastikan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara akan menghadiri sekaligus membuka serta menyaksikan Parade Bunga tersebut. Dikatakan Johny JP Mambu bahwa tim advance kepresidenan telah melakukan peninjauan kesiapan Pemerintah Kota Tomohon awal April lalu. Bahkan dijadualkan pula nantinya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan melakukan kunjungan kerja di antaranya meresmikan Kantor Sinode GMIM.
Pematangan persiapan
Karena itu tak berlebihan jika Ketua Umum Panitia TFF 2008 Drs Johny JP Mambu SH Msi mengemukakan bahwa event TFF ini merupakan prestise bagi Kota Tomohon – pemerintah dan masyarakat – selaku tuan rumah maupun penyelenggara.
Sejak 2007 lalu persiapan telah dilakukan. Mulai dari penyusunan cetak biru Kota Bunga Tomohon yang disusul dengan Perda Kota Bunga Tomohon dan Festival Bunga Tomohon yang difasilitasi Komite Pemantauan Penyelenggaraan Otonomi Daerah dengan Indonesia Netherland of Agency (INA). Termasuk pula serangkaian konsultasi-konsultasi dengan para Menteri terkait seperti Menteri Perdagangan untuk pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bunga dan mekanisme perdagangannya, Menteri Koperasi dan UKM untuk pengembangan dan pembinan koperasi bunga. Bahkan diprogramkam Tomohon menjadi pilot project nasional Kota Koperasi. Mentari Pertanian untuk pembinaan dan perngembangan bunga, serta Menteri Pariwisata dan Kebudayaan RI yang menjadikan Tournament of Flowers sebagai kalender tetap pariwisata nasional.
Bahkan sebelumnya telah dibentuk koperasi yang mengkhususkan bergerak di sektor bunga, yaitu 35 koperasi dan 1 koperasi induk ditambah dengan 129 kelompok petani bunga. Belum lagi penyelenggaraan pembinaan, pendidikan dan pelatihan bagi petani bunga serta anggota kelompok tani bunga termasuk pelatihan merangkai bunga hias kendaraan, mengikuti berbagai kegiatan promosi di dalam maupun di luar daerah serta melaksanakan kunjungan kerja untuk belajar pengembangan dan pengelolaan bunga di Belanda. Dan yang sangat penting pula adalah membentuk panitia pelaksana Tomohon Flowers Festival 2008 .
Sebagai pelecut
Bahkan ke depan, Tomohon dipastikan siap menuju ke wilayah industri florikultura. Ini tentunya berbekal potensi dan keberadaan yang dimiliki. Kesiapan memang telah dibangun dan dikembangkan. Bahkan untuk menuju ke domain tersebut telah disiapkan kawasan 900 hektare untuk pertanian khusus tanaman hias, yang nantinya akan dikembangkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Sehingga dipastikan bahwa Parade Bunga yang telah menjadi agenda wisata tahunan ini merupakan pelecut untuk menuju ke medan industri florikultura ini.
Kepada Flower City News Kadis Pertanian Perkebunan Peternakan dan Perikanan Kota Tomohon Vonny F Pontoh membeberkan bahwa Kota Tomohon sudah sangat siap untuk menuju ke industri florikultura. Hal ini dikatakan Vonny F Pontoh dengan telah tersusunnya Grand Strategy Industri Florikultura Kota Tomohon 2007 – 2012 dan dengan telah ditetapkannya 3 Peraturan Daerah menyangkut florikultura merupakan bukti bahwa kesiapan tersebut memang sudah diaplikasikan. Hanya di sisi lain Pontoh menggarisbawahi bahwa masyarakat Kota Bunga Tomohon harus mampu menyikapi hal ini, sebab ketika akan memasuki tahapan ekspor maka segala sesuatunya harus benar-benar siap. “Siap menghadapi para kompetitor bidang florikultura lainnya baik dari segi kualitas, kuantitas maupun kontinuitas,” ujar Vonny F Pontoh dengan nada optimistik.
Kendala lain yang disebutkan Kadis Tabunakan Kota Tomohon ini adalah menyangkut kemampuan menyiapkan produk yang memenuhi Standar Operasional Produksi (SOP) sesuai permintaan pasar internasional. Artinya sebagaimana dijelaskan Vonny F Pontoh kepada Flower City News penguasaan teknologi produksi di tingkat petani hingga saat ini masih berada pada skala tradisional dan belum mengarah pada pertanian modern ramah lingkungan. “Ini artinya profesionalisme SDM pertanian harus terus ditingkatkan,” timpal Vonny F Pontoh.
Undangan telah dikirim
Sedangkan kesiapan peserta yang diundang mengikuti berbagai kegiatan TFF 2008 memang terus dievaluasi. Namun Ketua Umum Panitia TFF 2008 Drs Johny JP Mambu, SH Msi mengatakan bahwa sekitar 70% daerah yang diundang sudah menyatakan kesiapan untuk hadir dan menjadi peserta di berbagai kegiatan TFF tersebut. Namun ada juga yang menyatakan akan hadir sebagai peninjau. Berbagai kota yang menyatakan kesiapannya antara lain Kota Kotamobagu, Kota Jogyakarta, Kota Mataram, Kota Pangkalpinang, Kota Gorontalo, Kota Padang, Kota Palembang, Kota Bitung, Kota Kendari, Kota Bengkulu, Kota Manado, Kota Jayapura, Kota Palu, Kota Kupang, Kota Ternate, Kota Samarinda, dan sebagainya. Sebagian memang siap hadir, namun akan memberikan informasi lebih lanjut.
Ketua Umum Panitia TFF 2008 Drs Johny JP Mambu SH Msi mengatakan sekalipun undangan yang telah diantar tidak langsung diserahkan ke kepala daerah, namun yang membawa undangan telah diterima oleh sekda atau asisten di daerah tersebut, itu sudah cukup.
Yang jelas ini adalah kerja all out. Membangun prestasi menegakkan prestise. (Flower City News ed. 10/2008) (wennym-umboh@hotmail.com)
Gebyar event Tomohon Flower Festival 2008 sudah di depan mata. Ajang prestisius bahkan terbilang spektakuler ini mau tidak mau menuntut kematangan kesiapan. Berbagai garda penting seperti penyiapan suprastruktur seperti bunga dan seperangkat komitmen berbagai pihak, juga infrastruktur pendukung yang siap berperan seperti fasilitas-fasilitas spesifik lainnya termasuk kesiapan mental publik Kota Bunga Tomohon memang perlu diperkuat di sana-sini.
Maklum, ini event pertama bagi Kota Bunga – yang baru berusia 5 tahun - diselenggarakan secara nasional. Jadi jelas saja ada semacam situasi kehati-hatian dalam penyiapan ajang ini. Apalagi bisa dipastikan pimpinan nasional – Presiden RI – juga unsur Kabinet Indonesia Bersatu akan hadir dalam acara pembukaan Tomohon Flower Festival tersebut. Memang, sebelumnya Pemerintah dan Masyarakat Kota Tomohon sudah berpengalaman dalam menyelenggarakan karnaval bunga, paling tidak beberapa tahun terakhir ini. Hanya saya tahun ini karnaval tersebut hanya sebagai satu bagian dari sekian kegiatan yang dihentak nantinya. Bahkan karnaval bunga tersebut memperoleh nama yang istimewa, Tournament of Flower. Memang, tidak salah kalau ada yang berpandangan bahwa Tournament of Flower ini mirip-mirip dengan Tournament of Roses di Passadena. Betul, Festival Bunga (Mawar) Passadena – yang memang telah mendunia itu – menjadi inspirasi penyelenggaraan Tournament of Flower tersebut.
Sejauh ini, kesiapan-kesiapan menuju event Tomohon Flower Festival berjalan sesuai dengan track yang telah disusun. Bahkan Ketua Umum Panitia Tomohon Flower Festival 2008 Drs JP Mambu SH Msi, mengatakan bahwa dari sisi waktu, kesiapan penyelenggaraan Tomohon Flower Festival 2008 berlaku day by day. Artinya, secara umum bahkan teknis, setiap hari merupakan agenda aksi yang mutlak harus ada kesiapan, ada penanganan dan ujung-ujungnya ada finishing. Dan ini harus.
Paling tidak itulah gambaran realitas dari apa yang dikemukakan Drs. JP Mambu SH, Msi. Dari berbagai persiapan menyongsong pelaksanaan Tomohon Flower Festival sudah berlaku hitung mundur. Hitung mundur D-day.
Hanya saja dalam pengamatan Flower City News, penyiapan infrastruktur yang memang masih perlu penguatan di sana-sini. Bahkan kitapun maklum, ketika ditargetkan sedikitnya 5000 wisatawan dalam dan luar negeri akan menyaksikan perhelatan Tomohon Flower Festival, dipastikan sebagian dari mereka akan nimbrung di berbagai kawasan wisata yang ada di Kota Tomohon khususnya. Dan tentu saja, tak pelak berbagai obyek wisata yang ada di lingkup Kota Tomohon perlu ada polesan-polesan untuk mempercantik pesona yang ada.
Belum lagi penyiapan fasilitas akomodasi baik untuk para undangan, juga kesiapan yang sama untuk para pengunjung dari luar Kota Tomohon.
Kalau dari sisi produksi, ini tinggal proses. Artinya, kesiapan berbagai elemen masyarakat, kalangan pemangkukepentingan, koperasi bunga, kelompok tani, kesiapan pengadaan bibit produksi, pemeliharaan, berbagai kegiatan pelatihan, dan sebagainya, sudah berjalan. Sehingga penyiapan 10 juta tangkai bunga potong diharapkan dapat terpenuhi.
Bahkan, keikutsertaan daerah lain jauh-jauh hari sudah disiapkan. Undangan ke berbagai daerah tersebut diantar secara personal. Sehingga ada presentasi khusus dari Panitia ke setiap pimpinan daerah yang diundang.
Dan tentu saja, the last but not the least, menyangkut kesiapan masyarakat Kota Tomohon untuk menjadi tuan rumah – sebagai makawale – adalah hal yang sangat penting. Di sisi lain, tidak hanya faktor mental yang memang menjadi bagian utama, namun juga untuk hal-hal yang cukup prinsip seperti selalu menjaga lingkungan yang harmonis, sehat dan berkarakter.
Dan memang, masyarakat Kota Tomohon siap merespons perhelatan Tomohon Flower Festival 2008 dengan tetap memelihara kultur the smilling peoples yang memang menjadi bagian dari style orang Minahasa itu sendiri (wenny m. umboh, flower city news ed. 9/2008)
Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Riosoft